PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Siapa Pria Tampan Itu?!


__ADS_3

"Luna...."


Luna menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat dua orang gadis berlari menghampirinya. Dan ketiga sahabat itu pun langsung berpelukan.


"Yakk!! Pergi kemana kau sebenarnya selama satu Minggu ini? Kenapa tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi? Apa kau tau bagaimana cemasnya kami berdua?!" Protes seorang gadis bertubuh mungil berambut blonde sebahu, Chia.


"Maaf, banyak sekali yang terjadi selama satu Minggu ini. Dan aku tegaskan pada kalian berdua. Aku tidak menghilang, hanya cuti beberapa hari saja."


"Dan kau masih memiliki banyak hutang penjelasan pada kami. Tentang kenapa kau sampai kabur dihari pertunangan mu, dan siapa pria tampan yang mengantarmu tadi."


"Kalian melihatnya?" Luna menatap Chia dan Sunny bergantian.


Keduanya mengangguk. "Tentu saja kami melihatnya karena kamu memiliki mata yang lengkap, Nona William!!" Jawab Chia menegaskan.


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa sekarang. Harusnya ia jujur pada kedua sahabatnya ini, atau malah sebaliknya. Tapi jika ia tidak jujur, mereka tidak akan berhenti bertanya.


Tapi masalahnya, Luna masih belum siap untuk membuka membuka rahasia terbesarnya. Jika sebenarnya dia telah menikah dan bersuami seorang duda.


"Bukan siapa-siapa. Hanya teman saja." Ucapnya.


"Kau yakin? Tapi kenapa kami merasa kau sedang berbohong?"


Luna mengangkat bahunya. "Jika kalian tidak percaya ya sudah, aku tidak akan memaksa kalian untuk mempercayaiku. Aku masuk dulu." Luna meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja.


"Yakk!! Luna William, kenapa kami ditinggalkan?!"


-


Di pagi yang cerah, di gerbang Chadwick International School, atau biasa di sebut TK dalam bahasa Indonesianya. Terlihat seorang anak laki-laki berusia 6 tahun tengah menggoyang-goyangkan tangannya dengan semangat saat melihat teman-temannya.


"Teman-teman!!"


Bocah laki-laki itu berteriak memanggil teman-temannya, ia pun segera turun dari mobil sang ayah lalu menghampiri teman-temannya. Tapi sayangnya langkah bocah itu dihentikan oleh sang ayah, yang menarik bagian belakang tasnya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa pergi tanpa berpamitan dulu pada, Papa." Ucap sang ayah dengan tatapan dinginnya.


Bocah laki-laki itu pun lantas tersenyum tanpa dosa, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.


"Hehehe... Maaf, Pa. Aku hanya terlalu bahagia. Dan aku sudah tidak sabar ingin segera memamerkan pada mereka jika aku juga memiliki seorang, Mama. Selama ini mereka selalu menertawakan ku karena aku tidak memiliki, Mama. Tapi mulai sekarang tidak ada yang bisa menertawakan ku lagi." Ujar Daniel panjang lebar.


Ken terdiam mendengar ucapan putranya. Tatapannya berubah sendu. "Apa kau bahagia karena Kakak cantik menjadi, mamamu?" Tanya Ken memastikan.


Daniel mengangguk. "Sangat, aku sangat bahagia. Apalagi kakak cantik begitu baik dan menyayangiku, aku sangat menyukainya dan ingin supaya dia menjadi mamaku." Ujarnya.


"Kalau begitu Daniel jangan mengatakan apapun dulu pada mereka, apalagi mengatakan jika kamu juga memiliki seorang Mama."


Daniel memicingkan matanya. "Kenapa? Apa Papa tidak suka jika aku mengenalkan kakak cantik pada mereka? Apa Papa takut jika mereka juga akan menyukai, kakak cantik?" Ken menggeleng. "Lantas?" Daniel menatap Ken penasaran.


"Jika kau mengatakannya sekarang. Mereka tidak akan percaya, dan malah menganggap mu sebagai pembohong. Jika kau ingin mengenalkan dia pada teman-temanmu, dia harus ada di sini. Dengan begitu mereka akan percaya jika kau tidak membohongi mereka semua." Tutur Ken.


"Papa, benar juga. Baiklah, saat pementasan nanti. Aku pasti akan mengenalkan kakak cantik pada mereka. Ya sudah, aku masuk dulu. Papa hati-hati ya saat mengemudi, jangan mengebut, oke."


Ken tersenyum. Jari-jari besarnya menepuk kepala putranya itu. "Pasti, Nak."


Sudut bibir Ken tertarik ke atas. Tidak terasa 5 setengah tahun telah berlalu, dia menjadi orang tua tunggal untuk Daniel. Meskipun Daniel bukan darah dagingnya, tapi Ken begitu menyayanginya.


-


Sebuah Bugatti La Voiture Noire, berhenti di sebuah gedung bertingkat yang memiliki puluhan lantai. Seorang pria tampan nan cantik, terlihat keluar dari mobil mewah dengan harga selangit itu. Karena perunitnya di bandrol dengan harga 18 juta dolar AS atau setara dengan (Rp255,9 miliar).


Dan hanya mereka yang berdompet tebal yang bisa membelinya. Parahnya lagi mobil itu hanya ada satu unit di dunia.


"Tuan Presdir, Anda sudah datang. Silahkan masuk, yang lain telah menunggu Anda di ruang rapat." Sambut seorang pria berpakaian formal pada orang yang dipanggilnya 'Tuan Presdir' tersebut.


"Dimana, Aria. Suruh dia saja yang menggantikan ku rapat, aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan!!" Jawab pria itu dingin.


"Tuan Aria tidak masuk hari ini, dia menderita diare parah."

__ADS_1


Pria itu mendengus berat. "Baiklah, biar aku sendiri saja yang menghadiri rapat itu. Segera siapkan berkas-berkasnya!!"


"Baik, Tuan Presdir."


Para karyawan langsung berdiri dan membungkuk ketika pria itu melewati bilik-bilik tempat mereka bekerja. Pria itu berjalan angkuh tanpa menghiraukan satupun dari mereka yang sebagian besar mencoba mencari perhatian darinya, karyawan wanita.


Ken Zhao... Memangnya siapa yang tidak mengenalnya. Seorang CEO muda dari perusahaan ternama. Dia memiliki wajah yang luar biasa tampan, meskipun tak sedikit yang menyebutnya cantik. Rahang tegas, sorot mata yang tajam, bahunya yang lebar, dadanya yang bidang, serta postur tubuhnya yang tinggi.


Tak sedikit wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya, tapi sayangnya harus berujung patah hati. Ken adalah seorang pria dingin dan sulit di dekati. Dan hanya mereka yang beruntung saja, yang bisa berinteraksi dengannya.


"Presdir, ini berkas-berkas yang Anda minta."


"Hn, letakkan saja di meja. Aku akan segera pergi ke ruang rapat. Kau... Ikut denganku!!"


"Baik, Presdir."


-


Luna menatap ponselnya dengan gamang. Waktu sudah menunjuk angka 11.50 siang. Dan saat ini ia bersama kedua sahabatnya sedang berada di kantin untuk menyantap makan siangnya.


Dia tidak tau apa yang sedang dilakukan pria itu. Sampai-sampai Ken tidak menghubunginya sama sekali, jangankan menghubunginya, mengirim pesan pun tidak. Bisa saja Luna yang menghubunginya lebih awal, tapi ia terlalu gengsi untuk melakukannya.


"Luna, sampai kapan kau akan terus mengaduk-aduk makananmu, jika kau tidak ingin memakannya, sebaiknya berikan saja padaku!!" Ucap Chia dan membuyarkan lamunan Luna.


Gadis itu mengangkat wajahnya. "Aku sedang tidak berselera untuk makan siang. Jika kau mau, makan saja. Ini aku berikan gratis untukmu." Tuturnya.


"Memangnya kau menunggu telfon dari siapa? Aku perhatikan dari tadi kau menatap layar ponselnya terus, jangan bilang jika kau menunggu telfon dari pria tampan yang mengantarmu pagi tadi ya?!" Tebak Sunny 10% benar.


"Hm, anggap saja begitu. Kalian makan saja dengan puas. Pesan apapun yang kalian mau, biar aku yang membayarnya." Ucap Luna seraya bangkit dari duduknya.


"Oke!!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2