
Anak laki-laki itu hanya bisa menangis dan meronta ketika dua pria menyeretnya masuk ke dalam sebuah Van hitam yang terparkir tak jauh dari sekolahnya. Dia berteriak dan meminta pertolongan, tapi keadaan di sana sangat sepi sehingga tidak ada yang datang menolongnya.
Plakkk...
"Diam kau bocah, atau kami akan menyiksamu sampai mati!!"
Dia selalu mendapatkan tamparan dan pukulan keras ketika berteriak meminta dilepaskan. Dia tidak tau siapa mereka dan alasan kenapa menculiknya.
"Hiks, Paman.. Lepaskan aku, aku mau pulang. Hiks, kenapa kalian menculikku? Apa salahku?! Hiks, lepaskan aku." Anak itu terus memohon dan meminta supaya dirinya di lepaskan. Lagi-lagi kekerasan secara fisik yang dia dapatkan.
Lagi pula apa yang bisa dilakukan bocah berusia 8 tahun selain menangis ketika di culik. Jangankan untuk melarikan diri, melawan pun dia tidak mampu.
-
-
Brugg...
Tubuh anak itu di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap dan pengap. Kaki dan tangannya diikat rantai dan besi. Sekujur tubuhnya penuh luka, salah satu matanya bengkak dan membiru akibat hantaman benda tumpul.
Lagi-lagi bocah laki-laki itu hanya bisa menangis dan merintih karena rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Dia terus memanggil Ibunya. Berdoa seseorang akan datang menyelamatkannya.
Mendengar decitan suara pintu di buka membuat bocah laki-laki itu mengangkat sedikit kepalanya. Seorang pria berjalan menghampirinya. Tidak tau seperti apa rupanya karena minimnya cahaya di ruangan itu.
Tapp...
Pria itu berhenti tepat di depan ia berbaring lemah di atas lantai yang dingin dan kotor."Si...Siapa, Paman? Dan kenapa Paman menculik ku?" Tanya bocah laki-laki itu.
"Tidak penting kau tau siapa aku, Ken Zhao. Yang jelas, aku adalah mimpi buruk bagimu. Aku akan membuat ayahmu membayar mahal atas apa yang telah dia perbuat padaku. Dia.. harus merasakan pahitnya kehilangan putra kebanggaannya!!!"
"Kau... Iblis," ucap Ken kecil terbata-bata.
Lalu pria itu menunjukkan wajahnya di depan Ken kecil dengan seringai tajam tercetak di bibirnya. "Selamanya, tetaplah berada dalam kegelapan!!" Lalu ia bangkit dan pergi begitu saja.
Disekap oleh seorang pria yang tidak di kenal dan dijauhkan dari keluarganya, merupakan mimpi buruk bagi anak manapun manapun, tak terkecuali Ken. Tubuh kecilnya yang ringkih penuh luka, tangan dan kakinya terikat kuat. Dan Ken kecil tidak tau kapan mimpi buruk ini akan berakhir.
__ADS_1
Flashback End:
Ken membuka matanya yang sebelumnya tertutup rapat. Meskipun 20 tahun telah berlalu, namun kejadian itu begitu membekas di ingatannya. Apa yang dia alami hari itu merupakan sebuah mimpi buruk. Selama satu bulan dia terkurung di dalam tempat yang gelap dan pengap itu.
Selama di sana, Ken tidak pernah melihat cahaya ataupun merasakan angin segar. Dan selama di sana, Ken menyadari satu hal. Jika yang lemah akan selalu di tindas yang kuat. Dari situ dia memiliki keberanian untuk melawan.
Entah Iblis dari neraka mana yang tiba-tiba merasukinya. Sehingga Ken memiliki keberanian untuk membunuh orang-orang yang telah menculik dan menyiksanya itu. Akhirnya dia pun bisa bebas setelah kabur dari neraka itu.
"Ken, kenapa belum tidur?" Luna menghampiri suaminya yang sedang duduk termenung di sofa di sudut ruangan. Di atas meja Luna melihat satu botol wine yang tinggal setengah dan beberapa potong es batu.
"Aku belum mengantuk. Lalu kenapa kau sendiri malah bangun?" Tanya Ken pada istrinya itu.
"Aku haus," jawabnya singkat.
"Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan air putih untukmu."
Luna menahan lengan Ken lalu menggeleng."Tidak perlu, biar aku sendiri saja." Ucapnya tersenyum. Kemudian Luna melenggang meninggalkan kamar dan juga suaminya yang kembali menikmati wine nya.
-
-
Luna menjerit histeris saat melihat sosok berwajah putih keluar dari kamar kakaknya. Gadis itu mengambil benda apapun yang ada di dekatnya lalu melemparkannya pada sosok itu.
"Setan alas, dedemit sungai. Jangan ganggu aku, jangan incar dagingku. Dagingku pahit dan gak enak dimakan. Huhuhu..."
"Omo!! Luna, berhenti!! Memangnya dimana hantunya? Dimana ada setan' dan dedemit?" Tanya sosok berwajah putih itu yang sebenarnya adalah Aiden. Aiden sendiri kebingungan, dan dia tidak sadar jika yang dimaksud oleh Luna adalah dirinya sendiri.
"Yakk!!! Aku bilang jangan mendekat!!" Teriak Luna menuntut.
Kemudian Aiden menoleh ke kanan dan ke kiri lalu kebelakang. Tapi dia tidak menemukan hal aneh apapun, sampai dia menyadari satu hal. Matanya membulat. "OMO!! YAKK!! ADIK DURHAKA, JADI YANG KAU MAKSUD DEDEMIT ITU ADALAH AKU?!" pekik Aiden sambil menunjuk dirinya sendiri.
Dan teriakan keras itu membuat Tuan Valentino terbangun, dia berlari keluar begitu pula dengan Ken yang saat ini sedang menuruni tangga. Bukan karena ada bahaya, mereka malah disuguhi perdebatan ****** antara Luna dan Aiden.
"Eh, jadi itu kau, Kak. Huh, salah sendiri kenapa keluar kamar dengan wajah putih tengah malam begini." Luna mendengus.
__ADS_1
Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Luna. "Dasar kau ini, ini namanya perawatan. Kakak tidak ingin jika mukaku yang tampan ini sampai jelek dan kusam. Makanya aku rawat dengan benar, pakai masker secara teratur, skin care dan sering pergi ke dokter. Yang terpenting menghindari makanan berminyak dan berlemak serta istirahat yang cukup, terakhir minum air putih sebanyak-banyaknya." Ujar Aiden panjang lebar.
"Dasar sinting, perempuan saja tidak seribet dirimu, lagipula mana ada wanita yang berani mendekatimu jika wajahmu saja semulus dan sebening itu, mereka pasti akan minder. Bahkan semut pun akan terpeleset jika menempel di mukamu!!" Tutur Ellena.
Peltak...
"Appooo..." Lagi-lagi sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Luna. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan Aiden. Aiden menjitak kepala Luna untuk yang kedua kalinya.
"Sembarangan. Mana mungkin, mereka justru akan terpesona dengan wajah tampanku ini.",
"Huh, terserah."
Tuan Valentino hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Ada saja hal tak masuk akal yang mereka perdebatkan. Kemudian keduanya kembali ke kamar masing-masing.
-
-
"Dasar menyebalkan!! Bagaimana bisa Mama melahirkan anak menyebalkan seperti Aiden. Mimpi buruk apa ini, punya kakak tapi aneh dan menggelikan. Aku saja yang perempuan tidak serempong dia!!"
Luna terus saja menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal setengah mati pada Aiden, dan rasanya dia ingin sekali mencakar wajah sok tampan kakaknya itu.
"Kau baik-baik saja!?" Tanya Ken seolah-olah tak tau apa-apa.
"Buruk!!"
Ken memicingkan matanya. "Memangnya ada apa?" Tanya pria itu penasaran.
"Jangan bertanya lagi, aku sedang tidak ingin membahas apapun. Aku sedang kesal dan moodku sangat jelek. Aku hanya ingin tidur sekarang!!" Luna menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut dan mengabaikan Ken.
Ken mendengus, menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang terkadang kekanakan itu. Dia kemudian meletakkan minumannya, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna kemudian berbaring disampingnya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.