
"Keluarlah dari ruangan ku!"
Nada dingin nan tegas menginterupsi langkah kaki seorang wanita yang baru saja memasuki ruangannya. Fokus Ken tak teralihkan sedikit pun dari apa yang ada dihadapannya. Beberapa dokumen harus dia periksa dan dia tandatangani dengan segera.
"Sampai kapan kau akan bersikap sedingin ini padaku, Tuan Zhao? Istrimu sudah lama meninggal, dan tidak bisakah kau menerimaku sebagai penggantinya sekarang? Dan satu hal lagi, apa kau lupa dengan apa yang telah aku lakukan padamu disaat kau terpuruk dulu?" Ucap Wanita itu.
BRAKK...!!
Wanita itu terlonjak kaget saat tiba-tiba Ken menggebrak meja di depannya dengan keras. Sorot matanya yang tajam seolah-olah ingin menerkam membuat wanita itu sedikit merinding.
"Keluar sekarang juga dari ruanganku sebelum kesabaranku benar-benar habis, Chia Choi. Dan jika kau mengungkit tentang balas budimu yang tidak seberapa itu pasca kepergian, Luna. Sebaiknya segera lunasi semua hutang-hutang keluargamu padaku yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya."
"Satu hal lagi yang perlu aku tegaskan padamu, aku bukanlah tunanganmu! Dan meskipun Luna sudah tidak ada, sampai kapan pun dia tidak akan pernah tergantikan. Ingat itu baik-baik. Dan sahabat macam apa kau ini, menusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Kau sangat memuakkan!!"
"KEN ZHAO!!"
"BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU SESUKA HATIMU!!"
DORRR...!!
"Aaahhh...!!" Chia menjerit kencang sambil menutup rapat-rapat telinganya dengan kedua tangannya. Guci besar yang ada dibelakang Chia hancur menjadi pecahan-pecahan kecil setelah tertembus peluru yang Kevin lepaskan."Kau! Apa kau ingin membunuhku?"
"Ya. Dan sebelum kegilaan mengambil alih kesadaranku, sebaiknya keluar dari sini sekarang juga. KELUAR!" bentak Ken penuh emosi.
Ken tidak tau apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Bagaimana bisa dia berpikir untuk menggantikan posisi Luna dihatinya, dan sahabat macam apa yang berani mengkhianati sahabatnya sendiri meskipun dia telah tiada.
Dengan perasaan marah dan kecewa. Chia meninggalkan ruangan Ken. Dan ketika tiba di luar, tanpa sengaja dia berpapasan dengan seorang perempuan berambut sebahu yang sedang tersenyum remeh padanya. "Dia menolakmu lagi?" tanya orang itu meremehkan.
"Diam kau wanita jala*ng. Jangan senang dulu karena belum tentu dia akan menerima dirimu. Saran kecil dariku, sebaiknya kau menyerah saja dan urungkan niatmu untuk menemuinya sebelum dia menendangmu keluar."
"Kita lihat saja. Ken, tidak mungkin menolakku kali ini." Ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Awalnya memang tidak ada yang yang aneh dengan sikap Chia. Tapi setelah melihat Ken yang terpuruk di pemakaman Luna, Chia langsung jatuh hati padanya dan dia tidak bisa menolak pesona seorang Ken Zhao.
Keterpurukkan Ken pasca kepergian Luna dia manfaatkan untuk mengambil hatinya, tapi sayangnya usahanya tidak berhasil karena Ken selalu bersikap dingin padanya.
Kemudian Chia mengumumkan pada media, jika dirinya telah di pinang oleh keluarga Ken untuk menjadi tunangan pria itu.
Ken tentu tidak tinggal diam apalagi menerimanya begitu saja, karena dia merasa Chia telah mencemarkan nama baiknya, sedangkan perempuan bernama Alea langsung mengibarkan bendera perang pada Chia karena sejak lama dia sudah jatuh hati pada Ken yang merupakan atasannya.
Brakkk...!!!
Tubuh Alea tersungkur di lantai setelah di dorong keras oleh Ken. Melihat hal itu membuat tawa Chia pecah seketika. Wanita itu melipat kedua tangannya dan menatap Ale dengan tatapan mencemooh.
"Hahahha! Bahkan nasibmu lebih buruk dariku. Dan rasanya pasti sangat sakit ya diperlakukan sekasar itu oleh pria yang kau cintai? Aku turut berduka untukmu."
"DIAM KAU JALA*G!!"
Alea segera berdiri dan menyerang Chia. Kedua wanita itu bertengkar hebat dan saling menjambak membuat keadaan di sana menjadi sangat riuh. Dan Ken yang merasa terganggu dengan kelakukan mereka berdua segera memanggil satpam untuk mengusir keduanya.
Chia dan Alea di seret keluar secara paksa dan tubuhnya di dorong begitu saja di luar gedung hingga keduanya sama-sama tersungkur.
-
-
Ken Menghentikan mobil mewahnya di halaman Mansion luas kediaman Zhao. Seorang pria menghampiri Ken lalu mengambil alih fungsi mobil ditangani, pria itu melenggang masuk dan mendapati rumahnya dalam keadaan sepi. Tidak heran, mengingat jika ini sudah pukul 21.00 malam.
Langkah kaki Ken terhenti karena kedatangan Paman Wang. Pria tua itu menghampiri Ken dengan wajah pucat, ketakutan terlihat jelas dari raut mukanya.
"Paman ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja saja?" tanya Ken memastikan.
"Tuan muda apa maksud anda membawa hantu ke rumah ini? Saya tahu jika anda sangat merindukan Nona Luna, tapi tidak sampai begitu juga, anda manggil arwahnya dan membawanya pulang ke mansion ini?!"
__ADS_1
Ken mengangkat alis kanan dan menatap Paman Wang penuh tanya. "Maksud, Paman?" tanya Ken memastikan.
"Tuan Muda, rumah ini tidak akan aman jika arwah Nona Luna di sini, sebaiknya anda mencari cara untuk mengusirnya pergi."
Ken mendengus geli. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Paman Wang, orang itu pasti Jessline. Pasti paman Wang jika itu adalah hantunya Luna.
"Konyol, jelas-jelas dia itu manusia bukan arwah. Namanya Jessline Jung, aku membawanya kemari karena pamannya memiliki hutang padaku dan menjadikan Gadis itu sebagai jaminannya. Kebetulan wajahnya dan Luna memang sangat mirip, tapi mereka dua orang yang berbeda. Jangan berpikiran aneh-aneh lagi, apalagi mengira dia adalah arwah Luna!! Lalu dimana dia sekarang?" tanya Ken.
"Di kamar tuan muda kecil, dari siang tuan muda kecil tidak mau berpisah denganmu. Tuan muda kecil menganggap jika dia adalah Nona Luna," ujar Paman Wang.
"Hn, aku mengerti." kemudian Ken meninggalkan Paman uang begitu saja.
.
.
Cklek...
"Tuan Zhao!!" kagak Jessline ketika membuka pintu kamar Daniel dan mendapati Ken berdiri di depan pintu. "Maaf saya tidak bermaksud lancang, tapi Daniel tidak mau melepaskan saya dan mengijinkan saya pergi."
Ken menggeleng. "Tidak apa-apa aku bisa memahaminya, ini sudah malam sebaiknya kau pergi istirahat." pinta Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Jessline. Kebetulan Jessline sendiri sudah sangat mengantuk.
Jessline beranjak dari hadapan Ken dan pergi begitu saja. Kamarnya berada di lantai dua. Lebih tepatnya di sebelah kamar Ken, karena Jessline menempati kamar mendiang orang tuanya.
Ken berbalik badan dan menatap punggung Jessline yang semakin menjauh dengan Tatapan yang sulit dijelaskan.
Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya ketika melihat Jessline. Dalam hatinya kan berharap, jika Jessline adalah Luna yang sedang hilang ingatan. Ken menghela nafas panjang, pria itu menutup kembali pintu kamar Daniel dan melenggang pergi.
Ken sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Pekerjaannya di kantor yang menggunung menguras tenaga dan pikirannya, dan Ken ingin tidur lebih awal.
-
__ADS_1
-
Bersambung