
"Kalian yakin akan pulang hari ini?"
Rasanya begitu berat bagi Tuan Valentino melepaskan Luna pulang. Pasalnya belum genap satu Minggu dia berkumpul dengan putrinya itu setelah terpisah sangat lama. Tapi dia juga harus mengerti jika sekarang putrinya telah menikah dan memiliki kehidupan sendiri.
Luna mendekati sang ayah kemudian memeluknya. "Papa, tidak perlu sedih, kami akan sering datang berkunjung. Dan jika Papa memiliki waktu luang. Datangnya ke Seoul, aku akan sangat menantikan kedatangan Papa." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Baiklah, Nak. Papa berjanji." Jawab Tuan Valentino sambil membalas pelukan Luna.
Kemudian Luna beralih memeluk nenek dan kakeknya yang juga tampak berat melepaskan kepulangannya. "Nenek, Kakek, jangan bersedih. Aku pasti datang lagi mengunjungi kalian. Aku janji," ucap Luna lalu menghapus air mata di pipi neneknya.
"Kami akan sangat merindukanmu, Nak."
"Aku juga,"
Setelah berpamitan pada seluruh keluarga Valentino. Luna dan Ken meninggalkan mansion mewah itu. Tuan Valentino meminta Ken supaya menjaga Luna dengan baik, dan tentu saja Ken berjanji untuk selalu menjaganya.
Mereka tidak hanya berdua saja. Karena Aiden ikut kembali ke Seoul. Sudah terlalu banyak pekerjaan yang dia tinggalkan di sana. Dan Asistennya sudah marah-marah memintanya untuk segera kembali.
-
-
Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun terlihat begitu antusias. Hari ini dia akan menjemput ayah dan kakak cantiknya di bandara. Tidak hanya sendiri, karena dia pergi dengan Paman Wang dan seorang pemuda yang usianya seumuran dengan Luna.
"Paman, kenapa mereka lama sekali? Apa mereka gak tau kalau Daniel sudah sangat-sangat merindukan mereka." Protes Daniel karena pesawat yang Luna dan Ken naiki belum tiba juga.
"Sabar, Prince. Mungkin sebentar lagi, lagipula belum lima menit kita di sini. Ngonong-ngomong, kakak cantikmu itu orang yang seperti apa? Kenapa kau begitu menyukainya?" Tanya pemuda itu penasaran.
"Paman Aldo ingin tau ya, emm.. seperti apa ya? Dia seperti Barbie hidup, memiliki suara yang sangat bagus, cantik dan sangat sayang sama Daniel. Nanti Daniel akan kenalin Paman Aldo ke kakak cantik deh."
Aldo mengacak rambut Daniel dengan gemas."Dengar ceritamu Paman jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya. Oya, nanti Paman juga akan mengenalkan Daniel pada calon Bibi, dia gadis yang Paman cintai dan kencani dulu. Apa Daniel mau?"
__ADS_1
"Apa dia cantik? Bagaimana kalau nanti kita adu kecantikan antara kakak cantik dan kekasih Paman itu?!" Usul Daniel.
"Baik, siapa takut. Tapi Daniel jangan pindah lain hati ya, kalau kekasih Paman lebih cantik dari Istri papamu."
"Oke."
-
-
Jantung Luna berdebar tidak karuan. Wanita itu merasakan detak jantungnya yang berdebar jauh lebih cepat dari biasanya, dia tidak tau apa yang terjadi. Karena Luna tidak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya.
"Ada apa, kenapa kau terlihat gugup? Apa kau merasa tidak nyaman?" Tanya Ken memastikan.
Luna menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, rasanya begitu aneh. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Mungkin aku terlalu tegang berada di ketinggian terlalu lama," jawabnya.
Ken lalu membawa Luna ke dalam pelukannya. Mencoba membuat wanita merasa senyaman mungkin. Dan berhasil, dekapan dan sentuhan Ken membuat Luna merasa jauh lebih tenang dan nyaman. Dan memang hanya Ken satu-satunya orang yang bisa membawa ketenangan dalam hidupnya.
Sementara itu...
Aiden yang melihat kemesraan dan keromantisan mereka hanya bisa gigit jari. Dia sungguh sangat iri dengan pasangan satu ini. Ken dan Luna selalu memamerkan kemesraannya dimana pun mereka berada, dan hal itulah yang membuatnya merasa paling ngenes di dunia ini. Karena selalu melihat orang lain bermesraan.
Pesawat yang mereka naiki kali ini bukanlah pesawat komersial melainkan jet pribadi. Ken sengaja membelinya agar bisa lebih leluasa dan lebih bebas. Karena bagi Ken, tentu saja Uang bukanlah masalah.
"Yakk!! Kalian berdua, hentikan itu. Kalian sengaja ya melakukannya di depanku. Ini sudah hampir mendarah, sebaiknya kalian persiapkan diri masing-masing!!"
Luna mengangkat kepalanya dari pelukan Ken dan menatap Aiden dengan sinis. "Dasar nyamuk pengganggu!! Bilang saja kalau iri," cibir Luna sambil menjulurkan lidahnya. Lalu kembali dia memeluk suaminya. Kali ini Luna sengaja melakukannya dan ingin membuat kakaknya itu semakin panas.
"Ken, jujur saja aku selalu tegang dan takut ketika pesawat mulai mendarat. Bisakah kau melakukan sesuatu supaya aku tidak takut lagi?" Luna memohon.
Ken menyeringai. "Tentu saja, Sayang." Jawabnya lalu membenamkan bibirnya pada bibir Luna, memagutnya dan mel*mat seperti biasanya. Dan tentu saja apa yang mereka mereka lakukan membuat mata Aiden membelalak sempurna.
__ADS_1
"YAKK!! PASANGAN MESUM, KALIAN SUNGGUH KETERLALUAN!!" teriaknya frustasi.
Tapi sayangnya Ken dan Luna menghiraukannya. Bibir mereka tetap bergulat panas meskipun ada orang yang frustasi karena apa yang mereka lakukan itu.
-
-
"Tuan muda kecil, itu mereka sudah tiba." ucap paman Wang saat melihat kedatangan Ken, Luna dan Aiden. Membuat senyum di bibir Daniel mengembang seketika.
Bocah itu sontak menoleh, dia melihat Ken dan Aiden aku berjalan menghampirinya. Tapi sayangnya sosok Luna tidak terlihat, dan Hal itu membuat senyum di bibir Daniel pudar seketika.
"Papa, dimana Kakak cantik? Kenapa kalian hanya berdua saja? Apakah Kak cantik tidak ikut pulang bersama kalian?" Daniel menekuk wajahnya.
Ken memeluk putranya itu untuk melepaskan rasa Rindunya. "Tentu saja Kakak cantikmu ikut pulang, dia sedang di toilet. Sebentar lagi pasti kemari," jawab Ken.
Lalu pandangan Ken bergulir pada sosok pemuda yang berdiri tak jauh dari Daniel. Sudut bibir Ken tertarik ke atas. Ken mendekati pemuda itu lalu memeluknya. "Lama tidak bertemu, Aldo. Kau semakin tinggi dan tampan saja," ucap Ken sambil mengusap punggung Aldo.
Aldo tersenyum dan membalas pelukan pamannya. "Dan Paman tidak menua sedikitpun, jika kita jalan bersama pasti orang-orang akan mengira jika kita berdua teman sebaya." Ucapnya. Ken hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi.
Tapp...
Suara heels yang bersentuhan dengan ubin lantai menggema dan berkaur di telinga mereka berlima. Sosok wanita cantik berparas menawan terlihat meliukkan tubuhnya menghampiri kelima laki-laki beda usia itu.
Daniel dan Ken yang pertama menoleh. Mereka sama-sama menarik sudut bibirnya. Daniel yang kegirangan langsung berlari sambil memanggilnya. "KAKAK CANTIK!!" seru bocah itu. Aldo pun menoleh, dia penasaran dengan istri dari pamannya ini. Dan senyum di bibirnya pudar seketika saat melihat siapa orang itu.
"Luna...."
-
-
__ADS_1
Bersambung.