
Sepulangnya dari pantai. Mereka tidak langsung pulang. Viona mengatakan jika dia masih ingin jalan-jalan menikmati suasana malam. Dan Kevin pun menyetujuinya.
Kevin menghentikan mobil mewahnya diarea Yeouido Park. Yeouido Park sendiri adalah salah satu taman besar yang ada dikota Seoul, dan taman ini sangat terkenal dengan pemandangan indahnya ketika musim semi pada bulan maret/april.
Dimana langit dan tanah berubah menjadi pink ketika kelopak bunga sakura bertebaran dimana-mana. Taman ini masih satu kompleks dengan sungai Han.
Kevin mematikan mesin mobilnya kemudian turun dan diikuti Viona yang kini berdiri disampingnya. Gadis itu begitu terpukau dengan lokasi yang Ia datangi bersama pemuda itu saat ini, Ia tidak menyangka jika Kevin akan membawanya mendatangi tempat ini.
Viona maju beberapa langkah ke depan, merentangkan kedua tangannya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Kedua mata Amber nya tertutup rapat, tersembunyi apik dibalik kelopak matanya dengan juntaian bulu mata yang lentik, sungguh bagaikan sebuah mahakarya yang tak ternilai harganya.
Kevin terpaku untuk beberapa saat. Ia sungguh tidak pernah melihat ciptaan Tuhan seindah itu. Diamatinya wajah ayu itu begitu lama, muncul keinginan di hati Kevin untuk memiliki sang dara. Namun ia segera tersadar. Laki-laki itu menggeleng, ditepisnya semua keinginan bodohnya itu.
Menyentuh bahu Viona membuat kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan mutiara Amber yang sejak tadi tersembunyi dibalik kelopak matanya. Gadis itu menoleh membuat mata indahnya bersirobok dengan mata milik Kevin.
"Ayo!"
Viona sedikit tersentak saat merasakan jarinya digenggam oleh tangan besar Kevin. Pemuda itu sedikit meremas jari-jari kecilnya, sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya. Mereka berdua berjalan beriringan diselimuti keheningan.
Kevin menoleh ke arah Viona dan mendapati wajah cantik itu memandang kagum pada setiap kelopak bunga yang jatuh berguguran. Kevin menarik sudut bibirnya, dan pandangannya kini tertuju pada kursi panjang yang berhadapan langsung pertunjukan air mancur yang dihiasi lampu warna warni.
"Kita duduk di sana saja!" Viona mengikuti arah tunjuk Kevin lalu mengangguk.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kursi itu diselangi perbincangan-perbincangan kecil. Ya meskipun perbincangan itu lebih banyak didominasi oleh Viona. Kevin memang tidak banyak bicara dan hanya sesekali menanggapi, dan itu pun tidak lebih dari 5-6 kata.
Berbeda dengan Viona, yang sedikit bawel seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Dan entah sejak kapan Viona menjadi sedikit terbuka pada pemuda dingin ini.
"Tidak banyak yang berubah pada tempat ini, semua masih sama seperti terakhir kali aku datang kesini." Ucap Viona, bibirnya mengukir senyum tipis.
"Jadi kau pernah datang ketempat ini sebelumnya?" Viona mengangguk. "Bersama mantan kekasihmu itu?" Lagi-lagi Viona mengangguk.
__ADS_1
"Tempat ini menyimpan banyak kenangan kami. Dan aku tidak menyangka kau malah membawaku ketempat ini. Tapi tidak masalah, toh aku harus berdamai dengan masa lalu. Sepertinya dari tempat ini juga aku harus menghapus satu persatu kenangan ku dengannya," Viona menoleh, memandang Kevin yang hanya menatap datar padanya.
"Jika kau ingin, aku akan membantumu menghapus semua kenangan-kenangan itu."
Viona memicingkan matanya. "Caranya?"
Kevin menarik tengkuk Viona lalu mencium bibirnya. Mata Viona membelalak, lagi-lagi Kevin menciumnya. Ciuman itu tak lebih dari 10 detik. Kevin mengakhiri ciumannya dan kembali menatap mata Viona.
"Jadilah kekasihku," pinta Kevin tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Hah," Viona menatap pemuda itu dengan bingung. "Apa kau baru saja menyatakan cinta padaku? Kau menembakku?" Viona menatap Kevin dengan polos.
Dengan kesal Kevin menjitak kepala Viona, apa gadis ini tidak peka sama sekali. "Ck, sebenarnya otakmu ini terbuat dari apa? Lamban sekali berpikirmu. Lupakan saja, anggap aku tidak pernah mengatakan apapun." Kevin bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Kau mau kemana? Yakk!! Kenapa aku malah ditinggal? Kevin, tunggu!!" Seru Viona dan bergegas mengejar Kevin yang berjalan semakin menjauh. "Aaakkhhh..."
Kevin menghentikan langkahnya mendengar pekikan keras Viona. Pemuda itu menoleh dan mendapati Viona bersimpuh di tanah sambil memegangi pergelangan kakinya yang sepertinya terkilir. Heels yang dia pakai patah.
Pemuda itu mendengus berat. Kevin menghampiri Viona lalu mengangkat gadis itu dan mendudukkannya di kursi yang mereka duduki tadi. "Tahan sebentar,"
"Ck, jangan cerewet. Diam saja, aku tidak mungkin membuatmu patah tulang."
"Aaaahhhhhh...." Viona berteriak sekencang-kencangnya saat Kevin menarik kakinya. Air matanya sampai menetes. Benar-benar sakit, tapi hanya sesaat.
"Bagaimana? Apa masih sakit?" Tanya Kevin memastikan. Viona menggeleng. "Tunggu disini, berapa ukuran sepatumu?"
"37,"
Kevin pergi begitu saja setelah mengetahui berapa ukuran sepatu Viona. Viona menatap punggung Kevin yang semakin menjauh, gadis itu memiringkan kepalanya. Viona teringat kembali pada apa yang diucapkan Kevin tadi 'Jadilah kekasihku' Viona masih tidak mengerti arti kata-kata itu.
"Apa dia tadi sungguh-sungguh menyatakan cinta padaku? Atau apa? Lucu sekali, mana mungkin orang dingin seperti dia jatuh cinta, tidak masuk akal." Viona terkekeh. Dia tidak percaya jika orang seperti Kevin bisa jatuh cinta.
__ADS_1
"Miao..."
"Eh, seperti suara kucing." Viona mendongakkan kepalanya. Matanya membulat melihat seekor anak kucing terjebak di atas pohon. "Omo!! Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau tidak bisa turun? Tunggu sebentar, aku akan segera menyelamatkanmu."
Viona naik ke atas pohon yang hanya setinggi dua setengah meter itu. Suasana di tempat itu sepi dan sedikit gelap, jadi tidak ada orang yang melihatnya baik ke atas pohon. Keberadaan kursi panjang itu memudahkan Viona untuk sampai diatas dengan aman.
Disaat bersamaan, Kevin kembali dari toko sepatu. Pemuda itu tampak kebingungan karena tidak menemukan keberadaan Viona ditempat ia meninggalkannya tadi. Sampai suara cempreng seorang gadis masuk dan berkaur di telinganya.
"Kevin, aku disini." Seru Viona dan membuat kedua mata Kevin membelalak sempurna.
"Ya Tuhan, Viona. Apa yang sedang kau lakukan di atas sana? Cepat turun, bagaimana kalau ada yang melihatmu? Kau ini perempuan, tapi kenapa tingkahmu sangat bar-bar."
Viona mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan. Bisanya cuma mengomeli orang saja. Iya, iya aku turun." Gerutu Viona.
"Cantik, jadi kau dan dia saling mengenal? Kalian berpacaran ya?"
"OMO!!" Nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan karena ulah Suketi yang muncul dengan tiba-tiba. "Yakk!! Hantu edan, bisa tidak gak usah mengejutkan kalau muncul. Bagaimana kalau aku sampai jatuh karena ulahmu!!"
"Hehehe, maaf. Piss, damai."
"Maaf, maaf. Dasar hantu Gila."
Kevin yang melihat perdebatan dua perempuan berbeda alam itu pun hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Bahkan dengan hantu saja Viona masih bisa ribut. Benar-benar gadis yang unik, pikir Kevin.
Kemudian Viona turun dengan bantuan Kevin. Pemuda itu meminta Viona untuk mencoba sepatu yang baru saja dia beli. Sebuah flat cantik berhias Tiara dan batu Rubi, Kevin tau jika Viona tidak menyukai sneaker.
"Sudah malam, ayo aku antar kau pulang."
"Baiklah."
-
__ADS_1
-
Bersambung.