PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Hehehe, dia berani menyebutku kucing liar. Aku akan buktikan seperti apa kucing liar yang sebenarnya!!"


Viona menangkup wajah Kevin lalu balik mel*mat bibirnya, ciuman kali ini diambil alih oleh Viona sepenuhnya. Dan apa yang gadis itu lakukan benar-benar membuat Kevin terkejut bukan main. Dia tidak menduga jika akan mendapatkan serangan balasan dari Viona.


Padahal awalnya Kevin hanya ingin mengerjai gadis ini. Tapi siapa yang menduga jika Viona malah membalikan keadaan dengan melancarkan serangan balasan. Gadis itu terus mel*mat bibir Kevin tanpa ampun, jari-jarinya melepas satu persatu kancing pada kemeja dan Vest yang melekat di tubuh pemuda itu.


Glukkk...


Viona menelan salivanya sedikit bersusah payah saat melihat dada bidang Kevin dan perut sixpack nya. Matanya berkedip lucu, dan entah semerah apa wajahnya saat ini.


Kedua mata Viona kembali membelalak saat merasakan tarikan pada pinggangnya ketika dia hendak mengakhiri ciuman tersebut. Jantungnya hampir meloncat keluar ketika Kevin menggenggam pergelangan tangannya dan mengarahkan telapaknya pada dada bidangnya yang terbuka.


Dia yang ingin balas dendam karena Kevin sudah berani menyebutnya kucing liar dengan menyerangnya serangan balasan, tapi kenapa malah dia sendiri yang terjebak?! Sungguh di luar perkiraannya. Sedangkan Kevin menyeringai penuh kemenangan sekarang.


"Kenapa, Nona Jung? Sepertinya kau sangat menyukai ketika memegang perut dan dadaku." Pemuda itu menyeringai.


"A..Apa yang kau bicarakan?! Mana ada, kau sangat mengada-ada. Dasar mesum!!" Viona bangkit dari atas tubuh Kevin dan pergi begitu saja.


Pemuda itu menyeringai lebar. Dia menyentuh permukaan bibirnya yang masih basah. "Heh, ternyata seekor kucing liar memiliki bibir yang manis juga," ucapnya dengan seringai yang sama.


Kevin segera merapikan penampilannya. Dia harus menghadiri rapat penting 10 menit lagi. Dan perban di pelipisnya dia samarkan dengan poninya. Karena akan banyak pertanyaan tidak penting jika perban itu sampai terlihat para peserta rapat.


-


-


Byurr... Byurr... Byurr...


Viona terus membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menghilangkan efek panas akibat insiden yang baru saja terjadi. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya benar-benar mirip kepiting rebus.


Dia sungguh merutuki apa yang baru saja terjadi, dan bagaimana bisa pemuda dingin mirip kulkas tiga pintu seperti Kevin menjadi begitu agresif? Apa otaknya mulai geser? Begitulah yang ada dipikiran Viona saat ini.


Setelah dirasa cukup. Viona segera meninggalkan toilet dan pergi ke atap gedung untuk mencari angin segar. Dia membutuhkan angin segar saat ini.


Just spread your wings


Reach for your dreams


There's no mountain that's hard to move

__ADS_1


Ponsel milik Viona tiba-tiba berdering. Dari nomor asing, penasaran siapa yang menghubunginya. Viona pun segera mengangkat panggilan tersebut.


Viona Viona alangkah indahmu


Merah kuning hijau hiasan matamu


Pelukismu agung siapa gerangan


Viona Viona ciptaan Tuhan


Viona Viona dengarkan laguku


Suaraku yang lugu, di panggung yang lucu


Tingkahku belagu dan namaku putu


Viona Viona aku jodohmu


Viona Viona aku jodohmu


Viona langsung memutuskan panggilan telfon tersebut. Dia ngeri sendiri mendengar lagu anak-anak asal Indo berjudul pelangi-pelangi yang telah di rumah liriknya menjadi sedemikian rupa. Dan dari suaranya, Viona kenal betul siapa yang menghubunginya, ya orang itu adalah Ben.


"Dasar sinting!!"


Pintu besi itu dibuka. Sosok Kevin yang baru saja selesai rapat menginjakkan kakinya di lantai atap gedung kantor. Seringai tersungging di sudut bibirnya begitu dia melihat Viona, sedangkan gadis itu langsung memberikan tatapan mautnya.


Pemuda itu terkekeh, entah kenapa dia geli sendiri melihat tatapan mematikan Viona. Bukannya merasa takut, dia justru merasa geli sendiri.


"Pesankan makan siang untukku, dan suruh kurirnya untuk mengantar langsung ke sini."


"Pesan saja sendiri, kau punya mulut dan kaki!!" jawab Viona ketus.


"Heh, berani menolak perintahku?" Kevin mendekati gadis itu. Sebelah tangannya mengangkat dagu Viona dan mengunci manik Amber-nya.


Memiliki firasat buruk, buru-buru Viona mendorong Kevin menjauh darinya sebelum pemuda menyebalkan itu mengambil keuntungan darinya. "Iya, iya, aku pesankan sekarang!!" ucap Viona pada akhirnya. Pemuda itu menyeringai dan mengurai senyum penuh kemenangan.


Diam-diam Viona memesan makanan dengan tingkat kepedasannya yang berada di level 10. Kevin pikir hanya dia yang bisa ngerjain dirinya, Viona juga bisa. Dan Viona bersumpah, selama satu hari pemuda itu tidak akan menyusahkan dirinya.


"Hehehe... Kevin Zhao, makan pembalasanku," ucap Viona membatin.

__ADS_1


.


.


Tidak sampai 15 menit. Makanan yang Viona datang. Dia memesan dua porsi, satu untuknya dan satu lagi untuk Kevin. Akan keenakan Kevin jika dia hanya membayar untuk satu porsi saja. Dia harus memberinya makan juga.


"Kenapa kau membiarkan kurirnya menunggu. Cepat bayar," pinta Kevin dan membuat mata Viona membelalak.


"Kenapa harus aku yang membayarnya?! Kau kan yang ingin makan dan memintaku untuk memesannya. Jadi kau yang harus membayarnya. Lagi pula aku tidak membawa uang cash kesini."


"Transfer,"


"Kevin Zhao!! Kau benar-benar keterlaluan ya!! Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentransfernya sekarang."


"Baik, Nona. Ini nomor rekening saya."


"Hm, sudah. Kau boleh pergi. Ada kembaliannya, untukmu saja."


"Terimakasih, Nona. Saya pergi dulu."


Melihat wajah tanpa berdosa itu membuat Viona ingin memukul Kevin sekali lagi dengan lebih keras hingga membuat dia amnesia. Tapi sayangnya dia bukan seorang psikopat gila yang akan melakukan hal tersebut hanya untuk meluapkan kekesalan.


Gadis itu mengambil napas panjang dan menghelanya. Lebih baik makan saja dari pada semakin emosi karena ulah Bos tampan satu ini.


"Aaahhh, PEDAS!!" Viona langsung menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya lalu meneguk air putih sebanyak-banyaknya. "Sial, aku salah ambil makanan. Ini sih namanya senjata makan tuan!!" Batin Viona.


Kevin memicingkan matanya melihat wajah memerah Viona karena kepedesan. "Minum lagi," dia menyerahkan air mineralnya yang masih utuh pada Viona. Dia tidak tega melihat gadis itu kepedesan.


"Kalau tidak suka pedas kenapa malah pesan makanan pedas, cari mati saja. Kita tukeran makanan. Kau ambil punyaku." Kevin memberikan makan siangnya pada Viona lalu dia mengambil makanan milik Viona.


Viona tak memberikan respon apa-apa dan hanya menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dia mengambil makanan itu dari tangan Kevin lalu memakannya.


Kevin yang memang dasarnya suka makanan pedas jadi tidak masalah dengan makanan itu. Dia tampak biasa-biasa saja meskipun tampak berkeringat. Berbeda dengan Viona yang langsung memberikan respon berlebihan ketika makanan itu menyentuh lidahnya.


"Sial, niatku ingin mengerjainya tapi yang kena malah diriku sendiri. Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?" Ujar Viona membatin.


Dan selanjutnya hanya keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Viona. Mereka menyantap makan siangnya dengan tenang.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2