
"Aiden,berhenti kau!!"
Tuan Valentino tidak bisa menahan kemarahannya saat dengan sengaja Aiden memecahkan guci giok kesayangannya. Guci itu dia beli ketika berkunjung ke China beberapa tahun silam.
Tuan Valentino terus mengejar Aiden sambil membawa sebuah sapu yang nantinya akan dia gunakan untuk menghajar putra sulungnya tersebut. "Berhenti kau anak durhaka!!" Teriak Tuan Valentino namun dihiraukan oleh Aiden.
"Huaaa...!! Papa, aku sungguh-sungguh tidak sengaja." Seru Aiden membela diri.
"Tidak sengaja kau bilang?! Papa melihat dengan mata kepala Papa sendiri kau sengaja menendangnya dan membuat guci itu pecah. Dan daripada kau terus membuat masalah, sebaiknya segera cari calon istri lalu menikah. Sampai kapan kau mau sendirian terus seperti ini?!"
"Aku tidak mau!! Menikah dan berumah tangga itu menjengkelkan. Karena setelah menikah aku tidak bisa bebas lagi, lebih baik jadi BUDI dari pada hidup tertekan!!" Ujarnya.
"Dasar anak bodoh, dimana-mana pria ingin menikah dan kau malah tidak mau menikah. Sepertinya otakmu perlu di cuci dan bedah biar tidak eror lagi!!"
Dan beginilah keseharian mereka. Selalu saja ribut karena hal-hal yang sepele. Dan siapa lagi biang keladinya jika bukan Aiden, dia selalu memiliki 1001 cara untuk membuat sang ayah kesal dan marah.
Para pelayan yang bekerja di Villa megah itu pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan tuan-tuannya yang selalu bertingkah seperti bocah.
"KAKEK, KAMI DATANG!!"
Langkah Aiden dan Tuan Valentino pun terhenti detik itu juga. Ayah dan anak itu saling bertukar pandang. Keduanya pun segera mengambil ancang-ancang untuk pergi dan menyambut kedatangan si kembar.
"CUCU-CUCUKU, KAKEK DATANG!!"
Gubrakk!!
Tubuh Aiden terjengkang karena dorongan Tuan Valentino. Alhasil, pantatnya mendarat duluan dengan tidak elitnya di lantai. Dan kepalanya tertimpa bingkai foto yang ada di atas meja. Bukannya membantu Aiden, Tuan Valentino malah meninggalkannya.
Terlihat si kembar yang berlari menghampirinya. Dibelakangnya tampak Luna, Ken, Devan dan Daniel. Mereka semua datang bersama-sama mengunjunginya. Dan hal itu membuat pria berusia 60 tahun itu sampai terharu dan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Cucu-cucuku yang cantik dan tampan. Kakek sangat merindukan kalian."
"Kami juga merindukan, Kakek." Jawab keduanya dengan kompak.
"Tidak adil, bagaimana Kakek hanya merindukan mereka saja. Aku juga Cucu Kakek," seru Daniel melayangkan protesnya. Pemuda berusia 18 tahun itu kemudian menghampiri tuan Valentino dan memeluknya juga.
Melihat wajah bahagia sang ayah membuat Luna terharu dan hampir menangis, dia bahagia, karena di usianya yang mulai senja sang ayah selalu bahagia dengan kehadiran keluarga yang begitu menyayanginya.
Ken yang menyadari hal itu segera menghapus air mata istrinya lalu merangkul bahu Luna. Wanita itu tersenyum lebar, meyakinkan pada sang suami jika dia baik-baik saja.
"Oya, Pa. Dimana kak Ai, kenapa aku tidak melihat batang hidungnya?" Heran Luna saat tak melihat keberadaan sang kakak.
"Dia ada di dalam. Ayo, sebaiknya kita masuk." Ajak Tuan Valentino pada keluarga kecilnya itu.
Luna mengerutkan keningnya melihat Aiden yang berjalan dengan langkah sedikit aneh. Dia terus memegangi pinggangnya sambil mengusap kepalanya. "Kakak, kau baik-baik saja?"
"Buruk," jawabnya sinis.
Luna hanya meringis ngilu. Rupanya perang dunia kedua antara Aiden dan Ayahnya belum berakhir. Mereka masih saja seperti kucing dan tikus, yang tidak pernah bisa akur.
"Sudah jangan hiraukan kakakmu, lebih baik kalian pergi istirahat saja. Anak-anak biar Papa yang menemaninya. Papa masih sangat merindukan mereka." Ucap Tuan Valentino yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna dan Ken.
-
-
Luna membuka jendela kamarnya. Hamparan hijau yang begitu menyejukkan langsung memanjakannya sepasang netra Hazel nya. Selain dekat dengan pantai, Villa milik ayahnya juga dikelilingi bukit hijau yang sejuk.
Dibelakang Villa ada sebuah bukit yang terdapat bunga-bunga cantik juga danau alami yang memiliki tiga warna diwaktu yang berbeda. Saat pagi hari, danau itu berwarna hijau. Namun ketika siang tiba, air danau berubah biru laut. Dan ketika menjelang senja, warna danau berganti jernih seperti air pada umumnya.
__ADS_1
Dan setiap kali datang berkunjung, Luna tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memanjakan matanya dengan menikmati keindahan danau dan bunga-bunga di atas bukit.
Berbeda dengan Luna. Si kembar lebih suka bermain pasir di pantai. Membuat istana pasir adalah salah satu hal yang paling mereka sukai.
"Bagaimana kalau sore ini kita pergi ke bukit, aku ingin memetik bunga dan juga melihat Danau." Luna kemudian berbalik dan menatap Ken dengan penuh harap.
Ken menghampiri sang istri lalu menarik pinggang wanita itu. "Sepertinya bukan ide buruk." Ucapnya dan mengecup singkat bibir Luna. "Mumpung anak-anak sedang bersama Kakek mereka. Bagaimana kalau kita berjuang membuat Ken junior lagi?!"
Luna menggeleng. "Aku lelah, jangan sekarang. Nanti malam saja, sekarang aku ingin tidur. Soo, jangan menggangguku, oke," baru saja Luna beranjak dan melenggang pergi, namun tarikan pada pergelangan tangannya membuat langkah wanita itu terhenti.
Tubuh Luna berbenturan dengan tubuh Ken. Kedua lengan pria itu melingkari pinggangnya dengan erat. Ken menyeringai. "Kau pikir bisa kabur semudah itu dariku, Nyonya Zhao!!" Bisiknya dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Luna.
Ken mengarahkan sebelah tangannya ke belakang kepala Luna dan menekannya, ciuman mereka semakin dalam dan kian menuntut.
Ken terus mel*mat bibir itu tanpa ampun. Sedangkan tangan Ken yang satu lagi memeluk pinggang Luna semakin erat. Dan jarak diantara mereka pun terbunuh sepenuhnya.
Des*han dan erangan liar yang keluar dari bibir Luna menjadi melodi indah yang bergema di telinga Ken. Dan des*han itu Ken manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih, lidah Ken menelusup masuk ke dalam mulut Luna dan mulai mengobrak-abrik nya.
Kedua kaki Luna tak lagi berpijak di tanah tetapi melingkari pinggang prianya ini. Meskipun awalnya Luna sempat menolak ajakan Ken dengan alasan lelah, tapi akhirnya dia menyerah juga.
Ken menarik dirinya sesaat untuk menatap sang dara. "Masih ingin menolak juga?!" Pria itu menyeringai lebar. Ken menang, karena pada akhirnya Luna yang menyerah.
"Kau gila, Ken!! Aku kalah dan kau yang menang!! Kau puas sekarang!!" Dan Ken hanya terkekeh mendengar ucapan protes Luna. Memangnya kapan Luna pernah menang darinya?!
Kemudian Ken mengangkat tubuh wanita itu bridal style dan membawanya ke tempat tidur. Panas matahari di luar sana yang begitu terik, tak mungkin bisa menyaingi panas gairah yang membakar dua anak manusia ini yang sedang di mabuk cinta.
-
-
__ADS_1
Bersambung.