
Sejak kejadian hari itu. Sikap Ken pada Jessline menjadi semakin dingin. Pria itu tak pernah lagi menegur, apalagi menyapanya meskipun hanya satu dua kata saja dan hal itu membuat Jessline merasa sangat sedih.
Dan tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihannya, Jessline memutuskan untuk jalan-jalan keluar untuk mencari udara segar. Dia tidak perlu ijin dari Ken karena percuma saja pria itu tidak mau bicara padanya.
Saat ini Jessline sedang berada di sebuah kedai yang menjadi tempat favoritnya bersama Via, Key dan Sammy. Keempatnya saat ini berkumpul di sana. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah satu bulan.
Diam-diam Key memotret Jessline yang sedang menikmati ice cremanya kemudian mengunggahnya ke media sosial miliknya. Dan dalam hitungan detik saja postingan Key langsung di lihat ribuan orang yang langsung menglike postingan tersebut dengan berbagai macam komentar.
Namun tanpa sadar, Key sudah menempatkan Jessline dalam bahaya dengan mengunggah foto tersebut. Selama ini banyak orang yang memburunya dan semuanya adalah seorang lintah darat.
"Jessline Jung, akhirnya kami menemukanmu juga. Kali ini kau tidak akan bisa kabur lagi dari kami. Cepat bawa dan seret wanita ini. Bos, pasti akan memberi kita hadiah besar karena berhasil menangkapnya."
"Cepat kita pergi dari sini."
Mata Jessline membelalak saat Via tiba-tiba menarik lengannya dan membawanya lari dari pria-pria itu. Via tidak akan membiarkan mereka sampai menangkap Jessline lagi. Sedangkan Key dan Sammy berusaha semampu mereka untuk mengulur waktu supaya pria-pria itu tidak mengejar Via dan Jessica. Tapi semua percuma karena kedua pemuda itu bukanlah tandingan pria-pria tersebut.
Kedua wanita itu terus berlari sambil sesekali menoleh kebelakang dan pria-pria itu tetap mengejar di belakang dan jarak mereka pun semakin dekat.
Dalam hatinya Jessline hanya bisa berdoa semoga ada seseorang yang bisa menyelamatkannya. Dan hanya ada satu nama yang tiba-tiba terlintas dikepalanya 'Ken' meskipun sangat mustahil tapi Jessline berharap Ken melintas di sana dan melihat dirinya berada dalam bahaya karena hanya pria itu satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dirinya.
-
-
Sebuah mobil mewah melaju kencang pada jalanan kota Seoul yang lumayan ramai. Seorang pria duduk di jok belakang sambil memangku laptopnya.
Jari-jarinya menari dengan lincah di atas keyboard dan tatapannya terlihat begitu serius. Tak ada hambatan meskipun penglihatannya tak lagi sempurna. Mata kanan itu menatap rentetan kalimat pada layar laptopnya dengan serius.
"OMO! Bos, bukankah itu, Jessline Jung? Sepertinya dia dan temannya sedang dalam masalah besar."
"Apa katamu?"
"Lihat di sana, Bos." Pinta Jimin sambil menunjuk arah di mana dia melihat Jessline dan temannya. Kedua wanita itu berlari dengan beberapa pria yang mengejar keduanya.
"Hentikan mobilnya." Pinta pria itu yang pastinya adalah Ken.
Jimin mengangguk dan segera menepikan mobilnya. Tanpa membuang lebih banyak waktu lagi Ken bergegas turun dari mobilnya begitu pula dengan Jimin. Meskipun selama beberapa hari ini sikapnya pada Jessline sangat dingin, tapi saat melihat wanita itu berada dalam bahaya tak lantas membuat Ken diam begitu saja.
Dan sementara itu. Via dan Jessline tak menghentikan langkahnya meskipun hanya satu detik saja. Kedua wanita itu terus berlari guna menghindari beberapa pria yang mengejar mereka.
Bisa saja Via melarikan diri dan membiarkan Jessline mengingat jika dirinya tidak memiliki urusan apapun dengan mereka. Tapi sayangnya Via tidak bisa melakukannya. Bagaimana pun juga Jessline adalah sahabatnya, dan Via tidak mungkin membiarkannya berada dalam bahaya.
__ADS_1
"Apa kau memiliki nomor ponsel pria itu? Jika punya segera hubungi dia dan beritahu dia jika kau berada dalam bahaya."
"Percuma saja, Tuan Zhao sedang marah padaku jadi dia tidak mungkin kau mengangkat panggilan dariku."
"Tapi kita tidak akan tau sebelum mencobanya. Lakukan sekarang aku benar-benar sudah tidak kuat untuk lari lagi."
"Tapi ponselku ketinggalan di cafe."
"Astaga, Jessline Jung, kenapa kau bisa ceroboh sekali? Habislah kita."
"Kalau begitu sebaiknya kau pergi dan tinggalkan saja aku sendiri. Kau tidak memiliki masalah dengan mereka karena yang mereka kejar adalah aku."
"Dan membiarkanmu berada dalam bahaya seorang diri?" Via menyela cepat. "Apa kau bodoh? Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya seorang diri." Ujar Via menegaskan.
"Aaahh...!!" Jessline memekik kencang saat salah satu dari orang-orang itu berhasil merobek lengan pakaiannya saat mencoba untuk meraih bahunya. Akibatnya sebagian kulit Jessline terekosh karena pakaiannya yang sobek.
"Via, pergi dan jangan hiraukan aku. Kau harus selamat. Aku sudah tidak kuat untuk lari lagi. Lagi pula yang mereka inginkan adalah aku bukan dirimu."
"JESSLINE JUNG!" bentak Via penuh emosi.
"Maaf, tapi aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah apalagi itu karena diriku. Aku sudah lelah karena terus berlari selama ini dan mungkin ini sudah menjadi nasibku. Kau ... pergilah."
Jessline melepaskan tangan Via kemudian berbalik dan menghampiri orang-orang yang mengejarnya. Bahkan Jessline tidak mau mendengarkan teriakkan Via yang memintanya untuk berhenti. Via semakin panik dan bingung harus melakukan apa untuk bisa menyelamatkan Jessline dari orang-orang yang mengejarnya.
"Aku akan ikut dengan kalian tapi dengan satu syarat. Lepaskan temanku dan biarkan dia pergi, dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini."
"Tapi sayangnya kami tidak bisa melepaskan betina itu dan membuat mengambil resiko. Betina itu akan ikut juga."
"Tidak, kalau begitu aku akan membunuh diriku sendiri supaya kalian tidak bisa lagi mengejarku." Ancam Jessline sambil mengarahkan sebuah belati kecil yang sejak tadi tersimpan di saku celananya pada lehernya.
"Coba saja kalau kau berani."
"Kau pikir aku hanya menakut-nakuti kalian saja. Aku serius dan sekarang juga aku akan menusuk diriku sendiri di depan kalian." Jessline mengangkat tinggi-tinggi belatinya dan....
TRANG...!!
Belati itu terlepas dari genggamannya setelah seseorang merebutnya dan membuangnya begitu saja membuat Jessline tersentak kaget. Wanita itu lantas menoleh dan mendapati Ken berdiri dibelakangnya dengan tatapan tajamnya.
"Jangan bertindak bodoh, Jessline Jung, mundurlah aku akan membereskan mereka dengan segera."
"Jangan ikut campur atau-"
__ADS_1
DORR... DORR... DORR...!!
Ken membungkam mulut mereka dengan tembakkan beruntun yang dia lepaskan. Tubuh pria-pria itu langsung terkapar di aspal dengan lubang pada kening dan dadanya akibat tembakkan yang Ken lepaskan. Tidak ada perkelahian yang menguras tenaga, Ken membereskan mereka dengan beberapa tembakkan saja.
Ken melepaskan vest dan kemejanya menyisakan kaos putih tanpa lengan yang mengikuti lekuk tubuh kekarnya lalu menakupkan kemeja miliknya pada tubuh Jessline yang terbuka, dan memakai kembali vest hitamnya sebagai luaran tank topnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ken memastikan. Jessline menggeleng dan meyakinkan pada Ken jika dirinya baik-baik saja. "Kita pulang. Terlalu lama di luar sangat tidak aman untukmu."
"Lalu bagaimana dengan temanku?"
Kemudian Ken menoleh pada wanita itu. "Jimin akan mengantarkannya dengan taksi. Sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Jessline. Dan sebelum ikut pulang bersama Ken, Jessline menghampiri Via lalu kedua sahabat itu saling berpelukkan untuk beberapa saat. Jessline merasa lega karena Jimin pasti bisa menjaganya.
🌹
🌹
Ken menghentikan mobilnya di halaman mansion mewahnya. Lalu pandangannya bergulir pada Jessline yang terlelap disampingnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat wajah damai wanita itu.
Ken mengerutkan dahinya saat melihat sesuatu yang langsung menarik perhatiannya pada bahu kiri Jessline. Mata kanan Ken membelalak saat melihat sebuah tanda lahir pada bahu kiri wanita itu, tanda lahir yang sama persis dengan tanda lahir yang dimiliki oleh Luna.
Dan Ken yang semakin penasaran langsung membuka pakaian Jessline guna memastikan sesuatu. Dan sama halnya dengan Luna, Jessline juga memiliki bekas luka di punggungnya. Ada sebuah liontin yang menggantung di lehernya. Dengan tangan gemetar, Ken mengambil liontin itu dan menemukan ukiran namanya Luna.
Tubuh Ken lemas seketika. Semakin banyak bukti-bukti yang membuktikan bila Jessline adalah Luna. "Ya Tuhan, pertanda apa ini?" lirih Ken bergumam. Pria itu menyandarkan punggungnya pada jok mobilnya sambil menutup rapat-rapat matanya. Dan dia semakin yakin bila Jessline adalah Luna.
Air matanya jatuh tanpa bisa di cegah. Ken merasa bodoh karena tidak bisa mengenali istinya sendiri. Selama ini dia begitu dekat, seharusnya sejak awal Ken mengikuti kata hatinya, bukan egonya.
"Ya, Tuhan, apa yang sudah aku lakukan padanya selama ini?" gumam Ken menyesali semua sikap kasarnya pada Jessline yang sebenarnya adalah Luna.
"Tuan Zhao?" buru-buru Ken menyeka air matanya sebelum Jessline melihatnya menangis.
"Hn, kau suda bangun?"
"Apa kita sudah sampai?" Ken mengangguk."Apa ini air mata? Kau menangis?" Jessline mengunci manik mata Ken dan menatapnya begitu dalam.
Alih-alih sebuah jawaban. Tubuh Jessline malah tertarik ke depan dan selanjutnya jatuh dalam pelukan Ken. Berkali-kali pria itu berbisik di telinga Jessline dan menggumamkan kata maaf yang tak Jessline pahami maknanya. Dengan ragu, Jessline mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan pria ini.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.