
"Ya Tuhan!!!"
Daniel tak mampu bergerak satu inci pun saat sepasang iris matanya menangkap sebuah pemandangan yang mampu menarik semua atensinya. Dimana dia melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai keluar dari sebuah mobil yang terparkir di parkiran sekolah mereka.
Dia belum pernah melihat gadis cantik itu sebelumnya. Mungkin dia adalah siswi baru yang sedang menjadi pembicaraan hangat sejak pagi.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Daniel. Melainkan parasnya yang sangat mirip dengan Luna. Bisa dibilang jika dia adalah Luna versi muda, apakah takdir baik kini berpihak padanya?! Daniel berharap begitu.
Deg.. Deg..Deg...
Jantung Daniel bekerja dua kali lebih cepat saat gadis cantik itu berjalan menghampirinya. Dia tiba-tiba berhenti. "Maaf, aku mau tanya. Dimana ruang kepala sekolah ya?" tanya gadis cantik itu.
"Ru..Ruang kepala sekolah ya? Mari aku antar," ucap Daniel yang kemudian dibalas anggukan gadis cantik itu.
Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesekali dia menatap gadis yang berjalan disampingnya. Gadis ini benar-benar mirip dengan Luna, bedanya wajah Luna yang tirus, sedangkan wajah gadis ini sedikit chubby.
"Kau siswi baru itu ya? Perkenalkan aku, Daniel Zhao." Daniel memperkenalkan dirinya, mencoba membunuh jarak antara dirinya dan gadis disampingnya ini.
"Aku, Erica." Jawab gadis itu yang ternyata bernama Erica.
Daniel menggaruk tengkuknya. "Senang berkenalan denganmu, Rica. Itu ruang kepala sekolahnya. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Daniel yang kemudian dibalas anggukan oleh gadis cantik itu.
Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam dada Daniel. Pemuda itu merasa senang dan bahagia setengah mati, Tuhan mengabulkan doa-doanya, dia mengirimkan gadis seperti Luna. Orang yang Daniel kagumi sejak kecil.
"Papa, mulai sekarang kau bisa tenang karena aku tidak akan mengejar kakak cantik lagi. Aku sudah menemukan gadis yang mampu membuat hatiku berdebar hebat."
Daniel memegangi dadanya. Dengan senyum mengembang lebar pemuda itu melenggang menuju kelasnya. Dia benar-benar tak pernah sesemangat ini.
-
-
Ken menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja dia melihat siluet istrinya yang sedang duduk termenung di taman belakang. Pandangannya lurus ke depan menatap hamparan bunga yang bergoyang karena tertiup angin.
Pria itu menghembuskan napas berat. Ken melangkah menghampiri Luna, dan kedatangannya menyita perhatian wanita itu sepenuhnya. "Ken, kau sudah pulang." Ucap Luna sambil menatap pria yang berdiri disampingnya itu.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Ken datar.
Luna menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin menikmati udara saja. Apa kau sudah makan siang? Mau aku siapkan makan siang untukmu?" Luna bangkit dari kursinya lalu menatap Ken dengan tatapan teduhnya.
Ken maju dua langkah lalu menarik bahu Luna dan membawa wanita ke pelukannya. Membuat Luna bingung. "Ada apa, Ken?" Tanya Luna kebingungan.
Ken menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja." Jawabnya dan semakin mengeratkan pelukannya.
Luna tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya dan dengan senang hati membalas pelukan suaminya ini. "Kau tau, Ken. Hanya di-dada ini aku menemukan ketenangan dan kenyamanan. Disaat aku sedih, berduka atau bahagia, hanya disini aku ingin menyandarkan segala rasa itu." Ujar Luna sambil menutup matanya.
Ken meletakkan dagunya di atas kepala coklat Luna. "Aku senang saat kau bergantung padaku, itu artinya hanya diriku satu-satunya pria yang paling berarti dalam hidupmu." Bisik Ken lirih.
Ken melonggarkan pelukannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ken mendekatkan wajahnya pada Luna dengan perlahan, menuju bibir yang selalu menjadi candu untuknya itu. Hanya tinggal beberapa centi lagi, namun tiba-tiba...
"Ma, Pa, apa yang sedang kalian lakukan?" Suara bocah bernaung di dalam telinga mereka dengan polosnya. Membuat mata Luna membelalak terkejut.
Buru-buru Luna mendorong Ken menjauh lalu dia menghampiri Marissa yang berdiri tak jauh dari mereka berada.
Luna menjadi salah tingkah, sedangkan Ken tampak tak suka dengan kedatangan putri kecilnya itu. Dia mengacaukan segalanya. Padahal hanya tinggal sedikit lagi ia dan Luna akan berciuman.
"Iya//Tidak!!" Luna dan Ken menjawab dengan serempak. Luna langsung melotot pada Ken yang tampak mendengus kasar. Dia melenggang pergi dan meninggalkan mereka begitu saja. Kesal terlihat pada raut wajahnya.
Marissa merasa tidak enak karena sepertinya dia sudah mengganggu ibu dan ayahnya. "Ma, sepertinya Papa kesal padaku. Dia terlihat marah," ucap Marissa melihat sikap ayahnya.
Luna menggeleng. "Itu tidak benar. Mungkin hanya perasaanmu saja, Papa juga agak sedikit lelah makanya dia rada sewot. Kenapa Riri tidak tidur siang? Lalu dimana Cello?" tanya Luna.
Marissa mendengus berat. "Cello mulai lagi, dia sedang bermain game dan membuat keributan di kamar. Aku mau tidur jadi tidak bisa. Ma, aku mau tidur terpisah saja dari si menyebalkan Cello!!" ucap Marissa, Luna mengangguk.
"Kalau begitu Mama akan meminta pelayan menyiapkan kamar untukmu. Ayo masuk, Mama akan menegur dan menyita ponselnya. Karena dia juga harus tidur siang." Tegas Luna. Marissa mengangguk setuju.
"Ya, Ma. Itu harus!!" Jawab Marissa, dalam hatinya gadis kecil itu tertawa puas. Siapa suruh mencari masalah dengannya.
.
.
__ADS_1
"Uhuuyyyy, aku menang lagi!!"
Marcello berteriak kegirangan karena dia berhasil memenangkan game yang menurut teman-temannya sangat sulit itu. Disaat dia akan maju ke level berikutnya. Tiba-tiba sebuah tangan mengambil ponsel itu dengan paksa.
"YAKK!!" Cello yang tidak terima langsung memekik dan hendak melayangkan protesnya. Tapi nyalinya langsung menciut setelah melihat siapa yang berdiri dihadapannya itu. "Mama," ucapnya pelan.
"Ponselmu mulai hari ini, Mama sita. Kau jadi malas belajar, nilaimu turun drastis. Sekarang sudah jadi anak pembangkang dan tidak mau bobok siang!!"
"Ya, Mama. Jangan begitu lah, Ma. Aku masih bermain dan sedang seru-serunya. Ma, kembalikan ponselku ya." Mohon Marcello.
Luna menggeleng. "Tidak, sebelum kau mendapatkan nilai terbaikmu lagi. Ponsel ini membawa pengaruh buruk untukmu!! Nurut atau Mama akan memberikan hukuman yang lebih berat dari ini?!" Ancam Luna yang terlihat begitu bersungguh-sungguh.
"Baiklah, Ma. Tapi setelah ujian dan kenaikan kelas Mama harus mengembalikan ya." Mohon Cello.
"Mama tidak janji, Riri sebaiknya kau juga cepat tidur. Atau Mama menghukum mu juga!!"
"Siap, Ma. Riri patuh kok." Jawab Marissa lalu menjulurkan lidahnya pada Cello. Dan Cello hanya bisa pasrah ponselnya di sita oleh sang ibu.
Cello menatap Marissa dengan sebal. "Dasar tukang ngadu. Adik durhaka, seenaknya mengadukan Kakak pada mama!!" Protes Cello.
Marissa mendecih. "Siapa yang adikmu. Jelas kau itu yang adik, masih saja ngotot!! Dasar bocah menyebalkan. Sudahlah, aku tidur siang saja." Sekali lagi Marissa menjulurkan lidahnya pada Cello.
"Marissa, kau sangat menyebalkan!!!"
-
-
Bersambung.
Mereka dua orang yang berbeda ya. Tapi emang mirip banget...
__ADS_1