
"ANAK-ANAK, NENEK BUYUT PULANG!!!"
Daniel dan si kembar langsung bangkit dari kursi masing-masing dan berlari keluar untuk menya.but nenek buyut kesayangan mereka yang berubah jadi Mak Toyib karena lama tak pulang.
Cello merentangkan tangannya sambil berlari menghampiri nenek buyutnya yang begitu dia rindukan. "NENEK BUYUT!!" teriaknya lalu memeluk wanita tua namun memiliki jiwa muda itu dengan erat. "Aku rindu, Nenek Buyut." Ucapnya.
"Nenek buyut juga sangat merindukan kalian semua," jawab Nenek Zhao sambil membalas pelukan cicitnya.
Daniel dan Marissa kemudian ikut bergabung untuk memeluk nenek buyut mereka yang baru pulang setelah menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun. "Nenek buyut, kemana saja huh?! Kenapa tidak pulang selama bertahun-tahun?" Tanya Daniel.
"Hidup ini hanya satu kali jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Nenek buyut pergi berkeliling dunia sekalian mencari Kakek buyut untuk kalian, tapi tidak dapat juga." Tutur Nenek Zhao.
"Ck, sudah tua masih saja memikirkan soal cinta. Nenek buyut, menggelikan!!" Cibir Marissa dengan nada tajamnya.
Nenek Zhao tertawa. Dengan gemas dia mencubit pipi cicit perempuan satu-satunya itu. Bagaimana bisa Marissa yang seorang gadis malah mewarisi sifat ayahnya, bahkan lidahnya juga setajam lidah Ken ketika berbicara.
Sebenarnya Marissa adalah perpaduan Ken dan Luna. Dingin dan menyebalkan. "Aigo, kenapa semakin hari kau malah terlihat seperti ayahmu saja, bagaimana bocah kutub itu menurunkan sifatnya pada putrinya yang cantik ini." Ucap Nenek Zhao gemas.
"Ck, masih ingat jalan pulang juga Nenek rupanya!!" Suara dingin yang begitu khas itu langsung berkaur di telinga Nenek Zhao. "Aku pikir kau sudah tenggelam di Antartika!!"
Pletakk...
Nenek Zhao menjitak kepala Ken dengan keras. "Dasar cucu durhaka!! Jadi kau menyumpahi nenekmu sendiri mati, begitu!! Nenek tidak pulang karena ingin menikmati hidup ini, ngomong-ngomong dimana cucu menantu kesayangan, Nenek?" Tanya Nenek Zhao saat tak melihat keberadaan Luna.
"Aku disini, Nek," sahut seseorang dari balik punggung Ken.
Nenek Zhao tersenyum lebar. Dia menghampiri Luna dan langsung memeluknya. "Luna, nenek sangat merindukanmu, sweet heart." Ucap Nenek Zhao sambil mencium pipi dan memeluk Luna.
"Aku juga merindukan, Nenek." Jawab Luna membalas pelukan Nenek Zhao.
Semua terlihat begitu bahagia menyambut kepulangan Nenek Zhao setelah bertahun-tahun menghilang. Nenek Zhao adalah orang yang bebas, jadi dia menggunakan sisa waktu yang ia miliki untuk membahagiakan dirinya sendiri, yakni dengan berkeliling dunia.
__ADS_1
Kemudian Luna mengajak semuanya untuk masuk dan menyantap makan malam. Karena anak-anak sudah pada lapar.
.
.
Usai makan malam. Mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Nenek Zhao membagi pengalamannya ketika berkeliling dunia pada ketiga cicitnya, Devan dan Luna. Sedangkan Ken terlihat tak berminat sama sekali dengan cerita luar biasa yang disampaikan oleh sang nenek.
Selain bercerita tentang perjalanan panjangnya. Nenek Zhao juga membagi oleh-oleh untuk semua keluarganya. Mereka terlihat begitu senang dan gembira. Apalagi si kembar.
"Wah, kelihatannya sangat seru. Nenek buyut, bagaimana kalau suatu saat nanti kau ajak aku untuk keliling dunia bersamamu?!" Usul Cello berapi-api.
"Boleh, tapi setelah Cello menjadi juara kelas. Jadi anak yang patuh dan membanggakan Mama serta Papamu." Jawab Nenek Zhao yang langsung membuat mimik wajah Cello berubah murung.
"Huh. Nenek Buyut gak ada bedanya dengan Mama. Dia juga bilang kalau Cello harus jadi juara kelas dan membanggakan. Aish, kenapa semua orang begitu menyebalkan!!" Keluh bocah laki-laki itu setengah frustasi.
"Lalu kau ingin bagaimana? Menjadi anak yang bodoh dan taunya hanya main saja?!" Cecar Marissa menyahuti.
"Diamlah, memangnya siapa yang mengajakmu bicara. Dasar adik durhaka!!"
"Cih, siapa yang adikmu?! Jelas-jelas aku adalah kakakmu!!"
Cello menggeleng. "Tidak bisa, pokoknya aku yang kakak dan kau yang adik!! Jangan menyebalkan Marissa, seharusnya kau itu mengalah sama saudaramu sendiri!!"
"Cih, tidak Sudi!!"
Pemandangan semacam ini tentu bukan lagi hal baru bagi Luna dan Ken. Hampir setiap hari mereka melihat perdebatan si kembar hanya untuk memperebutkan siapa kakak dan siapa adik. Dan hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ken dan Luna hanya bisa menggeleng, sedangkan Nenek Zhao malah tertawa lebar. Dimatanya kedua cicitnya ini sangat menggemakan. Kemudian Ken memisahkan diri dari yang lain dan pergi ke kamarnya, yang tak lama setelahnya di susul oleh Luna
.
__ADS_1
.
Luna menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil memangku laptopnya. Wanita itu tersenyum lebar lalu mengambil tempat di samping Ken. "Bagaimana dengan sekretaris barumu? Apa sesuai dengan kriteria yang kau cari?"
Ken menggeleng. Pria itu menghela napas panjang. "Leon benar-benar gila. Masa dia membawa wanita jadi-jadian datang ke kantor, dan katanya dia adalah kandidat terbaik untuk menjadi sekretaris baruku." Jelasnya.
"Dan kau menerimanya!!"
"Apa aku gila, tentu saja aku menolaknya. Dan Devan mengusulkan supaya kau saja yang menjadi sekretaris baruku, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan darimu. Tapi jika kau bersedia, aku tidak akan keberatan."
Luna bangkit dari duduknya lalu berpindah ke atas pangkuan Ken. Kedua lengannya memeluk leher suaminya. "Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Baiklah, aku setuju." Jawab Luna lalu mengecup singkat bibir suaminya.
Wanita itu menatap biner mata Ken. "Malam ini sangat dingin, bagaimana jika kita lanjutkan yang tadi?" Usul Luna yang langsung mendapatkan serangan dari Ken. Pria itu menyergap bibir Luna dan memagutnya dengan keras.
Persis seperti yang Luna harapkan. Kemudian jari-jari Luna melepaskan kemeja hitam yang melekat di tubuh suaminya dan membuangnya begitu saja. Masih dengan keadaan bibir yang masih menyatu. Ken mengangkat tubuh Luna lalu membawanya ke tempat tidur.
Ciuman Ken semakin dalam dan liar. Dan entah sejak kapan tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir Luna ketika Ken menghisap bagian put*ng payud*tanya.
"Aaahhh," Luna menjerit, merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.
Sedangkan dibawah sana milik Ken mulai mendesak masuk ke dalam diri Luna yang hanya dalam hitungan detik dilahap sepenuhnya. Mereka langsung masuk ke dalam intinya. Permainan yang liar dan panas.
"Aaahhhh...."
Luna mencengkram sprei yang ada di bawahnya dengan kuat. Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir tipisnya ketika Ken menghujamkan miliknya semakin dalam. Tubuh Luna tersentak-sentak seiring dengan tempo gerakan Ken yang semakin cepat.
Ken kembali membenamkan bibirnya pada bibir Luna yang sedikit membengkak dan mel*matnya seperti tadi. Malam ini menjadi malam yang panjang bagi keduanya untuk membagi cinta dan kehangatan. Malam yang terasa dingin bagi orang lain, juga menjadi malam yang hangat bagi mereka berdua.
-
-
__ADS_1
Bersambung.