
Di malam yang sunyi dan sepi, angin malam berhembus lirih menghantarkan hawa dingin yang begitu menusuk kedalam tulang melalui pori-pori. Bulan bersinar cukup terang dengan hiasan bintang yang menggantung di langit gelap.
Dibawah sinar matahari, terlihat seorang gadis yang hanya memakai dress tipis yang kontras dengan udara malam ini berdiri dibalkon kamar milik sang kekasih. Gadis itu tak sedikit pun meloloskan pandangannya dari langit gelap itu. Uap putih keluar seiring dia menghembuskan nafasnya.
Gadis itu terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang dan menggunakan bahu gadis itu sebagai sandaran dagunya. Gadis itu menarik sudut bibirnya dan mengulum senyum tipis, menyandarkan punggung dan kepalanya pada dada bidang yang hanya tertutup kemeja abu-abu.
Gadis itu 'Viona' menutup matanya sejenak menikmati semilir angin malam, kedua tangannya yang semula menggengam tangan Kevin yang tengah memeluknya kini ia rentangkan. Menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskan secara perlahan, melepaskan pelukan Kevin.
Viona berbalik dan posisi mereka kini saling berhadapan. "Aku sudah tidak sabar untuk menunggu sampai akhir bulan." Ucap Viona sambil mengunci mata Kevin.
Pemuda itu memicingkan matanya dan menatap Viona penuh selidik. Kevin menyeringai membuat Viona gelagapan dan salah tingkah. "Lu..Lupakan sajas, anggap aku tidak pernah mendengar apa-apa!" Viona berbalik badan dan berdiri memunggungi Kevin.
Viona sangat merutuki kebodohannya, tidak seharusnya ia mengatakan hal memalukan seperti itu. "I..ini sudah malam, se..se..baiknya aku tidur sekarang! "katanya dan berlalu begitu saja.
Namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Viona. Kevin lagi-lagi menyeringai melihat wajah memerah kekasihnya, ide jahil muncul dibenaknya.
"Pasti kau sudah tidak sabar ingin segera melewati malam pertama denganku? Makanya kau sudah tidak sabar menunggu sampai akhir bulan. Benar kan?"
Viona menggeleng cepat. "Bu-bu-kan karena hal itu. itu karena aku tidak ingin berpisah jauh dengannya!" ujar Viona menegaskan.
Kevin kembali menyeringai, jarinya mengangkat dagu Viona dan segera mempertemukan bibir mereka. Pemuda itu mel*mat bibir Viona singkat.
Setelah Kevin melepaskan tautan bibirnya buru-buru Viona pergi dari sana dan meninggalkan Kevin sendiri di balkon. Pemuda itu terkekeh melihat tingkah gadisnya itu, Viona begitu menggemaskan dengan wajah yang memerah.
"Ternyata menyenangkan juga mengerjainya. Bukan cuma kau yang tidak sabar, Vi. Tapi aku juga!"
Kevin melangkahkan kakinya memasuki kamar dan mendapati Viona berbaring di atas tempat tidur sambil menyelimuti sekujur tubuhnya dengan menggunakan selimut.
__ADS_1
Kevin tersenyum geli melihat tubuh sang kekasih yang mirip dengan ulat raksasa. Berjalan tanpa suara, Kevin menghampiri Viona.
Jari-jarinya bergerak untuk menarik selimut itu, otomatis mata Viona terbelalak ditambah dengan adanya sebuah benda lunak dan basah yang menyatu sempurna dengan bibirnya diiringi lum*tan-lum*tan lembut yang semakin lama berubah menjadi kasar dan menuntut.
Viona tidak kuasa menolak ciuman Kevin, ia pasrah dalam kungkungan tubuh kekar pemuda itu. Kevin menindih tubuhnya dan menggunakan kedua tangannya sebagai penopang berat badannya. Kevin menyeringai, ditatapnya wajah itu sejenak sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin. Kevin semakin memperdalam ciumannya dengan mengajak lidah Viona menari bersama, saling membelit dan tak jarang mereka bertukar saliva. Lidah Kevin terus mengobrak-abrik isi dalam mulut Viona, menginvasi ciuman itu.
Bukannya merasa keberatan, Viona justru menikmati ciuman panas Kevin. Gadis itu tidak kuasa menahan des*hannya saat jari-jari Kevin meremas pay*dara-nya dan memainkan ujung putingnya.
Viona merasa bagian bawanya sudah lembab karena aksi gila sang kekasih. Ia meremas rambut keperakan milik Kevin saat pemuda itu memainkan lidahnya di atas leher mulusnya sambil sesekali menggigit dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Tidak ingin bertindak lebih jauh lagi, Kevin segera menarik dirinya dari atas garis itu. Ia memang akan melakukan hal itu pada Viona namun tidak saat ini, tapi nanti setelah mereka telah resmi menjadi suami-istri. Kevin hanya ingin membantu menjaga dan melindungi kehormatan sang kekasih.
"Sudah larut, sebaiknya kita segera tidur!" kata Kevin seraya membaringkan tubuhnya disamping Viona.
"Jangan cerewet. Malam ini aku akan tidur disini." Kevin memberi kode pada Viona untuk mendekat.
Lalu dia membuka lengannya dan menggunakan sebagai bantalan kepala Viona. Mereka saling menatap selama beberapa detik, Viona menarik sudut bibirnya dan mencium lama pucuk kepala Viona.
"Jangan memandangku terus seperti itu, segeralah tidur!" pinta Kevin lagi, Viona mengangguk. Dan tidak sampai 5 menit, gadis itu sudah terlelap didalam mimpinya.
-
-
Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajah Marissa. Sang kekasih, pria yang telah dipacarinya selama lebih dari 5 tahun akhirnya hari ini kembali dari luar negeri. Selama beberapa tahun, mereka pacaran jarak jauh.
__ADS_1
Gadis itu telah sampai di bandara. Marissa sengaja mengosongkan semua jadwalnya di rumah sakit hari ini karena ingin menjemput sang kekasih. Dan kepulangan laki-laki itu karena adiknya akan menikah. Jadi dia tidak ingin melewatkan momen paling membahagiakan tersebut.
"Riri," seru seseorang yang segera menyita perhatian Marissa.
Gadis itu menoleh. Senyum di bibirnya mengembang semakin lebar melihat kedatangan orang yang sedari tadi ia tunggu. Marissa dan laki-laki itu sama-sama berlari lalu mereka saling berpelukan untuk saling melepas rindu.
"Lucas, aku merindukanmu." Ucap Marissa setengah berbisik.
"Aku juga," balas Lucas sambil mengeratkan pelukannya.
Mungkin banyak yang tidak tau tentang hubungan mereka berdua. Karena kebersamaan mereka hanya berlangsung selama 9 bulan saja. Lucas harus kembali ke luar negeri untuk melanjutkan bisnis mendiang ayahnya yang ada di sana. Dan selama 4 tahun 3 bulan mereka pacaran jarak jauh.
Meskipun jarang bertemu, tapi mereka tetap menjaga kepercayaan dan cinta masing-masing. Setiap tahun Lucas selalu menyempatkan diri untuk pulang hanya untuk merayakan natal bersama Marissa. Dan Lucas juga berencana untuk melamar Marissa ketika di hari pernikahan adiknya nanti.
Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Senyum di bibirnya mengembang lebar. Betapa dia sangat merindukan gadis ini. "Kau semakin cantik saja, Ri. Aku semakin ingin menikahimu." Ucap Lucas dan kembali memeluk Marissa.
"Kita bisa membicarakannya nanti. Sebaiknya sekarang kita pulang dulu. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Marissa melepaskan Lucas, menatap sang kekasih dengan senyum lebar.
Lucas mengangguk. "Baiklah." Ucapnya.
Diam-diam Lucas telah mempersiapkan sebuah cincin untuk melamar gadisnya ini. Dia tidak bisa menundanya lagi. Sudah terlalu lama mereka berpacaran dan sudah waktunya untuk meresmikan hubungan menuju jenjang yang lebih serius, yakni jenjang pernikahan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1