
"Ke..Kenapa, kau menatapku seperti itu?!"
Luna menghindari tatapan suaminya yang begitu dingin dan mengintimidasi. Mungkinkah Ken marah atas insiden penculikan itu, jelas-jelas dia korbannya, lalu kenapa Ken menatapnya seolah-olah ia adalah dalang utamanya.
"Kenapa kau tidak pernah mendengarkan ku, Luna?"
"Maksudmu apa?"
"Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak kelayapan di luar tanpa perlindungan. Hari ini kau beruntung, karena yang menculik mu adalah orang-orang bodoh. Tapi bagaimana, jika yang menculik mu adalah penjahat profesional. Apakah nasibmu masih akan seberuntung ini?!"
Benar dugaan Luna, Ken mengomelinya habis-habisan karena insiden penculikan itu. Luna akui, jika itu adalah kesalahannya, tapi Apa perlu Ken sampai memarahinya seperti itu.
"Kali ini kau ku maafkan, tapi jika hal ini sampai terulang lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk mengirim kembali ke Korea!!" tegas Ken dan pergi begitu saja.
Luna menghela nafas panjang. Jika sudah marah, Ken memang sangat mengerikan. Jika sudah seperti itu, dia akan sulit sekali untuk dibujuk. Dan yang bisa Luna lakukan sekarang hanyalah, menunggu amarah Ken reda sendirinya.
Tiba-tiba sebuah ide tercetus di kepala Luna. Wanita itu bangkit dari duduknya lalu mengeluarkan beberapa helai dress dan dimasukkan ke dalam kopernya. Luna berencana kabur ke rumah ayahnya. Jika Ken saja bisa, kenapa dia tidak.
-
-
"Tao, bagaimana hasil penyelidikan-mu?! Apakah sudah menemukan dalang dibalik penculikan Luna?!"
Tao mengangguk. "Dia tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang sedang buruk saat ini. Pria itu masih berhubungan erat dengan pria yang menolong Nyonya ketika Anda berdua mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu."
"Pria itu memiliki hutang besar, pada ketua gangster yang ada di kota ini. Dan menjadikan nyonya sebagai jaminan nya. Melihat Nyonya ada di kota ini, tentu saja hal itu dimanfaatkan untuk menangkapnya." Jelas Tao menuturkan.
"Jadikanlah masalah itu. Segera ringkus mereka semua, dan Habisi orang-orang itu tanpa tersisa!!"
"Baik, Tuan!!"
Ken bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dan setibanya dia mendapati kamarnya dalam keadaan legang. Tak terlihat sosok Luna, Ken sudah memeriksa balkon dan kamar mandi. Tapi wanita itu tidak ada.
Dan tanpa sengaja dia menemukan selembar kertas yang di letakkan di atas tempat tidur. Ken mendengus geli. Dalam kertas itu Luna mengatakan jika dia ngambek dan meminta supaya Ken tidak mencarinya.
__ADS_1
Tanpa bertanya atau mencari tau pun, tentu saja Ken tau dimana istrinya itu berada saat ini. Dan dia tau persis apa yang bisa membuat Luna luluh ketika sedang ngambek. Ken mengganti kemeja lengan panjangnya dengan kemeja lengan terbuka yang di balut long Vest hitam.
Pria itu meninggalkan kamarnya dan bersiap untuk menjemput sang istri tercinta yang saat ini sedang berada di rumah ayahnya.
-
-
Seorang wanita muda berpakaian minim, terlihat meliukkan tubuhnya memasuki sebuah klub malam. Kedatangan wanita itu menarik begitu banyak perhatian pasang mata yang ada di sana.
Tubuhnya yang tinggi semampai, wajah ayunya yang terpolesi make up tipis, rambut panjang terurai, dan pakaian minim yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Wanita itu berjalan menaiki tangga menuju konter bar.
Setibanya di sana. Wanita itu menghentikan sejenak langkahnya, lalu pandangannya menyapu kesegala penjuru arah. Mencoba menemukan targetnya, pria bernama Jhoni Ming. Dan wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Felix Nam yang sedang menyamar.
Kemudian Felix mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya dan mencocokkan dengan seorang pria yang sedang di temani oleh tiga wanita penghibur sekaligus. Felix tersenyum itu adalah targetnya.
Dan yang perlu dia lakukan sekarang adalah mendekatinya dan menjalankan tugas yang Kan berikan. Lalu mendapatkan bonusnya dan gajinya akan dinaikkan. Kurang enak apa coba?!
Kali ini Felix seperti mendapatkan durian runtuh, meskipun harus menjadi wanita Jadi-Jadian, itu bukan masalah baginya. Yang terpenting adalah uang.
-
-
Di bawah langit indah itu, terlihat seorang wanita muda yang sedang duduk sendiri di taman belakang Mansion mewah milik ayahnya. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun tidur berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang seputih porselen.
Terlihat anak rambutnya yang sedikit berkibar karena terjangan angin nakal. Malam ini langit lebih Indah dari malam-malam sebelumnya.
"Luna, kenapa kau belum tidur dan malah diam di sini?"
Sontak perempuan itu mengangkat wajahnya dan mendapati sang ayah berjalan menghampirinya. Luna tersenyum manis menyambut kedatangan pria tersebut. "Aku masih belum mengantuk, Pa. Lalu kenapa Papa sendiri belum tidur?"
"Papa juga belum mengantuk. Oya, Lun. Apa Ken tidak akan marah jika kau meninggalkan rumah tanpa ijin darinya?! Bagaimana kalau Papa antar kau pulang saja?"
"Tidak mau!! Siapa suruh dia mengomeli ku seperti anak kecil. Dia juga bersikap dingin dan acuh padaku. Untuk itu aku ingin membelinya sedikit pelajaran." Ujar Luna. Dan Tuan Valentino hanya bisa mendesah berat.
__ADS_1
"Dasar kekanakan!!"
Tiba-tiba Luna terdiam. Dia teringat sesuatu. Ada hal penting yang ingin sekali dia tanyakan pada ayahnya tapi belum kesampaian juga hingga detik ini. Dan mungkin ini adalah momen yang paling tepat untuk bertanya padanya.
"Pa, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Tentang apa, Nak? Sepertinya sangat serius?" Tuan Valentino menatap Luna penasaran.
"Kenapa Papa dan Mama dulu sampai berpisah? Bukankah kalian berdua saling mencintai?"
Tuan Valentino mengambil napas panjang. Dia sudah memperkirakan jika suatu saat anak-anaknya pasti akan bertanya kenapa ia dan ibu mereka bisa berpisah. "Papa dan mamamu berpisah karena kami tidak sejalan lagi."
"Hanya karena itu?" Luna menatap sang ayah tak percaya.
"Papa pernah jatuh miskin, bisnis Papa mengalami kebangkrutan. Kita semua kehilangan tempat tinggal mewah dan seluruh harta juga tidak ada. Ibumu mampu bertahan hanya selama 1 tahun. Tepat di malam Natal, dia memutuskan untuk meninggalkan Papa dan kakakmu dengan membawamu."
"Lalu apakah Papa tidak berusaha untuk menahannya?" Tanya Luna.
"Sudah, tapi Mamamu tetap bersikeras. Dia tidak ingin hidup susah bersama Papa. Itulah kenapa dia memutuskan untuk pergi. Satu bulan kemudian Papa dengar jika dia telah menikah lagi, Papa mencari keberadaan kalian tapi tidak ketemu. Dan itulah yang terjadi antara Papa dan mamamu."
Luna terdiam. Dia tidak menduga dan rasanya tidak percaya bila ibunya bisa sekejam itu. Padahal dia adalah wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Memang benar apa yang orang katakan, jika harta bisa membuat orang lupa diri.
"Luna, ayo kita pulang." Seru seseorang dari arah belakang.
Deg...
Mata Luna membelalak sempurna mendengar suara yang begitu familiar itu. Sontak Luna menoleh. Ia bangkit dari duduknya dan berseru dengan kencang...
"TRIBAL!!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1