PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Separuh Nyawanya


__ADS_3

Semenjak Luna dinyatakan hamil. Tak sekali pun Ken meninggalkan dia. Semua masalah kantor dia percayakan pada Leon. Karena hanya dia yang bisa dia percayai untuk mengelola bisnisnya. Selain karena Leon adalah orang yang jujur, dia juga tidak pernah mengecewakan dirinya.


Seperti hari-hari sebelumnya. Ken selalu bangun lebih pagi. Menyiapkan air untuk Luna mandi, menyiapkan susu dan sarapan yang dia makan. Sejak hamil, Luna tidak bisa makan nasi, dia selalu muntah dan lemas setiap kali makanan pokok tersebut masuk ke dalam perutnya.


Pagi ini Ken menyiapkan roti panggang, salad buah dan susu untuk Luna. Dia mengerjakan semuanya sendiri, sedangkan pelayan menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah.


Setelah siap. Ken memanggil Luna untuk sarapan lebih dulu. Dia bisa muntah jika melihat nasi dan lauk pauknya. Itulah kenapa Ken selalu mengajak Luna sarapan lebih pagi dari yang lainnya. Padahal kandungan Luna sudah memasuki bulan ke 5, tapi dia tetap tidak mau makan nasi.


"Sarapan sudah siap. Ayo turun dulu," Luna mengangguk. Wanita itu bangkit dari kursinya lalu berjalan beriringan menuju meja makan.


Luna tersenyum lebar melihat hidangan yang tersusun di atas meja. Semua seperti yang ada di dalam angan-angannya. Kebetulan pagi ini dia memang ingin makan salad buah dan roti bakar. Luna tidak tau bagaimana Ken selalu tau apa yang ingin dia makan setiap paginya.


"Kau yang menyiapkan semua ini?" Luna menatap Ken yang duduk di depannya. Pria itu hanya mengangguk.


Luna tersenyum. "Terimakasih suamiku, kau memang yang terbaik." Ucapnya lalu menyantap sarapannya.


Ken mengacak rambut Luna dengan penuh kasih sayang. "Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak. Setelah ini aku temani kau ke dokter. Bukankah sudah waktunya untuk memeriksakan kandunganmu?" Luna mengangguk.


Luna senang karena Ken selalu ada disampingnya selama 24 jam penuh. Dia tidak pernah meninggalkan dirinya meskipun hanya satu menit saja untuk urusan pekerjaan. Semua pekerjaannya jika dihandle oleh Leon, dan Leon selalu datang setiap kali ada berkas yang harus Ken tandatangani.


"Minum susunya juga,"


"Iya," Luna mengangguk.


Setalah menyantap sarapan paginya. Luna kembali ke kamarnya. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke dokter. Sedangkan Ken tetap dibawa dan sarapan bersama anak-anaknya.


Si kembar dan Daniel sudah rapi dan siap berangkat sekolah. Mereka memang selalu bersemangat apalagi Marissa, gadis kecil itu selalu mengeluh setiap kali sekolahnya diliburkan karena alasan yang tidak masuk akal. Menurutnya di rumah seharian tanpa kegiatan itu sangat membosankan.


Setelah sarapan dan berpamitan pada Ken dan Luna. Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah dengan diantar supir, sedangkan Daniel membawa motor besarnya. Dia menolak jika harus diantar seperti adik-adiknya.


"Kau sudah siap?" Ken menghampiri Luna yang sudah selesai bersiap. Wanita itu mengangguk.


"Setelah dari dokter kita mampir dulu ke pusat perbelanjaan. Buah-buahan di rumah sudah mulai menipis." Ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh Ken.


"Baiklah."


.


.


Ken dan Luna menatap monitor yang memperlihatkan tumbuh kembang janin di dalam rahim Luna. Keduanya sampai tidak bisa menahan rasa harunya melihat betapa sehatnya janin tersebut yang terus tumbuh dan semakin besar setiap bulannya.


Kelaminnya juga surah berhasil terdeteksi, anak dalam kandungan Luna berjenis kelamin laki-laki. Dan Luna sangat bahagia karenanya. Seperti yang ia dan Ken harapkan.


"Ken, bukankah ini sangat luar biasa?" Ken mengangguk. "Dia begitu sehat dan aktif, aku sudah tidak sabar menunggu dia lahir." Wanita itu tersenyum simpul.

__ADS_1


Ken mengecup kening Luna dan mengangguk. "Aku juga," balasnya singkat.


Semakin besar kandungan Luna. Maka semakin besar juga rasa takut Ken akan kehilangannya.


Resiko besar yang Luna hadapi ketika melahirkan nanti membuat Ken tidak bisa merasa tenang sama sekali. Dia benar-benar takut jika Luna tidak bisa bertahan setelah melahirkan putra ketiga mereka.


Luna menggenggam tangan Ken dan menatapnya. "Apa yang kau cemaskan?" Ucap Luna sambil mengunci manik mata suaminya. Ken menggeleng, meyakinkan pada Luna jika dia tidak mencemaskan apapun.


"Tidak ada. Hanya memikirkan beberapa hal saja." Dustanya. Luna tersenyum tipis. Jelas dia tau apa yang Ken pikirkan saat ini. Tapi dia tidak mau mengakuinya. Dan lebih baik dia tidak bertanya lagi dan membuat Ken semakin cemas.


"Bagaimana kondisi janinnya, Dok?" Tanya Ken mengalihkan pembicaraan.


"Seperti yang Anda lihat, Tuan. Janinnya sangat sehat. Dia juga berkembang sangat baik." Jawab dokter itu menjelaskan.


"Baguslah,"


"Tapi harus tetap jaga kondisi Nyonya, jangan sampai kelelahan apalagi banyak pikiran. Pastikan dia selalu rileks dan tenang. Jika diperlukan sesekali bawa dia pergi berlibur ke tempat yang tenang dan nyaman." Ujar dokter itu memberi saran.


"Baiklah akan kami lakukan. Akhir pekan ini aku akan membawanya pergi berlibur. Apakah kami sudah bisa pergi sekarang?" Dokter itu menatap Ken kemudian mengangguk.


"Silahkan, Tuan."


-


-


Itu adalah Villa pribadi milik keluarga Zhao. Villa itu bergaya Eropa klasik. Disekelilingnya ditumbuhi berbagai bunga cantik, salah satunya adalah bunga asal negeri kincir Angin, Belanda. Bunga tulip berbagai warna tumbuh di halaman depan Villa. Ada sebuah kolam dengan air mancur raksasa tepat ditengah-tengah kolam.


Ken dan Luna berjalan beriringan memasuki Villa tersebut. Dan kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan bibi penjaga Villa.


"Tuan, Nyonya, Anda berdua sudah datang. Mari saya antar Anda berdua untuk istirahat." Ucap Bibi itu lalu mengantar Luna dan Ken ke kamar untuk beristirahat.


Setelah mengantarkan pasangan suami istri tersebut. Wanita itu melanjutkan kembali pekerjaannya, dia masih harus mengurus tanaman sebelum menyiapkan makan malam.


Luna membuka jendela di depannya dan hamparan hijau perbukitan langsung menyambut pandangannya. Rupanya ada sebuah danau buatan tepat di belakang Villa dan sebuah bukit yang dikelilingi bunga-bunga liar yang cantik. Luna juga bisa mencium aroma laut yang begitu khas.


"Tempat ini sangat luar biasa, sungguh disini adalah surganya dunia." Ucap Luna yang begitu takjub pada keindahan alam dihadapannya.


"Kau menyukai tempat ini?" Bisik Ken yang entak sejak kapan berdiri di belakang Luna sambil memeluknya dengan erat.


"Hum," Luna mengangguk. "Tempat ini sangat cantik. Jadi mana mungkin aku tidak menyukai tempat ini. Besok temani aku pergi ke bukit untuk memetik bunga ya." Pinta Luna. Ken mengangguk.


Ken memeluk Luna dengan erat. Mereka menyaksikan sang Surya yang mulai menenggelamkan dirinya duduk barat. Senyum tak pudar sedikit pun dari bibir tipis itu. Pemandangan saat senja tiba memang tidak pernah mengecewakan, karena senja selalu indah.


-

__ADS_1


-


Malu-malu mentari menampakan sinarnya. Tersenyum semu di balik awan kelabu sementara sinarnya terus merambat di langit bumi. Mentari telah berada ditahtanya yang agung, mengetuk setiap pintu dengan hangat sinarnya.


Tidak terkecuali pintu sebuah Villa yang kala itu masih sunyi sepi. Dari kaca jendela, sinar mentari masuk dan membasuh beberapa pasang mata yang masih terpejam. Seakan-akan meminta mereka untuk bangun dan menyadari bahwa hari telah berganti.


Termasuk wanita cantik satu ini. Dia sudah bangun sejak pukul 06.00 pagi. Luna pergi ke bukit untuk menikmati udara perbukitan yang masih sejuk dan alami. Dia pergi sendiri, Ken terlihat lelah dan Luna tidak tega untuk membangunkannya.


"Nona cantik, sendirian saja. Bolehkah aku menemanimu? Perkenalkan aku adalah~"


"Jangan coba-coba mengganggunya jika kau masih menyayangi nyawamu!!" Sahut seseorang dari arah belakang.


Dengan kaku pria itu menoleh kebelakang. Dia langsung berkeringat dingin setelah melihat siapa yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh itu. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe, Kak Zhao, aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu serius. Kakak Ipar maaf ya, aku hanya bercanda tadi. Kalian lanjut saja ya, aku pergi dulu ya."


Ken mendengus, Luna terkekeh geli. Wanita itu berdiri kemudian memeluk lengan Ken dengan erat. "Kenapa kau tidak membangunkan ku tadi?"


"Kau terlihat sangat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu." Jawab Luna sambil mengurai senyum lebar. "Ayo temani aku memetik bunga di balik bukti itu. Aku melihat bunga-bunga cantik di sana."


Ken menggeleng. "Terlalu jauh, aku tidak ingin jika kau sampai kelelahan." Ken menolak ajakan Luna.


Gadis itu mempoutkan bibirnya. "Menyebalkan!! Kalau aku lelah, bukankah masih ada kau yang bisa menggendongku jika aku sampai kelelahan." Jawab Luna tak mau kalah.


Ken menyentil kening Luna. "Dasar kau ini. Baiklah, ayo kita ke sana." Wajah Luna kembali berseri-seri setelah Ken setuju untuk pergi memetik bunga dibalik butik itu. Dia sudah tidak sabar untuk memetik bunga-bunga cantik yang dia lihat tadi.


Ken tersenyum. Melihat senyum dibibir Luna membuat hati Ken menghangat. Dia berharap bisa selalu melihat senyum itu ketika hendak ataupun baru membuka mata. Pria itu menghentikan langkahnya, Ken menarik lengan Luna lalu mencium bibir Luna.


Meskipun awalnya terkejut dengan tindakan Ken yang tiba-tiba. Namun detik berikutnya sudut bibir Luna tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Wanita itu mengangkat kedua tangannya lalu memeluk Ken.


Mereka berciuman dengan disaksikan oleh sang Surya yang semakin naik menuju singgasananya. Semilir angin yang berhembus sejuk menjadi pengiring pergerakan bibir mereka yang saling mel*mat.


Sebelah tangan Ken berada di tengkuk Luna. Sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang Luna, menariknya lebih dekat dan membunuh jarak diantara mereka. Ciuman yang begitu lembut dan penuh perasaan.


Dan melalui ciuman itu Ken ingin menyampaikan betapa dia sangat mencintai Luna. Dan sampai kapan pun dia tidak akan pernah siap untuk kehilangannya.


"Aku mencintaimu, Luna Zhao. Sangat-sangat mencintaimu." Bisik Ken setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Aku juga mencintaimu, Ken. Sangat-sangat mencintaimu." Jawab Luna.


Mereka saling berpelukan dan saling menghangatkan. Saling mencurahkan kasih sayang yang mereka miliki. Bagi Ken, Luna bukan sekedar istri dan pendamping hidupnya. Tapi dia adalah belahan jiwanya, separuh dari nyawanya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2