
Jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk angka 11 malam. Tapi Luna masih tetap terjaga dan sulit sekali untuk menutup matanya. Berkali-kali wanita itu mencoba untuk tidur tapi tetap tidak bisa. Pikirannya begitu gelisah dan perasaannya tidak tenang.
Tiba-tiba dia teringat pada Via, dan pikirannya semakin melayang kemana-mana karena ponsel sahabatnya itu tidak bisa dihubungi.
TING...!!
Luna terlonjak kaget karena suara denting pada ponselnya. Wanita itu beranjak dari ambang jendela kamar yang terbuka untuk memeriksa pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Kedua mata Luna membelalak saking kagetnya setelah melihat video yang masuk.
Wanita itu membekap mulutnya dengan sebelah tangannya. Air matanya tumpah begitu saja dan membasahi wajah cantiknya. Dalam video berdurasi singkat itu terlihat tubuh Via yang terikat pada sebuah kursi, wajah cantiknya penuh luka lebam dan ada sayatan memanjang pada pipi sebelah kirinya. Mata kanannya bengkak seperti terhantam benda tumpul.
TING...!!
Ponsel milik Luna kembali berdenting dan masih dari email yang sama. Dan tanpa membuang waktu wanita itu pun bergegas menuju tempat di mana Via di sekap saat ini, dan Luna tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa wanita itu apalagi Via menjadi seperti itu karena dirinya.
🌹
🌹
Sebuah Lamborghini Veneno baru saja meninggalkan sebuah gedung perkantoran dan melaju kencang pada jalanan kota Seoul yang lengang. Seorang pria tampan namun tanpa ekspresi terlihat duduk tenang di balik kemudi.
Mata kanannya yang tajam fokus pada jalanan beraspal di depan sana. Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi membuat penumpang yang duduk disampingnya harus menahan nafas.
Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ken melirik pria di sampingnya dan mendengus geli. "Ck, buka matamu, Ge. Aku tidak mungkin membawamu pergi ke Neraka!" cibir Ken pada pria diaampingnya 'Devan"
"Diamlah, Ken Zhao! Bagaimana mungkin aku membuka mataku sedangkan aku sangat-sangat ketakutan. Aku sungguh-sungguh tidak ingin mati muda. Aku ini belum menikah apalagi merasakan malam pertama. Huaaa, cepat kurangi kecepatan pada mobilmu ini dan jangan membawaku menuju jurang kematian!!" teriak Devan dengan hebohnya.
Ken memutar mata jengah. Menurutnya Devan sangatlah berlebihan. Dia tak ingin membuat kakaknya itu terkena serangan jantung dadakan. Ken pun pilih mengalah dan mengurangi kecepatan pada mobilnya.
__ADS_1
"Ck, kenapa kau tidak berubah sama sekali, Ge? Tetap saja seperti dulu, penakut." Cibir Ken sambil melirik Devan dari ekor mata kanannya.
Kemudian Ken menghentikan mobilnya di sebuah club malam. Malam ini Ken ingin singgah sejenak di sana untuk sedikit mengobati rasa bosannya. Aroma tembakau dan alkohol yang begitu kuat langsung berkaur di dalam hidungnya ketika mereka berdua mulai menginjakkan kedua kakinya di lantai club malam.
Sebuah pemandangan menyesatkan langsung menyambut kedatangan mereka di sana. Banyak sekali pasangan mesum yang sedang bercinta dan bercumbu panas di setiap sudut ruangan yang remang-ramang. Ken merasa jijik dan ingin muntah melihatnya sedangkan Devan justru sangat menikmatinya.
"Hahaha! Mana ada yang bisa membunuh dan menangkapku saat aku memiliki sebuah boneka yang sangat berharga dan berguna untukku."
Ken menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang begitu familiar berkaur di dalam telinganya. Dari tempatnya berdiri dia melihat seorang pria paruh baya tengah duduk santai sambil menikmati minumannya di salah satu kursi merah di ruangan remang-remang tersebut.
"Maksudmu wanita muda yang kau temukan dalam keadaan sekarat di tepi jalan dalam sebuah kecelakaan hebat tiga tahun yang lalu?"
"Bingo. Dan lagi pula wanita itu sedang dalam keadaan amnesia, dan hal itu tentu sangat menguntungkan bagiku. Aku bisa memanfaatkan keadaannya saat ini untuk mendapatkan sebuah keuntungan tanpa harus repot dan capek-capek bekerja. Dan jangankan untuk bisa mengingat keluarganya, bahkan namanya sendiri pun dia tidak ingat. Bukanlah Tuhan sangat baik padaku?"
Ken masih berdiri di sana dan mendengarkan semua yang pria itu katakan. Kedua tangannya terkepal kuat dan mata kanannya memancarkan sebuah amarah yang begitu besar.
Dan sejauh ini Ken masih belum mengambil tindakan apapun karena dia masih ingin mendengar lebih banyak lagi tentang kisah pilu yang Luna alami selama ini, supaya dirinya bisa membunuh pria itu dengan tenang.
"Gampang saja. Aku hanya tinggal mengatakan pada mereka jika akulah malaikat penyelamat bagi wanita itu, karena tanpa pertolongan dariku mungkin wanita malang itu akan mati."
"Selama dia di rumah sakit aku yang membiayai semuanya dan itu artinya dia memiliki banyak hutang budi padaku. Dan lagi pula bagaimana dia bisa mengingat kembali semuanya jika tidak ada satu pun barang yang bisa mengingatkan dia pada masa lalunya."
"Dan berlian ini aku ambil sebelum dia sadar kembali, sepertinya ini adalah berlian asli dan berharga mahal. Aku akan untung besar jika menjualnya. Bukankah aku sangat cerdik?"
"Lalu bagaimana dengan bayi kembar yang dia lahirkan 2 tahun lalu? Apakah bayi itu benar-benar sudah mati?"
"Ya, mereka sudah mati. Aku memberinya obat dosis tinggi supaya bayinya lebih cepat keluar. Alhasil dia melahirkan sebelum waktunya dan itu yang membuat kedua bayi itu mati!!"
__ADS_1
Emosi Ken semakin tak terbendung lagi. Dengan amarah yang telah sampai diubun-ubun, Ken menghampiri pria tersebut. Ken merebut berlian ditangannya dan membuat pria itu memekik keras. Kedua matanya lantas membelalak setelah melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Tu-Tuan, Zhao, lama tidak bertemu. Apa Anda sering datang ke sini juga? Tolong kembalikan berlian itu pada saya. Itu milik saya dan lagi pula itu adalah berlian palsu, dan bukankah hutang diantara kita sudah lunas?"
"Dari mana kau mendapatkan berlian ini?" tanya Ken meminta sebuah penjelasan.
"Kenapa Anda begitu ingin tau, Tuan, padahal itu hanya berlian palsu."
"Aku tanya dari mana kau mendapatkan berlian ini?" tanya Ken sekali lagi.
"Berlian itu saya dapatkan dari seorang wanita yang pernah saya selamatkan tiga tahun yang lalu, dan dia memberikan berlian itu sebagai tanda balas budi karena saya telah menolong dan merawatnya."
Ken menyeringai dingin. "Benarkah?" pria itu mengangguk. "Tapi sayangnya aku tidak tuli dan tidak amnesia sampai aku melupakan semua yang baru saja kau katakan. Selama ini kau sudah memanfaatkan istriku untuk dirimu sendiri dan menempatkan dia dalam bahaya."
"Kau bersenang-senang dengan uang-uang itu dan menjadikan dia sebagai jaminannya. Dan kau benar-benar sudah membuat sebuah kesalahan yang besar."
Kedua mata pria itu lantas membelalak."A-Apa? Ja-jadi wanita itu adalah istri Anda? Bagaimana mungkin?"
"Kau!! Tidak akan pernah aku ampuni!!"
DORRR....!!!
Ken melepaskan tembakkannya pada pria itu dengan brutal. Sedikitnya ada 7 peluru yang bersarang pada dada dan kepalanya. Meskipun banyak pasang mata yang menyaksikannya.
Tapi tak ada satu pun dari mereka ada yang berani bereaksi apalagi melaporkan tentang pembunuhan itu pada polisi karena mereka tidak ingin bernasib sama dengan pria bermarga Zhao tersebut.
-
__ADS_1
-
Bersambung.