
Tubuh Luna membeku ketika Ken tiba-tiba menarik pinggangnya dan mencium bibirnya."Apa kau akan mempercayaiku jika aku mengatakan jika kau bukanlah, Jessline Jung, melainkan Luna yang sedang hilang ingatan?" Luna tampak terdiam tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Kenapa kau berfikir begitu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika istrimu telah meninggal!"
"Kau boleh tidak mempercayaiku dan meragukan ucapan-ku. Tapi ketahuilah jika hanya suamimu yang mengetahui bila kau memiliki bekas luka di tubuhmu dan tanda lahir di bahu kiri-mu. Potong lidahku jika yang aku katakan ini tidak benar." Ujar Ken memaparkan.
Luna tidak bisa lagi membendung air matanya. Air matanya tumpah membahasi wajah cantiknya. Memang benar apa yang Ken katakan. Memang ada bekas luka dan tanda lahir pada tubuhku. Luna tidak ingat kapan dia me dapatkan bekas luka itu karena bekas luka itu sudah ada sejak dia bangun dari tidur panjangnya.
Luna menyeka air matanya dengan kasar. Air matanya jatuh semakin deras dan tidak bisa dia hentikan. Tanpa mengatakan apapun, Luna berhambur ke dalam pelukan Ken dan menangis sejadi-jadinya.
Entah yang Ken lakukan ini salah atau benar, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran itu dari Luna terlalu lama. Karena cepat atau lambat pasti Luna akan mengingat segalanya, wanita itu berhak tau siapa keluarganya dan kemana seharusnya dia pulang.
"Aku tidak akan memaksamu untuk bisa mengingat semuanya, Sayang. Tapi aku tidak akan pernah lelah untuk menunggumu kembali menjadi dirimu yang dulu. Aku yakin bila suatu hari nanti kau akan mengingat segalanya, mengingatku dan semua kenangan kita. Karena keyakinan cinta sejati tidak pernah salah." Ujar Ken sembari mengeratkan pelukkannya.
"Maafkan aku, Ken. Aku sungguh-sungguh minta maaf," Ken menggeleng karena memang tidak ada yang perlu dipersalahkan atau dimaafkan. Tidak ada yang salah dalam hal ini karena semua sudah menjadi kehendak takdir.
Ken melepaskan pelukannya. Jari-jarinya dengan lembut menghapus jejak air mata di wajah cantik Luna. "Ini sudah larut malam. Sebaiknya sekarang kau segera tidur, kau tidak ingin terlambat pulang ke Seoul besok bukan?" ucapnya yang segera di balas anggukan oleh Luna.
"Tapi aku tidak mau tidur sendiri. Bukankah kita adalah suami-istri, jadi sudah seharusnya kita tidur di satu ranjang yang sama," rengek Luna memohon. Ken mendengus geli. Inilah Luna-nya, sifat manja inilah yang Ken rindukan.
"Dasar kau ini, kenapa kau jadi semanja ini?" Ken menyentil kening Luna.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Tentu saja boleh, aku akan memelukmu sampai pagi."
"Aku kira akan bercinta sampai pagi,"
"Astaga, kenapa kau jadi mesum begini, Nyonya Zhao?"
__ADS_1
"Hahaha....."
🌹
🌹
"Kotak apa ini?"
Luna mengerutkan keningnya saat tanpa sengaja melihat sebuah kotak usang yang tersembunyi di bawah tempat tidur. Wanita itu mengambil kotak tersebut lalu membuka tutupnya.
Jari-jari lentiknya mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam kotak tersebut, tiba-tiba air matanya mengalir deras ketika potongan-potongan memori masa lalu memenuhi pikirannya.
Luna mencengkram dada kirinya yang berdenyut nyeri. Berkali-kali dia memukul dadanya dengan brutal, sesak dan membuatnya sulit untuk bernapas. Foto usang yang ada di dalam kotak itu mengembalikan seluruh memori Luna yang hilang, yang artinya dia telah mengingat semuanya. Siapa Ken dan juga masa lalunya.
"Ya Tuhan, apa yang telah terjadi selama ini? Bagaimana bisa aku mengalami hal menyakitkan ini. Pria itu, orang yang selalu melindungi ku. Ternyata adalah suamiku dan juga kakak tampan yang dulu pernah menolongku."
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ken seraya menghampiri Luna. Wanita itu menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Tidak ada,"
"Kau menangis?" Ken menghapus jejak air mata di pipi Luna.
"Hm, aku nonton drama yang membuatku sedih." Dustanya.
"Dasar melankolis." Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Kemudian Ken menarik pinggang Luna dan membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
Lalu Luna mengangkat wajahnya dan menatap Ken dengan serius. "Ken, aku rasa kemeja lengan panjang ini tidak cocok untukmu."
Ken menautkan alisnya. "Kenapa?" tanya pria itu kebingungan.
__ADS_1
Luna mempoutkan bibirnya. "Dasar tidak peka. Itu Karena aku tidak bisa melihat tribal di lengan kananmu. Dulu kau selalu menunjukkan tribal itu padaku, tapi kenapa sekarang kau jadi jarang sekali menunjukkannya?! Dasar pelit." Luna mempoutkan bibirnya sambil merenggut-kan wajah. Dan apa yang Luna katakan membuat Ken terkejut bukan main.
"Luna, kau-"
Wanita itu mengangguk. "Ya, aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat siapa diriku dan juga masa lalu kita. Maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Ucap Luna penuh sesal.
Ken menggeleng. Dengan perasaan campur aduk, Ken menghampiri Luna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Apa yang baru saja dia dengar dari mulut Luna membuat Ken begitu bahagia.
Luna mendapatkan serpihan-serpihan ingatannya yang hilang setelah menemukan sebuah kotak yang didalamnya penuh dengan kenangan masa lalunya bersama Ken secara tidak sengaja.
Ken melonggarkan pelukannya dan menatap dalam sepasang mutiara hazel jernih itu dengan sudut bibir tertarik ke atas. Dan detik berikutnya Luna merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya.
Di susul dengan lum*tan-lum*tan yang semakin lama semakin dalam dan menuntut. Sebelah tangan Ken menekan tengkuk Luna dan sebelah tangan lagi memeluk pinggang rampingnya.
Ciuman tersebut mewakili perasaan Ken saat ini. Dan melalui ciuman tersebut Ken ingin menyampaikan rasa syukurnya karena Tuhan telah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya berlipat-lipat ganda setelah semua yang terjadi dan banyaknya air mata yang tumpah.
Ken tau bila Tuhan memang maha adil dan dia percaya jika miracle itu memang nyata."Sejak kapan, Sayang? Lalu kenapa kau baru memberi tahuku sekarang?"
"Aku mendapatkan semua ingatanku beberapa saat lalu setelah tanpa sengaja aku menemukan sebuah kotak usang yang kau sembunyikan di bawa tempat tidur. Aku melihat semua foto-foto lama kita dan beberapa janji yang kita tulis dulu lalu kita masukkan ke dalam sebuah botol kecil. Dari situlah aku mendapatkan semua memory ku yang hilang." Tutur Luna panjang lebar.
Ken menangkup wajah Luna dan mengunci mata hazel nya. "Tidak akan ada lagi tragedi yang terjadi setelah ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan keluarga kecil kita. Tidak akan pernah." Ken kembali merengkuh tubuh Luna dan memeluknya dengan erat.
Luna melepaskan pelukannya. "Segera ganti pakaianmu, kita akan kembali ke Seoul siang ini juga. Daniel, pasti akan sangat bahagia saat mengetahui jika kau masih hidup." Luna tersenyum kemudian mengangguk.
-
-
Bersambung.
__ADS_1