
Kevin terus menarik Viona. Mereka menaiki tangga menuju lantai tiga bar tersebut.
Kevin membawa Viona melewati tangga yang ada dibalik lemari minuman. Dia sama sekali tidak bersuara hingga Ia membawa gadis itu memasuki sebuah ruangan yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca transparan.
Pemuda itu belum melepaskan cengkraman tangannya lalu menempatkan Viona di depannya hingga punggungnya yang terbuka karena backless dress yang dia pakai menempel di dadanya.
Ia meletakan telapak tangan kirinya pada kaca sedangkan tangan kanannya masih memegang pergelangan tangan gadis itu.
Dari tempatnya berdiri, Viona bisa melihat seluruh kegiatan yang dilakukan dilantai bawah. Jarak mereka begitu dekat sehingga Viona bisa merasakan napas Kevin yang berhembus di sekitar lehernya.
"Buka matamu lebar-lebar dan lihat dibawa sana, Vi."
Kevin berbisik di telinga Viona, dan itu membuat buku kuduknya meremang seketika. Viona berusaha membasahi tenggorokannya yang kering dengan cara menelan ludah, dan kemudian mengangguk kecil.
Dia tidak tahu pasti apa maksud dari perkataan pria yang ada dibelakangnya ini, ia hanya mengikuti nalurinya untuk mengangguk dalam menanggapi pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Dibawah sana banyak pria yang kelaparan akan wanita sepertimu, dan malam ini kau datang kesini mengenakan pakaian ini? Kemana dress lengan panjang yang biasa kau kenakan, Sayang?"
Dia marah. Viona dapat mendengar nada tajam dalam suaranya. Ia merasakan tangan kanan Kevin yang tadi mencengkeram tangannya kini sudah beralih kepinggangnya.
"Aku membawa mantel." Ucap Viona.
"Lalu dimana mantelmu itu?"
Kevin berbicara disekitar perpotongan leher jenjangnya, dan beberapa detik kemudian dia membalikkan tubuh Viona untuk menghadap padanya, kedua tangannya posesif mencengkram pinggang ramping itu dan matanya kembali mengunci mata Amber-nya.
"Aku meninggalkannya di mobil," dia bicara pelan, nyaris berbisik.
Kevin mengusap wajahnya kasar. "Kau benar-benar membuatku gila, Vi." Mata yang sebelumnya tertutup itu kembali terbuka dan memperlihatkan sepasang biner mata yang tajam penuh intimidasi.
"Kenapa bisa begitu?" Viona memicingkan matanya dan menatap Kevin penuh tanya.
Perlahan-lahan jarak diantara mereka semakin menyempit, bibirnya berada tepat didepan bibir Viona, gadis itu kembali merasakan hembusan nafasnya.
__ADS_1
Kedua mata Viona membelalak saat merasakan benda lunak dan basah itu menyapu permukaan bibirnya. Hatinya berdebar kencang saat Kevin menekankan bibirnya dan mel*matnya.
Viona merasakan geli di perutnya yang berasal dari kepakan sayap kupu-kupu yang sedang menari-nari di dalam sana ketika bibir Kevin menghisap bibir bawahnya, sesekali lidahnya menyapu permukaan bibir tipisnya, menggodanya untuk membuat bibir itu.
"Kau tidak pernah mengerti, Vi." Bisik Kevin setelah melepas tautan bibirnya.
Dia meninggalkan bibir Viona yang masih setengah terbuka karena masih terengah, lalu menurunkan bibirnya kearah leher jenjang itu, tangan kanannya menjelajahi punggung tel*njang Viona, mengusapnya perlahan, menyalurkan kehangatan melalui tangannya.
Membuat Viona merasakan kedua kakinya melemas dibawah sentuhannya, dan sepertinya Kevin menyadari itu karena detik berikutnya Ia membimbing Viona kearah meja yang ada dibelakang mereka dan menyandarkannya dipinggiran meja dengan kedua tangannya yang Ia letakan dipinggiran meja disisi tubuh itu.
"Kau tahu, apa efek dari dress yang kau pakai ini?" Dia mengunci sepasang manik Amber itu.
Viona berusaha mencerna pertanyaannya karena pikirannya masih terasa kosong akibat ciumannya beberapa saat lalu. Namun ketika Kevin merapatkan tubuhnya, Viona terkesiap merasakan bukti gairahnya yang menonjol tepat diatas perutnya.
"Ya Tuhan!" Jerit Viona membatin.
"Kau sudah paham kan, aku yakin kau tahu apa efek dari dress ini."
Jemarinya membelai tulang selangka Viona kemudian Ia menurunkan mulutnya disana, mengecupnya inci demi inci, hingga bibirnya kembali kebibir tipis itu dan mel*matnya keras.
"Hentikan, apa yang kau lakukan?!"
Kevin mendesah berat. Dia melepas Vest yang menjadi luaran kemeja hitam berlengannya, lalu melepas kemeja itu dan meletakkan di bahu Viona.
"Jika bukan kau sendiri, lalu siapa yang akan menghargaimu?! Aku antar kau pulang," Kevin menyambar Vest abu-abunya yang ada di atas meja lalu memakainya kembali.
.
.
"Tunggu disini, aku ambil kunci mobil dulu." Viona mengangguk.
Viona melihat Kevin berjalan menuju meja yang seluruh penghuninya adalah seorang pria. Dan Viona yakin jika mereka adalah teman-teman Kevin. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Viona sejak awal, melainkan sosok berbaju putih yang tengah sibuk berselfi ria.
__ADS_1
Gadis itu mendengus berat. "Dasar hantu Gila!!" Dia bergumam, Viona sungguh merasa heran, bagaimana ada hantu modelan seperti itu. Bukannya terlihat menyeramkan, hantu Suketi malah terlihat menggelikan.
Bagus orang-orang di bar ini tidak ada yang bisa melihatnya. Karena mereka bisa jantungan jika sampai melihat sosok itu. Seperti dirinya, yang hampir mati berdiri ketika Suketi muncul dihadapannya pertama kali.
"CANTIK!!!" Suketi berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Viona. Tapi tak dihiraukan oleh gadis itu. Dia pura-pura tidak melihatnya. "CANTIK, INI TITI. CANTIK, LIHAT SUKETI ADA DISINI." serunya lagi. Tapi Viona tetap tak menghiraukannya.
Dengan semangat Suketi menghampiri Viona. Tapi sial menimpa dirinya. Suketi jatuh dengan tidak elitnya karena terserimpet bajunya sendiri. "Aduh, Suketi jatuh." Dia mengangkat wajahnya dan...
Glukk..
Susah payah Suketi menelan salivanya. Dia jatuh tetap di depan Miko yang kebetulan burung Pipit nya sedang berdiri tegak karena Vidio laknat yang sedang dia tonton itu. Suketi menghapus liurnya lalu berteriak histeris.
"KYYYAAA!!! TONTONAN GRATIS!!"
Viona menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah dan kelakuannya yang abnormal. "Ck, dasar setan mesum," dia bergumam.
"Setan mesum?" Viona terlonjak kaget.
Karena terlalu fokus pada Suketi sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Kevin. "Yakk!! Kulkas tiga pintu, tidak bisa apa saat muncul tidak perlu mengejutkanku?!" Gerutu Viona sambil mengusap dadanya.
"Hn, maaf. Apa kau juga melihat mahluk aneh itu?" Tunjuk Kevin pada sosok Suketi yang sedang asik menikmati Burung Pipit Miko yang sedang berdiri tegak.
Viona mengangguk. Sontak mata Viona membulat. "Tunggu, apa kau juga melihatnya?" Kaget Viona.
"Hn, dia muncul pertama kali saat aku di luar negeri. Tidak disangka dia muncul juga disini," jawab Kevin.
"Astaga, apa dia hantu penjelajah tempat. Jika semua hantu di dunia ini seperti dia, bukannya mengerikan, pasti orang-orang malah menjadikan mereka sebagai bahan lelucon,"
"Tidak perlu hiraukan lagi, ayo pulang." Kevin merangkul bahu Viona, keduanya meninggalkan Bar.
Viona sudah mengirim pesan singkat pada kedua sahabatnya jika dia pulang lebih awal. Jika tidak ikut pulang, pasti pemuda ini akan menelannya hidup-hidup. Mengingat bagaimana pribadi seorang Kevin Zhao. Dia adalah seorang pemaksa ulung.
-
__ADS_1
-
Bersambung.