
Luna menatap kagum jutaan manik-manik langit yang terus memainkan sinarnya. Sang Dewi malam pun tampak indah di-singgasananya. Di temani semilir angin yang sepoi-sepoi, Luna berdiri di balkon kamarnya. Tubuhnya dalam balutan gaun tidur berbahan sutra terbaik.
Wanita itu melirik kebelakang dari ekor matanya. Seseorang datang mendekat, sudut bibirnya tertarik ke atas, menyambut sang pria yang kini tengah memeluknya dengan hangat.
"Pantas aku tidak menemukanmu dimana pun, rupanya kau di sini." Ucap pria itu yang pastinya adalah Ken.
"Malam ini langit sangat cerah, sayang sekali jika harus dilewatkan." Jawab Luna. Kemudian dia menoleh kebelakang dan merenggut kesal. "Apa malam ini kau sengaja menggodaku?!"
"Tidak juga,"
"Lalu kenapa kau tidak memakai piyama mu dan malah memakai singlet saja?!" Protes Luna.
"Karena udara malam ini sangat panas." Jawab Ken, dan Luna tidak menampiknya.
Udara malam ini memang lumayan panas, mungkin karena sudah memasuki awal musim panas. Makanya sangat berpengaruh pada suhu udara. Dan ketika musim panas begini, paling enak berendam di air dingin, tapi masalahnya ini sudah malam dan Luna tidak mau sampai masuk angin.
Kemudian wanita itu melepaskan pelukan suaminya. Luna berbalik, posisinya dan Ken saling berhadapan. Kedua tangan Luna kini memeluk leher suaminya.
"Meskipun tidak bisa membuat ranjang bergoyang malam ini, tapi bukankah kita masih bisa melakukan ini?!" Luna mendekatkan wajahnya dan bibirnya bergerak menuju bibir Ken lalu memagutnya.
Luna memejamkan matanya, bibirnya terus ******* bibir Ken. Dan untuk sementara permainan dikuasai oleh Luna sepenuhnya, karena Ken belum mengambil tindakan apa-apa. Dan Luna mengakhiri ciumannya 30 detik kemudian.
"Kau berusaha memancingku, eh?!" Ken menyeringai.
"Menurutmu?!" Luna berusaha menggoda sang suami dengan memberikan senyum seksi andalannya.
"Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Sayang. Meskipun tidak bisa masuk ke intinya," Luna menutup rapat matanya ketika Ken membenamkan bibirnya kiss ablenya di bibir tipisnya.
Pria itu terus mel*mat dan memagut bibirnya dengan keras. Ciuman Ken kali ini lebih dalam dan lebih menuntut dari ciuman Luna sebelumnya. Dan ciuman dikuasai oleh Ken sepenuhnya.
Ken begitu candu akan bibir istrinya. Bibir Luna terasa manis bagi sang pria, bukan manis yang tidak disukai Ken.
__ADS_1
Manis yang... entahlah susah untuk dijelaskan. Yang jelas Ken sangat menyukainya. Kali ini lidah Ken masuk kedalam mulut Luna dan mulai mengobrak-abriknya.
Lidah Ken menyapu dinding-dinding rongga mulut Luna, mengabsen satu persatu gigi putihnya dan membawa lidah wanita itu untuk menari bersama. Luna menjadi begitu lihai, berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena terlalu seringnya mereka berciuman.
Lidah pria itu kembali mengobrak abrik mulutnya, menghisap, menjilat juga mel*mat. Kakinya sudah tidak menginjak tanah, kakinya melingkar di pinggang Ken yang mendoronya ketembok disisi jendela.
Kehabisan napas, Ken melepaskan ciumannya yang berlangsung lama itu. Napasnya terengah wajahnya semerah tomat, Luna pun tak jauh beda dengan dirinya. Bibir ranumnya yang terbuka sedikit membengkak dengan saliva keduanya.
"Bagaimana, kau sudah puas?"
Luna menggeleng. "Aku menginginkan lebih, tapi tamu sialan ini menjadi penghalangnya." Ken terkekeh. Kembali dia memagut bibir Luna, namun kali ini sangat singkat dan tak lebih dari 10 detik.
"Kita bisa lanjutkan nanti, setelah kau sembuh. Ini sudah larut malam, ayo kita tidur." Ken mengangkat Luna bridal style lalu membawanya ke tempat tidur.
Sebenarnya Luna juga sudah sangat mengantuk. Dia ingin tidur lebih awal, tapi rasanya kedua matanya sulit sekali untuk di-pejamkan. Tapi Ken tidak mungkin mengijinkannya untuk tetap terjaga, sehingga Luna tidak memiliki pilihan selain menuruti suaminya.
-
-
Alarm di kamar si kembar berbunyi nyaring. Yang artinya malam panjang telah berlalu dan pagi telah datang. Marrisa segera bangun begitu pula dengan Marcello, sebum suara lumba-lumba ibu mereka bergema dan membuat sakit telinga.
Sepasang kembar itu menolak untuk tidur di kamar terpisah. Mereka ingin tidur di satu kamar yang sama. Untuk itu Ken mendesain kamar si kembar sedemikian mungkin.
Kamar itu lebih luas dari kamar utama, alasannya agar mereka lebih bebas bergerak. Memiliki dua tempat tidur, dua tempat pakaian, dua meja belajar, dua kamar mandi dan dua televisi.
Setelah mandi dan berganti seragam sekolah. Keduanya lantas turun dan menghampiri ibu mereka yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. "Pagi, Ma." Sapa si kembar dengan kompak.
"Pagi juga sayangnya, Mama. Tumben pagi ini kalian siap lebih awal, tidak seperti biasanya." Luna mencolek hidung kedua anak kembarnya.
"Kami sedang malas berdebat, Ma. Oya, Ma. Hari ini bekalnya potongan buah dan sandwich saja ya," ucap Marissa yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
__ADS_1
"Baiklah, Mama akan segera menyiapkannya."
"Pagi, Ma." Sosok Daniel muncul dengan sebuah tas yang tersampir di bahunya. Pemuda itu mencium pipi Luna dengan mesra.
"Pagi juga, Sayang."
"Berani sekali kau mencium Luna disaat Papa tidak ada?!" Protes Ken yang baru saja bergabung dengan keluarga kecilnya. Dia tidak rela melihat istrinya dicium oleh putranya sendiri.
"Aiya, Pa. Kenapa kau pelit sekali. Aku dan Mama sudah dekat sejak kecil, dan wajar jika sekarang aku dan dia menjadi sangat dekat seperti teman. Bukankah seorang Ibu adalah teman terbaik ada bujangnya?! Bukankah begitu, Ma." Sekali lagi Daniel mencium pipi Luna.
Si kembar menatap ayah, kakak dan ibunya secara bergantian. Mereka bisa menebak jika sebentar lagi akan terjadi perang dunia ketiga. Papa mereka memang sangat sensitif jika sudah berurusan dengan Mama tercintanya. Dan Daniel yang dengan nakalnya selalu membuat Ken marah.
Papanya itu memang bucin akut dan sangat overprotektif. Ken tidak akan membiarkan pria mana pun mendekati Luna, bahkan itu Daniel sekalipun.
"Singkirkan tanganmu dari Luna, atau Papa akan mencabut semua fasilitas mu?!" Ancam Ken bersungguh-sungguh.
Daniel menekuk wajahnya. Pemuda itu mempoutkan bibirnya. "Papa menyebalkan, bagaimana bisa begitu kejam padaku. Aku kan cuma ingin dekat dengan Mama. Mama saja tidak keberatan, tapi kenapa malah Papa yang kebakaran jenggot?!" Gerutu Daniel.
"Karena dia istri, Papa!!"
Luna mendengus geli. Dan jika tidak dihentikan, hal semacam ini akan terus berlangsung sampai siang nanti. Ia pun segera menengahi Ken dan Daniel yang masih ribut itu.
"Surga cukup kalian berdua, apa kalian tidak malu ribut di depan anak kecil. Sebaiknya pergi ke meja makan dan duduk tenang di sana. Atau tidak ada sarapan dan makan malam untuk hari ini?!" Luna menatap keduanya bergantian lalu pergi begitu saja.
Sedangkan Marissa dan Marcell malah terkekeh geli melihat ekspresi ayah dan kakak mereka. Jika singa betina sudah mengambil suara, pasti mereka akan tunduk dan tak berkutik seperti seekor tikus yang di kepung dua kucing sekaligus.
-
-
Bersambung.
__ADS_1