PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
'Organisasi Phoenix'


__ADS_3

DORRR....


Suara tembakkan keluar dari sebuah senjata yang ada di genggamannya. Memburu titik sasaran tembak pada sebuah papan berbentuk manusia yang berjajar jauh dari jangkauan matanya.


Sesekali tangannya mendekati bibirnya untuk mengambil gulungan kecil berisi tembakau yang sudah terbakar pada ujungnya, dengan bara api yang mengeluarkan gumpalan asap putih yang kemudian membumbung tinggi ke atas.


Iris coklat jerninya menyipit tajam saat melihat sebuah lubang kecil yang tercetak pada salah satu sasarannya dan kembali menyeringai tajam.


Asap rokok keluar dari bibir kiss ablenya yang tipis dengan sebuah bekas luka pada bibir bagian bawahnya. Mengacuhkan sosok jangkung yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya.


"Aku harap kau bisa segera menghentikan kebiasaan burukmu itu, Ken Zhao, seharusnya kau tau jika merokok sangat tidak baik untuk kesehatanmu." Nasehat orang itu dan membuat Ken berdecak kesal.


"Diamlah, Ge, kau terlalu berisik. Pergilah kau hanya mengganggu latihanku saja." Sinis Ken dengan tatapan tajamnya.


"Terkadang aku merasa heran padamu. Jelas-jelas sekarang kau adalah seorang Bos besar dari 'Organisasi Phoenix'. Tapi kenapa kau malah memilih terjun sendiri untuk menghabisi semua target-targetmu sementara kau memiliki begitu banyak anak buah." Ujar pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.


Matanya kembali terpusat pada titik merah yang ada di depan sana. Tatapannya tanpa perasaan, dingin dan tajam yang begitu menusuk dipancarkan oleh mata itu. "Karena aku tidak suka membuang-buang waktu." Jawabnya dingin dan datar.


Lalu Ken menghembuskan asap rokoknya di depan wajah Devan dan langsung membuat dia terbatuk-batuk karena ulahnya. Shotgun yang dia genggam kemudian dia buka untuk di isi kembali dengan peluru.


CKREKK... DOORR...


Sadis ... tanpa melihat pun, tembakkan Ken tepat sasaran. Ken berhasil menghancur leburkan papan tembaknya dengan ganas.


Sebuah seringai kepuasan tampak pada bibir kiss ablenya. Memang tidak salah bila Ken menyandang julukan sebagai 'The Master Of Gun' Dan Devan hanya bisa terperangah dan semakin kagum dengan kemampuan Ken dalam hal menembak sasaran. Tapi di satu sisi dia juga merasa ngeri karena melihat kesadisan sepupunya tersebut.


Dan derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian keduanya. Keduanya menoleh pada asal suara, dan mendapati Ren berjalan mendekati mereka dengan seorang pria yang sekujur tubuhnya babak belur karena pukulan yang dia terima.


"Bos, aku berhasil menangkap pria ini dan untuk sisanya aku serahkan padamu." Ucap Ren sambil mendorong pria itu hingga jatuh di bawah kaki Ken.


"Hn, kau boleh pergi."

__ADS_1


CRAKK...!!


Ken m*mukul wajah pria itu dengan gagang pistolnya dengan sangat keras. Darah segar seketika mengalir dari lubang hidung dan sudut bibirnya. Laki-laki itu memeluk kedua kaki Ken dan memohon supaya dirinya di ampuni. Dengan kasar dan tanpa rasa kasihan, Ken menarik rambut pria itu hingga kepalanya mendongak kebelakang.


"Kau sudah menyia-nyiakan kebaikanku. Bahkan aku memberimu waktu lebih untuk melunasi semua hutang-hutangmu. Dan kali ini aku tidak akan memberimu toleransi lagi, sebagai kesepakatan awal. Maka aku ambil kep*lamu sebagai gantinya."


Dengan kasar Ken mendorong tubuh pria itu hingga terjungkal kebelakang dan ujung pistolnya menempel pada kepala targetnya."Sekarang katakan apa permintaan terakhirmu sebelum peluru dalam pistol ini menembus kepalamu."


"Tunggu Bos, aku memang tidak bisa melunasi semua hutang-hutangku padamu karena aku baru saja kalah di meja judi. Tapi sebagai gantinya, aku akan memberikan keponakanku yang cantik sebagai jaminannya. Aku akan memberikan dia padamu. Dia cantik dan aku jamin kau akan puas dengannya."


"Tapi sayangnya aku tidak berminat karena aku tidak serendah yang kau kira. Dan asal kau tau saja, aku adalah tipe pria dengan satu wanita saja. Dan lagi pula aku tidak menggeluti bisnis jual-beli manusia, jadi lupakan saja."


"Tunggu-tunggu ... tapi aku memiliki fotonya Bos, dan kau bisa melihatnya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan. Ini adalah keponakanku dan namanya, Jessline Jung.


Laki-laki itu menunjukkan foto Jessline yang sedang berselca bersama Via. Dan betapa terkejutnya Ken setelah melihat foto itu. Dan dia adalah orang yang sama dengan wanita yang dia selamatkan semalam.


Seketika Ken teringat dengan apa yang kedua pria itu katakan kemarin malam, jika wanita itu telah di jual oleh pamannya untuk melunasi semua hutang-hutangnya pada bos mereka. Itu artinya selama ini hidup wanita itu berada dalam bahaya.


"Baiklah aku menerima wanita itu sebagai jaminannya. Tapi dengan satu syarat, mulai besok dia akan tinggal di sini dan kau tidak memiliki hak apapun lagi atas dirinya."


Ken memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk menyeret laki-laki itu pergi dari rumahnya. Ken tidak ingin jika rumahnya sampai kotor karena sampah tak berguna seperti dia.


Dan keputusan Ken bukan tanpa alasan, dia hanya ingin melindungi wanita itu dari kekejaman pamannya sendiri. Dan mungkin saja Jessline akan mengalami hal yang lebih buruk lagi bila dia tetap tinggal bersama dengan pamannya yang tidak berhati.


Dan sekejam-kejamnya seorang Ken Zhao, setidaknya dia masih memiliki hati nurani. Dia memang seorang yang kejam dan tak berperasaan. Tapi setidaknya dia tidak akan mengorbankan orang lain yang tidak bersalah hanya demi kepentingan pribadinya.


Dan mungkin keberadaan Jessline didekatnya akan membuat Ken bisa melupakan rasa sakitnya setelah kepergian Luna dari hidupnya tiga tahun yang lalu.


-


-

__ADS_1


"Pa, ada apa ini? Kenapa semua barang-barang milik Jessline Noona kau kemas dan dimasukkan ke dalam koper? Apa kau berniat untuk mengusirnya pergi dari sini?" tanya Sammy meminta penjelasan.


"Diamlah kau Bocah!! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan orang tua!" tegas tuan Choi dengan tatapan tajamnya.


Bukan hanya Sammy saja yang kebingungan tapi Jessline juga. Wanita itu baru saja kembali dari berbelanja di mini market tapi saat tiba dirumahnya dia malah mendapati barang-barangnya dikeluarkan semua dari dalam kamarnya.


Jessline nyelonong masuk dan mencoba meminta penjelasan pada pria bermarga Choi tersebut.


"Apa-apaan ini? Kenapa kau mengeluarkan semua barang-barang milikku? Apa lagi yang kau rencanakan sekarang? Apa kau ingin mengusirku dari rumahku sendiri?"


"Tidak ada yang mengusirmu hanya saja aku akan mengirim mu menuju tempat yang lebih nyaman dan lebih bagus dari rumah ini."


"Jadi kau ingin menjualku lagi?"


"Tidak-tidak, kali ini lain lagi ceritanya. Dan sebaiknya kau pergi sekarang karena jemputanmu sudah tiba."


"Aku tidak mau. Ingat, aku bukanlah sebuah boneka yang bisa kau permainkan dan kau manfaatkan kapan pun kau suka dan aku menolak untuk pergi dari sini." Jessline menunjukkan tulisannya pada Choi Hansol dan menolak tegas keinginan busuknya.


"Jangan menguji kesabaranku wanita ja*ang. Bagus malam itu aku menyelamatkanmu, jika tidak pasti kau sudah mati di pinggir jalan dan menjadi salah satu korban yang meninggal dalam kecelakaan itu. Dan sudah seharusnya kau membalas budi padaku "


"PAPA!!" Sammy berteriak dan membentak pria paruh baya yang ada dihadapannya. Kemarahan tersirat jelas dari sorot matanya."Aku tidak setuju. Jessline Noona, tidak akan pergi ke mana-mana. Aku tidak akan membiarkannya."


"Aarrkkhh. Bocah, tau apa kau? Sebaiknya kau tidak usah ikut campur." Dante mendorong tubuh Samjy hingga tersungkur di lantai, darah segar mengalir dari keningnya yang tidak sengaja terbentur ujung meja.


Jessline terus meronta saat Dante menyeretnya dan memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.


Jessline tidak tau mobil milik siapa itu dan ada dua pria asing didalamnya yang sepertinya ditugaskan untuk menjemput dirinya.


Bisa saja Jessline berteriak dan memaki Choi Dante, tapi dia tidak ingin mengambil resiko dan membuat keadaan pita suaranya semakin parah. Dia tidak memiliki pilihan lain selain pasrah dan menurut. Dalam hatinya Jessline terus berdoa agar Tuhan selalu melindungi dirinya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2