PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Gaun Pesta


__ADS_3

"Astaga, Viona. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat kamarmu jadi berantakan seperti ini?"


Vincent kaget setengah mati ketika mendatangi kamar Viona dan mendapati tempat itu tak ubahnya seperti kapal pecah. Gaun pesta berserakan dimana-mana, dilantai, diatas tempat tidur sampai di sofa pun ada.


Lantas Viona menoleh dan menatap sebal kakaknya itu. "Diamlah, dan jangan banyak tanya. Apa Kakak tidak tau jika aku ini sedang sangat kepusingan mencari gaun pesta yang harus aku pakai malam ini. Saking banyaknya gaun pesta yang aku miliki, sampai-sampai aku sendiri bingung harus pakai yang mana." Tutur Viona, dia terlihat begitu frustasi.


"Oh, itu masalahnya. Gampang, kau hanya perlu memilih gaun yang sesuai dengan tema pesta malam ini. Selain itu, warna juga sesuaikan. Cari warna yang membuatmu akan terlihat anggun dan menawan. Kakak sarankan jangan warna yang mencolok, itu malah akan membuatmu terlihat tua."


Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Saran Vincent memang sangat membantu, tapi masalahnya terlalu banyak gaun yang sesuai dengan tema pesta malam ini. Dan warna-warna pastel yang dia miliki lebih dari satu.


Tokk... Tokk.. Tokk..


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian kakak beradik itu. Seorang pelayan memasuki kamar Nonanya sambil membawa sebuah kotak berbentuk segiempat yang kemudian dia berikan pada Viona.


"Nona, ada paket untuk Anda,"


Viona menerima paket itu lalu membukanya. Matanya membulat dengan bibir sedikit menganga. Sebuah gaun cantik berwarna pastel, terlihat simpel namun begitu elegan. Disaat Viona sibuk terpanah oleh keindahan gaun itu, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Kau sudah menerima gaunnya? Aku ingin malam ini kau memakai gaun itu, dandan secantik mungkin dan buat aku terkesima."


Viona mendecih sebal setelah membaca pesan itu. "Cih, apa-apaan dia. Seenaknya saja mengaturku harus cantik dan elegan, tapi selera fashionnya oke juga. Lumayan, dapat gaun cantik gratisan." Gerutu Viona dengan senyum lebar diakhir kalimatnya.


"Ekhem, sepertinya adikku yang cantik dan imut ini sudah menemukan sang pangeran berkuda putih. Ciee, ada yang sedang jatuh cinta,"


"Sembarangan, siapa yang jatuh cinta? Dan pangeran berkuda putih apanya, tidak ada hal seperti itu. Ini bukan negeri dongeng. Sebaiknya Kakak keluar, aku mau mencoba gaun ini." Vincent di dorong keluar oleh Viona.


Sudut bibir Viona tertarik keatas, membentuk senyum tipis di wajah cantiknya. Dia sangat suka dengan gaun yang Kevin kirimkan untuknya.


"Kulkas tiga pintu itu, ternyata dia memiliki selera yang bagus juga. Benar-benar tidak terduga." Ia menyimpan kembali gaun itu.


Kemudian Viona memanggil para pelayan untuk membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.


-


-


Di dunia ini banyak perusahan perusahan besar yang banyak berkembang. Salah satunya di kota Seoul. Banyak perusahan besar yang saling bersaing di dunia pebisnisan.


Contohnya saja perusahaan yang banyak dibicarakan saat ini, Zhao Empire. selain Ceo mereka yang katanya masih muda dan tampan.

__ADS_1


Perusahaan yang sudah sejak lama telah melebarkan sayapnya di mancanegara dan selalu menduduki peringkat pertama di majalah bisnis sebagai perusahaan no.1 di Asia. Mengalahkan para pesaingnya yang juga bergerak di bidang yang sama.


Selain nama perusahannya yang cukup terkenal didunia bisnis, CEO muda dan tampan yang memimpin perusahaan itu. di Seoul pun cukup terkenal dengan sifat Angkuh, Sombong dan berdarah dinginnya. Meskipun Kevin memimpin belum begitu lama.


Kevin Zhao, pria lajang yang banyak diincar para kolega kaya ayahnya sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah untuk menjadikan pria itu sebagai menantu mereka.


Namun sepertinya pemuda tampan itu tak berminat menjalin hubungan dengan siapa pun, karena sampai sekarang saja ia masih betah menjomblo. Padahal banyak wanita karir dan kaya yang mengincarnya.


Kecuali dia, gadis bar-bar yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka.


"Presdir, barang yang Anda kirim sudah diterima oleh, Nona Jung."


"Hn, aku tau. Kosongkan semua jadwalku malam ini, termasuk rencana makan malam dengan Suya Group. Siapkan jas untukku, aku akan menghadiri sebuah pesta malam ini,"


"Baik, Presdir."


Kevin memeriksa ponselnya dan menghela napas. Tidak ada balasan dari Viona, padahal sudah 30 menit sejak dia mengirimkan pesan itu. Kevin tidak tau kesibukan apa yang gadis itu lakukan saat ini, sampai-sampai dia tidak memiliki waktu untuk membalas pesannya.


Tapi Kevin tidak merasa kesal apalagi tersinggung, dia mengenal betul sifat dan pribadi gadis itu. Memang begitulah Viona, pemuda itu bangkit dari kursinya. Ada meeting setengah jam lagi. Dia harus bersiap-siap.


-


-


Vincent menyemburkan jus yang ada didalam mulutnya saat mata jelaganya melihat sang kakek menuruni tangga dengan penampilan yang sulit di dijelaskan dengan kata-kata.


Penampilannya begitu menyilaukan mata, seolah lupa akan statusnya sebagai seorang kakek. Jung Hilman berpenampilan layaknya anak muda.


Kemeja putih yang dibalut jaket kulit dan jeans ketat berwarna hitam pula. Rambut putihnya, dipasang wig coklat terang. Tak ketinggalan kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya dan sepatu tangguh hitam bertali.


"Kakek!"


Viona memekik sekencang-kencangnya saat menuruni tangga dan melihat penampilan kakeknya yang semakin hari semakin menjadi-jadi.


Bukannya merasa malu dan minder akan penampilannya, kakek tiga cucu itu malah memutar tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya "Anak-anak! Bagaimana penampilan, Kakek? Sudah oke belum?" tanya Kakek Hilman memastikan


"Mengerikan!" jawab Viona dan Vincent dengan kompak.


"Sebenarnya Kakek mau kemana?" Viona menatap penampilan sang kakek dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


Jung Hilman tersenyum sumringah. "Kakek ada kencan dengan nenek Min-hi, dan kami akan mengikuti kontes pasangan lansia!" ujarnya "Kakek hampir terlambat, Kakek berangkat dulu."


Viona memijit pelipisnya yang jelas-jelas tidak pening. Vincent meringis ngilu membayangkan bagaimana pasangan lansia melakukan kencan buta.


"Cihh, sudah bau tanah masih saja kebanyakan tingkah!"


Keduanya sontak menoleh pada sumber suara. Tampak Amelia dan Minna menuruni tangga yang tanpa rasa sungkan sedikit pun melewati Viona namun langkah Minna terhenti karena cengkraman Viona pada lengannya


"Katakan sekali lagi!" Minna sedikit meringis karena cengkraman Viona yang semakin kuat


"Ka..katakan apa?"


Viona mendecih menatap Minna tajam."Jangan pura-pura amnesia, Kim Minna! Kau pikir aku tidak mendengar apa yang baru saja kau katakan!" Ucap Viona penuh intimidasi.


Minna berusaha melepaskan cengkraman Viona namun tidak bisa. "Lepaskan , sakit!" jerit Minna namun tetap di hiraukan oleh gadis itu.


Melihat putrinya tersakiti tak lantas membuat Amelia tinggal diam. Dia menyentak tangan Viona dari lengan Minna dan sedikit mendorongnya hingga gadis itu sedikit terhuyung. "Yakkk, berani-beraninya kau menyakiti putriku!" bentak Amelia pada Viona.


Vincent yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dari balik koran yang sedang dibaca. Mulai ambil bagian, laki-laki itu menutup korannya kemudian bangkit dari duduknya.


"Hmm!" Suara rendah namun penuh intimidasi itu mengalihkan perhatian para wanita kecuali Viona. Mata Amelia membelalak, terkejut dengan keberadaan Vincent di sana.


"Ka--kau? Bu--bu--kankah kau? Ba--bagai--mana kau masih hidup!" Vincent menyeringai sinis. Dihampirinya wanita itu.


Amelia tidak bisa bergerak seinci pun setelah punggungnya berbenturan dengan tembok. Keringat dingin membanjiri dahinya


"Terkejut melihatku masih hidup? Kau terlalu bodoh menjadi orang, Amelia Kim. Karena yang berada dalam mobil hari itu bukanlah aku dan Kakak, tapi anak buahmu sendiri. Selama ini kami berdua hidup dengan damai di London. Kau boleh saja berhasil menyingkirkan orang tuaku, tapi kalian tidak akan pernah bisa menyingkirkan putra-putrinya!"


Viona menyeringai melihat wajah pucat Amelia dan raut ketakutan Minna. Ibu dan anak itu pun tidak dapat berkutik apa lagi berkata apa-pun lagi. Bibir mereka gemetar dan wajah mereka memerah seperti menahan amarah, Amelia terutama.


Di tatapnya Vincent dengan tajam, rasanya Ia masih tidak percaya jika orang yang saat ini berdiri dihadapannya adalah putra kedua dari dua orang yang paling dia benci keberadaannya.


Amelia sungguh menyesal karena pada saat itu dia tidak memastikan sendiri dengan mata kepalanya apakah Siwon dan Jaejoong telah benar-benar tiada atau tidak. Dan akhirnya Amelia tau mengapa Jung Hilman tidak pernah mengumumkan kematian kedua cucu laki-lakinya dan acara belasungkawa. Itu karena sebenarnya mereka masih hidup.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2