
Tokk... Tokk.. Tokk...
Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatian Ken dari tumpukan dokumennya. Tak berselang lama sosok Ren memasuki ruangan dan menghampiri Ken sambil membawa sebuah map yang kemudian dia berikan pada pria itu.
"Ini informasi yang Anda minta, Tuan." Kemudian Ren meletakkan map tersebut di atas meja.
"Kau boleh keluar." Ren membungkuk dan meninggalkan ruang kerja Ken.
Ken membuka map tersebut dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya. Sebuah fakta mengejutkan baru saja terungkap, hasil tes DNA pada mayat yang selama ini di duga sebagai Luna ternyata tidak memiliki kecocokan sama sekali. Dan hal itu semakin memperkuat keyakinan Ken bila Jessline adalah Luna yang sedang mengalami amnesia.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar dan membuat benda hitam bertali pada mata kirinya tidak sengaja terlepas, ujung kukunya tanpa sengaja membuka kembali jahitan disekitar matabya hingga membuat cairan merah segar dengan aroma khas besi berkarat mengalir dari lukanya yang terbuka.
Rasa perih dan ngilu tak Ken hiraukan sama sekali, karena rasa perih itu tak sebanding dengan perih pada hatinya. Dadanya begitu sesak seperti terhimpit dua batu besar.
Bagaimana mungkin dia begitu bodoh dan tidak mengenali istrinya sendiri. Selama ini Luna begitu dekat tapi dengan bodohnya Ken malah mengabaikannya.
Jika saja Ken menyadarinya sejak awal dan mengikuti kata hatinya, mungkin dia tidak akan merasa sampai semenyesal ini. Dan Ken tidak tau bagaimana harus menghadapi Luna setelah apa yang dia lakukan padanya. Dia sudah terlalu banyak melukai perasaannya dengan sikap dan kata-kata kasarnya.
"Ya Tuhan, Ken, apa yang terjadi pada lukamu? Kenapa bisa sampai berdarah seperti itu?" pekik Devan terkejut.
Devan yang baru saja tiba terkejut bukan main saat melihat sebelah wajah Ken berlumur darah yang berasal dari luka di sekitar matanya. Kemudian Devan mengambil beberapa lembar tisu untuk menghentikan pendarahannya tapi sayangnya niat baiknya di tolak oleh Ken yang langsung menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya.
"Sedang apa kau di sini?"
"Beginikah caramu menyambut seseorang yang memiliki niat baik padamu? Astaga, Ken Zhao, kenapa semakin hari sikapmu semakin menyebalkan saja! Jika bukan karena aku masih peduli padamu dan karena kau adalah sepupu kesayanganku, aku ogah jauh-jauh datang kemari hanya untuk melihat keadaanmu."
"Ck, kau terlalu banyak bicara."
"Rasanya aku ingin merebus-mu hidup-hidup di dalam air mendidih supaya sikap dingin mu itu bisa luntur dan kau tidak bersikap menyebalkan lagi."
"Hn, terserah."
Malas berdebat dengan Ken yang tidak ada gunanya. Devan memilih menyerah dan tidak melanjutkan perdebatannya. Lalu pandangan Devan bergulir pada kertas yang tergeletak begitu saja di meja kerja Ken. "Apa ini?" Devan membaca rentetan huruf yang membentuk sebuah kalimat dalam lembaran kertas itu sambil mengernyit bingung.
"Aku yakin kau tidak buta huruf dan dungu sampai-sampai aku masih harus menjelaskannya padamu." Sinis Ken menyela ucapan Devan.
"Tentu saja tidak. Lagi pula aku tidaklah sebodoh itu, hanya saja otakku sedikit sulit untuk mencerna maksud dari isi dalam surat ini." Jelas Devan memaparkan.
Ken mendengus berat. "Aku sedang tidak ingin membahas apapun untuk saat ini. Sebaiknya kau pergi sekarang dan tinggalkan aku sendiri."
"Kau mengusir kakak sepupumu yang tampan ini? Astaga, Ken Zhao, kenapa semakin hari kau semakin keterlaluan saja."
__ADS_1
"Ck, berhentilah mendrama dan keluar sekarang, sebelum aku sendiri yang akan melemparmu keluar dari ruangan ini." Ancam Ken bersungguh-sungguh.
Devan mencerutkan bibirnya. "Dasar patung es tidak berperasaan. Baiklah aku akan pergi sekarang. Dan sebaiknya segera pergi ke rumah sakit, lukamu terbuka dan perlu penanganan lagi."
"Aku tau."
Dan selepas kepergian Devan di dalam ruangan itu hanya menyisakan Ken seorang diri. Pria itu masih pada posisi yang sama, tak ada niat untuk Ken beranjak sedikit pun dari sana. Bahkan rasa sakit pada mata kirinya yang semakin menjadi pun tetap dia hiraukan.
🌹
🌹
Ken tiba dirumahnya hampir tengah malam. Suasana di sana sudah sangat sepi. Lampu-lampu sudah dimatikan sejak beberapa jam yang lalu.
Ken berjalan tenang memasuki rumahnya dan mendapati Ren serta Jimin tengah bermain game di ruang keluarga. Tidak ada niatan bagi Ken untuk menegur mereka berdua. Ia tetap berjalan sampai sesuatu menghentikan langkahnya.
Dari tempatnya berdiri, Ken melihat siluet seorang wanita yang sedang duduk termenung di taman belakang rumahnya menikmati malam. Tubuh rampingnya hanya dalam balutan gaun tidurnya yang tipis padahal udara malam ini lumayan dingin. Ken mendengus berat, ternyata kebiasaan buruk istrinya itu tidak berubah sama sekali.
Pukk...!!
Sesuatu yang hangat yang jatuh di atas bahunya membuat wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna terlonjak kaget. Sontak wanita itu menoleh dan terkejut mendapati sosok tampan yang berdiri menjulang didepannya.
Wanita itu mengusap dadanya seraya menghela nafas lega. Sedangkan Ken tak bersuara sedikit pun dan hanya terus menatap sosok dihadapannya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan dengan kata.
"Tuan Zhao, ada apa? Kenapa kau terus menatapku? Apakah ada yang aneh di wajahku?" tanya Luna memastikan.
"Ya Tuhan, bagaimana aku harus mengatakan pada wanita ini jika sebenarnya dia adalah istriku yang sedang hilang ingatan?" batin Kevin berkecambuk.
Ken ingin sekali memberitahu Luna yang sebenarnya tentang jati dirinya, tapi dia merasa takut dan ragu. Ken takut jika apa yang dia sampaikan malah membebani diri Luna dan membuatnya semakin tersiksa.
Ken tidak ingin Luna memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya jika kebenaran itu sampai terungkap, karena hal itu akan berdampak buruk pada kesehatannya dan Ken tak ingin bila wanitanya sampai tersiksa ketika mencoba untuk mengingat dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini tengah malam begini? Sebaiknya segera masuk, kau bisa sakit jika terlalu lama berada di sini dan aku tidak ingin mendengar kata tidak!"
Luna menggeleng. "Tidak mau. Aku masih ingin di sini dan menikmati langit cerah malam ini. Atau kau ingin menemani aku sebentar di sini?" tawar Luna pada pria di depannya ini. Tanpa banyak berfikir Ken mengiyakan permintaan wanita itu.
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Ken maupun Luna. Sedari tadi wanita itu terus saja memandang pada langit malam. Dia begitu takjub dengan keajaiban Tuhan yang satu ini.
Dibandingkan siang, Luna lebih menyukai malam. Meskipun malam membawa kesan suram nan mencekam tapi malam selalu membawa kedamaian.
Luna memutar lehernya untuk menatap pria disampingnya. Dahinya mengernyit bingung saat iris hazel nya melihat sesuatu sedikit menyembul dari balik poninya yang menjuntai. Dengan ragu dan tak yakin. Luna menyibak poni itu dan menemukan sebuah perban membebat mata kiri Ken dan tampak darah segar pada permukaan perbannya.
__ADS_1
Tapi anehnya perban itu berdarah di sekitar kantung matanya. Sebenarnya Ken hanya perlu menutup lukanya yang terbuka, tapi itu hanya akan membuat luka lain yang dia tutupi selama ini terbuka. Itulah kenapa dia memilih menutup semuanya.
Luna tersentak saat merasakan genggaman lembut pada jari-jarinya. Jari-jari yang terasa dingin itu menggenggam jari jemarinya semakin erat. Sedikit perasaan bingung menyeruak memenuhi perasaannya saat melihat tatapan Ken padanya. "Tuan Zhao, ada apa?" tanya wanita itu memastikan.
Ken menggeleng. "Tidak apa-apa." Jawabnya dan melepaskan genggamannya.
Pria itu terlihat beranjak dari duduknya."Sebaiknya segera masuk ke dalam. Udara di sini sangat dingin, aku tidak ingin jika kau sampai sakit atau terkena flu karena terlalu lama berada di luar rumah." Tegas Ken tak ingin di bantah.
Luna mengangkat sebelah alisnya dan menatap Ken dengan penuh kebingungan. Pasalnya sikap Ken malam ini terlihat begitu berbeda padanya, padahal pagi ini dia begitu dingin dan acuh pada dirinya tapi malam ini dia menunjukkan sikap yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Hangat dan penuh kelembutan, meskipun dingin masih terasa pada hatinya.
"Sayang, katakan padaku aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana aku harus bersikap padamu? Aku ingin sekali memberi taumu jika aku adalah suamimu, rumah seharusnya kau kembali. Tapi aku sangat takut, aku takut jika itu hanya akan semakin melukaimu dan membuatmu jauh lebih menderita lagi. Dan untuk sementara waktu, mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya. Dan biarkan aku melindungimu dengan caraku sendiri!"
Batin Ken menjerit pilu. Hatinya terasa seperti di koyak-koyak. Meskipun tak berdarah tapi rasanya lebih sakit dari sebuah luka pada bagian tubuhnya.
Istrinya begitu dekat, tapi rasanya begitu jauh untuk di raih seperti ada dinding tak kasat mata yang menjadi penyekat di antara mereka. Ken pasti akan mengungkap jati diri Luna, tapi tidak sekarang, dia masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.
-
-
Pagi hampir menjelang namun Ken masih tetap terjaga, berkali-kali pria itu mencoba untuk menutup matanya tapi rasanya begitu sulit. Banyak sekali hal yang mengganggu hati dan pikirannya, terlalu berat beban yang di pikul di kedua pundaknya.
"Huft!!" Ken mendesah berat. Beranjak dari berbaringnya kemudian melangkah tenang menuju balkon kamarnya.
Udara dingin namun terasa menyejukkan langsung menyambut kedatangan Ken di sana. Kedua tangannya yang terbuka bertumpu pada pagar besi pembatas yang terasa dingin dan keras. Pakaian yang melekat pada tubuhnya pun sangat kontras dengan udara malam ini. Sebuah kemeja lengan terbuka membalut tubuh kekarnya.
Dari langit malam pandangannya bergulir pada kamar yang berada tepat di samping kiri kamarnya. Tirai transparan pada jendela itu tampak berkibar karena terjangan angin nakal.
Tampak siluet wanita yang sedang tidur meringkuk di dalam sana. Ken mendesah berat, lagi-lagi Luna menunjukkan kebiasaan buruknya yakni tidur tanpa menutup jendela kamarnya.
"Kapan kau bisa memperhatikan dirimu sendiri, Sayang? Berhentilah bersikap ceroboh yang merugikan dirimu sendiri." Bisik Ken seraya menyelimuti tubuh Luna dengan selimut tebal sampai sebatas dada.
Mata Ken tertutup rapat. Bibirnya menempel pada kening Luna cukup lama, tampak sebuah cairan kristal bening mengalir dari sudut mata kanannya yang segera Ken seka sebelum jatuh menyentuh pipi wanita itu.
"Aku pastikan tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu setelah ini. Aku akan melindungi-mu dan akan ku habisi semua orang yang sudah membuatmu menderita selama ini. Hiduplah dengan tenang di sini karena sesungguhnya disinilah tempatmu berada dan kembali."
🌹
BERSAMBUNG.
__ADS_1