
Sinar matahari dibalik jendela kaca itu menerpa wajah sang perempuan yang sejak tadi masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin bunga tidurnya sangat indah sehingga wanita tersebut enggan bangun dari tidurnya.
Sepasang kelopaknya mulai mengerjap karena terpaan sinar sang penguasa hari. Tapi sepertinya dia tetap tidak mau bangun. Entah mimpi indah apa yang sedang dia alami sehingga enggan untuk bangun meskipun matahari sudah tinggi.
Beberapa saat kemudian. Kelopak mata itu terbuka dan menampilkan sepasang Hazel yang indah. Hal pertama yang tertangkap oleh netra matanya adalah sosok tampan yang sedang terlelap tidur disampingnya.
Setelah merasakan keadaanya sadar sempurna, Luna bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan pelan ke bathroom.
Luna memerhatikan penampilannya, sempurna. Dia memakai sebuah rok terusan berwarna putih setengah lengan, dengan pita hitam yang kemudian dia ikatkan kebelakang. Rambut panjangnya yang biasa dia gerai pagi ini diikat ekor kuda.
Wanita itu berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur. Ia ingin membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Anak-anak belum pulang dan masih menikmati masa liburannya bersama Nenek Zhao. Perempuan itu masih asik memasak bahkan tidak tau kalau ada seseorang yang bergabung di dapur.
"Aaahhh,"
Luna memekik keras saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Tanpa melihat pun, tentu saja Luna sudah tau siapa yang sedang memeluknya itu. "Uhhgg, Ken, apa yang kau lakukan?! Hentikan, geli!!" Rengek Luna memohon.
Ken terus mengecupi pertopangan leher Luna dan meninggalkan beberapa bercak merah tanda kepemilikan di sana. "Ken, hentikan!! Kita ada di dapur, bagaimana jika pelayan melihatnya."
"Aku tidak peduli. Anggap saja mereka sebagai butiran debu!!" Jawab Ken dengan santainya.
"Dasar kau ini, kita bukan pengantin baru lagi. Jadi tidak perlu melakukan ini seperti anak muda yang sedang dimabuk asmara," ujar Luna namun tetap tidak dihiraukan oleh Ken.
"Aku tidak peduli. Mereka ya mereka, kita ya kita. Dan tidak ada undang-undangnya yang melarang kita yang sudah tidak muda lagi ini untuk selalu terlihat mesra dan hangat," Tutur Ken memaparkan.
"Kelekke," tiba-tiba Luna terkekeh. Membuat Ken menjadi kebingungan. Kemudian wanita itu melepaskan pelukannya lalu berbalik. Posisinya dan Ken saling berhadapan. "Aku jadi ingat saat kita masih muda, tiada hari tanpa kemesraan, dan aku senang hal itu berlangsung sampai sekarang," ucap Luna tersenyum.
Ken memeluk Luna dengan kedua lengannya, sepasang biner matanya menatap wanita dalam pelukannya ini lebih cinta. "Kau adalah sumber kebahagiaanku, Luna Zhao. Dan juga anugerah terbesar yang Tuhan berikan padaku. Kau adalah hidup dan matiku." Tutur Ken lalu mencium tangan Luna.
Luna tersenyum lebar. Kemudian dia bersandar pada dada bidang suaminya. Namun dia merasakan sesuatu yang aneh, aroma menyengat menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Kedua mata Luna lantas membelalak.
"KEN, MASAKANKU GOSONG!!"
.
.
Luna menatap nanar masakannya yang telah menghitam. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Ken yang berdiri disampingnya malah terkekeh. Dan apa yang terjadi pagi ini mengingatkan Ken pada kejadian beberapa tahun yang lalu.
Lebih tepatnya ketika mereka masih menjadi pengantin baru. Luna yang berinisiatif membuat sarapan untuk mereka namun berakhir mengenaskan. Karena telor mata sapi yang dia masak tak satu pun ada yang bisa dimakan karena gosong semua.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa?" Bingung Luna.
"Kejadian hari ini mengingatkanku diawal-awal kita menikah. Kau yang berinisiatif membuat sarapan malah gagal total, semua telor yang kau masak gosong dan tidak bisa dimakan. Dan siapa yang menduga jika hari itu malah datang kembali hari ini." Ujar Ken panjang lebar.
"Hahaha!!" Tawa Luna akhirnya meledak. Dia jadi teringat juga. "Ya, aku ingat. Meskipun semua telor itu gosong dan tidak bisa dimakan, tapi kau tetap saja memaksakan diri untuk memakannya. Dan rasanya luar biasa pahit,"
Ken mengangguk. "Kau mengingatnya juga. Sudah biarkan saja, lebih baik dibuang daripada menjadi racun. Bersiaplah, kita sarapan diluar saja. Jika menunggu pelayan menyiapkannya itu terlalu lama."
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar."
Tidak ada yang berubah pada hubungan mereka. Meskipun sudah puluhan tahun bersama, namun mereka masih sangat seromantis dulu. Dan rasa cinta yang mereka miliki semakin meningkat dari waktu ke waktu. Luna dan Ken tetap seromantis dulu.
-
-
"Cello, jangan makan lagi!! Perutmu bisa meledak jika kau tidak berhenti makan!!"
"Aiya, Riri. Kau ini jangan jadi orang yang menyebalkan deh!! Aku baru makan dua porsi nasi, tiga potong kue, dua potong puding dan belum makan spaghetti, jadi jangan menghalangiku!!"
"Dasar rakus, apa kau ingin sakit perut lagi dan diare?! Ingat pesan mama, makan secukupnya dan jangan berlebihan!!"
Gadis kecil itu sungguh tak habis pikir dengan saudaranya satu itu. Tapi anehnya, meskipun selalu makan banyak, tapi tubuh Cello tetap saja tidak mau gemuk apalagi bulat seperti bola.
"Riri, sudah biarkan saja. Sebaiknya kau makan juga yang banyak. Nenek Buyut tidak kau kena omel ayahmu jika pulang kau agak kurusan."
Marissa menggeleng. "Aku sudah kenyang, dan perutku sudah tidak bisa menampung lebih banyak makanan lagi." Jawab Marissa.
Disaat kedua adiknya sibuk karena makanan, Daniel malah asik video call-an. Dia menghubungi Erica dan menceritakan tentang perjalanan hebatnya dengan kedua adik kembarnya dan juga nenek buyutnya. Daniel juga berjanji jika suatu saat nanti akan mengajak gadis itu pergi keliling dunia.
Daniel seperti menemukan dunianya yang hilang sejak saat mengenal Erica. Dan sejak saat itu, Daniel tidak perlu lagi berdebat dengan ayahnya hanya untuk memperebutkan Luna.
"Eri, besok kita sambung lagi ya." Kemudian Daniel memutuskan sambungan telfonnya lalu bergabung dengan si kembar dan nenek buyutnya.
-
-
Ckittt...
__ADS_1
Ken terpaksa mengerem mendadak karena kemunculan beberapa pria bersenjata yang menghadang perjalanannya. Mereka adalah para pembegal yang terkenal sangat berbahaya dan meresahkan.
Luna yang kesal karena perjalanannya dihadang oleh sekelompok sampah tak berguna itu pun tak lantas tinggal diam. Tanpa menghiraukan suaminya, dia turun dan menghampiri mereka yang jumlahnya lebih dari 5 orang.
"Luna, tunggu!!" Seru Ken mencoba menahan Luna. Tapi terlambat karena wanita itu sudah turun lebih dulu.
Luna tidak ingin ada kekerasan, jadi dia akan menyelesaikan perkara ini dengan caranya sendiri. Luna menyambar tongkat kayu yang ada di sisi jalan lalu memukulkan pada salah satu dari kelima pembegal itu.
"Dasar pembegal tak berotak, apa kalian tidak tau tata Krama hah?! Ini jamnya orang kelaparan, dan seenak jidat kalian malah memblokir jalan!! Mau sok jadi jagoan?! Apa karena kurang pelajaran dasar tentang tata Krama?!"
Luna terus saja memukuli mereka berlima menggunakan balok kayu tersebut. Bibirnya terus mengeluarkan umpatan-umpatan tajam, bahkan Luna tidak peduli dengan teriakan mereka. Mereka memohon ampun tapi Luna tetap memukulnya.
Kali ini Luna menggunakan kekuatan power of emak-emak. Karena menghadapi cecunguk seperti mereka tidak perlu membuang banyak tenaga. Sedangkan Ken yang menyaksikan hal itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.
"Huaaa.. Kakak, ampun. Jangan memukul kami lagi, huhuhu.. jika kami pulang dalam keadaan babak belur. Ibu bisa menghajar kami lebih parah dari ini."
"Kami salah, huhuhu. Kami minta maaf, jangan memukul kami lagi. Huhuhu..."
"Kakak, kami akan melakukan apapun asal kau menunjukkan belas kasihmu pada kami. Kami hanya ingin makan dan merokok, kami minta maaf,"
Luna mendengus geli. Baru kali ini ada penjahat menangis dan meminta ampun, apalagi sampai bersujud seperti anak kecil yang dihukum oleh ibunya. Kekuatan The power of emak-emak memang tidak ada tandingannya.
"Kalian sungguh memalukan. Menyingkirkan dan enyah dari hadapanku!!"
"Huhuhu, terimakasih kakak. Kau sangat baik, terimakasih sudah melepaskan kami. Tapi apa kau punya uang sedikit saja, berikan uang untuk kami makan." Mereka memohon.
Kemudian Ken menghampiri mereka lalu melemparkan sebuah kartu nama pada salah satu dari mereka berlima.
"Datanglah keperusahaan itu jika kalian memang membutuhkan pekerjaan. Jika kalian bersungguh-sungguh, aku akan menerima kalian!! Luna, ayo pergi." Ken merangkul bahu Luna, keduanya meninggalkan mereka berlima.
"Huaaa... Kakak, terimakasih. Kalian sungguh baik, kami tidak akan melupakan jasa baikmu ini!!"
Ken mendengus geli. "Dasar penjahat amatiran!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1