PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Pernah Depresi


__ADS_3

Malam ini...


Adalah malam yang membenteng di antara mereka. Dan ada selimut kusut, bantal bersisian, baju-baju yang berserakan di lantai. Mereka polos dengan tubuh berlapis peluh, saling mengecup mulai bahu, di ceruk leher, garis rahang, pipi, hidung, kelopak mata, dan sudut bibir, dan bibir, serta lidah.


Hembusan napas terlalu kentara di antara suasana hening yang mendominasi. Tangan bertaut dan tubuh saling menyatu. Lampu mati, gelap, dan gelap. Dan d*sahan, erangan, tahanan napas. Helai cokelat yang menempel di pipi, terlalu erat, membelainya terlampau halus dengan gumam-gumam yang terujar begitu ketara.


"Ke..Ken, ahhh."


Dan Ken akan membalasnya dengan intensitas desah yang sama. Mengujar nama Luna berkali-kali dengan gerak yang mendominasi. Lagi dan lagi. Mereka gila dalam malam, dalam gelap yang memanas, pada waktu yang berhenti. Sisa yang terlihat hanya cokelat di mata Luna dan kilat di mata hitam Ken. Tapi, tak sedikit, ada cahaya remang bulan yang menjadi penerang.


"Uhhh, semakin dalam lagi, Ken."


"Apa kau begitu menikmatinya, Sayang." Bisik Ken dengan seringai andalannya.


Lalu Ken memacu lebih cepat lagi dan Luna berteriak lagi. Dua kali, tiga kali, hingga mereka lupa sudah berapa kali. D*sahan, erangan berkali-kali lolos dari bibir Luna. Membuat suasana Kian memanas.


Ketika akhirnya berhenti, jarum jam sudah membelah lebih dari sepertiga malam. Selimut dinaikkan, sebatas dada, dan bahu mereka masih bersentuhan di dalamnya.


Ken masih dapat mendengar napas halus yang diembus wanitanya, dan ia akan merengkuhnya, membawanya bersandar pada bahu yang masih lembap, tapi tak pernah kehilangan rasa nyaman.


Lalu Ken menurunkan pandangannya dan menatap sepasang iris Hazel milik Luna dalam gelap. "Apa aku perlu menyalakan lampu?" Tanya pria itu.


Tapi Luna segera menolak. Ia menggeleng dan menyusup di leher lelakinya. Mengembus napas dengan intensitas yang teratur. Hingga akhirnya tertidur dalam larut.


Ken tak pernah bertanya, meski selalu ada waktu di mana ia ingin menatap keseluruhan Luna dalam bias cahaya, jelas dan jelas, atau senyumnya yang mengembang di antara d*sah-d*sah napas, juga semburat kemerahan di atas belah pipi yang mengilat dalam peluh.


Ia ingin melihat bagaimana Luna ketika meneriakkan namanya, dalam terang dan siraman lampu, senyum kecil yang tersembunyi dalam kecup, ia ingin lihat. Ingin sekali.


Tapi, pada akhirnya, Ken pun mengerti.


Seperti itulah cara Luna memiliknya. Dalam gelap dan kelam. Tak ada warna selain kilat di netra.


Mereka tak perlu cahaya terang han6a untuk merasa dan menatap kepada sepasang netra pasangannya. Tak perlu rona merah jambu, tak perlu merah di sekujur tubuh, tak perlu lebam-lebam biru. Gelap membawanya terbang bersama perasaan penuh, melesak hingga rasanya tak bisa ditampung lagi. Tak ada warna lain dan tak ada objek lain.

__ADS_1


Hanya ia, hanya ia.


Sebab di antara semua warna, mereka memilih hitam.


-


-


Luna membuka matanya dan jam dinding baru menunjuk pukul 03.00 dini hari. Lampu dalam kamar yang sebelumnya di matikan sudah nyala kembali. Lalu pandangan Luna bergulir pada sosok tampan yang sedang terlelap disampingnya.


Luna merubah posisinya. Ia dan Ken saling berhadapan. Jari-jari lentiknya membelai wajah tampan itu dengan lembut. "Maaf, Ken. Suatu saat kau akan mengerti, kenapa aku selalu memintamu mematikan lampu ketika kita sedang melakukannya."


"Aku sudah menyerahkan semuanya padamu, tapi aku belum siap jika kau harus melihat cacat di tubuhku. Aku hanya merasa takut, aku takut kau akan merasa jijik dan tidak mau menyentuhku lagi. Tunggu aku siap, untuk memperlihatkan bekas luka ini padamu."


Tanpa Ken sadari. Luna memiliki sebuah bekas luka di punggung sebelah kirinya. Luka yang dia dapatkan ketika masih remaja dulu. Luna pernah menjadi korban bully di sekolahnya, sehingga dia mengalami depresi.


Luna juga pernah menjadi penghuni rumah sakit jika ketika berusia 16 tahun. Sayangnya tidak banyak yang tau tentang masa lalunya yang kelam itu. Untungnya dia bisa keluar dari keterpurukannya itu, dan menjalani kehidupannya yang normal.


Dimalam pertama mereka melakukannya. Mereka bercinta dalam keadaan lampu mati. Hanya ada sinar remang bulan yang berpendar di luar. Sehingga Ken hanya bisa melihat bagian gundukan bukit kembar Luna serta bagian tubuh depannya saja. Yang terkena biasan sinar bulan.


"Eo, Ken apa aku membangunkan mu?"


"Hm, gerakan mu di wajahku terlalu sensual. Dan itu membuatku tidak nyaman. Apa kau sengaja ingin menggodaku sekali lagi, apa belum puas yang tadi?"


Ken merubah posisi mereka dan menempatkan Luna di bawah kukungan tubuhnya. Kedua tangan Ken mencengkram pergelangan tangan Luna dan mengunci sepasang Hazel nya.


"Bu..Bukannya begitu. Karena saat sedang tidur kau terlihat seperti anak kecil, polos dan menggemaskan. Itulah kenapa aku sangat menikmati wajahmu ketika kau sedang tidur." Ujar Luna mencoba membela diri.


"Sayangnya kau bukan pembohong yang hebat, Nyonya Muda Zhao." Ucap Ken lalu mencium bibir Luna. Ciuman singkat yang tidak lebih dari 20 detik.


Luna bangkit dari duduknya lalu menatap Ken dengan serius. "Ken, kita sudah menjadi istri selama 3 bulan lebih, tapi aku masih belum banyak tau tentang keluargamu. Kau ini berapa bersaudara, apa hanya kau dan mendiang kakakmu atau ada yang lain lagi. Kau harus terbuka padaku."


"Kenapa kau ingin tau?"

__ADS_1


Luna mengangkat bahunya. "Hanya ingin tau saja. Memangnya tidak boleh?"


"Siapa yang mengatakan tidak boleh?! Dasar kau ini, baiklah kalau kau memang ingin tau. Aku akan memberitahumu semuanya yang ingin kau tau."


"Aku ceritakan." Desak Luna.


"Kenapa kau tidak sabaran sekali, hm. Oke aku ceritakan padamu semuanya. Sebenarnya aku memiliki saudara lain selain mendiang kakakku dan dia beda ibu tapi satu ayah.


Aku adalah putra bungsu dalam keluarga ini, dan satu-satunya pria diantara 4 bersaudara. Tapi saat kecil, kakak Perempuanku di tukar dengan kakak ipar ku. Karena keluarga ini ingin memiliki anak laki-laki. Tapi akhirnya dia kembali lagi sebagai menantu karena dia telah resmi di adopsi oleh keluarga lain."


"Aku dan kakak pertamaku yang beda ibu memiliki selisih usia 20 tahun, sedangkan dengan kakak kedua 15 tahun. Ketiga kakakku meninggal dalam kecelakaan pesawat bersama orang tua kami. Dan hanya aku satu-satunya yang selamat."


"Selain Daniel, aku memiliki keponakan lain yang saat ini berada di luar negeri. Dia dua tahun lebih tua darimu. Jika aku tidak salah ingat, berminggu-minggu ini kembali." Ujar Ken panjang lebar.


Pria itu memicingkan matanya. Karena tidak ada sahutan apalagi tanggapan dari Luna. Kemudian Ken menoleh dan mendapati Luna tengah tertidur pulas. Ken mendesah berat. Itu artinya dia dari tadi bercerita pada angin, karena tidak ada yang mendengarkannya.


🌺


🌺


Cicit burung dan beberapa serangga riuh bersahut-sahutan. Suara angin pagi yang terasa menyegarkan mambuat kalbu siapapun terasa tenang. Tak lupa suara angin yang menggoyangkan setiap daun pepohonan menambah elok suasana pagi hari ini.


Disebuah mansion mewah, lebih tepatnya di sebuah kamar yang di dominasi warna putih dan gold. Seorang wanita baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Wanita itu 'Luna' beranjak dari berbaringnya kemudian duduk untuk melakukan peregangan pada otot-ototnya yang terasa kaku.


Perhatian Luna teralihkan oleh dering pada ponsel Ken. Lalu dia menggulirkan pandangannya pada pria itu, dia masih terlelap. Luna bangkit dari duduknya untuk mengangkat panggilan tersebut, siapa tau itu penting dan Luna hanya tinggal memberitahu Ken ketika dia bangun nanti.


"Halo, Paman kenapa lama sekali mengangkat telfonnya? Lusa aku pulang, bisakah kau menjemputku di Ban~"


Brakk...


Ponsel itu jatuh dari genggaman Luna. Wanita itu membelalakkan matanya. Suara itu begitu familiar, suara yang dulu pernah menghiasi hari-harinya. Suara seseorang yang meninggalkannya di saat dia terpuruk. Suara mantan kekasih Luna, Aldo Zhao!!!


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2