PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Cello Terkena Mental


__ADS_3

Disaat semua pria ingin menjadi CEO, Manager, aktor, musisi atau bahkan pemain basket. Tapi hal itu tidak berlaku pada pria satu ini. Marcello, dibandingkan harus memilih salah satu dari semua pekerjaan yang disebutkan diatas. Dia lebih memilih menjadi guru TK.


Sejak muda Cello memang sangat menyukai anak-anak. Itulah kenapa dia memilih pekerjaan satu itu agar bisa lebih dekat dengan mereka.


Marcello membangun sebuah taman kanak-kanak untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Mengingat betapa mahal biaya yang harus dikeluarkan para orang tua untuk anak-anaknya agar mendapatkan pendidikan mulai dari usia dini.


Cello adalah guru satu-satunya di taman kanak-kanak tersebut. Dia mengajar sedikitnya 50 anak dari keluarga tidak mampu. Sangat menyenangkan meskipun terkadang menguras emosi dan tenaga juga, karena bagaimana pun juga mereka masih anak-anak.


"Anak-anak, ayo cepat hadap kemari dan fokus pada pak guru ya." Cello mencoba memberi interupsi pada para murid-muridnya agar mereka fokus padanya.


"Pak guru, saya mau menyampaikan sesuatu?!" Seorang bocah laki-laki bertubuh gendut tiba-tiba bersuara sambil mengangkat tangannya.


"Iya ada apa Koko?" Ucap Marcello. Bocah itu terlihat begitu serius.


"Pak guru, aku ingin mengatakan sesuatu dan ini sangat penting."


Cello pun semakin penasaran. "Ya, Koko. Memangnya apa yang ingin kau katakan? Sepertinya sangat penting," pinta Cello.


Bocah bernama Koko itu pun mengangguk. Wajahnya begitu meyakinkan dengan apa yang akan dia sampaikan. "Ya, pak guru. Sangat-sangat penting, karena ini menyangkut hidup dan mati ku." Ucap Koko.


"Pak guru, aku ingin menyatakan perasaanku pada Lolly, hatiku terlalu sakit menyimpan perasaan ini terlalu lama. Apalagi saat aku melihat Lolly dengan Jonjon, mereka selalu bersama dan bermesraan. Aku ingin Lolly menjadi kekasihku,"


Gubrakk ..


Marcello jatuh dari kursinya. Dia terkejut oleh apa yang ingin bocah itu sampaikan. Dia masih berusia 5 tahun tapi sudah tau tentang cinta dan patah hati. Dia saja yang sudah berusia 35 tahun masih belum pengalaman soal cinta. Lha Koko yang baru 5 tahun sudah tau cinta dan patah hati.


Koko menghampiri gadis bernama Lolly itu. Dia membawa setangkai mawar dan juga coklat. Koko berlutut di depan Lolly. "Oh Dewi-ku, terimalah cintaku. Aku sangat-sangat menyukaimu. Jika kau mau menjadi kekasihku, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu." Ucap Koko meyakinkan.


Lolly meninggalkan Koko lalu berlari pada Jonjon. "Tidak mau, aku cuma menyukai Jonjon. Bahkan kamintelah menikah. Ini, dia malamarku dengan cincin bunga ini."


Gubrakk...


Sekali lagi Marcello terjatuh, kali ini karena pangkuan Lolly, bocah itu sudah tau soal menikah dan percintaan. Oh Tuhan, kenapa anak kecil lebih beruntung dariku?! Batin Cello menjerit.

__ADS_1


"Ja..Jadi kau menolak ku?" Lolly mengangguk. Koko mulai berkaca-kaca. "Huuaaa... Mama, hatiku terbelah menjadi dua..." Koko berlari meninggalkan kelas sambil menangis keras.


Cello menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia membiarkan Koko menenangkan diri dulu, sedangkan Cello melanjutkan pekerjaan, anak-anak yang lain sudah menunggu pelajaran darinya.


-


-


Kevin memagut dirinya di depan cermin. Tubuhnya dalam balutan kemeja putih, celana bahan hitam yang senada dengan Vest dan jas yang tergeletak di atas tempat tidur. Kevin melepas dua tindik di telinga kanannya. Benda kecil itu bisa merusak citranya sebagai seorang CEO.


Setelah dirasa tak ada yang kurang, Kevin meninggalkan kamarnya dan menghampiri keluarganya yang sedang menunggunya di meja makan.


Dari tangga paling atas. Kevin melihat semua keluarga besarnya sedang berkumpul di ruang keluarga. Kecuali Cello karena sudah berangkat sekolah. Dengan tenang Kevin menuruni tangga lalu menghampiri mereka.


"Pagi Ma, Pa, Kak." Sapa Kevin pada ketiganya.


"Pagi juga, Sayang. Wow, lihatlah anak Mama. Kau benar-benar photo copy Papamu saat muda dulu. Ken, lihatlah putra bungsu kita. Dia mengingatkanku padamu saat masih muda, ya meskipun Kevin lebih keren dan lebih tampan darimu." Ujar Luna.


"Yakk!! Sayang, kenapa kau malah membandingkan suami sendiri dengan anakku sendiri?!" Protes Ken sambil mempoutkan bibirnya.


"Huft, baiklah."


Kevin mendengus geli. Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas , melihat mereka berdua membuat hati Kevin menghangat. Dia melanjutkan langkahnya, menyusul ayah, ibu serta kakaknya menuju meja makan.


-


-


"Tidak cocok, ini juga tidak cocok, tidak cocok, tidak cocok. Arrkkhhh, aku harus pakai pakaian seperti apa?!"


Viona berteriak sambil mengacak rambut panjang frustasi. Dia bingung harus memakai pakaian seperti apa untuk ke kantor sebagai asisten pribadi. Rok sepan, kemeja polos dan jas press body. Dia paling tidak suka dengan pakaian-pakaian tipe itu.


Viona adalah gadis yang sangat feminim. Dia hobi memakai rok mengembang dengan motif bunga-bunga, blus berenda yang cantik dan indah, serta dress yang membentuk lekuk tubuhnya namun sedikit mengembang di bagian bawahnya.

__ADS_1


"Haiss, kenapa aku harus repot masalah pakaian segala. Toh bukan pekerjaan resmi, lebih baik pakai rok di bawah lutut dan blus putih ini saja."


Setelah dirasa tak ada yang kurang pada penampilannya. Viona melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Di meja makan sudah ada kakeknya dan dua wanita yang seketika menghancurkan moodnya. Keberadaan mereka membuat Viona tidak nafsu sama sekali.


"Sayang, kenapa buru-buru? Apa kau tidak ingin sarapan dulu?" Tanya Kakek Hilman pada cucunya itu.


Viona menggeleng. "Aku sarapan di luar saja. Kakek, aku pergi dulu ya." Viona mencium pipi kakeknya dan pergi begitu saja.


.


.


Mobil Viona berhenti disebuah halte yang berada di jalan protokol. Gadis itu keluar dari balik kemudi lalu berjalan ke arah kursi panjang halte. Halte itu tampak kosong karena memang sudah tidak terpakai lagi.


Viona menoleh ke arah jalan. Tapi tidak terlihat mobil sport milik seseorang yang Minggu lalu berhasil mengalahkannya di lintasan balap liar. Sudah hampir lima menit. Tapi orang itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sampai sebuah Lamborghini Veneno tiba-tiba berhenti tepat di depan mobilnya di parkiran. Seorang pemuda keluar dari balik kemudi. Pantas saja Viona tidak sadar jika itu adalah orang yang dia tunggu karena Kevin memakai mobil yang berbeda.


"Dasar siput!! Sebenarnya berapa lama jarak yang kau tempuh dari rumahmu ke halte ini? Apa kau tau berapa lama aku menunggu disini?!" Omel Viona pada pemuda itu.


Pletakk...


"Appo, yakk!! Kenapa kau malah menjitakku?! Sakita bodoh!!!"


"Salah sendiri jadi orang terlalu bawel. Ayo berangkat sekarang,"


"Tunggu!! Setidaknya kau harus memberiku sarapan dulu. Jangan jadi pria yang kejam, sudah tidak memberi gaji, memberikan makan saja tidak mau!! Itung-itung sebagai kompensasi karena aku bekerja tanpa di gaji!!" Ujar Viona panjang lebar.


Kevin mendengus. "Kenapa kau sangat merepotkan. Tinggalkan saja mobilmu di sini, kau berangkat denganku saja. Orangku akan datang untuk mengamankan mobilmu!!"


"Yakk!! Tapi jangan menyeretku juga. Kevin Zhao, kenapa kau sangat menyebalkan?!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2