
Langkah Tuan Valentino terhenti sebelum mencapai pintu. Sepasang biner hitam yang terbingkai kaca mata itu membelalak melihat orang itu berdiri dihadapannya dengan sebuah seringai tercetak di bibirnya. Orang yang membuatnya cemas setengah mati.
"Halo, Kakak. Lama tidak bertemu," sapa orang itu tanpa melunturkan seringai dari wajahnya.
"Bram Roberto, apa yang sedang kau lakukan di sini?!! Memangnya siapa yang mengundangmu untuk datang?!'
Bram menatap Tuan Valentino dengan senyum mengejek. "Oh, ayolah Kakakku yang baik. Kau jangan keterlaluan. Kita adalah keluarga, kenapa kau sangat kejam sekali padaku. Bagaimana pun juga aku adalah adikmu, dan putrimu adalah keponakanku. Aku datang untuk bertemu dengannya." Ujar Bram dengan seringai yang sama.
"Jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuh apalagi mengganggunya, karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya walau hanya sehelai rambut saja!!!"
"HAHAHA!!!" Pria itu tertawa lepas. "Kau melarangku bertemu dengannya, tapi lihatlah.. putrimu sendiri yang datang padaku!!" Bram menunjuk seorang wanita muda yang menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru.
Luna menghampiri Tuan Valentino lalu berhenti disampingnya. "Pa," panggil Luna sambil menyentuh bahu Tuan Valentino.
"Luna, kenapa kau kemari, Nak? Bagaimana dengan tamunya jika kau tinggal, kembalilah dan temani mereka. Mereka datang untukmu," tuan Valentino mencoba membuat Luna pergi dari sana, dia tidak ingin jika putrinya itu sampai berurusan dengan pria dihadapannya ini.
Bram memperhatikan Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menyeringai. "Ternyata putrimu sangat cantik, dia mirip sekali dengannya. Apa kau tidak ingin mengenalkan dia padaku, pamannya?! Sepertinya tidak ya, kalau begitu biar aku perkenalkan diri sendiri saja." Bram mendekati Luna yang hanya diam menatapnya.
Luna menyentak tangan bram yang hendak menyentuh wajahnya. "Berlakulah sopan, Paman!! Jaga sikap dan perilakumu, jika kau tidak ingin tangan itu terpisah dari tubuhmu!!" tegas Luna memperingatkan.
Bram menyeringai. "Sangat menarik, baru kali ini ada anak kemarin sore yang berani berkata sekasar padaku!! Kau memang sangat berbeda dengan kakakmu, yang seorang penakut dan pengecut!!"
"YAKK!!! DASAR BANDOT TUA,BERANI SEKALI KAU MENYEBUTKU PENAKUT DAN PENGECUT!!" teriak Aiden. Dia tidak terima disebut pengecut dan penakut oleh Bram.
Luna menghalangi ketika Aiden hendak memukul Bram. "Jangan, Kak!! Kau bisa mempermalukan dirimu sendiri dan keluarga kita. Sebaiknya biarkan saja, ayo kita pergi dari sini. Para tamu sedang memperhatikan kita. Pa, kau juga sebaiknya temani para rekan bisnismu." Ujar Luna. Tua. Valentino dan Aiden mengangguk.
Luna menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Bram. "Pantas saja Papa tidak mengundangmu ke pesta ini, karena kau tidak memiliki sopan santun dan tata Krama. Pergilah dengan terhormat, sebelum diseret dan di lempar paksa keluar dari gedung ini!!" Luna melanjutkan langkahnya.
Bram menyeringai. "Gadis yang menarik. Tunggu bagaimana aku akan memberimu pelajaran!! Aldo, ayo pergi."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Memangnya siapa kau ingin memberi pelajaran padanya?!"
Tapp...
Langkah Bram dan Dicko terhenti. Sontak keduanya menoleh setelah mendengar suara yang begitu mengintimidasi itu. Suara yang membuat keduanya membeku dengan kedua mata membelalak sempurna.
Derap langkah kaki seseorang yang datang membuat keduanya bermandikan keringat. Kaki Bram dan Dicko gemetar dan cairan merembes membasahi celananya. Sosok itu muncul dari kegelapan dengan seringai tajam penuh intimidasi.
"Ka..Kau?!!" Bram menunjuk orang itu dengan terbata-bata.
"Kau sudah melupakanku, atau mungkin hanya pura-pura lupa?! Ahh, bagaimana jika aku mengingatkanmu lagi supaya kau bisa mengingatnya dengan jelas?!" Pria itu menyeringai.
"Ka..Kau, si..siapa kau sebenarnya?!" Tanya Bram memastikan.
"10 November, di Gedung tua belakang Lotte World 20 tahun yang lalu. Apa sekarang kau sudah mengingatnya?" Tanya orang itu memastikan.
Bram mencoba mencerna apa yang pria itu katakan. 10 November, 20 tahun yang lalu?! Sepertinya tidak asing dan dia merasa dejavu. Bram masih mencoba untuk mengingatnya. Dan kedua bola matanya langsung membelalak setelah dia mengingatnya.
"Bagus sekali, ternyata ingatanmu lumayan tajam juga. Kenapa kau terkejut melihatku masih berdiri tegak dan bernapas dengan bebas hingga detik ini? Oh, atau kau berpikir jika malam itu akan menjadi malam terakhir aku melihat bulan purnama?! Tapi sayangnya Tuhan masih menyayangiku, sehingga aku bisa lolos dari mimpi buruk yang kau ciptakan!!" Ujar Ken panjang lebar.
Bram berjalan mundur melihat Ken menghampirinya, langkahnya semakin dekat dan jarak diantara mereka pun semakin terhapus. Langkah Bram terhenti ketika punggungnya berbenturan dengan dinding.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Bram dengan suara bergetar.
"Nyawamu!!" Jawab Ken dengan santainya.
Glukk...
Bram menelan Salivanya melihat ujung pistol ditangan Ken menempel di keningnya. "Yakk!! Apa yang kau lakukan?! Jauhkan pistol itu dari, Tuan Roberto!!" Teriak Dicko menuntut.
"Berisik!!"
__ADS_1
Dorrr...
Tubuh Dicko ambruk seketika ketika timah panas yang Ken lepaskan menembus kepalanya. Dia jatuh seketika dan tubuhnya bersimbah darah. "Dicko!!" Bram pun langsung berteriak histeris. Melihat asisten pribadinya, bukan.. tapi anak hasil hubungan gelapnya dengan wanita lain meregang nyawa di tangannya.
Lalu pandangannya bergulir pada Ken. "Kau!! Berani sekali membunuhnya?! Ken Zhao, bocah kurang ajar. Seharusnya aku membunuhmu dari dulu. Kau... Aku akan membunuhmu!!"
Dorr..
Dorr...
Dua tembakan Ken lepaskan ke arah Bram. Tubuhnya ambruk setelah timah panas itu menembus kepala dan jantungnya. Ken membunuhnya tanpa ragu sedikit pun, karena jika tidak dibereskan sekarang, mungkin dia akan sangat merepotkan di kemudian hari. Dendam yang dia miliki dimasa lalu, akhirnya Ken tuntaskan malam ini.
"Bereskan mayat kedua orang ini. Bakar jasadnya, aku tidak ingin ada jejak apapun!!"
"Baik, Tuan."
Ken kembali ke pesta. Mungkin saja Luna mencarinya karena menghilang terlalu lama. Beruntung Ken memasang peredam di senjatanya. Sehingga tidak ada yang menyadari suara tembakan yang dia lepaskan tadi.
-
"Ken, kau dari mana saja? Aku mencarimu kemana-mana tapi tidak bisa menemukanmu. Dan.. Omo!! Kenapa ada noda di kemejamu, merah?! Apakah itu darah?!" Luna langsung panik dan cemas melihat noda di kemeja suaminya.
Kemudian Ken menyibak lengan jas dan kemejanya lalu menunjukkan sebuah luka di tangannya. "Tanganku tidak sengaja tergores ranting pohon. Tadi aku melepaskan jas dan menggulung lengan kemejaku. Lalu memakainya kembali supaya kau tidak melihat luka ini. Tapi noda merah sialan ini malah membuatmu mengetahuinya!!" Ken mendengus.
Ken sengaja menciptakan luka itu untuk mengelabuhi Luna. Karena tidak mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya pada istrinya ini, dia telah membunuh Bram dan pria yang bersamanya tadi. Dan noda darah itu adalah darah mereka.
"Astaga kau ini, kenapa tidak berhati-hati. Ayo, sebaiknya kita obati lukamu." Ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh Ken.
"### Baiklah."
-
__ADS_1
Bersambung.