
Luna membuka matanya dan mendapati Ken tengah mengemudi tenang disampingnya. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Dia hanya fokus pada jalanan di depan sana. Dan sepertinya Ken belum menyadari jika Luna sudah bangun.
"Berapa lama aku tertidur? Dan kenapa kau tidak membangunkan ku?" Sampai sebuah suara menginterupsi perhatian Ken dari jalanan yang ramai kendaraan.
Ken menoleh dan mendapati Luna tengah menatap serius padanya. "Kau sudah bangun?" Alih-alih sebuah jawaban, Ken malah balik bertanya. Kemudian jari-jari besarnya membelai sisi wajah Luna.
Tiba-tiba Luna terdiam. Ada hal penting yang ingin sekali dia sampaikan pada Ken, tapi Luna merasa ragu dan takut. Luna takut perasaan Ken padanya akan berubah setelah dia mengetahui sebuah kebenaran tentang dirinya.
"Kenapa tiba-tiba diam? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Ken melihat kediaman Luna.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol?"
Ken memicingkan matanya. "Sepertinya sangat serius, apakah sepenting itu?" Ken semakin penasaran.
Luna mengangguk. "Ya, sangat penting," jawabnya.
-
-
Ken menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah bergaya Eropa, Luna mengatakan membutuhkan privasi, itulah kenapa Ken memilih tempat tersebut.
Ken turun dari mobilnya diikuti Luna yang kemudian berjalan disampingnya. Berjalan beriringan memasuki restoran tersebut. Mereka diantar ke ruangan VIP, yang berada di lantai 2.
Hampir 10 menit mereka di sana, namun tak sepatah katapun keluar dari bibir Luna, wanita itu terus saja diam dengan jari-jari lentiknya yang saling meremas.
Ken tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu, bukankah Luna sendiri yang mengatakan ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padanya. Itu malah diam saja.
"Hal penting apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku, Luna? Bicaralah, dan sampai kapan kau akan terus diam?" pinta Ken mengakhiri keheningan.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap pria di depannya dengan pandangan serius."Ken, bagaimana jika kita akhiri saja pernikahan ini?" ucap Luna dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Ken dengan nada dingin dan datar. Begitu pula dengan tatapannya, dan sorot matanya.
"Ken, aku mandul dan tidak bisa memberimu anak. Racun yang masuk ke dalam tubuhku, tidak hanya membunuh anak kita tapi juga merusak rahimku. Dan dokter mengatakan, jika aku tidak mungkin bisa hamil lagi,"
"Tapi dokter bukan Tuhan, Luna. Dia bisa memprediksi, tapi Tuhan yang menentukan. Jika Tuhan sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Tapi Ken, aku~"
"Jika kau ingin mengakhiri pernikahan kita karena alasan itu, maka jangan pernah bermimpi. Karena sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankannya. Tidak ada alasan yang membuat kita berpisah, bahkan itu maut sekalipun!!!"
Luna menundukkan wajahnya. "Aku hanya takut kau akan menyesal di kemudian hari, Ken. Karena memiliki istri yang tidak berguna seperti ku, aku tidak lagi sempurna. Aku sudah cacat, aku mandul!!" ujar Luna dengan berurai air mata.
Ken bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luna dan memeluknya. "Aku tidak peduli, apapun dan bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, hanya karena kau tidak bisa memberiku keturunan. Bukankah kita masih memiliki Daniel, kita bisa membesarkannya sama-sama," ujar Ken sambil menutup Matanya.
Luna menggigit Bibir bawahnya dan berusaha meredam isakannya. Tapi rasanya tentu tidak sama, sebagai seorang wanita ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung, melahirkan dan menyusui, seperti wanita normal pada umumnya.
Ken melepaskan pelukannya, jari-jari besarnya menghapus air mata yang mengalir darah di pipi Luna. "Jangan menangis lagi, aku mohon. Seharusnya kita percaya jika Miracle itu ada, Tuhan memberikan keajaiban yang pada kita," ujar Ken sambil mengunci sepasang Hazel milik Luna.
Wanita itu menyeka air matanya dan mengangguk. "Aku mengerti, terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Aku bahagia, memiliki suami sepertimu." bisik Luna sambil mengeratkan pelukannya.
"Baiklah aku berjanji,"
-
-
Salju pertama baru saja turun menyapa bumi yang dinaungi 4 Musim. Sebercak kecil kehangatan yang pelan-pelan menjadi dingin, kumpulan salju putih itu menghalangi secerah sinar hangat yang ditawarkan matahari.
Aroma tajam pohon pinus yang tumbuh tak jauh dari mansion mewah itu menguar, bercampur dengan angin bertiup lembut memasuki indra penciumannya, menyenangkan dan nyaman.
Di tengah turunnya salju. Terlihat seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun tengah asik bermain-main dengan benda seputih kapas itu. Dia tidak hanya sendiri, karena seorang pria dewasa menemaninya.
__ADS_1
Pukk...
"Hahaha...."
Bocah laki-laki itu tertawa keras ketika gumpalan salju yang dia lemparkan tepat sasaran. Bola salju sebesar genggaman tangan itu menghantam wajah pria dewasa yang berdiri tak tau darinya. "Yakk!! Bocah, kenapa kau asal lempar saja?!" Protes pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.
"Hahaha.. Bagaimana Paman, masih ingin menyebutku payah? Bahkan main lempar bola salju saja kau kalah!!"
"Jangan meremehkanku, tadi itu aku belum siap?! Tunggu bagaimana aku akan MEMBALASMU!!"
"Siapa takut, kau dan Paman Aiden satu tim dan aku cukup sendiri saja untuk mengalahkan kalian berdua!!"
Aiden yang baru saja tiba di teras rumah langsung menatap Daniel penasaran. "Tunggu, kenapa kau bawa-bawa nama Paman segala? Paman tidak ikut-ikutan. Kalian berdua saja yang bermain, lagi pula aku bukan anak kecil lagi!!" Aiden menolak mentah-mentah. Dia tidak mau ikut-ikutan bermain bersama Daniel dan Devan.
"Huuu.. bilang saja jika Paman takut!! Paman, takut kalah bukan?!" Cibir Daniel memprovokasi.
Sontak Aiden berdiri. "Tidak ada ceritanya ya, dalam kamus seorang Aiden Valentino dengan yang namanya takut!! Aku ini seorang pemberani!!" Ujar Aiden dengan begitu percaya diri.
"Benarkah?! Paman, ada kecoa dibawah kakimu!!" Teriak Daniel dan membuat mata Aiden membelalak.
"A..Apa, kau bilang?! Kecoa, yakk!! Dimana kecoanya?!" Teriak Aiden sambil loncat-loncat di tempat. Alih-alih memberi tau dimana kecoa itu. Daniel malah tertawa terbahak-bahak. Dan hal itu segera menyadarkan Aiden jika dia baru saja dikerjai."Yakk!! Bocah,berani sekali kau mempermainkan ku?! Daniel Zhao, berhenti kau bocah!!!"
"Huaa... Ada raksasa mengamuk!!!"
Ken, Luna dan tuan Valentino hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kekonyolan mereka bertiga. Saat ini ketiganya sedang berada di balkon lantai dua bangunan mewah tersebut.
"Disini sangat dingin, sebaiknya kalian berdua masuk saja." Ucap Tuan Valentino yang kemudian di balas anggukan oleh Ken dan Luna.
Luna merasa sekujur tubuhnya seperti mati rasa. Padahal dia sudah memakai pakaian hangat dan tebal, tapi suhu udara yang semakin menurun membuat rasa dinginnya serasa masuk ke dalam sel-sel tulangnya.
-
__ADS_1
-
Bersambung