
πΉHargai karya Author . Tinggalkan like koment setelah membaca ,πππππΉ
"Tuan Zhao, apa kau sudah tidur?"
Ketukan pada pintu membuat kedua mata Ken yang sebelumnya tertutup terbuka kembali. Pria itu lantas beranjak dari berbaringnya dan berseru pelan. Selang beberapa saat sosok Luna datang dan menghampiri Ken. "Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Ken datar.
Luna menggeleng. "Tidak ada, apa aku mengganggumu? Kalau memang iya aku akan keluar sekarang." Ucapnya dan hendak beranjak pergi dari sana.
"Tidak." Ken segera menahan pergelangan tangan Luna. "Aku memang belum ingin tidur," dustanya.
Sebenarnya Ken sudah mengantuk dan dia benar-benar lelah tapi ia juga tidak bisa membiarkan Luna pergi begitu saja. Ken memicingkan matanya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat gugup? Jika kau memang ingin mengatakan sesuatu, katakan saja tidak perlu merasa takut."
"Ano, Tuan Zhao, ini tentang Via. Apakah besok aku boleh menjenguk dan menemani dia di rumah sakit? Aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya begitu saja apalagi dia terluka karena diriku. Aku mohon sekali ini saja biarkan aku pergi,"
Ken tampak berfikir dan mengangguk. "Baiklah, aku akan mengantarmu besok. Kau jangan pulang sampai aku datang. Aku akan menjemputmu setelah pulang kerja." Luna tersenyum mendengar jawaban Ken.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kembali ke kamarmu. Ini sudah larut malam dan segera beristirahat." Pinta Ken yang segera di balas anggukan oleh Luna.
"Baiklah, selamat malam, Tuan Zhao,"
πΉ
πΉ
Banyaknya jumlah hutang pria yang mengaku sebagai pamannya membuat hidup Luna tidak bisa tenang. Pria itu menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang pada rentenir dan mafia, banyak orang yang mengejarnya dan berusaha untuk menangkapnya.
Wanita itu tidak tau kapan hidupnya bisa aman dan tenang tanpa harus selalu merasa ketakutan pada setiap harinya.
Luna menghentikan langkahnya saat merasakan kehadiran seseorang yang mengikutinya. Wanita itu menoleh ke belakang, tapi tidak menemukan siapa pun selain orang-orang yang berjalan berlalu lalang.
"Mungkin itu hanya perasaanku saja." ucapnya cemas.
"Ada apa?" tanya Ken pada wanita disampingnya. Sontak Luna menoleh dan matanya bersirobok dengan mutiara coklat Ken.
"Aku merasa seperti ada yang mengikuti kita tapi ketika aku menoleh tidak ada siapa-siapa." Jawabnya.
Ken menoleh dan memang tidak ada siapa-siapa. "Sebaiknya jangan keluar dari rumah sakit. Aku akan menghubungi Jimin dan Ren, biarkan mereka menemanimu di sini."
Rasa cemas seketika memenuhi pikiran Ken setelah mendengar ucapan Luna. Dia benar-benar tidak bisa meninggalkan wanita itu sendiri tanpa perlindungan. Dan Ken tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Luna.
"Kau masuklah dulu, aku akan segera menyusul." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Kemudian Ken mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Panggilannya langsung tersambung dan seseorang yang ada di seberang sana mengangkat panggilan darinya.
"Datanglah ke rumah sakit dan temani Luna menjaga temannya di sini. Pastikan dia aman dan baik-baik saja." kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Ken beranjak dan menyusul Luna yang lebih dulu masuk ke dalam ruang inap Via, dia mendapati istri tercintanya itu sedang berbincang dengan wanita bermarga Hwang tersebut.
Keadaan Via benar-benar mengenaskan. Wajahnya di penuhi luka dan perban membalut di sana-sini. Dan banyaknya perban menandakan seberapa parah luka yang dia alami.
"Tuan Zhao, kau pergi saja aku tidak apa-apa dan bukankah sebentar lagi duo laknat itu akan tiba di sin."
"Tidak, aku tidak akan pergi sampai mereka tiba. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di sini tanpa penjagaan."
Ken tak ingin hal yang sama kembali terulang pada Luna untuk yang kesekian kalinya. Bahaya selalu mengintai langkahnya dan di mana pun dia berada bahaya selalu mengiringinya. Dan itulah kenapa Ken tidak bisa jika harus meninggalkan wanita itu sendiri tanpa penjagaan.
Dan tak berselang lama Jimin dan Ren pun datang. Kedatangan mereka membuat Ken bisa sedikit merasa lega karena hanya mereka berdua yang bisa dia percayai untuk menggantikannya menjaga Luna. "Kalian jangan sampai lalai apalagi kecolongan. Aku pergi dulu."
__ADS_1
"Siap, Bos, kami mengerti." Balas keduanya dengan kompak.
Dan selepas kepergian Ken seketika Luna merasa hampa, entah karena apa dia pun tidak mengerti. Luna selalu merasa tenang ketika Ken berada disisinya, dia merasa aman dan terlindungi karena Ken tidak pernah membiarkan bahaya apapun sampai menyentuh dirinya.
-
-
Ken menghentikan mobil mewahnya di halaman sebuah rumah berbentuk minimalis bergaya Eropa yang memiliki dua lantai. Rumah itu terletak di sebuah bukit yang jauh dari hingar-bingar keramaian kota. Tempat itu dikelilingi bukit hijau dan hamparan bunga warna-warni yang tampak asri dan menyejukkan mata.
Iris matanya kemudian bergulir pada sosok jelita yang sedang tertidur pulas di samping kanannya. Sudut bibir Ken tertarik ke atas, dengan lembut jari-jari besarnya mengusap helaian coklatnya yang selembut sutra.
Tak tega untuk membangunkan Luna. Ken menunggu sampai wanita itu bangun dengan sendirinya.
Ken turun dari mobilnya kemudian duduk di kap depan. Mengeluarkan sebungkus rokok beraroma minta beserta pematiknya dari saku mantel hitamnya. Ken menghisap rokoknya dengan tenang dan menghembuskan dari mulutnya.
Wajahnya mendongak dan menatap langit biru yang tampak cerah tanpa ada gumpalan awan-awan putih yang menutupi. "****!" umpatan keluar dari sela-sela bibirnya. Sebelah tangannya mencengkram bahu kirinya yang tiba-tiba berdenyut sakit.
Meskipun lima tahun telah berlalu, tapi Ken masih sering merasakan sakit pada bahu kirinya. bahu kirinya mengalami cidera hebat saat kecelakaan itu terjadi. Dan sedikitnya 5X operasi yang harus Ken jalani agar keadaannya bisa kembali normal.
Tiga puluh menit berlalu dan Luna masih belum juga bangun. Ken menoleh kebelakang dan mulai ada pergerakkan dari wanitanya. Kemudian Ken melompat turun dari atas kap dan membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah melihat Luna keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya.
"Kau sudah bangun?"
"Tuan Zhao, sebenarnya kita ada di mana?"
Alih-alih sebuah jawaban. Luna malah balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Ken sebelumnya. Lalu pandangannya menyapu ke segala penjuru arah. Dan Luna baru menyadari jika dirinya sekarang berada di tempat yang sangat asing.
Di depan sana sebuah bangunan berlantai dua bergaya Eropa. Meskipun minimalis tapi tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas dengan sebuah taman mawar dan tulip berbagai warna.
Bukit hijau mengelilingi membuat suasana di tempat itu begitu sejuk dan alami. Dan di belakang rumah itu ada sebuah danau buatan yang air sangat jernih dan segar.
"Busan." Ken menjawab singkat.
Ken beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati Luna. Sorot matanya berubah sendu ketika menatap bangunan itu. "Luna, sebenarnya rumah ini aku siapkan untuknya sebagai hadiah. Aku berencana memberikan rumah ini saat ulang tahun pernikahan kami, tapi sayangnya tragedi itu terjadi." Ken tersenyum getir.
Meskipun hanya sekilas saja. Tapi Luna bisa melihat kesedihan yang begitu besar terpancar dari sorot matanya yang tajam yang kemudian tersamarkan di balik wajah dinginnya. Dan Luna akui bila Ken sangat pandai menyembunyikan perasaannya.
Luna tersentak dan tersadar dari lamunannya saat merasakan genggaman lembut pada jari jemarinya. "Apa yang kau lamun kan?" dan suara baritone itu langsung bergema di kedua telinganya. Sontak Luna menoleh dan matanya bersirobok dengan mutiara coklat milik Ken.
"Tidak ada. Hanya sedikit berfikir saja." Jawabnya tersenyum.
"Berfikir?" Luna mengangguk. "Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ken penasaran.
"Sesuatu yang tidak aku mengerti dan aku pahami."
Ken tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. "Ayo masuk." Ajaknya tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Luna. Wanita itu tersenyum lembut kemudian mengangguk. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan halaman.
-
-
Meskipun rumah itu jarang didatangi dan nyaris tidak pernah. Tapi rumah tersebut terawat dengan sangat baik. Tidak ada satu pun rumput liar yang Luna lihat tubuh di halaman. Dan ketika pintu rumah di buka, aroma bunga sakura yang semerbak langsung berkaur di dalam indera penciumannya.
Luna melepaskan genggaman tangan Ken kemudian meninggalkan pria itu beberapa langkah dibelakangnya. Pandangannya menyapu.
Rumah minimalis yang sangat bersih dan rapi. Meskipun bergaya Eropa namun khas China dan Korea juga begitu kental. Rumah itu hanya memiliki tiga kamar saja. Satu kamar utama dan dua kamar tamu.
Dan untuk merawat rumah itu, Ken mempekerjakan sedikitnya delapan orang dan hanya satu orang yang dia percayai. Tapi sayangnya orang itu tidak tinggal di sana dan selalu pulang usai bekerja.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat lelah. Aku akan mengantarkan mu untuk istirahat."
Luna tidak menolak perintah Ken untuk segera beristirahat. Karena ia memang sangat lelah. Perjalanan Seoul-Busan sedikit menguras tenaganya dan bahkan Luna sampai ketiduran saat dalam perjalanan ke mari.
"Ken, kau memang suami terbaik. Aku mencintaimu."
"Aaahh."
Ken menghentikan langkahnya mendengar rintihan yang keluar dari bibir Luna. Wanita itu menutup matanya sambil mencengkram kepalanya. Sekali lagi Luna melihat sebuah gambaran yang mungkin saja berasal dari masa lalunya.
Ken menatap Luna dengan cemas. "Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan. Bola mata berbeda warna mereka saling Bersirobok dan menyelami. Dan Luna melihat netra kanan Ken yang bisanya tajam saat ini menatapnya dengan penuh kelembutan.
Luna melepaskan tangan Ken dari lengannya dan mengurai senyuman setipis kertas. "Aku tidak apa-apa, dan aku baik-baik saja. Hanya saja aku melihat gambaran-gambaran aneh lagi. Semua berputar seperti sebuah roll film yang berakhir pada setiap episodenya.
"Mungkin itu karena kau kelelahan. Sebaiknya kau istirahat sekarang. Kau bisa menempati kamar utama dan aku akan tidur di kamar tamu. Dan jika kau membutuhkan sesuatu beri tau aku, aku ada di ruang tamu."
Luna menahan lengan Ken yang tertutup lengan mantelnya. "Tidak bisakah kau menemaniku sebentar di sini? Aku-"
"Baiklah, aku akan di sini bersamamu." Ken menyahut cepat.
Luna menghentikan langkahnya ketika tiba di depan sebuah pintu kayu berpelitur elegan dengan sebuah ukiran unik yang menawan. Ken memutar kenop didepannya dan keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan yang di dominasi warna putih dan gold.
Fasilitas di kamar itu begitu lengkap selain mulai dari tempat tidur king size, TV Plasma berukuran sangat besar, kamar mandi, AC serta beberapa fasilitas lainnya. Tak ketinggalan sebuah balkon yang berhadapan dengan danau buatan di belakang rumah.
Ken melepaskan mantel hitamnya dan meletakkannya begitu saja. Menyisakan kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai sebatas siku. "Kau istirahatlah aku akan membersihkan tubuhku dulu." Kemudian Ken beranjak dan masuk ke dalam ruangan yang kemungkinan besar adalah sebuah kamar mandi.
Luna menjatuhkan tubuhnya pada kasur king size milik Ken yang begitu nyaman. Kedua matanya menyapu pada penjuru arah."Sungguh beruntung wanita itu yang menjadi istri, Tuan Zhao. Dia begitu mencintainya dengan sepenuh hati. "Batin Luna.
Berjalan dengan langkah tanpa suara, Luna masuk ke dalam ruangan di sebelah kanan kamar mandi. Kedua mata Luna di buat takjub dengan berbagai barang mewah di dalam ruangan itu mulai dari pakaian sampai perhiasan yang semua jelas tak murah harganya.
Luna berjalan diantara banyaknya gaun dan dress indah yang berjajar rapi dihadapannya. Dan langkah kakinya terhenti saat mata hazel nya melihat sebuah gaun indah berwarna putih dengan motif mawar.
Ada taburan berlian dan tiara di dadanya. Entah sebuah dorongan dari mana tiba-tiba Luna mengambil gaun tersebut kemudian memakainya. Lengkap dengan perhiasan dan heels yang senada dengan gaun tersebut.
Luna berjalan kearah cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun itu begitu pas ditubuhnya dan terlihat cantik ketika di pakai. Diam-diam Luna menarik sudut bibirnya.
"Di sini kau rupanya."
"Omo? Tuan Zhao!"
Luna tersentak kaget dengan kemunculan Ken yang begitu tiba-tiba. Dia sudah siap jika Ken akan memarahinya karena telah lancang masuk ke dalam area pribadinya dan memakai gaun dan perhiasan milik istrinya tanpa ijin darinya.
"A-Aku akan segera menggantinya." Ucap Luna sedikit takut. Ken menahan pergelangan tangan Luna membuat wanita itu mau tidak mau menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu. Kau terlihat cantik dengan gaun itu. Dan jika kau mau, kau boleh memiliki semua barang-barang di dalam ruangan itu. Aku tidak akan keberatan meskipun kau memakai dan memilikinya." Tutur Ken panjang lebar.
"Tapi inikan milik istrimu,"
"Tidak apa-apa. Aku akan beristirahat sebentar. Sebaiknya kau juga cepat istirahat. Kau terlihat benar-benar buruk. Aku akan menempati kamar tamu."
Luna memandang kepergian Ken dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dia pikir Ken akan memarahinya karena dirinya sudah sangat lancang memakai pakaian milik istrinya tapi ternyata dugaannya salah.
Ken malah mengijinkan dirinya memiliki semua barang-barang itu. Sikap Ken padanya akhir-akhir ini memang sedikit berbeda. Dia tidak sedingin sebelumnya dan hal itu membuat perasaan Luna menghangat.
"Ken Zhao, kau memang sulit di tebak."
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.