
Vincent menatap grafis yang ada dilaptop Viona dengan tatapan tak percaya, angka saham pada perusahaan kakeknya semakin menurun setiap tahunnya.
Memang angka persennya tidak terlalu besar, hanya 4-9% saja. Namun hal itu sudah terjadi selama kurang lebih 5 tahun ini. Dan itu terjadi sejak bergabungnya Kai di perusahaan keluarga mereka.
Sebelum dipanggil pulang ke Korea. Kai memang sempat mengelola perusahaan cabang dari perusahaan induk yang berada di luar negeri. Alasan Kakek Hilman memberi kepercayaan pada Kai karena dia memiliki potensi yang sangat besar untuk memajukan perusahaannya.
"Kak, taukan maksudku menunjukkan grafis saham ini? Dan aku yakin, jika pelakunya adalah orang dalam. Tanpa sepengetahuan kakek, diam-diam aku menyelidiki kasus ini. Dan ada satu fakta yang berhasil aku temukan,"
"Nilai saham menurun sejak bergabungnya Kai dalam perusahaan kakek, dan ada dana yang mengalir ke dalam rekening miliknya, meskipun tidak terlalu besar, tapi bertambah setiap tahunnya. Kak, apakah mungkin dia pelakunya?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap sang kakak dengan penuh keingintahuan.
Vincent melipat tangannya dan sekali lagi melihat grafis itu. "Aku tidak bisa memberikan jawaban apa pun padamu, karena kita belum memiliki bukti kuat jika memang dialah pelakunya. Tapi kita harus menyelidiki hal ini secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk kakek!" Ujar Vincent.
Viona mengangguk setuju. Ia sangat bersyukur karena Vincent datang disaat yang tepat. Itu artinya, Ia tidak perlu melakukannya sendiri, dan kedatangan Vincent akan semakin mempermudahkan rencananya.
"Sudah larut, sebaiknya kau segera tidur!" pinta Vincent. Viona mengangguk.
"Kakak juga, pasti kau sangat lelah. Besok kita bahas lagi mengenai hal ini!" Vincent mengangguk.
Dikecupnya singkat kening Viona dan pergi begitu saja. Setelah pintu kembali ditutup. Viona pun berjalan menuju tempat tidurnya, Ia sudah sangat lelah dan matanya tidak lagi bisa diajak untuk berkompromi. Dan tidak sampai 10 menit, gadis itu sudah terlelap didalam mimpinya.
-
-
"Setannnnn!"
"Bwahahhha!"
Beni tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi Aria ketika dia muncul dengan topeng seramnya. Sampai-sampai pemuda itu terjengkang kebelakang dan kursi yang dia duduki terbalik hingga Aria jatuh dengan posisi yang sangat tidak elit.
"Omo?" Eric yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat posisi jatuh Aria, tak jauh dari pemuda itu berada. Tampak Beni yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
"Aria, sedang apa kau?" tegur Miko yang baru saja kembali dari mini market.
__ADS_1
Laki-laki itu sedikit terkejut melihat Aria yang sedang duduk dilantai dalam posisi yang sangat tidak elit.
"Apa mata kalian buta? Jelas-jelas aku terjatuh, kenapa masih bertanya!" Aria mendengus kesal, bukannya membantu dirinya. Kedua temannya itu malah berdiri seperti patung yang tidak bernyawa.
"Hahaha, aduh perutku sampai sakit. Hyung, kemarikan tanganmu. Aku bantu!" Beni menghampiri Aria lalu mengulurkan tangan padanya. Beni membantu Aria sebagai penebusan atas kejahilannya.
Tukkkk!!!
"Sakittt!" teriak Beni setelah satu jitakan keras mendarat di kepalanya.
"Dasar maknae durhaka, bisa tidak sekali saja kau tidak membuat orang jantungan. Dan karena ulahmu, nyaris saja pinggangku kena encok!" Aria mengomeli Beni habis-habisan,
Dan Beni sendiri tidak menyangka jika Aria akan balas dendam padanya. "Hyung kau jahat, aku ini yang paling kecil diantara kalian semua. Seharusnya aku ini disayang, bukan ditindas seperti itu!" keluh Beni sambil menatap Aria sebal.
"Kenapa hanya dijitak saja . Kenapa tidak sekalian saja bocah ini kau lempar kekolam ikan, biar jadi santapan ikan-ikan di sana!" ujar Miko yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Beni.
"Jahat, aku ini yang paling kecil. Tidak seharusnya kalian berdua menindasku. Huaaaa!"
Disaat bersamaan, pintu terbuka dan sosok Kevin yang datang bersama Sean berjalan beriringan memasuki ruangan. Segera saja Beni menghampiri Sean dan bersembunyi dibalik punggungnya.
"Bohong, jangan percaya pada bocah ini. Jelas-jelas kau yang menjahiliku lebih dulu. Lihatlah karena ulahmu aku jadi sakit pinggang."
Tak terima dengan tuduhan Beni. Aria pun mengungkapkan apa yang terjadi termasuk kejahilan pemuda itu. Kevin menghela nafas, Ia tidak heran lagi dengan hal semacam itu. ia sudah biasa melihat pertengkaran diantara mereka, terlalu biasa malah.
Malas mendengar perdebatan mereka yang tidak ada ujungnya. Kevin memutuskan untuk pergi lagi.
Sepertinya keputusannya untuk datang dan berkumpul bersama mereka bukanlah pilihan yang tepat. Karena itu hanya akan membuat kepalanya semakin pusing. Lebih baik dia pulang dan istirahat di rumah.
-
-
Masa muda, adalah masa yang sangat menyenangkan. Masa dimana kita dapat mengetahui arti cinta sebenarnya dan merasakan rasanya cinta.
__ADS_1
Tetapi dibalik itu semua, tak luput dari yang namanya hal menyedihkan semacam patah hati. Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya cinta dan patah hati.
Cinta adalah sesuatu yang harus kita pahami arti sebenarnya. Jika kita tak memahami arti cinta sebenarnya, maka kita akan sulit untuk merasakan cinta yang sesungguhnya.
Apa itu cinta sebenarnya? selalu terngiang di pikiran kita. Membuat hati menjadi gelisah. Dan jika kita telah merasakannya, maka pertanyaan inilah yang akan sering terngiang di benak kita, apakah ini yang namanya cinta?
Kevin menghisap kembali rokoknya, pandangannya tertuju pada langit malam bertabur bintang di atas sana. Tampak sangat indah, seperti jutaan manik-manik yang memancarkan sinar yang begitu mengagumkan.
"Apa kau baru saja menyatakan cinta padaku? Kau menembakku?"
Kata-kata itu kembali terngiang di benaknya. Pemuda itu mendengus. "Dasar tidak peka, tapi apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis aneh itu?" Kevin menatap langit, mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya itu.
Bahkan Kevin sendiri tidak tau apakah dia benar-benar memiliki perasaan itu pada Viona. Apalagi mereka belum lama saling mengenal. Kevin belum tau betul Viona gadis yang seperti apa, dan begitu pula sebaliknya.
Mungkin sebaiknya jika Kevin memastikan lebih dulu apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya atau tidak.
Ting...
Sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya menyita perhatian Kevin. Pemuda itu beranjak lalu meninggalkan balkon. Ada satu pesan masuk dari Viona. Kedua mata pemuda itu memicing. Penasaran kenapa Viona mengiriminya pesan, ia pun segera membuka pesan itu.
"Rusa kutub, apa besok kau ada waktu sepulang kerja? Temani aku menghadiri sebuah pesta, aku tidak ingin terlihat menyedihkan karena satu-satunya orang yang tidak memiliki pasangan."
Kevin tersenyum tipis. Kemudian ia menghubungi Viona. Dan gadis itu langsung menerima telfon darinya. "Asal imbalannya sesuai,"
"Imbalan apa maksudmu? Jangan macam-macam atau ku gantung kau hidup-hidup!!"
Sudut bibir Kevin tertarik keatas, membentuk sebuah seringai tipis. "Terserah, jika kau tidak mau aku juga tidak akan memaksamu. Kau cari orang lain saja. Aku tutup dulu telf~"
"Baiklah!!" Viona menyela cepat. "Jemput aku jam 7 tepat, aku tutup dulu. Dasar kulkas tiga pintu. Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!! KEVIN, KAU MENYEBALKAN!!"
Panggilan itu terputus begitu saja. Lagi-lagi sudut bibir Kevin tertarik ke atas, apakah akan ada sesuatu yang spesial besok malam. Entahlah, Kevin sendiri tidak tau. Dia akan menemukan jawabannya besok.
-
__ADS_1
-
Bersambung.