PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Restu Orang Tua


__ADS_3

Kevin menghentikan mobil mewahnya dihalaman luas sebuah Manson mewah yang memiliki tiga lantai. Pemuda itu lantas turun begitu pula dengan Viona. Viona menatap bingung pemuda yang berdiri disampingnya.


Rencananya hari ini Kevin akan memperkenalkan Viona pada kedua orang tuanya. Dan ia berniat meminta restu untuk menikahi Viona sebelum menemui Kakek Hilman dan Vincent


Kevin menggenggam tangan Viona dan mengajaknya masuk ke dalam. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Bahkan Luna langsung menyambutnya dengan sangat hangat.


"Rencananya kapan kalian akan menikah?" Ken bertanya tanpa banyak basa-basi, padahal Kevin belum mengatakan apa-apa.


"Sebaiknya jangan ditunda, Pa. Karena lebih cepat lebih baik," jawab Daniel menimpali.


"Aku juga sependapat dengan Daniel Hyung, kalau Riri dan Mama, sepertinya tidak perlu meminta pendapat lagi dari mereka. Sudah pasti mereka akan langsung setuju," ujar Cello menambahkan.


Luna pun segera mengambil bagian. Dia mengomeli suami dan kedua putranya. Bagaimana bisa mereka langsung to the poin begitu. "Kalian ini apa-apaan, kenapa grusa-grusu?! Pernikahan bukan permainan. Harus harus dibicarakan dulu baik-baik, kita juga belum bertanya pendapat Viona sendiri."


Ketiganya pun langsung diam dan tidak berkata apa-apa lagi. Mereka akan kehilangan kemampuan berbicaranya jika Luna sudah membuka suara. Lalu pandangan Luna beralih pada Kevin dan Viona.


"Bagaimana dengan rencana kalian berdua, apa kalian berencana menikah dalam waktu dekat atau mungkin menundanya?" Luna harus meminta pendapat dari Viona dan Kevin terlebih dulu.


"Aku berencana menikahinya akhir bulan ini. Kau setuju kan, Vi?" Kevin menatap Viona yang tampak malu-malu. Gadis itu mengangguk.


"Sudah diputuskan!!" Semua terkejut karena suara lantang Ken. Dia terlihat begitu bersemangat. "Mereka akan menikah akhir bulan ini. Kalian semua, segera bantu mempersiapkan pernikahannya. Luna dan Marissa akan mempersiapkan gaun pengantin serta cincin pernikahan. Yang lain hanya perlu mengikuti arahanku. Kita akan membuat pesta yang meriah untuk pernikahan mereka berdua."


"Setuju!!" Semua berseru dengan kompak.


Viona terharu sampai tidak kuasa menahan air matanya. Dia bahagia karena diterima dengan baik dalam keluarga Kevin. Dan Viona bisa menemukan kehangatan yang telah lama hilang. Pelukan hangat seorang Ibu yang dia rindukan bisa dia rasakan dari Luna yang saat ini memeluknya.


Gadis itu sungguh tidak menyangka dan nyaris tidak percaya. Cintanya ternyata bersambut. Kevin juga memiliki perasaan yang sama padanya. Dan waktu dekat mereka berdua akan menjadi sepasang suami-istri.


-


-

__ADS_1


"VINCENT JUNG!!!"


Kakek Hilman berteriak histeris. Laki-laki beruban itu bangkit dari posisinya sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh dari tempat tidur.


Vincent menendang pantat Kakek Hilman hingga si kakek terjatuh dengan posisi yang tidak elit. Vincent selaku tersangka tunggal dalam kasus itu pun bangkit dari posisi berbaringnya tanpa menyadari apa yang telah ia lakukan pada kakeknya.


"Kakek, kenapa malah tidur disitu?" tanya Vincent dengan polosnya.


Laki-laki tampan itu menggaruk rambutnya yang terlihat acak-acakan sambil sesekali menguap karena rasa kantuk yang ia alami belum hilang sepenuhnya.


"Dasar bodoh. Jika bukan karena ulahmu. Tidak mungkin aku ada disini, dasar cucu durhaka. Apa kau ingin Kakek kutuk jadi kodok eo??" amuk Kakek Hilman.


"Hoam!! Tidak usah berlebihan kakek, lagi pula aku kan melakukannya tanpa sengaja!" kata Vincent tak mau kalah.


Dengan kesal, Kakek Hilman melompat ke atas tempat tidur kemudian mendorong Vincent dan mengusir laki-laki itu dari atas kasur. "Turun kau, mulai malam ini kau tidur di sofa!" Kakek Hilman terus memukul Vincent dengan brutal.


"Appooo!! Kakek sakit, iya-iya aku turun. Tapi hentikan!!" Vincent melompat turun sambil menggendong bantal dan selimutnya lalu membawanya ke sofa.


Kakek Hilman memegangi pinggangnya yang seperti ingin patah. "Pinggangku!!" Lalu dia merebahkan tubuhnya pada tempat tidur dan menempatkan tubuhnya dengan nyaman


"Min-hi, sayang!! Aku akan memimpikanmu!!" Kakek Hilman mencium foto nenek Min-hi yang ia letakkan diguling miliknya. Memeluknya dan menciumnya berulang-ulang.


Vincent yang melihat tingkah kakeknya merasa horor. Dimatanya, Kakek Hilman sangat mengerikan. "Dasar gila!!" kata Vincent lalu menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut.


"Aku mendengarnya, bocah!!"


-


-


"Tuan, Anda memanggil saya!!"

__ADS_1


Kai memberi kode agar orang itu mendekat padanya. Kai melempar amplop keatas meja kerjanya, menunjuk menggunakan dagunya. Meminta orang itu untuk mengambil amplop tersebut. Kemudian Kai menyerahkan beberapa lembar foto pada laki-laki bertubuh besar berwajah sangar yang berdiri didepan mejanya.


"Laki-laki itu bernama, Kevin. Aku ingin kau membawakan aku kedua matanya dan membuat orang itu lumpuh seumur hidupnya. Aku akan memberikan bonus yang sangat besar jika kau dan anak buahmu berhasil melakukannya, tapi kau akan menerima hukumannya jika sampai gagal!!" ujar Kai.


Laki-laki itu mengambil foto tersebut dan memeriksanya satu persatu. "Anda tidak perlu cemas, tuan!! Ini adalah tugas yang sangat mudah bagi kami. Anda akan segera mendapatkan hasilnya!!" Kai menyeringai mendengar jawaban laki-laki itu.


Rasanya ia sudah sangat tidak sabar melihat Kevin celaka dan Viona akan segera menjadi miliknya. "Inilah akibatnya jika kau berani mencari masalah denganku, bodoh. Kau boleh keluar!!" pria itu membungkuk dan melenggang pergi.


Selepas kepergian laki-laki itu. Tampak Levi memasuki ruang kerja Kai, sesekali dia menoleh kebelakang menatap aneh pria yang baru saja meninggalkan ruangan sahabatnya


"Siapa dia?" tanya Levi saat sudah ada didepan Kai.


Kai menatap Levi sejenak sebelum kembali sibuk pada dokumennya. "Pembunuh bayaran yang aku sewa untuk menghabisi bajingan itu. Tak lama lagi aku akan mendapatkan kedua matanya dan Viona akan segera jatuh kedalam pelukanku!!"


Levin memicingkan matanya. "Jadi kau berniat membuhnya!!" Kai mengangguk, laki-laki itu bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan kearah sofa.


Kai mematikan ac dalam ruangan itu kemudian menyulut satu batang rokok beraroma mint dan menghisapnya. "Yups, dan itu adalah akibat yang harus dia terima karna berani mengambil gadisku dan mencari masalah denganku!!" Levi menghela nafas.


Berjalan perlahan kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan Kai. "Lalu kau fikir dengan kau melakukan itu, Viona bisa menerimamu? Jika dia tau, Viona justru akan semakin membencimu, kai!!"


"Aku tidak peduli!" Kai menyela ucapan Levi.


Levi menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Laki-laki itu tidak tau harus berkata bagaimana agar sahabatnya itu bisa mengerti jika yang dia lakukan itu salah.


"Baiklah, terserah padamu. Aku tidak tau bagaimana lagi harus menasihatimu!" Levi melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Aku ada rapat penting setelah ini, aku pergi dulu!!" Levi menepuk bahu Kai dan berlalu begitu saja. Meninggalkan laki-laki itu sendiri diruang kerjanya.


"Kevin Zhao, tunggu kehancuranmu!!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2