PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Fakta Dan Kebenaran


__ADS_3

Aiden yang baru saja tiba di kantor Ken, memicingkan matanya melihat Devan berdiri di depan pintu ruangan pria bermarga Zhao tersebut. Sebelah alisnya terangkat naik, melihat cairan merah segar memenuhi jari-jari Devan. Kemudian Aiden mendekati pria itu.


Pukk...


Tepukan pada bahunya membuat Devan terlonjak kaget. Nyaris saja dia berteriak, jika saja tidak melihat siapa yang saat ini berdiri di sampingnya. "Aiden, aku pikir siapa. Nyaris saja kau membuatku terkena serangan jantung dadakan." ucapnya mengelus dada.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja? Apa Ken sedang ada tamu?" tanya Aiden memastikan.


Devan menggeleng. "Lebih buruk dari itu, dan Aku sarankan 'BU-DI' sepertimu, sebaiknya tidak melihat apalagi mengintip ke dalam." Tutur Devan.


Aiden pun semakin penasaran. Memangnya hal menyeramkan seperti apa yang ada di dalam sana, sampai-sampai Devan melarangnya untuk masuk apalagi mengintip ke dalam.


Tidak ingin rasa penasaran membunuhnya, Aiden memutuskan untuk mengintip dan telah mempersiapkan dirinya dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi.


Kedua matanya membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar, dan cairan merah tampak mengalir dari lubang hidung. Persis seperti yang terjadi pada Devan. "I..Itu?" Aiden menoleh kaku dan menatap Devan dengan jari terulur ke dalam.


"Aku bilang juga apa, kau Bandel sih. Itulah Alasan kenapa aku tidak masuk ke dalam." jawab Devan.


"Lalu untuk apa kita tetap disini, sebelum orang-orang menganggap kita aneh karena berdiri disini, sebaiknya kita pergi saja."


"Itu juga yang aku pikirkan dari tadi." Jawab Devan menyetujui usul Aiden.


Beginilah nasib BU-DI. Mereka selalu saja Ngenes ketika melihat pasangan tengah bermesraan. Rasanya Mereka ingin memiliki pasangan juga, dan merasakan bagaimana nikmatnya bercinta.


🌺


🌺


Ken mengakhiri tautan bibirnya saat merasakan pukulan pada dadanya. Rupanya Luna sudah tidak sanggup dan kehabisan nafas. Wajahnya merah, dan nafasnya ngos-ngosan setelah Ken mengakhiri ciuman panasnya.

__ADS_1


"Uhh, kau nyaris saja membunuhku, Ken." protes Luna masih sambil mengatur nafasnya.


"Kenapa kau masih begitu payah, Sayang. Padahal kita sudah sering melakukannya." cibir Ken sambil menyeka sisa liur di bibir Luna.


Luna berdecak sebal. "Berhentilah mencibirku, Ken. Berapa kali harus aku katakan padamu, jika aku memang tidak berpengalaman dalam hal ini!!" ucap Luna menegaskan.


Ken terkekeh geli melihat ekspresi Luna yang begitu menggemaskan. Kembali ia menarik tengkuk Luna, dan menyatukan bibir mereka. Namun ciuman kali ini, lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya.


"Dan Berhentilah memasang wajah menggemaskan seperti itu, jika kau tidak ingin aku sampai menelanmu bulat-bulat detik ini juga."


Luna memukul dada Ken sambil memanyunkan bibirnya. "Dasar mesum!!" Dan Ken hanya terkekeh, lalu pria itu membawa Luna ke dalam pelukannya. Menjadikan kepala coklatnya sebagai sandaran dagunya.


"Apa kau tahu, Luna. Aku sangat bahagia memilikimu di sisiku, dan kau merupakan anugerah Terindah yang Tuhan berikan padaku selain Daniel." bisik Ken sambil mengeratkan pelukannya.


Luna tersenyum. Mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Ken. "Aku juga bahagia memilikimu sebagai suamiku. Dan jujur saja, Ken. Aku tidak mau kehilanganmu." ucap Luna sambil memejamkan kedua matanya.


Luna tidak bisa menyangkal lagi perasaannya pada Ken, dia harus mengakui jika dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria bermarga Zhao ini. Dan Ken, membuatnya selalu merasa nyaman.


Lalu Luna mengambil kertas itu dan membacanya. Matanya membelalak melihat kecocokan antara dirinya dan seorang pria bermarga Valentino. Itu adalah hasil tes DNA, dan Luna tahu itu.


"Ken, Apa maksudnya ini?" tanya Luna meminta penjelasan.


Ken mendesah berat. Sepertinya tidak ada gunanya menutupi hal ini dari Luna, dia memang harus mengetahui kebenaran ini.


"Itu adalah hasil tes DNA yang aku lakukan secara diam-diam antara kau dan pria bermarga Valentino. Dia meminta bantuanku untuk menemukan putrinya yang hilang. Dari cerita yang aku dengar, kemudian aku memiliki sebuah kesimpulan jika kaulah orang yang dia cari."


"Untuk memastikannya, aku mencoba menyelidiki dan melakukan tes DNA itu secara diam-diam. Dan fakta membuktikan, jika memang kau lah putri yang dia cari selama ini." tutur Ken panjang lebar.


"Tapi bagaimana mungkin Ken, aku dan pria itu memiliki hubungan darah. Sedangkan aku adalah Putri dari Jack William,"

__ADS_1


"Memang benar, tapi faktanya Kau adalah Putri dari Hans Valentino. Ibu dan ayahmu bercerai saat kau masih kecil, dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua anak, seorang Putra dan seorang putri. Kakakmu ikut bersama ayah kandungmu, sementara kau dibawa oleh ibumu. Kemudian Ibumu menikah lagi dengan Jack William."


"Asal kau tau saja Luna, jika Jack William adalah seorang impoten. Yang artinya dia tidak mungkin bisa memiliki keturunan."


"Lalu bagaimana dengan kedua kakak laki-lakiku?"


"Mereka adalah anak yang diadopsi dari bantu asuhan, Jack William membutuhkan seorang ahli waris untuk menguasai seluruh harta peninggalan istri pertamanya. Karena dari pernikahan pertamanya itu dia juga tidak memiliki keturunan, itulah kenapa mereka memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan."


"Sekarang masuk akal, kenapa Jack William tidak pernah memperlakukan aku dengan baik. Karena aku bukan Putri kandungnya, bahkan dia membakar semua barang-barang peninggalan terakhir ibuku. Sudah tidak ada alasan lagi, untuk aku tidak menghancurkan pria itu!!!" Luna menyeringai tajam.


"Memangnya apa rencanamu? Bisakah aku membantumu?" Ken mengecup pertopangan leher Luna.


Luna menggeleng. "Tidak perlu, kali ini biarkan aku sendiri yang menyelesaikannya. Kau hanya perlu mendukungku,"


"Aku mengerti, dan secepatnya aku akan mempertemukanmu dengan ayah kandungmu. Kenapa kau tidak ingin tau siapa kakak kandungmu?"


Luna melonggarkan pelukan Ken, lalu menatap pria itu penasaran. "Memangnya siapa? Apa kau sudah mengetahuinya?" tanya Luna memastikan.


Ken mengangguk. "Kau mengenalnya, sangat-sangat mengenalnya malah. Dan orang itu adalah Aiden." jawab Ken yang sontak membuat kedua mata Luna membelalak.


"Apa?! Jadi sebenarnya aku dan Aiden adalah saudara kandung, satu ayah dan satu ibu?!" pekik Luna dengan kedua mata membelalak sempurna. "Ya Tuhan, rasanya ini seperti mimpi. Aku masih tidak percaya. Jika sebenarnya Aidan adalah kakak kandungku dari satu ayah dan satu ibu. Sungguh, rahasia Tuhan sangat indah."


Saking bahagianya, sampai-sampai Luna tidak kuasa menahan air matanya. Wanita itu menangis karena rasa bahagia yang saat ini dia rasakan. Dan Luna harus berterima kasih pada Ken, karena berkat dia, luna bisa mengetahui tentang kebenaran dan jati dirinya yang sebenarnya.


"Untuk kerja kerasmu ini, malam ini aku akan memberimu servis special." ucap Luna dan membuat seringai tampak di bibir Ken.


"Dan aku sangat menantikannya, Sayang."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2