
Suasana hening menyelimuti kebersamaan Viona dan Kevin. Mereka dalam perjalanan pulang ke kediaman Jung. Viona tidak bisa menolak Kevin untuk mengantarkannya pulang.
Viona menoleh, menatap pemuda yang sedang serius mengemudi disampingnya. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Dia hanya fokus pada jalanan yang legang.
"Tiba-tiba aku lapar, bagaimana kalau kita berhenti sebentar?" Suara Viona memecah keheningan di dalam mobil itu. Kevin menoleh kemudian mengangguk.
Dia menghentikan mobilnya di sebuah kedai, seperti permintaan Viona. Keduanya turun kemudian masuk ke dalam kedai tersebut. Karena sudah hampir tengah malam, makanya kedai tersebut sedikit sepi pengunjung. Hanya beberapa orang saja.
"Apa kau marah?" Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Viona. Dia menatap Kevin dengan tatapan bertanya.
"Marah, untuk apa? Aku tidak memiliki alasan untuk marah," ucapnya.
Viona mengangguk. "Betul juga, untuk apa kau marah. Lagipula kenapa aku harus bertanya hal yang tidak masuk akal begini padamu? Karena marah ataupun tidak, tetap saja kau bermuka datar." Celetuk Viona memaparkan.
Kevin mendengus berat. Kali ini dia tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kevin terlalu malas untuk bicara apalagi berdebat dengan gadis bermarga Jung tersebut. Moodnya benar-benar tidak dalam keadaan baik.
Viona mengangkat bahunya. Dia tidak mau terlalu ambil pusing. Makanan yang mereka pesan sudah datang. Daripada melihat wajah masam Kevin, lebih baik mengisi perutnya yang keroncongan. Karena itu lebih bermanfaat.
-
-
Kecemasan terpancar jelas di raut wajah Jung Hilman, ini sudah pukul 12 malam, namum cucu kesayangannya belum juga pulang. Kakek Hilman tau jika cucu kesayangannya itu pergi menghadiri pesta ulang tahun tamannya, tapi dia tetap cemas karena Viona belum juga kembali sampai sekarang.
"Kakek, apa Viona belum pulang juga?" tegur Kai.
Pria beruban itu menoleh kemudian menggeleng. "Aku takut terjadi sesuatu pada gadis kecilku yang nakal itu, Kai!" ujarnya.
"Kakek tidak perlu cemas, aku akan pergi mencarinya!" Kakek Hilman memandang Kai sekilas kemudian mengangguk.
"Temukan gadis itu dan bawa dia pulang dengan segera!" Pinta Jung Hilman.
Sementara itu. Amelia dan Minna begitu menikmati momen tanpa Viona di rumah. Bahkan mereka berdoa agar Viona tidak pernah kembali.
Karena tanpa kehadiran gadis itu, membuat mereka dapat merasakan nikmatnya hidup, jika perlu biar selamanya saja gadis itu tidak kembali kedalam mansion mewah ini.
Tapp ...!!
Langkah Kai terhenti ketika melihat seorang gadis turun dari atas sebuah mobil mewah milik seorang pria. Kai memiringkan wajahnya dan menyipitkan mata hitamnya, Ia begitu penasaran dengan sosok pemuda yang mengantarkan Viona pulang.
Kai tidak dapat melihat wajah orang itu karena jarak mereka yang agak jauh ditambah ini sudah malam. Kai memggepalkan tangannya, Ia tidak menyukai pemandangan itu.
"Kai, kau belum tidur?" tegur Viona ketika berhadapan dengan pemuda berkulit tan tersebut.
"Dari mana saja kau?" tanya Kai sedikit tidak bersahabat.
__ADS_1
"Kai, kau?!"
"Aku tanya, dari mana saja KAU?!!" bentak Kai di akhir kalimatnya.
Mendengar bentakan Kai membuat emosi Viona langsung tersulut, gadis itu memandang Kai tajam. "Kau pikir, kau siapa berani berbicara dengan nada setinggi itu padaku? Kemana pun aku pergi, itu bukan urusanmu!"
"Bukan urusanku? Kau benar, lalu bagaimana dengan kakek?! Dia sangat mencemaskanmu, dan kau malah kelayapan tidak jelas dengan seorang pria. Apa kau semurahan itu?! Apa luar negeri membuatmu tidak memiliki moral? Sampai-sampai kau~"
Plakkkk...!!
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kanak Kai, hingga meninggalkan bekas merah tanda tamparan tangan Viona. Kai sudah keterlaluan dan gadis itu tentu saja tidak bisa menerimanya.
"Kau pikir kau siapa?! Aku pikir kau berbeda dengan Ibu dan adikmu. Ternyata kau tidak ada bedanya dengan mereka, sama-sama tidak memiliki sopan santun!"
Viona melewati Kai begitu saja dan sedikit menabrak bahunya hingga pemuda itu sedikit terhuyung. Kai membalikkan badannya dan hanya punggung Viona-lah yang tertangkap mata hitamnya.
Prakkk ...!!!
"Aarrrkkkhhh," Kai menggeram dan membanting kunci mobilnya.
Dia mengacak kasar rambunya hitamnya, Ia merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa Ia berkata sepedas itu pada Viona dan membuat gadis itu membencinya, padahal yang Kai inginkan bisa dekat dengannya.
Mengambil kembali kunci mobilnya. Kai melangkah memasuki mansion mewah itu.
.
.
"Aiggoo, cucu nakalku!"
Kakek Hilman langsung memeluk Viona dan mengusap punggungnya dengan gerakan naik turun. Sesekali Kakek Hilman memukul pelan lengan cucunya membuat gadis itu meringis tipis.
"Kau darimana saja, bocah. Apa kau tau jika Kakek sangat mengkhawatirkanmu!" Viona melepaskan pelukannya dan menatap kakeknya penuh rasa bersalah.
"Maaf, Kakek. Sudah membuatmu cemas. Lain kali tidak seperti ini lagi deh, janji. Sebaiknya sekarang Kakek pergi tidur, ini sudah malam." Pinta Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh pria tua itu.
"Baiklah, Kakek pergi tidur. Kau juga sebaiknya cepat tidur. Good night sweet heart." Kakek Hilman mencium kening cucunya dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian kakek Hilman. Di dalam kamar hanya menyisakan Viona sendiri. Ingatannya kembali membawanya pada kejadian di bar tadi. Belum pernah Viona melihat Kevin semarah itu, kenapa dia sangat kesal, kenapa dia sangat marah, itu sungguh aneh dan membingungkan.
Mengangkat bahunya acuh. Kemudian Viona membaringkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur super empuk miliknya. Dia mengantuk dan sudah tidak bisa ditahan lagi.
-
-
__ADS_1
Kevin tiba di rumahnya pukul 24.30 dini hari. Semua lampu di rumahnya sudah dimatikan yang artinya seluruh penghuninya sudah tidur. Kecuali lampu di ruang keluarga. Mata Kevin memicing melihat ayahnya duduk di sofa sambil memeluk bantal dan selimut.
Pemuda itu menghampiri sang ayah yang sepertinya belum menyadari kepulangannya.
"Pa, apa yang kau lakukan disini dengan bantal dan selimut itu?" Tegur Kevin penasaran. Ken mengangkat kepalanya dan mendapati Kevin menatapnya dengan penuh selidik.
"Mamamu meminta Papa untuk tidur di luar malam ini,"
Mata Kevin memicing. "Kenapa bisa begitu?"
"Karena Papa meminta jatah lagi darinya!! Mamamu kesal karena burung Pipit Papa sudah tidak sehebat dulu, jadi Mamamu kurang puas,"
Kevin mendengus berat. Padahal usianya sudah tidak muda lagi, tapi ayahnya ini masih saja suka bercocok tanam. Dan ini bukan pertama kalinya Kevin melihat pemandangan semacam ini.
"Aku pikir karena masalah apa. Tidur saja di kamar tamu, disini dingin. Aku ke kamar dulu." Kevin kemudian meninggalkan sang ayah begitu saja. Dia lelah dan ingin segera tidur.
-
-
"OMO???"
Nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan ketika melihat sang kakek keluar dari kamarnya dengan penampilan yang menyerupai anak muda.
Jeans sedikit ketat menggantung di pinggulnya, kemeja putih dalam balutan jaket kulit hitam. Sapu tangan yang kedua ujungnya di ikatkan pada lehernya. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya, rambut putihnya di tata melawan gravitasi.
Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu meringis ngilu melihat perubahan besar pada penampilan sang kakek yang sangat tidak biasa itu.
"Kakek, apa pagi ini kau salah makan sesuatu?" tanya Viona memastikan. Kakek Hilman menggeleng. "Kakek, penampilanmu, kenapa aneh begini?" Dia menunjuk penampilan Kakek Hilman dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Kakek Hilman tertawa kemudian merentangkan kedua tangannya. "Bagaimana penampilan, Kakek? Apa Kakek sudah terlihat tampan?" tanya Kakek Hilman memastikan.
Viona meringis sambil memijit pelipisnya."Kakek, memangnya kau mau pergi kemana?" bukannya memberi jawaban, Viona malah balik bertanya.
Kakek Hilman tersenyum tidak jelas membuat Viona semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada kakeknya ini. "Kakek ada kencan dengan nenek Hilda. Maaf, Sayang. Kakek harus pergi sekarang!" Kakek Hilman mencium kening Viona dan melenggang pergi.
Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap kepergian sang kakek dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Viona berbalik dan sosok Kai berdiri menjulang di depannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Kai yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
-
-
__ADS_1
Bersambung.