
Hargai karya Author dengan selalu meninggalkan like komennya 🙏🙏 Karena satu like dan komen sangat berarti buat Author. Dukung terus Author Lusica biar makin semangat ngetik lanjutan ceritanya 🙏🙏
-
-
"Bodoh, bodoh, bodoh!! Apa kalian tidak tau siapa yang kalian tangkap ini?! Dia bukan kekasih Kevin Zhao, tapi dia adalah gadis yang ingin aku dapatkan!!"
Marco memarahi anak buahnya yang sangat tidak becus itu. Mereka disuruh menculik gadis yang dekat dengan Kevin malah menculik orang yang ingin ia dapatkan. Jika Helena bangun dan tau apa yang terjadi padanya, bisa-bisa dia semakin membencinya.
"Kami tidak salah tangkap, Bos. Memang dia yang tadi keluar dari kediaman orang itu. Bahkan dia dan Kevin datang dengan satu mobil." Pria itu memegangi pipinya yang baru ditampar oleh bosnya.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Pokoknya ketika dia sadar. Jangan ada yang membahas tentang penculikan itu. Atau kalian akan mati!!"
"Ba..Baik, Bos." Jawab mereka berdua dengan kompak dan sedikit terbata.
"Lalu kenapa kalian masih disini?! Cepat pergi dan selesaikan pekerjaan kalian!!" Keduanya pun langsung kalang kabut. Meskipun cacat, tapi Marco sangat menyeramkan ketika dia sedang marah.
Marco menghampiri Helena yang masih belum sadarkan diri. Dielusnya pipi gadis itu dengan lembut. "Kenapa kau selalu menolakku, Helena? Padahal aku sungguh-sungguh mencintaimu." Ucap Marco sambil memandang gadis itu penuh cinta.
Sebuah ide tercetus di kepalanya. Jika cara baik-baik tidak bisa, lalu kenapa tidak menggunakan cara itu saja?! Marco segera memanggil anak buahnya. Dia meminta mereka untuk mengikat Helena di atas tempat tidur.
Mulai malam ini dia tidak akan kehilangan gadis itu lagi. Karena mulai sekarang Marco bisa melihatnya ketika dia membuka atau hendak menutup matanya.
"Lakukan dengan segera, gadis ini sangat spesial bagiku. Dan aku tidak ingin dia menolak ku lagi!!" Ucapnya.
"Baik, Bos."
-
-
__ADS_1
Malam ini udara sangat dingin, Viona tengah bersiap-siap keluar dari rumah megahnya untuk membeli sesuatu di minimarket.
Jika biasanya dia membawa mobilnya, tapi kali ini dia memilih berjalan kaki. Jarak rumahnya dan minimarket memang tidak terlalu jauh. Itulah kenapa dia memilih jalan kaki daripada harus membawa mobil.
Terdengar deru angin yang bertiup kencang dari luar, suara gemuruh pun tak lepas dari gendang telinga gadis bermarga Jung itu. Tampaknya akan hujan, tapi ia memiliki keyakinan akan sempat untuk kembali pulang sebelum hujan turun.
Tak ada yang spesial pada penampilannya. Gadis itu memakai dress abu-abu berbahan brokat setengah lengan, sepanjang lutut tanpa penghangat apapun. Dia tidak membawa kardigan ataupun mantel hangatnya.
Dari jarak 2 meter. Viona melihat beberapa pemuda berandalan tengah nongkrong dipinggir jalan sambil ditemani beberapa botol minuman keras. Salah satu dari kelima berandalan itu melihat keberadaan Viona. Ia pun segera memberi tahu keempat temannya.
Mereka bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Viona. Dari gelagatnya, sudah jelas jika mereka memiliki niat yang tidak baik pada gadis itu.
"Nona, kau mau kemana? Malam-malam begini kenapa pergi sendirian saja? Bagaimana kalau kami temani, mau tidak?"
Viona menyentak tangan pria itu dari wajahnya lalu menendang perutnya hingga dia terjengkang kebelakang. Melihat hal itu membuat keempat temannya menjadi sangat marah.
"Kurang ajar!! Dasar gadis liar, berani sekali kau melukai bos kami!!" Teriak salah seorang dari keempat pria itu.
"Apa yang kalian tunggu, cepat pegang dia. Betina seperti ini perlu diberi pelajaran!!" Ucap pria yang tersungkur itu sambil bangkit dari posisinya.
Tubuh kedua pria itu terjungkal ke depan setelah mendapatkan tendangan telak pada punggung dan pantatnya.
Sontak Viona mengangkat wajahnya. Seorang pemuda yang memakai t-shirt putih lengan pendek dan rompi hitam bertudung berdiri memunggunginya. Dari postur tubuhnya, Viona mengenali siapa pemuda ini.
"Kau mundurlah." Pemuda itu menoleh, melirik Viona dari ekor matanya. Gadis itu mengangguk.
Ia pun mundur beberapa langkah kebelakang seperti yang pemuda itu perintahkan. Ia hanya melihat pemuda itu yang berkelahi melawan kelima preman tersebut. Tidak perlu menguras tenaga untuk menumbangkan orang yang dalam keadaan setengah mabuk.
Kelimanya pun langsung melarikan diri. Pemuda itu menghampiri Viona yang masih mematung di tempatnya berdiri. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kevin.
Viona menyentak tangan Kevin dan menatapnya tajam. "Bukan urusanmu!! Untuk apa kau tiba-tiba datang seperti pahlawan kesiangan untuk menolongku?! Bukankah kau sekarang sudah memiliki bayi tua yang harus kau urus!!" Ujar Viona lalu beranjak dari hadapan Kevin dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Kevin menahan pergelangan tangan Viona lalu menghimpit tubuhnya di tembok. Jantung Viona berdetak dua kali lebih cepat melihat tatapan pemuda di depannya ini yang dingin dan mengintimidasi. Lalu Viona membuang muka ke arah lain. Kemana pun asalkan jangan mata Kevin.
Kedua mata Amber-nya membelalak saat ia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya disusul lum*tan dan pagutan keras. Sebelah tangan Kevin menekan bagian belakang kepala Viona sementara bibirnya terus memagut bibir tipis gadis bermarga Jung tersebut.
Kevin menarik tubuh Viona dan membunuh jarak diantara mereka. Tubuh keduanya menempel sempurna dengan kain yang melekat ditubuh masing-masing sebagai pembatasnya.
Ciuman sepihak itu berlangsung lebih dari 30 detik. Kemudian Kevin mengakhirinya lalu menarik Viona menuju tempat yang sepi. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengannya.
.
.
"Jika kau membawaku kemari hanya untuk melihatmu diam, sebaiknya aku pergi saja. Kau membuang terlalu banyak waktuku!!"
Kevin menahan pergelangan tangan Viona lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Lagi-lagi Viona terkejut dengan apa yang Kevin lakukan. Pemuda itu memeluk Viona dengan erat.
"Apa sekarang kau membenciku karena kata-kataku malam itu? Sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu, tapi aku bingung darimana harus memulainya. Intinya, hidupmu akan berada dalam bahaya jika kau tetap berada di dekatku. Aku ingin melindungimu dengan caraku, tapi justru aku sendiri yang sulit menjauh darimu."
Viona mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Kevin. "Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi apa yang kau lakukan ini sangat kejam, Key. Aku tidak tau bahaya apa yang mengincar diriku jika berada di dekatmu. Tapi jangan mengusirku dengan cara menyakitkan seperti itu." Bisik Viona sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku tau apa yang kulakukan justru menyakitimu. Tapi justru inilah yang terbaik untuk kita berdua. Karena dengan begini kau akan aman dan baik-baik saja. Memang, kau bukan siapa-siapa, tapi di mataku kau begitu spesial. Dan aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika hal buruk sampai menimpa dirimu."
Kemudian Viona melepaskan pelukan Kevin dan menatap ke dalam sepasang manik dinginnya. "Baiklah jika ini yang kau inginkan dan menurutmu yang terbaik untuk kita. Mulai detik ini, kita jalani hidup masing-masing dan anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Lupakan semua tentang diriku. Lupakan aku pernah hadir dan merecoki hidupmu. Kita kembali menjadi orang asing seperti sebelum kita bertemu," Viona melangkah mundur dan pergi begitu saja.
Salah satu tangannya meremas dadanya yang terasa nyeri. Rasanya begitu sesak, sampai membuatnya sulit untuk bernapas. Jika menurut Kevin memang ini yang terbaik, maka dia akan menghargai keputusannya itu.
-
-
__ADS_1
Bersambung.