
"Aku tidak peduli. Aku hanya ini Jal*ng itu mati!! Jika aku tidak bisa menjadi Nyonya Muda di rumah ini, maka dia juga tidak boleh. Kali ini, aku tidak akan membiarkanku bernapas lagi di di rumah ini. Kau.. harus MATI!!!" Ilona mengangkat tinggi-tinggi belati di tangannya dan...
Jresss...
"KEN!!"
Ilona memekik kencang karena kemunculan Ken yang begitu tiba-tiba. Dia menahan belati itu dengan tangannya. Membuat telapak tangan Ken terluka dan berdarah. "Ilona, berani sekali kau membahayakan nyawa Istri, Putra dan Nenekku!! Apa kau sudah bosan hidup, hah!!" Bentak Ken penuh emosi.
"Ken tunggu. I..Ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku bukannya ingin melukai nenek dan Daniel. Tapi aku ingin memberi pelajaran pada wanita itu, karena dia sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan kita!!"
Ken menyentak tangan Ilona yang bergelayut manja pada lengannya. "Kau pikir dirimu siapa bisa menyentuh istriku dengan sesuka hatimu!! Sebaiknya segera bangun dari mimpi-mimpimu itu, Ilona Lim!! Terima saja kenyataan jika diantara kita sudah berakhir, dan berhentilah menjadi wanita bodoh yang diperbudak oleh cinta!!"
"Ken, Kau~!!"
PLAKK...
Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi Ilona, siapa lagi yang melakukannya jika bukan Luna. "Itu untukmu karena berani membuat Ken sampai terluka. Dan ini... karena kau sudah membuat Daniel sangat ketakutan!!" satu tamparan lagi daratkan pada pipi Ilona.
Luna menyeret Ilona menuju pintu dan mendorongnya hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai. "Sebaiknya segera angkat kaki dari sini, sebelum kesabaranku habis dan menguliti mu hidup-hidup!! Jangan kau kira aku akan sungkan karena kau adalah mantan istri dari suamiku!!" Ucap Luna menegaskan.
"Pak, tolong seret wanita ini keluar dari rumah ini. Jangan pernah biarkan apalagi ijinkan dia masuk lagi kemari," pinta Luna yang kemudian di balas anggukan oleh pria berseragam bodyguard tersebut.
"Baik, Nyonya Muda."
Luna kembali ke dalam dan mendapati Nenek Zhao yang sedang mengobati luka di telapak tangan Ken.
Selama dua hari berturut-turut, Ken selalu terluka. Pertama luka di pelipis kanannya akibat ulah Jack William, dan hari ini dia terluka lagi karena ulah Ilona. padahal luka di pelipisnya masih basah, bahkan perban masih belum beranjak dari luka itu.
Luna menghampiri nenek Zhao dan Ken, lalu duduk di samping suaminya. "Nenek, apakah lukanya dalam?" tanya Luna memastikan.
"Untungnya tidak, ini hanya luka luar saja." Jawab Nenek Zhao.
__ADS_1
Luna menatap Ken dan mendesah berat. "Apa yang kau pikirkan tadi, Ken?! Saat menahan belati itu. Bagaimana bisa membahagiakan dirimu sendiri hanya untuk melindungiku?" protes Luna dengan apa yang telah Ken lakukan tadi.
"Dan membiarkan pisau itu menusuk mu?! Bagaimana bisa aku diam saja, Luna?! Saat melihat dirimu berada dalam bahaya!! Apakah aku akan baik-baik saja jika melihatmu yang terluka, aku akan merasa gagal menjadi seorang suami karena tidak bisa melindungimu dengan baik!!" jawab Ken menuturkan.
Mendengar ucapan Ken membuat Luna terdiam, hal itu membuktikan jika Ken tidak ingin melihatnya sampai terluka. Wanita itu tersenyum lalu berhambur memeluk suaminya.
"Maaf, Ken. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu. Aku hanya tidak suka melihat mu terluka karena diriku, jadi berjanjilah padaku, jika kau tidak akan melakukan hal itu lagi."
Ken menggeleng. "Maaf, Luna. Tapi aku tidak bisa berjanji. Tidak mungkin aku bisa diam saja saat melihatmu dalam bahaya," jawab Ken memberi penegasan.
Nenek Zhao hanya bisa mengelus dada melihat keromantisan cucu dan cucu menantunya ini. Sudah lama dia tidak merasakan apalagi melakukan hal-hal romantis, lebih tepatnya setelah putus dari kekasihnya satu bulan yang lalu.
Dan sementara itu...
Daniel hanya bisa gigit jari melihat keromantisan mereka berdua. Sebenarnya Daniel sangat iri, karena sang ayah lebih beruntung darinya.
"Kalian berdua jahat, tidak seharusnya menunjukkan kemesraan itu di depanku. Meskipun hanya kata-kata gombalan saja, tapi itu cukup melukai hati dan perasaanku yang rapuh ini. Papa, aku memang sudah merelakan Mama untukmu. Tapi bukan berarti kalian bisa mengumbar kemesraan di depanku, itu terlalu menyakitkan!! Kalian berdua membuatku patah hati!!"
"Sudahlah, sebaiknya aku bermain di luar saja daripada harus terus-terusan melihat kemesraan kalian berdua, sungguh sangat menyesakkan." memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, daniel pergi begitu saja.
"Aku lapar, sebaiknya kita sarapan sekarang. Nenek dan Daniel, biarkan saja mereka karena jika lapar pasti segera bergabung bersama kita." ucap Ken dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah." Ucapnya.
🌺
🌺
Ilona membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Dia tidak ingat apapun, selain saat asisten pribadi Ken tiba-tiba membiusnya hingga tidak sadarkan diri. Dan selanjutnya ilona tidak ingat apa-apa lagi.
"Teman, teman, mau main bersamaku tidak. Lihatlah, aku punya anak yang sangat tampan."
__ADS_1
Tubuh Ilona menegang, matanya membelalak. Dengan kaku dia menoleh, di sampingnya berdiri seorang wanita berpakaian rumah sakit tengah tersenyum sambil menggendong sebuah boneka. Wanita itu terlihat tidak normal.
Kemudian Ilona menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, lagi-lagi matanya membelalak saat menyadari di mana ia berada saat ini. Ilona menggeleng, ini bukan tempat biasa melainkan Rumah Sakit Jiwa.
"KEN ZHAO!!! KAU MEMANG BR*NGSEK!!!"
🌺
🌺
Ken merogoh saku celananya saat merasakan Benda tipis bergetar. Nama Max, menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Dia sudah tahu apa tujuan Max menghubunginya.
"Tuan Muda, perintah Anda telah saya jalankan. Dan saat ini Wanita itu sudah berada di rumah sakit jiwa,"
"Kerja bagus, Max. Bulan ini kau naik gaji, namun pastikan wanita itu tetap berada di sana dan jangan biarkan dia keluar dari tempat itu!!"
"Baik, Tuan Muda saya mengerti. Saya akan melaksanakan perintah Anda, dan terima kasih untuk naik gajinya. Anda memang yang terbaik, Tuan Muda."
Ken tidak menanggapi lagi, dan memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Karena jika diteruskan, akan sangat panjang karena begitulah Max jika sedang bahagia. Penyakit cerewetnya pasti akan langsung kambuh.
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian Ken. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang. Ken mengulurkan sebelah tangannya lalu menempatkan Luna di pangkuannya.
"Aku pikir kau sedang tidur, ngomong-ngomong siapa yang kau hubungi barusan?" Tanya Luna penasaran.
"Max, aku sudah mengikuti saranmu dan memasukkan wanita gila itu ke rumah sakit jiwa." Ucap Ken lalu mengcup singkat bibir Luna.
Luna tersenyum lebar. "Aku lega mendengarnya. Karena mulai sekarang biang onar itu sudah tidak ada lagi. Dan kita bisa hidup dengan tenang." Ujar Luna lalu menyandarkan kepalanya di dada Ken yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya.
"Tentu, Sayang."
-
__ADS_1
-
Bersambung.