
Ken menghentikan mobilnya di kawasan Hongdae. Dia ingin mengenang masa lalu. Di tempat inilah dia sering menghabiskan waktunya bersama Luna.
Pria dalam balutan kemeja hitam lengan terbuka yang dipadukan dengan sebuah Long Vest berlebel Gucci itu terlihat menutup matanya saat sekelebat bayangan masa lalu melintas di kepalanya. Dan hati Ken berdenyut sakit saat mengingat-ingat semua kenangan itu.
Harusnya Ken merasa bahagia setelah mengetahui bila Luna ternyata masih hidup. Tapi yang Ken rasakan malah sebaliknya mengingat bila Luna tidak lagi mengenali dirinya. Dia mengalami amnesia pasca kecelakaan hebat yang mereka alami tiga tahun yang lalu.
"BERHENTI DI SANA WANITA SIA*LAN!"
Perhatian Ken sedikit teralihkan karena teriakkan keras itu. Sontak dia mengangkat wajahnya dan mendapati sosok jelita berparas barbie berlari kearahnya dengan empat pria yang mengejar dibelakangnya. Dan wanita itu segera bersembunyi di balik punggung Ken, dan sungguh keberuntungan baginya bisa bertemu dengan pria itu meskipun tanpa sengaja.
"Tuan Zhao, bagus aku bertemu denganmu di sini. Aku mohon, selamatkan aku. Mereka ingin menangkapku." Mohon wanita itu yang pastinya adalah Luna.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di luar?" tanya Ken dengan nada datar.
"Ceritanya panjang. Nanti saja aku jelaskan. Yang terpenting mereka dulu."
Ken mendengus berat. "Mundurlah dan cari tempat yang aman untuk bersembunyi. Aku akan membereskan mereka dengan segera." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Hati-hati, Tuan Zhao." Pesan Luna. Dan Ken hanya mengangguk pelan.
Ken menghampiri keempat pria itu dengan tenang. Mata kanannya yang berkilat tajam menatap mereka satu persatu. Ken mulai diliputi amarah membuat aura membunuh dalam dirinya semakin kuat.
Tentu dia tidak akan mengampuni mereka yang sudah berani mengganggu istrinya, dan kematian adalah harga paling pantas untuk membayar kesalahan terbesar mereka.
"Jangan ikut campur anak muda. Sebaiknya segera serahkan wanita itu pada kami maka kami anggap masalah ini selesai."
"Jika aku tidak mau bagaimana?"
"Kalau begitu jangan pernah menyesal jika kami harus membuat mata kananmu bernasib seperti mata kirimu."
Ken mendecih dan menatap mereka semakin remeh. "Omong kosong." Kemudian Ken melepaskan tembakkannya pada dua pria dihadapannya.
Tubuh keduanya langsung roboh seketika dan meregang nyawa detik itu juga membuat dua orang yang tersisa menjadi ragu untuk menghadapi Ken.
Keduanya saling bertukar pandang dan segera berlutut memohon ampun pada Ken. Tapi sayangnya Ken bukanlah pria yang lembut yang mudah memaafkan kesalahan mereka yang sudah berani memancing emosinya.
Ken yang sedang diliputi emosi dan membutuhkan sebuah pelampiasan. Keempat pria itu kemudian datang di saat yang tepat sebagai mangsa empuknya.
Dan melihat Ken sedikit lengah situasi itu mereka manfaatkan untuk melarikan diri. Tapi sayangnya Ken tak bisa melepaskan mereka bebas begitu saja tanpa mendapatkan hukuman setimpal setelah apa yang dilakukannya pada Luna.
Ken menarik beberapa belati kecil yang selalu dia bawa kemana-mana lalu melemparkan ke arah kedua pria itu. Pisau yang Ken lemparkan menancap pada punggung dan kepala keduanya, dan membuat mereka ambruk detik itu juga setelah beberapa peluru membrondong tubuhnya.
"Cih, dasar manusia-manusia tidak berguna." Sinis Ken sambil menatap keempat mayat tersebut.
__ADS_1
"Tuan Zhao!!" seru Luna menghampiri Ken.
Tatapan tajam dan dingin pria itu melembut saat sosok jelita itu sudah berdiri dihadapannya. Dan tanpa mengucapkan banyak kata. Ken menarik bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan hangat.
"Lega melihatmu baik-baik saja," bisik Ken sambil menutup matanya.
"Tuan Zhao, kau ... membuatku tidak bisa bernafas."
"O-Oh, maaf." Ken melepaskan pelukannya."Sekarang ceritakan kenapa kau bisa ada di sini dan kenapa juga mereka sampai mengejarmu?"
"Via, mereka menculik wanita itu dan menggunakan dia sebagai umpan untuk menangkapku. Dan mereka mengancam akan membunuhnya jika aku tidak mau menyerahkan diri pada mereka, jadi aku pergi untuk menemui mereka. Tapi aku merasa takut jika mereka malah akan menyakitiku jadi aku memutuskan untuk pergi dan mencari bantuan, beruntung aku bisa bertemu denganmu."
"Aku mohon, selamatkan dia. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika hal buruk sampai menimpanya. Dia adalah sahabatku dan keluarga yang aku miliki selain Key dan Sammy."
Ken menatap Luna dengan sendu. Hatinya benar-benar sakit dan berdenyut nyeri. Luna ada dihadapannya tapi rasanya begitu jauh. Dia tidak lagi mengingat dirinya apalagi masa lalu mereka.
"Kau salah jika berfikir demikian, Sayang, keluargamu yang sebenarnya bukanlah mereka tapi aku ... Suamimu!"
Ken mencengkram bahu Luna dan mengunci manik matanya. "Tenanglah, kita akan menyelamatkannya. Tunggulah di mobil, aku akan menghubungi Jimin dan Ren." Luna mengangguk. Wanita itu meninggalkan Ken dan berjalan ke arah mobil Ken diparkirkan.
🌹
🌹
BRAKKK...!!
"Akhirnya kau datang juga. Tapi sayangnya bantuan yang kau bawa itu tidak akan berguna sama sekali." Seorang pria menyeringai pada Luna.
"Di mana temanku?"
"Dia aman bersama kami."
"Kembalikan dia padaku," pinta Luna menuntut.
"Bawa wanita tak berguna itu kemari."
"Baik, Bos."
Brugg...!!
Mereka melemparkan tubuh Via yang sudah tidak berdaya ke lantai yang penuh debu. "Via," dan mata Luna membelalak melihat keadaan sahabatnya yang begitu mengenaskan.
Luna segera menghampiri Via dan memindahkan kepala wanita itu ke atas pangkuannya. "Kalian semua iblis, tega sekali kalian menyakitinya sampai seperti ini!" teriak Luna marah.
__ADS_1
"Itu adalah kesalahanmu. Jika saja kau mau menurut pasti wanita itu tidak akan menjadi korbannya. Apa yang kalian tunggu. Habisi kedua pria itu dan seret betina ini kehadapanku."
Doorr...!!
Ken melepaskan tembakkannya pada dua orang yang berjalan menghampiri Luna sebelum mereka berhasil menyentuh tubuh istrinya. Ken berjalan mendekati beberapa pria yang berlari kearahnya dan menembaki mereka dengan brutal.
Mayat-mayat bergelimpangan di lantai hanya dalam hitungan detik saja. Ken melirik Jimin dan Ren, keduanya mengangguk mengerti.
Ren dan Jimin mengambil alih perkelahian sedangkan Ken menghampiri pria yang berusaha untuk membawa Luna. Tubuh pria itu tersungkur di lantai setelah tendangan telak pada kepala dan ulu hatinya. Sementara Luna masih dalam posisinya, bersimpuh di lantai sambil memeluk tubuh Via yang dalam keadaan tak sadarkan diri.
Seorang pria keluar dari sebuah ruangan setelah mendengar sebuah keributan di luar. Pria itu sedikit terkejut saat melihat keberadaan Ken di markasnya. Pria itu menghampiri Ken dan menyapanya.
"Ada angin apa sampai-sampai, Tuan Zhao, mau menginjakkan kakinya di tempat seperti ini? Dan wanita ****** ini, Apa Anda datang untuk membantunya?"
"Jaga mulutmu jika kau tidak ingin aku merobeknya detik ini juga!" gertak Ken sambil menatap pria itu dengan tajam.
Glukk...!!
Susah payah pria itu menelan salivanya melihat tatapan tajam Ken yang seperti seekor singa yang sedang kelaparan. Dan dia tau betul jika yang berdiri dihadapannya bukanlah manusia melainkan Iblis berhati dingin dalam wujud malaikat. Berani mencari masalah dengan Ken sama saja dengan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma.
Karena di tangan Ken nyawa manusia seperti mereka tidak memiliki arti sama sekali seperti daun-daun kering yang telah terlepas dari rantingnya. "Ma-maaf, Tuan. Saya sungguh-sungguh tidak tau jika sebenarnya wanita ini adalah boneka mainan-"
Dorr...!!
"Aaahhh...!"
Pria itu memekik dan terlonjak kaget. Ken melepaskan tembakkannya secara tiba-tiba membuat kaca lukisan di samping kanannya hancur berantakan. Tubuh pria itu gemetar hebat dan peluh membanjiri di sekujur tubuhnya.
Dan melihat bosnya mulai terdesak dan tidak berdaya dihadapan Ken membuat anak buahnya yang tersisa sedikit ketar-ketir. Dalam hatinya mereka terus berdoa semoga Ken tidak membunuh mereka juga. "Tuan, kau mengejutkanku."
"Bukankah aku sudah memberikan peringatan padamu sebelumnya tapi kau malah mengabaikannya dan terus mengejar wanita ini sampai membuat dia begitu ketakutan sepanjang waktu. Jangan pernah menguji kesabaranku jika kalian tidak ingin bernasib seperti mereka yang sekarang hanya tinggal tengkorak saja."
"Ren, urus mereka. Jimin, segera bawa wanita itu ke rumah sakit. Jess, kau pulang bersamaku!"
"Tapi, Via?"
"Kau bisa menjenguknya besok, ini sudah larut malam. Dan kau tidak usah mencemaskannya, dia akan baik-baik saja."
Luna memandang Ken dan mengangguk. Wanita itu menerima uluran tangan Ken dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan ruangan remang-remang tersebut.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.