
Langit malam tampak begitu bersahabat, sang Dewi Malam bertahta di singgasananya. Terdapat jutaan manik-manik langit yang bertaburan di langit malam yang gelap dan sunyi. Menemani sang rembulan yang bersinar indah.
Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut coklat terang yang panjang terurai milik seorang gadis. Menambah sunyinya malam. Menemani gadis cantik itu. Pepohonan di luar terus bergoyang ria terkena terpaan angin. Mendengarkan setiap kata yang di lontarkan sang gadis.
"Hahhh," Gadis itu mendesah berat.
Beranjak dari duduknya. Menatap lelaki yang kini sedang sibuk dengan laptopnya. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul 20.00 tapi dia masih terjebak di tempat sialan ini bersama pria paling menyebalkan di dunia.
"Berhentilah menghela napas seperti seekor sapi betina yang kelaparan," sinis si pemuda tanpa menatap lawan bicaranya.
Gadis itu berdecak sebal. Dia bangkit dari tempatnya berdiri lalu menghampiri pemuda itu. Dengan kesal dia menekan pelipis yang tertutup perban itu dengan keras. "Viona, apa yang kau lakukan?!" Bentak pemuda itu yang pastinya adalah Kevin.
Kevin menyentuh permukaan perban itu yang terasa basah dan mendesis pelan. "Sial!! Malah berdarah lagi," gerutu pemuda itu melihat cairan merah samar yang ada di telapak tangannya.
"Salahmu sendiri, siapa suruh menyamakanku dengan sapi betina setelah menyebutku kucing liar. Anggap saja itu sebagai hukuman dariku!!"
"Ck, dasar gadis bar-bar. Sekarang bantu aku ganti perban." Kevin bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa.
Viona membuang muka. "Tidak mau!! Kau punya tangan yang utuh, tanpa aku bantu pun kau bisa melakukannya sendiri." Viona menolak.
"Jangan menguji kesabaran ku dan membuatku mengatakan untuk kedua kalinya. Atau kau memang sengaja membuatku kesal agar mendapatkan hukuman seperti tadi siang?!" Kevin menyeringai.
Kedua mata Viona membelalak. Buru-buru dia menghampiri Kevin lalu duduk disampingnya. Jangankan terjadi lagi, membayangkan yang sudah terjadi saja sudah membuatnya merinding. Apalagi kalau terjadi lagi, bisa-bisa mati berdiri.
"Berhenti mengancamku dengan hal menjijikkan seperti itu!!" Gerutu Viona sambil melepas perban berlumur darah itu pelipis Kevin.
Gadis itu meringis ngilu. Ternyata luka yang dia sebabkan lumayan lebar dan dalam, seharusnya dijahit tapi ini asal beri obat.
"Aku akan menjahit lukanya, begini-begini aku juga pernah berada di bidang medis." Ucap Viona lalu bangkit dari duduknya. Dia mengambil kotak kecil yang selalu tersimpan di tasnya dan dibawa kemana pun dia pergi.
Di dalam kotak kecil itu hanya ada jarum medis, benang, gunting kecil, obat bius dan beberapa jarum suntik. "Aku akan memberimu obat bius terlebih dulu supaya tidak sakit ketika aku menjahit lukanya." Ucap Viona lalu menyuntikkan obat bius itu disekitar lukanya.
Dan sepanjang Viona menjahit luka di-pelipisnya, tak sedikit pun Kevin meloloskan tatapannya dari gadis itu. Auranya terlihat berbeda saat dia sedang serius, sangat berbanding balik dengan ketika dalam mode bar-bar. Merasa diperhatikan, Viona mengangkat wajahnya dan balas menatap pemuda itu.
__ADS_1
"Apa?! Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Viona sedikit ketus.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Setelah ini kita pulang." Jawab Kevin lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain, malam ini cuaca diluar sangat bersahabat, sangat untuk jalan-jalan menikmati kota. "Tidak langsung pulang, temani aku jalan-jalan."
"Haruskah?! Kalau aku tidak mau bagaimana?"
Kevin menatap kembali ke dalam mata Viona, dan menguncinya seperti tadi. "Maka aku akan memaksamu!! Karena aku tidak suka penolakan!!" Ucap Kevin menegaskan.
Viona mendengus. "Dasar pemaksa!!" Gerutu gadis itu kesal. Dan Viona sudah tidak memiliki pilihan, selain menuruti kemauan Tuan Muda satu ini.
-
-
Demi membuat Aiden tertarik pada wanita diusianya yang sudah lewat dari setengah abad. Tuan Valentino terpaksa menembak putranya itu dengan memberikan obat perangsang ke dalam minumannya. Dia telah mengatur kencan buta untuk putranya itu dengan seorang wanita yang usianya lebih muda 5 tahun darinya.
Saat ini Aiden sedang bertemu dengan calon yang dipilihkan oleh sang ayah. Jika bukan karena terpaksa, Aiden tidak sudi mengikuti kencan buta seperti ini. Dia tidak ingin jika dikirim sampai ke Afrika Selatan.
"Tuan Aiden, bagaimana menurutmu tentang malam ini? Bukankah ini sangat romantis?" Wanita itu mulai membuka suaranya."Menikah denganku, kau tidak akan rugi. Karena aku adalah wanita yang sangat berpengalaman di atas ranjang."
Wanita itu mengangguk. "Tentu saja benar, aku sudah 70 kali pacaran, 20 kali menikah dan ratusan kali terlentang di atas tempat tidur. Dan aku sudah memiliki 15 anak."
Glukk...
Aiden menelan salivanya. 15 anak, jika dia sampai menikahi wanita ini, hartanya bisa habis untuk menghidupi anak-anaknya. Aiden menggeleng. Dia tidak ingin jatuh miskin di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Maaf, aku ke toilet sebentar." Ucap Aiden seraya bangkit dari kursinya. Dari pada dia mendapatkan masalah, lebih baik Aiden pergi dari sana. Dan malam ini juga dia akan membuat perhitungan dengan sang ayah.
-
-
Langit seutuhnya berwarna hitam ketika Kevin dan Viona menjejakkan kaki di Haneul Park. Partikel cahaya berwarna-warni menghiasi jalanan di sekitar mereka, membuat keduanya seolah berada di dunia imajiner.
__ADS_1
Dalam bahasa Korea sendiri, Haneul berarti langit. Dan di taman itu, mereka bisa menemukan 22 spot khusus yang dibuat untuk melihat beragam landmark kota Seoul, mulai dari Namsan Tower, Gunung Bukhansan, hingga Sungai Hangang.
Tak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara hilir mudik kendaraan yang tak terhitung jumlahnya.
Kedua mata Viona akhirnya berhasil membiasakan diri dengan kegelapan yang mulai menyelimuti kota. Kini dengan leluasa ia bisa mengamati keadaan di sekitarnya.
Indah. Inikah tempat yang dimaksud Kevin? Ternyata pemuda dingin mirip kulkas tiga pintu itu memiliki pandangan yang sangat baik akan tempat-tempat yang indah.
"Untung kau membawaku ke tempat seperti ini, jika tidak pasti aku akan sangat menyesal karena telah mengikuti orang sepertimu!!" Sebuah kalimat terucap dari bibir Viona, dan Kevin hanya menyikapinya dengan gumaman.
"Hn,"
Sepasang biner mata itu menatap Daikanransha(Kincir angin raksasa) yang berkilau dengan ratusan lampu menempel pada rangka kaki dan lingkarannya, juga pada kubikel-kubikel kecil yang digantung di sekeliling rodanya. Gedung-gedung pencakar langit di kota Seoul sendiri juga dihiasi oleh butir-butir cahaya aneka warna.
Hanya satu frase yang melintas di otak Viona saat ini.
Luar biasa.
Langit seolah menjadi warna latar yang berhasil mengombinasikan seluruh cahaya aneka warna itu, membaurkannya menjadi lukisan nyata yang artistik. Sekilas, Haneul Park seperti bagian dari tumpukan permata. Begitu indah dan memukau.
Ia berpaling dari jutaan cahaya itu, memandang wajah pemuda di sampingnya yang tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Ternyata pemuda dingin disampingnya itu tak seburuk yang Viona pikirkan selama ini. Gadis itu menarik sudut bibirnya.
"Terima kasih," ragu-ragu, ia berkata.
Pemuda itu menoleh. "Untuk?" Sebelah alis itu terangkat, ia dapat melihatnya dari pendaran sinar lampu.
"Membawaku ke sini." Jujur. Hanya itulah yang dapat ia sampaikan. Rasa terima kasih. Kejutan ini benar-benar tak terbayangkan sebelumnya, hari luar biasa yang sedang dijalaninya ini. Hari yang akan segera berakhir.
"Simpan saja terimakasih mu itu. Jangan banyak bicara lagi, biarkan aku menikmati tempat ini."
"Hm, Baiklah,"
-
__ADS_1
-
Bersambung.