PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Kepulangan Kevin 'Season 2'


__ADS_3

Bandara Incheon Internasional Airport siang itu padat seperti biasa. Meski langit diluar sana nampak mendung dan mengeluarkan rintihannya berupa hujan. Namun tak mengurangi sedikit pun aktifitas warganya.


Seorang pemuda tampan dengan mata coklat yang dingin keluar dari pintu bandara. Tangan kekarnya menyeret sebuah koper berwarna hitam. Saat orang lain melangkah masuk menghindari hujan, dia justru menghampirinya.


Menatap pada setiap tetesan hujan yang mengenai telapak tangannya yang terjulur. Dia kemudian mendongak, beralih menatap awan hitam diatas sana. "Ma, Pa, aku pulang." Gumamnya bersamaan dengan sebuah mobil sport hitam berhenti tepat didepannya.


Jendela mobil terbuka perlahan, memperlihat seorang pria tampan lainnya dibalik kemudi yang kini sedang tersenyum dan melambai padanya.


"Yo! Kevin."


Pemuda itu masuk ke dalam mobil tersebut yang detik itu juga meninggalkan bandara. Ini adalah kepulangan pertamanya setelah 5 tahun berada di luar negeri. Usianya kini sudah 25 tahun, dan alasan dia kembali adalah untuk melanjutkan bisnis keluarganya.


"Bocah, apa kau sedang sakit gigi? Kenapa kau tidak bicara sama sekali?!" Protes pria yang duduk di balik kemudi, matanya tetap fokus pada jalanan yang padat kendaraan.


"Memangnya apa yang perlu dibicarakan!!" Jawab dingin pemuda itu. "Aku lelah, sebaiknya kau jangan menggangguku!!" Ia memakai kembali kaca mata hitamnya dan mulai menutup matanya. Sedangkan pria yang 10 tahun lebih tua darinya itu hanya bisa mendengus sebal.


Sungguh tidak pernah terpikirkan oleh Cello jika dia akan memiliki seorang adik yang begitu menyebalkan. Dingin, irit bicara dan bermulut tajam. Kenapa Kevin harus mewarisi sifat ayah mereka saat masih muda dulu?! Atau bahkan Kevin lebih dingin dari Ken...


Empat puluh lima menit berkendara, mereka akhirnya tiba dikediaman keluarga Zhao. Kedatangan Kevin disambut oleh Luna yang langsung memeluknya. Sungguh betapa dia sangat merindukan putra bungsunya ini.


Saat itu di rumah hanya ada Luna. Karena Ken sedang berada di luar kota, Daniel tinggal diluar negeri semenjak menikah, sedangkan Marissa masih di rumah sakit. Marissa menjadi dokter yang hebat, dia adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.


"Ma, aku pulang!!"


-


-


I don't wanna live in a mini mini world


I don't wanna be a doll that you play with

__ADS_1


I can't pretend that there's no big big world there


Gadis itu membiarkan ponselnya terus berbunyi tanpa ada niat untuk mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Dan suara dering ponselnya yang terlalu nyaring membuat seseorang terganggu.


"Vi, sampai kapan kau akan membiarkan ponselmu terus berdering?! Angkat saja, suaranya membuat gendang telingaku hampir pecah!!" Keluh Sonia, dia sangat terganggu oleh suara berisik dari ponsel Viona.


"Biarkan saja, aku malas bicara dengan bajingan itu." Jawab Viona tak mau ambil pusing.


"Ck, tapi ponselmu itu sangat berisik. Jangan keras kepala dan angkat sebentar saja." Gerutu Sonia. Dia berharap kali ini Viona tidak akan keras kepala lagi.


Viona menatap sahabatnya itu dan mendecih sebal. Bukannya menerimanya, Viona malah mematikan ponselnya. "Nah, begini kan aman. Tidak ada lagi yang bisa menghubungiku dan mengganggu ketenangan mu!!" Ucap Viona dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Sonia hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Terkadang menghadapi orang seperti Viona memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi. Mengingat betapa menyebalkan dan keras kepalanya sahabatnya itu.


"Dokter Viona, kau dipanggil dokter Marissa." Ucap seorang perawat yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Gadis itu memakai kembali jad putihnya lalu melenggang keluar meninggalkan ruang kerjanya. Dia tidak tau apa lagi kali ini, kenapa dokter senior itu sampai memanggilnya lagi. Mungkinkah dia telah melakukan kesalahan?! Viona mengangkat bahunya, tidak seharusnya dia berpikir negatif.


"Senior, kau memanggilku?" Ucap Viona, setengah kepalanya menyembul dipintu.


"Ada apa senior memanggilku?" Viona bertanya langsung tanpa banyak basa-basi.


"Satu jam lagi kau ikut aku melakukan operasi besar. Aku ingin kau yang menjadi asistenku kali ini. Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak konsisten seperti Yunna."


Viona mengangguk semangat. "Dengan senang hati, Senior. Kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu. Setidaknya harus ada sedikit makanan yang masuk ke dalam perutku sebelum berperang. Baiklah senior, kalau begitu aku keluar dulu." Setelah berpamitan, Viona pun melengos keluar.


Marissa hanya terkekeh dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu. Entah kenapa dia jadi kepikiran untuk menjodohkan Viona dengan adik bungsunya yang dinginnya melebihi kutub Utara. Gadis bar-bar dan pria dingin, adalah sebuah kesatuan yang sempurna. Begitulah yang Marissa pikirkan.


-


-

__ADS_1


Aroma lezat masakan yang berasal dari dapur langsung membuat cacing-cacing dalam perut Kevin menggeliat-geliat. Pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya lalu melangkah keluar. Dia menghampiri sang ibu yang sedang menyiapkan makan siang.


Sudah sangat lama Kevin tidak pernah memakan makanan lezat buatan ibunya lagi. Lebih tepatnya sejak dia pergi ke Eropa 5 tahun yang lalu.


"Ma, apa yang sedang kau masak? Aromanya sangat lezat," ucap Kevin yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping sang ibu.


Luna menoleh sambil mengurai senyum lebar. Dia mengambil sendok disamping kanannya lalu meminta putra bungsunya itu untuk mencicipi masakannya. "Bagaimana? Enak tidak?" Tanya Luna memastikan.


"Tidak pernah mengecewakan. Masakan Mama memang tiada duanya." Jawab Kevin. Luna hanya terkekeh, dia mengambil piring dan mangkuk lalu menyiapkan nasi untuk putranya itu.


"Makanlah, bukankah kau sangat rindu masakan Mama."


"Terimakasih, Ma. Kau memang yang terbaik."


"Dasar kau ini,"


Hanya pada Luna, Kevin bisa bersikap hangat. Karana Luna adalah sebuah pengecualian di dalam hidupnya. Semenjak sang ayah menceritakan bagaimana perjuangan dan pengorbanan ibunya ketika melahirkan dirinya. Kevin menjadikan Luna sebagai prioritas utamanya.


Wanita itu pernah kehilangan nyawa ketika melahirkan dirinya. Namun ajaibnya dia hidup kembali setelah mendengar suara tangisnya. Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya saat ini jika wanita itu benar-benar tiada. Mungkin seumur hidup dia akan menyalahkan dirinya atas kepergian ibunya.


Tapi Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Dan itu merupakan sebuah anugerah terbesar yang Tuhan berikan bagi keluarga Zhao.


"Kenapa melamun? Apa yang kau pikirkan?" Tegur Luna melihat kediaman putranya. Kevin menggeleng. Kemudian dia mulai menyantap makanan yang telah Luna siapkan untuknya.


"Oya, Ma. Kapan Papa pulang. Rumah ini sangat sepi, Kak Daniel di luar negeri, papa di luar kota. Kapan rumah ini bisa sehangat dulu."


Luna mengusap Surai keabuan milik putranya. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Dalam beberapa hari, setelah papamu kembali dan kakakmu pulang. Rumah ini akan kembali hidup. Apalagi jika kau bisa menemukan menantu untuk Mama dengan segera. Pasti akan lebih hidup lagi," ujar Luna.


"Untuk satu itu sebaiknya Mama tahan dulu, karena aku belum memiliki keinginan untuk segera menikah!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2