PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Pencemburu Berat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari restoran, tak sepatah katapun keluar dari bibir Ken. Pria itu memilih Diam seribu bahasa dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.


Disampingnya, Luna terus menatap Ken dengan sebuah seringai lebar. Wanita itu tahu betul apa yang membuat suaminya ini kesal setengah mati.


"Oh, Ayolah Ken. Kau jangan seperti anak kecil, masa begitu saja marah?! Kami hanya saling mengobrol, karena sudah lama tidak bertemu. Lagipula senior adalah teman lamaku, masa iya aku harus bersikap sombong saat bertemu kembali dengannya?!" ujar Luna mencoba membujuk suaminya.


"Tapi apa perlu sampai harus berpelukan seperti itu?! Kau juga tersenyum dan berbicara sangat manis padanya," jawab Ken menimpali.


Luna kembali menyeringai. "Heh, sepertinya ada yang sedang cemburu berat nih," goda wanita itu sambil menekan-nekan pipi Ken dengan jarinya.


Ken yang merasa terganggu menepis tangan Luna. Bukannya tersinggung, Luna malah terkekeh. Jarang-jarang dia melihat Ken cemburu seperti ini.


Karena selama mereka menikah, tak sekalipun ada sesuatu yang menyebabkan pria itu cemburu. Sehingga Luna tidak tau bagaimana ketika suaminya ketika sedang cemburu, paling-paling dia cemburu karena Daniel.


"Presdir dingin sepertinya sedang cemburu," Luna kembali menggoda Ken, tapi dia tetap tidak mengakuinya.


"Ck, dalam mimpimu!!"


"Hahaha!! Padahal sudah terlihat jelas sekali tapi tidak mau mengakuinya. Dasar CEO sombong yang arogan!!" Cibir Luna namun tak dihiraukan oleh Ken.


Ken melonggarkan dasinya lalu melepas dua kancing teratas kemejanya. Cemburu sampai membuatnya gerah. Lagi-lagi Luna tertawa, dia geli sendiri melihat sikap suaminya yang seperti ini. Ken benar-benar terlihat menggemaskan.


"Apa yang kau tertawakan?! Apa menurutmu ini adalah hal yang lucu?!" Ken berbicara dengan sinis. Sedangkan Luna hanya menggeleng sambil tertawa. Ken benar-benar kesal setengah mati oleh sikap istrinya ini.


"Ken, kita mampir dulu ke Yanis's boutique ya."


"Untuk apa?"


"Ada sesuatu yang harus kubeli." Jawab Luna menimpali.


Kemudian Ken menghentikan mobilnya di sebuah Boutique yang disebutkan oleh Luna tadi. Wanita itu masuk sendiri sedangkan Ken menunggu di dalam mobil. Ken tidak tau apa lagi yang ingin Luna beli. Setahunya dia masih memiliki banyak pakaian baru yang belum dipakai.


Malas menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kemudian Ken turun dari mobilnya sambil membawa kotak rokok dan pematiknya, dia mengeluarkan satu batang lalu menyulutnya. Bara api berwarna merah tampak diujung batangan yang Ken hisap dengan nikmat itu.


Tubuhnya setengah bersandar pada kap depan mobilnya. Beberapa wanita tampak mencuri pandang padanya, tapi Ken menghiraukannya dan tak terlalu ambil pusing.


Pandangannya bergulir. Terlihat Luna keluar dari boutique itu sambil membawa sebuah paper bag di tangan kirinya, yang Ken sendiri tak tau apa isinya. "Ayo," Ken membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.


Dia menatap penasaran paper bag yang Luna letakkan di samping tasnya. "Sebenarnya apa yang kau beli di dalam tadi?" Tanya Ken penasaran.


Luna menyeringai. "Kau penasaran, eh?! Baiklah akan ku tunjukkan padamu." Luna mengambil paper bag itu lalu mengeluarkan beberapa helai lingerie yang baru saja dia beli tadi. Dan nyaris saja Ken muntah darah setelah melihat apa yang dibeli oleh istrinya.


"U..Untuk apa kau membeli pakaian-pakaian kurang bahan itu?" Ken bertanya dengan wajah memerah. Dia sungguh tidak tau apa maksud Luna.


"Hehehe... Tidak untuk apa-apa. Aku hanya suka saja, dan rencananya aku akan memakainya malam ini. Akhir-akhir ini udara sangat panas. Jadi sangat tidak nyaman memakai pakaian yang tertutup." Tuturnya.

__ADS_1


Ken membuang muka ke arah lain. Pria itu mencoba mengontrol dirinya sendiri. Bagaimana ini, baru melihat baju haram yang Luna beli saja sudah membuat senjatanya berdiri tegak, lalu bagaimana jika sampai melihat ketika Luna memakainya?! Bisa-bisa Ken akan kehilangan kendali akan dirinya sendiri.


Luna memicingkan matanya. Seringai masih senantiasa tercetak dibibir tipisnya. "Tapi, Ken, kenapa kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" Tanya Luna pura-pura tidak mengerti. Ken menyentak tangan Luna lalu kembali fokus pada kemudi.


"Diamlah, jangan mengganggu konsentrasi ku jika kau tidak ingin kita sama-sama celaka!!"


"Huh, baiklah. Aku akan diam!!"


-


-


"Aaahh...!! Kenyangnya."


Cello mengusap perutnya yang sedikit membuncit karena kekenyangan. Malam ini Nenek Zhao membawa mereka makan di sebuah restoran super mewah dengan berbagai hidangan lezat yang pastinya tak murah harganya.


Cello menghabiskan sedikitnya tiga porsi steak, 2 porsi spaghetti dan satu gelas jus semangka. Sedangkan Marissa makan dalam porsi normal.


"Sebenarnya itu perut atau karet. Bagaimana bisa kau makan sampai 5 piring sekaligus?!" Cibir Marissa melihat betapa rakusnya saudaranya itu.


Cello menatap Marissa dengan senyum lebar. Dia kemudian berbicara dengan penuh percaya diri. "Riri, jangan begitu pelit pada diri sendiri. Selama kita sehat dan nafsu makan kita baik, apa salahnya makan dengan porsi yang sedikit berlebihan. Bukankah makanan banyak menggambarkan tubuh yang sehat?!"


Marissa memutar jengah matanya. "Itu menurutmu, tapi sebenarnya kau itu rakus!!"


"Itu benar, Sayang. Jika Riri masih lapar, Riri bisa memesan lagi. Nenek buyut akan mentraktir apa saja yang ingin kalian makan malam ini."


"Aku mau, Nek!!" Sahut Daniel bersemangat.


"Kalau begitu kau bisa memesannya."


"Ye, Nenek Buyut memang yang terbaik."


-


-


Ken dan Luna tiba di rumah tepat pukul 9 malam. Pria itu langsung turun dan masuk lebih dulu. Bahkan dia tidak menunggu Luna yang sekarang berjalan mengekor dibelakangnya. Luna terkekeh, rupanya Ken masih kesal dan marah padanya.


Pria itu melepas satu persatu kain yang melekat ditubuhnya dan menyusahkan singlet hitam yang melekat pas ditubuh kekarnya. Luna masuk beberapa saat kemudian.


Tanpa mengatakan apa-apa, Luna melepaskan semua pakaiannya dan hanya menyisakan bra dan kain tipis yang menutupi area sensitifnya. Mata Ken membelalak, dia tidak tau apa yang sedang Luna lakukan dan rencanakan kali ini.


Sesekali Luna melirik Ken yang tampak membuang muka. Wanita itu menyeringai. Luna mengambil salah satu lingerie yang dia beli tadi lalu memakainya.


Warna merah yang melekat ditubuhnya seketika membuat gairah Ken terbangkitkan. Tapi sebisa mungkin dia menahannya, karena sekarang dia sedang kesal pada istrinya. Dan sepertinya Luna memang sengaja.

__ADS_1


"Jangan berpakaian seperti itu, kau bisa masuk angin," ucap Ken tanpa menatap lawan bicaranya.


Luna memperhatikan dirinya. "Kenapa dengan pakaianku? Aku rasa normal-normal saja. Dan bukankah sudah aku bilang jika udara malam ini sedikit gerah." Ujarnya. Luna terus memperhatikan Ken yang tampak menahan diri, dia ingin melihat sampai kapan Ken akan bertahan dengan harga dirinya yang tinggi itu.


"Luna, apa yang kau lakukan?!" Ken memekik kaget saat Luna tiba-tiba duduk dipangkuannya, pantatnya terus dia gesekkan sampai membuat sesuatu terasa menonjol dibawa sana. Luna menyeringai. "Luna, turun."


Luna menggeleng. Dia memeluk leher Ken dengan manja. "Tidak mau, aku ingin seperti ini. Tidak boleh?!" ucap Luna manja.


"Luna, sebenarnya kau mau apa?! Turunlah!!"


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Luna malah mengubah posisi duduknya hingga daerah terintim miliknya menekan kejant*nan Ken.


"Oh, sial!!"


Ken tidak bisa menahan des*hannya saat sosis beruratnya bergesekan dengan cel*na dalam Luna. Dia semakin mendongak dan mend*sah kecil saat tangan Luna aktif mengelus dadanya yang masih tertutupi singlet hitam polos dengan gerakkan naik turun yang sensual.


Luna tersenyum melihat Ken yang kini mendongak dengan kedua mata terpejam menikmati sentuhannya, dan dengan sengaja dia menghembuskan napas pelan dileher suaminya, membuat pria itu semakin tegang dan tegang.


Ken sedikit membuka mata melihat Luna yang sedang mempermainkannya. Tanpa berpikir dua kali, Ken mengangkat tubuh Luna lalu membantingnya kasar.


"Kkyyya!!" Luna memekik kaget.


Ken mendengus sebentar, jangan harap Luna bisa mempermainkannya. Hanya dia yang boleh bermain disini. Dia menyeringai. Luna yang kini dalam kungkungan tubuh besar dan tegap Ken, hanya bisa meringis melihat seringai suaminya.


Kemudian Ken mel*mat bibir Luna dengan sangat rakus, dan menggigitnya gemas.


"Aaahhhh..." Luna mendesah membuat Ken semakin ingin cepat menel*njanginya.


Saat Ken akan kembali mencumbu Luna, wanita itu melilitkan tangannya di leher Ken dan menariknya semakin dekat. Menciumi kulit leher pria itu, dan menghisap Jakunnya.


"Aaahhh! Luna..." Ken mend*sah dan mengeram secara bersamaan. Dia balas menciumi pipi Luna lalu turun keleher jenjangnya, lalu kembali naik kedaun telinga wanita itu, mel*mat dan menghisapnya.


"Aaahhh... Ken..." Desah Luna.


Kedua tangannya tidak tinggal diam, *******-***** rambut Ken membuat pria itu semakin menghisap dan mengulum telinganya lapar.


"Kau yang memulainya, Luna. Jadi jangan harap aku akan berhenti..." Bisik Ken serak disela mencumbu telinga dan leher Luna. Dia benar-benar terpancing. Luna memang sangat hebat dalam membuat suaminya menyerah.


Luna kembali menyeringai, rencananya berjalan dengan baik. Memang sangat mudah membujuk suaminya yang sedang ngambek. Sungguh tidak disangka, jika Ken adalah seorang pemburu berat. Tapi Luna senang, karena itu artinya Ken sangat mencintainya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2