
Luka-luka ditubuh Kevin telah diobati dan ditutup perban. Dia mendapatkan dua luka baru pada lengan kiri atas serta dadanya akibat sabetan benda tajam. Luka diperutnya kembali mengalami pendarahan akibat pukulan lawan, tapi untungnya Viona segera menghentikan pendarahannya.
Saat ini Kevin sedang beristirahat di kamarnya. Kehilangan banyak darah membuat kepalanya sedikit pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Sedangkan teman-teman Kevin sedang disidang oleh Viona.
Viona memarahi mereka habis-habisan karena datang terlambat. Tak satupun dari mereka berenam ada yang membuka suara apalagi menimpali ucapan Viona, mereka hanya menundukkan kepala tanpa mampu berkata-kata.
Menurut mereka, Viona sangatlah mengerikan, apalagi kalau sudah mengomel. Dan jika diperhatikan, Viona mirip emak-emak yang sedang memarahi anak-anaknya karena bandel dan susah diatur.
Sementara itu. Kevin yang berada di kamarnya hanya bisa mendengus geli, dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah mereka berlima ketika dimarahi oleh Viona. Suara Viona begitu keras sampai kelantai dua.
Perhatian Kevin teralihkan oleh dering ponselnya. Ekspresi wajahnya berubah datar ketika menerima panggilan tersebut.
"Katakan,"
"Tuan, mereka mengawasi mansion utama. Sepertinya target mereka bukan hanya Anda tapi seluruh keluarga Zhao. Apa kami perlu mengambil tindakan atau memantaunya terlebih dulu?"
"Langsung ringkus saja. Semakin cepat semakin baik, kali ini aku sedang terluka dan tidak bisa berbuat banyak. Masalah ini aku serahkan padamu, ringkus semua anak buah Marco dan jangan sisakan satu pun."
"Baik, Tuan. Saya mengerti,"
Kevin memutuskan sambungan telfonnya dan mendesah berat. Dia tidak menduga jika masalahnya akan menjadi serumit ini. Jika seperti ini terus, bisa-bisa Viona juga terlibat. Dan Kevin sedang memikirkan cara supaya gadis itu tidak sampai terlibat dalam masalah yang tengah ia hadapi saat ini.
Ia berpikir untuk mengiring Viona menjauh darinya. Mungkin dengan begitu ia akan aman dan baik-baik saja. Karena Marco Kwon pasti akan memburu semua orang yang dekat dengannya, termasuk Viona. Dan dia tidak boleh tau jika gadis itu adalah kelemahannya.
Kevin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar. Ia menghampiri Viona yang sedang bersama teman-temannya. "Aku ingin bicara denganmu,"
"Ya sudah langsung bicara saja," pinta gadis itu. Dia menatap Kevin penasaran, pasalnya Viona tidak pernah melihat Kevin seserius itu sebelumnya.
"Sebaiknya mulai sekarang kita jaga jarak. Kau dan aku berasal dari dunia berbeda. Aku tidak ingin jika kau sampai terlibat dalam masalah yang aku hadapi saat ini. Alangkah baiknya jika kau dan aku tidak pernah bertemu dan mengenal sejak awal. Pulanglah, tempat ini tidak aman bagimu," kemudian Kevin berbalik dan pergi begitu saja.
Viona yang tidak mengerti apa yang Kevin bicarakan segera mengejarnya. Gadis itu menginginkan sebuah penjelasan darinya. Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Kevin ingin agar mereka saling menjauhi.
__ADS_1
"Kevin, tunggu!!" Seru Viona sembari menahan pergelangan tangan Kevin. "Aku benar-benar tidak mengerti. Apa maksudmu mengatakan itu semua? Lalu kenapa jika aku sampai terlibat? Lagipula aku bukan gadis lemah yang harus selalu kau lindungi, jadi jangan mengatakan omong kosong lagi!!"
"Apa kau tau, keberadaanmu hanya menghambat langkahku. Terlebih-lebih kau sangat merepotkan, aku sudah muak dengan semua tingkah dan perilakumu selama ini. Ini adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Dan saat bertemu pun, bersikaplah seolah kita tidak pernah saling mengenal!!"
Air mata Viona jatuh begitu saja. Dadanya terasa sesak mendengar apa yang Kevin katakan. Apa dia tersinggung, apa dia sakit hati? Rasanya sungguh tidak masuk akal. Gadis itu menyeka air matanya.
"Oke, jika memang itu yang kau inginkan. Mulai detik ini kita hanyalah orang asing!!" Viona menyambar tasnya yang ada di atas tempat tidur Kevin dan pergi begitu saja.
Kevin menutup matanya dan menghela napas panjang. Sebelah tangannya meremas dadanya yang terasa sesak. Mungkin inilah yang terbaik agar Viona tidak terlibat, lebih baik membuatnya membenci dirinya dari pada harus melihatnya celaka.
"Maaf, Vi. Tapi semua ini aku lakukan karena aku tidak ingin kau sampai celaka. Lebih baik kau membenciku daripada kau terluka karena ku. Sejak awal pertemuan kita memang sudah tidak benar, karena kau dan aku berasal dari dunia yang berbeda."
-
-
"Darimana saja kau?!"
Langkah kaki Viona dihentikan oleh Minna. Entah darimana datangnya tiba-tiba perempuan itu sudah ada dihadapannya. Viona yang sedang dalam mood buruk langsung mendorong Minna yang menghalangi jalannya seraya berkata dingin.
Tangan kanan Viona menyentak cangkir berdiri coklat panas ditangan Minna. Akibatnya minuman itu menumpahi dada Minna dan membuat gadis itu memekik kepanasan.
"Ahh.. panas, panas... Yakk!! Gadis brengsek, apa kau sudah bosan hidup eo?!" Teriak Minna penuh emosi.
Buru-buru Minna berlari ke kamarnya untuk melihat apakah dadanya melepuh atau tidak. Pasalnya coklat panas itu baru saja dia sedu. Dan Minna bersumpah akan membalas perbuatan Viona padanya.
.
.
"Apa kau tau, keberadaanmu hanya menghambat langkahku. Terlebih-lebih kau sangat merepotkan, aku sudah muak dengan semua tingkah dan perilakumu selama ini. Ini adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Dan saat bertemu pun, bersikaplah seolah kita tidak pernah saling mengenal!!"
__ADS_1
Kata-kata Kevin kembali terngiang-ngiang ditelinga Viona. Dengan mudahnya pemuda itu mengatakan kalimat yang melukai perasaannya. Apa Kevin tidak berpikir jika yang dia katakan membuat dadanya terasa sesak.
Padahal ia dan Kevin tidak ada hubungan apa-apa. Tapi kenapa hatinya terasa sakit. Apakah mungkin Viona sudah jatuh cinta padanya? Rasanya itu tidak mungkin, tapi kenapa hatinya sesakit ini?
Viona menyeka air matanya yang kembali menetes. Dadanya benar-benar sesak. Rasanya tak jauh berbeda dengan ketika David meninggalkannya dulu. Dan ini sedikit lebih sakit.
"Dasar Kevin Zhao menyebalkan, bisa-bisanya dia bersikap sekejam itu padaku?! Lihat saja nanti, bahkan sampai kambing beranak kerbau, aku juga tidak akan pernah memaafkannya!!"
"Cantik, kau lagi patah hati ya?!"
"Omo!!" Viona terlonjak kaget karena kemunculan Suketi yang begitu tiba-tiba. Nyaris saja dia terkena serangan jantung dadakan karena ulah hantu asal Indo itu.
Dengan kesal Viona melemparkan bantal kearah wajah Suketi dan membuat kepalanya sedikit mendongak kebelakang. "Yakk!! Hantu edan, apa tidak bisa saat muncul tidak usah mengejutkan orang lain eo?! Bagaimana kalau aku sampai jantungan dan mati mendadak karena ulahmu!!" Viona mengomeli Suketi habis-habisan. Hantu itu benar-benar membuatnya naik darah.
"Huhuhu...!! Kenapa Suketi selalu jadi sasaran orang patah hati. Tadi si tampan, sekarang kau. Padahal Suketi cuma ingin menghibur saja." dia memanyunkan bibirnya.
"Tunggu, kau bilang siapa? Si tampan? Apa yang kau maksud adalah Kevin Zhao?" Viona menatap Suketi penasaran.
Hantu gaul itu mengangguk. "Memangnya siapa lagi kalau bukan dia. Aku mau menyebut Nathan dia sudah tua, dan satu-satunya si tampan yang Suketi kenal cuma dia." Tuturnya.
"Oke, kalau begitu katakan padaku. Apa yang terjadi padanya dan kenapa kau bisa mengatakan jika dia sedang patah hati?" Viona benar-benar penasaran.
Melihat Viona yang begitu antusias membuat Suketi bersemangat. "Saat Titi ke sana, dia sedang mabuk berat. Terlihat jelas jika dia sedang patah hati. Dan saat menatapmu pergi, pandangannya terluka. Kemudian dia berkata seperti ini~"
"Dia berkata apa?" Viona semakin penasaran.
"Maaf, Vi. Tapi semua ini aku lakukan karena aku tidak ingin kau sampai celaka. Lebih baik kau membenciku daripada kau terluka karena ku. Sejak awal pertemuan kita memang sudah tidak benar, karena kau dan aku berasal dari dunia yang berbeda."
Otak Viona kembali berpikir keras. Dia harus bisa memecahkan teka-teki dari ucapan Kevin itu. Apakah dia melakukan hal itu demi melindunginya, atau karena hal lain. Viona harus segera mencari tahunya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.