
Mungkin banyak yang menganggap jika Jung Hilman dan cucu-cucunya adalah orang-orang bodoh karena membiarkan para pembunuh tinggal dan hidup enak di rumah mereka.
Mereka memiliki alasan kuat kenapa sampai saat ini belum mengambil tindakan apalagi memenjarakan Amelia dan anak-anaknya. Karena selama ini mereka hanya menduga-duga, apalagi polisi mengatakan jika kematian orang tua Viona dan kakak-kakaknya adalah murni kecelakaan.
Karena tanpa bukti yang kuat. Mereka tidak mungkin bisa memasukkan para pembunuh itu ke dalam penjara. Amelia bukanlah orang bodoh, dia sangat cerdik dan licik. Permainannya terlalu halus sehingga apa yang dia lakukan tidak mudah terendus.
Hilma sudah menyelidikinya berkali-kali dan tak sedikit pula uang yang dia keluarkan untuk mengungkap kematian putra dan menantunya. Tapi tetap berakhir nihil dan sia-sia. Dia tetap tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sampai akhirnya insiden yang nyaris merenggut nyawa Vincent dan Lucas, dari situ dia mulai mendapatkan sebuah titik terang meskipun bukti-bukti yang dia dapatkan belum terlalu kuat.
Hilman menyelidiki kembali, namun sedikit bukti yang dia dapatkan malah lenyap. Satu-satunya saksi ditemukan tewas dikediamannya sebelum dia berhasil menginterogasinya. Dan hal itu tentu saja membuat Hilman menjadi frustasi setengah mati.
Keselamatan ketiga cucunya kini dipertaruhkan. Kedua cucu laki-lakinya sudah hampir meninggal, tak menutup kemungkinan bila Viona juga akan menjadi sasaran mereka selanjutnya.
Dan jika saja Hilman mengusir Amelia dan anak-anaknya, justru hal itu akan lebih membahayakan keselamatan keluarganya.
Selama Amelia masih tinggal serumah dengannya. Hilman jadi lebih bisa mengawasi gerak-geriknya.
Dan alasan Jung Hilman memanggil Amelia dan anak-anaknya untuk tinggal dengannya adalah, sejak dia mendapatkan sedikit bukti jika kematian putra dan menantunya berhubungan erat dengannya.
"Vi, berhentilah mondar-mandir seperti setrika. Kau membuat kepala kakak pusing," keluh Vincent melihat apa yang dilakukan oleh sang adik.
Viona terus saja mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Kebiasaan yang selalu Viona lakukan ketika sedang panik, cemas ataupun gelisah.
"Kak, sepertinya memang benar jika ular betina itulah pelakunya. Kau lihat bagaimana ekspresinya tadi saat melihatmu masih hidup, juga saat kita mengungkit tentang kematian mama dan papa. Dia terkejut dan sampai berkeringat dingin,"
Vincent mengangguk. "Sebenarnya aku, Kakek dan kakak sudah lama mencurigai dia dan Paman sebagai pelakunya. Tapi Paman juga menjadi korban dalam kecelakaan itu, itu membuat kami bertiga frustasi." Ujar Vincent.
"Rupanya mereka tidak hanya licik, tapi juga sulit dihadapi. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, tidak mungkin kan jika kita tetap membiarkan para pembunuh itu berkeliaran bebas disekitar kita?" Viona menatap Vincent.
Vincent menggeleng. "Untuk saat ini Kakak masih belum memiliki rencana apapun, kita akan memikirkannya pelan-pelan. Sebentar lagi Kak Lucas kembali, kita bertiga bisa membicarakan hal ini sama-sama." Ujarnya. Viona mengangguk.
"Aku mengerti, kalau begitu aku siap-siap dulu. Sebentar lagi Kevin pasti datang menjemputku," ucap Viona.
__ADS_1
Mata Vincent membelalak. "Tunggu dulu, kau bilang siapa? Kevin?! Apa Kevin Zhao?" Ia memastikan. Lagi-lagi Viona mengangguk.
"Kakak mengenalnya?" Viona menatap Vincent penasaran.
"Tentu saja kenal, dia dan Kakak adalah teman satu kampus. Kami juga berteman baik, tapi aku dan dia lost kontak selama bertahun-tahun. Jika saja Kakak tau yang saat itu bersamamu adalah Kevin, pasti Kakak sudah menghampiri kalian berdua." Ujarnya.
Usia Vincent dan Kevin berbeda satu tahun, bagaimana mereka bisa menjadi teman satu kampus. Usia Vincent 26 tahun dan Kevin 25, mungkin bukan teman sekelas hanya satu kampus. Begitulah yang Viona pikirkan.
Gadis itu mengangkat bahunya acuh, untuk apa terlalu memusingkannya. Lebih baik dia bersiap-siap sekarang. Viona tidak ingin membuat kulkas tiga pintu sampai protes karena dirinya terlalu lama berdandan.
-
-
Kevin menghentikan mobilnya dihalaman luas mansion mewah milik keluarga Jung. Pemuda itu turun dari mobil mewahnya dan melenggang masuki bangunan yang memiliki tiga lantai itu. Kevin disambut oleh seorang pelayan yang kemudian memintanya untuk menunggu.
Sementara itu...
Jantung Minna berdegup dua kali lebih kencang setelah wajah tampan itu terlihat sepenuhnya. "Ya Tuhan, apakah dia adalah jodoh yang kau kirimkan untukku," ucap Minna dengan wajah memerah.
"Bukan!! Tapi jodoh yang dikirim oleh Tuhan untuk Viona," sahut seseorang dari belakang. Vincent berjalan kearahnya. Gadis itu langsung menunjukkan tatapan tak bersahabat nya.
Kevin menoleh, dia sedikit terkejut dengan keberadaan Vincent di rumah ini. Tapi detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas, bagaimana dia bisa lupa jika Vincent dan Viona memiliki nama marga yang sama 'Jung'
"Pantas saja, tidak mengherankan jika adiknya sangat bar-bar. Ternyata kakaknya adalah pria gila ini," batin Kevin dengan seringai tipis disudut bibirnya.
"Pergilah, keberadaanmu disini hanya mengganggu pemandangan saja!!" Sinis Vincent. Minna menghentakkan kakinya kesal. Dengan hati setengah dongkol, dia meninggalkan ruang tamu.
Vincent mengukir senyum lebar di bibirnya. Dia merentangkan kedua tangannya. "Sobat, kemarilah dan segera peluk Kakak." Pinta Vincent yang hanya disikapi decakan sebal oleh Kevin.
"Kekanakan!!"
Vincent mencebikkan bibirnya. "Dasar menyebalkan, sudah empat tahun, tapi kenapa kau masih seperti kutub Utara. Benar-benar tidak asik sama sekali. Padahal sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," ujarnya.
__ADS_1
"Hn,"
Lagi-lagi bahasa planet itu. Vincent menghela napas. Benar-benar tidak berubah sama sekali, pikirkan-nya. Vincent duduk berhadapan dengan Kevin. Dia tidak ingin membuat teman lamanya ini sampai kebosanan menunggu Viona yang masih berdandan di kamarnya.
"Bagaimana kabarmu, Key?"
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Kau sendiri bagaimana? Dan bagaimana kau bisa selamat dari kecelakaan itu, saat masih di luar negeri aku mendengar kau dan Lucas Hyung nyaris mati karena kecelakaan maut."
Vincent mengangguk. "Ya, tapi Tuhan masih menyayangi kami. Meskipun sempat lumpuh selama beberapa bulan, tapi akhirnya aku bisa normal kembali. Ceritanya sangat panjang, lain kali aku akan ceritakan padamu." Ucapnya. Kevin mengangguk.
Obrolan mereka diinterupsi oleh seorang pelayan yang datang membawakan minuman untuk Vincent dan tamunya. "Minum dulu, Viona sedang berdandan di kamarnya. Oya, bagaimana kau dan gadis bar-bar itu bisa bertemu?" Tanya Vincent penasaran.
"Hn, secara tidak sengaja."
"Begitu ya, mungkin saja Tuhan memang sudah mentakdirkan kalian berdua untuk berjodoh, hahaha.."
Kevin hanya tersenyum menyikapi ucapan Vincent. Berjodoh, rasanya mustahil. Apalagi dengan ketidakpekaan Viona, tetapi Kevin akan menyerahkan semuanya pada takdir. Jika dia dan Viona benar-benar berjodoh, pasti suatu saat mereka akan bersatu.
Disaat Kevin sedang sibuk dengan pikirannya. Orang yang sedari tadi dia tunggu sedang menghampirinya. Dia terlihat begitu cantik dan anggun. Viona menuruni tangga dengan langkah tenang. Dan sepertinya Kevin belum menyadari kedatangannya.
"Apa aku membuatmu menunggu lama?" Sampai sebuah suara masuk dan berkaur di dalam telinganya.
Dengan serentak. Kevin dan Vincent menoleh. Kevin langsung bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Viona. Untuk sesaat dia terpanah oleh kecantikan Viona malam ini. Detik berikutnya, sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia mengulurkan tangannya pada Viona.
"Sudah siap?"
Gadis itu mengangguk. "Ya," jawabnya sambil menerima uluran tangan Kevin. Setelah berpamitan pada Vincent, keduanya meninggalkan kediaman Jung. Viona tidak bisa sampai terlambat tiba di pesta.
-
-
Bersambung.
__ADS_1