
Perjalanan Viona dan Kevin harus terganggu oleh kemunculan sebuah Van hitam yang menghadang perjalanan mereka. Beberapa pria bersenjata keluar dari Van itu lalu menghampiri mobil Kevin.
Kevin sudah tau siapa mereka dan orang yang mengirimnya. Dia mendapatkan kabar dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu memintanya untuk berhati-hati karena ada yang ingin menghabisinya.
Tak terlihat kecemasan sedikit pun di raut wajahnya. Kevin tetap terlihat tenang. Kevin menghubungi seseorang dan meminta mereka untuk membereskan para amatiran itu.
"Bereskan orang-orang tidak berguna itu sekarang juga. Segera hubungi polisi dan ringkus pria bernama Kai Kim." Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Viona menoleh dan menatap pandangan terkejut. "Kai, jadi dia yang mengirim orang-orang itu?" Kevin mengangguk.
"Kau tidak perlu cemas, aku sudah meminta Jonas untuk memberikannya. Dia akan didakwa dengan beberapa kasus. Pembunuhan berencana, penggelapan dana perusahaan dan beberapa kasus lagi. Vincent sudah menceritakan semuanya padaku dan diam-diam aku menyelidikinya. Jadi kau tidak perlu cemas dan memikirkan apapun." Ujarnya.
Viona tersenyum. Dia berhambur ke dalam pelukan Kevin. Viona sangat beruntung memiliki Kevin disampingnya. Dan pilihannya memang tidak pernah salah, karena Kevin adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan untuknya.
Jonas dan anak buahnya tiba tepat waktu. Kevin pun bisa langsung pergi. Ia tidak perlu turun tangan sendiri karena Jonas bisa menyelesaikannya.
-
-
Suara deburan ombak terdengar indah bersama hembusan angin yang memecah keheningan disore yang tenang. Langit begitu cerah dan matahari bersinar cukup terik membuat hawa disekitar terasa panas. Samar terlihat siluet laki-laki bersurai blonde berdiri ditepi pantai, memandang hamparan luas laut biru yang menyejukkan mata.
Angin menyapa melalui sentuhannya. Rambut blondenya berkibar karna terjangan angin nakal. Bagaikan sebuah kaleidoskop, manik abu-abunya memantulkan warna-warni menakjubkan dari sang Raja siang.
Camar berterbangan diangkasa luas yang berhiaskan gumpalan-gumpalan putih yang berarak. Kevin menghela nafas kala molekul-molekul oksigen dengan aroma laut yang khas memenuhi paru-parunya.
"Kevin,"
Denting suara bagai lonceng yang berkaur membuat Kevin menoleh dan mendapati sosok gadis berparas barbie berdiri dengan anggunnya. Surai coklat panjangnya berkibar, begitu pula dengan dress putih tulang yang membalut tubuh rampingnya. Kevin beranjak dari posisinya dan menghampiri Viona.
"Kau sudah bangun?"
__ADS_1
"Berapa lama aku tertidur? Dan kenapa kau tidak membangunkanku??" Ucap Viona sambil sesekali mengucek matanya.
"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu!!" tutur Kevin.
Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil celingukan. "Ngomong-ngomong kita ada dimana?? Kenapa aku seperti mendengar deburan ombak!!" kata Viona,
Kevin mengerutkan dahinya. Sepertinya gadis itu masih belum sadar jika saat ini ia tengah berdiri diatas pasir pantai, sampai akhirnya...
Byurrrr!!!
Deburan ombak mengalihkan perhatiannya. Mata Amber-nya itu pun berbinar seketika setelah menyadari dimana kini ia berada "Hua! Pantai!!" serunya kegirangan.
Mengabaikan Kevin yang berdiri didepannya, gadis itu berlari menuju bibir pantai. Kevin mendengus geli melihat tingkah kekanakan gadisnya itu. Saat ini Viona tengah bermain-main dengan ombak, Viona berdiri dibibir pantai, namun saat ombak datang gadis itu berlari menjauh sambil terkikik geli merasakan pasir pantai yang menggelitik kaki telanjangnya.
Tak ingin melewatkan moment itu, Kevin mengeluarkan ponselnya dan mengabadikannya dalam sebuah video. Pemuda itu tersenyum puas setelah mendapatkan hasil yang sangat sempurna. Memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, Kevin menghampiri Viona.
"Vio, apa yang kau lakukan?" dan kedatangan Kevin langsung disambut oleh air laut yang dicipratkan Viona ke wajahnya.
Sebagai tersangka utama, bukannya merasa bersalah, Viona malah tertawa lepas. Tidak hanya sekali saja, Viona melakukannya sampai berkali-kali "Viona sudah, kau membuat pakaianku basah!"
"Kau harus menerima hukumannya nona Jung!!" kata Kevin sambil menarik lengan Viona membuat gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Memangnya hukuman seperti apa yang akan kau berikan, hm?" Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin, mata mereka saling mengunci.
"Inilah hukumanku!!!" Kevin memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka.
Kevin mel*mat bibir Viona, atas dan bawah secara bergantian. Alih-alih menolak, Viona malah menikmati ciuman itu. Ciuman yang sangat manis dan berkesan, karena mereka melakukannya bersamaan dengan Matahari terbenam diiringi deburan ombak yang menghantam batu karang serta semilir angin yang menyambut datangnya malam.
Kevin terus mel*mat bibir Viona, lidahnya mengobrak-abrik isi dalam mulut Viona, mengabsen deretan gigi putihnya dan sesekali Kevin mengajak l!dah Viona menari bersama. Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan Kevin benar-benar mengakhiri ciumannya saat Viona kehabisan nafasnya.
"Terimakasi karna sudah mewujudkan impianku yang lainnya. Saat aku masih remaja, aku selalu bermimpi mendatangi pantai bersama pasanganku tapi hal itu tidak pernah terwujud. Aku membayangkan kami berjalan ditepi pantai sambil bergandengan tangan, bermain kejar-kejaran kemudian melihat matahari terbenam."
__ADS_1
"Dan hari ini, di pantai ini impian itu akhirnya bisa aku wujudkan. Terimakasih Kevin Zhao, karena sudah hadir dan memberi warna baru dalam hidupku. Aku mencintaimu!!"
Kevin menarik bahu Viona dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sudut bibir Viona tertarik ke atas menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya. Viona mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Kevin.
"Kau adalah impian terindahku, Sayang!! Aku pikir memilikimu hanyalah sebuah angan-angan saja, dan sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud. Kau adalah anugerah yang Tuhan berikan untukku, terimakasih sayang, karena sudah hadir dan melengkapi hidupku."
",Aku memang bukan pria baik-baik, aku bukan tipe pria yang romantis tapi aku akan berusaha untuk menjadi kekasih yang selalu bisa kau andalkan. Aku akan menjaga dan melindungimu, aku sangat-sangat mencintaimu, Viona Jung!!"
Kevin melepaskan pelukannya, dibelainya wajah cantik Viona. Menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. Kevin menekan tengkuk Viona untuk semakin memperdalam ciumannya
"Eeeungghhh!!" Lenguhan panjang keluar sela-sela ciuman panas mereka. Saat tangan Kevin bergerak liar di atas punggung Viona.
Mereka saling merotasikan kepalanya, menciptakan sensasi berbeda dalam ciuman itu "Ugghhhh!!" des*han Viona semakin tak terkendali ketika tangan Kevin meremas pay*daranya. Meskipun tak tersentuh langsung karena terhalang pakaian yang dia kenakan, namun sentuhan itu cukup membuat Viona ter*ngsang.
Posisi mereka tidak lagi berdiri, mereka bertumpang tindih. Viona terbaring di atas hamparan pasir pantai dengan Kevin berada diatasnya. Kaki Kevin mengunci kaki Viona, sedangkan tangan kirinya berkeliaran diatas perut rata sang kekasih yang mulai menegang.
Ciuman yang awalnya hanya sentuhan-sentuhan lembut berubah menjadi ciuman panas dan menuntut. Mereka begitu menikmati ciuman itu, melalui ciuman itu baik Kevin maupun Viona ingin menyampaikan betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki untuk sang kekasih, begitu pula dengan Viona.
Setelah hampir 1 menit mereka berciuman tanpa jeda, akhirnya Kevin mengakhiri ciuman itu ketika ia dan Viona sama-sama membutuhkan banyak asupan oksigen untuk mengisi paru-paru mereka yang telah kosong.
"Kau benar-benar gila, Key!" kata Viona tanpa merubah posisinya.
Kevin tersenyum tipis. "Jika saatnya sudah tiba, aku akan menunjukkan hal yang lebih gila dari ini!!" ujarnya.
Kevin kembali mel*mat bibir Viona, namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya. Kevin memeluk Viona tanpa merubah posisinya. "Aku akan memelukmu seperti ini, karena kau adalah takdir yang aku inginkan." bisik Kevin.
Kevin bangkit dari posisinya lalu mengulurkan tangannya dan membantu gadis itu untuk berdiri. "Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang!!" Viona mengulum senyum tipis dan mengangguk.
"Baiklah!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.