PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Mati-matian Luna menahan air matanya agar tidak menetes. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya sebentar lagi, Luna sudah sangat merindukannya, rindu untuk bertemu satu-satunya orang tua yang masih dia miliki.


Saat ini Luna, Ken, Daniel dan Devan sedang dalam perjalanan menuju kediaman Valentino setelah tiba di bandara 10 menit yang lalu.


Baik Ken maupun Luna sengaja merahasiakan kedatangan mereka dari Tuan Valentino dan Aiden. Mereka ingin memberikan sebuah kejutan besar pada Tuan Valentino jika sebenarnya Luna masih hidup.


Luna mengangkat sedikit wajahnya saat merasakan genggaman lembut pada jari jemari lentiknya. Wanita itu tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit gugup. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan Papa," ujarnya setenang mungkin.


"Kita hampir sampai, Papamu sudah tidak tinggal di mansion lamanya. Sejak kecelakaan itu, dia memutuskan untuk pindah rumah karena di mansion itu menyimpan sedikit kenangan tentangmu dan dia tidak ingin tersiksa oleh hal itu." Tutur Ken.


Luna menundukkan wajahnya. Air mata kembali menetes dari pelupuknya. Apa sebegitu penting kehadirannya bagi mereka semua, sampai-sampai semua orang begitu kehilangan ketika dirinya diyakini telah meninggal.


"Pasti Papa sama sakitnya sepertimu, aku sudah menyakiti kalian semua. Andaikan kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Andaikan saja aku tidak hilang ingatan, pasti keadaannya tidak akan seperti ini dan anak kita masih ada. Mereka pasti lahir menjadi anak yang lucu dan imut. Sungguh, Ken. Aku menyesali takdir kejam yang Tuhan berikan pada kita." Ujar Luna dengan suara paraunya.


Ken membawa Luna ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat. Menjadikan kepala Luna sebagai tumpuan dagunya.


"Tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Tapi itu adalah rencana Tuhan, dan apa yang bisa kita lakukan jika dia sudah berkehendak?! Sebagai manusia biasa, kita hanya bisa mengikuti jalan takdir yang sudah Tuhan tentukan untuk kita."


Dan sementara itu...


Devan yang mendengar kata-kata bijak yang keluar dari bibir Ken hanya bisa melongo tak percaya. Dia meyakinkan diri sendiri jika tidak ada yang salah pada pendengarannya. Ken, si iblis tanpa hati bisa berbicara sebijak dan sedewasa itu? Sungguh tidak bisa dipercaya.


Setelah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Akhirnya mereka tiba dikediaman Tuan Valentino. Tidak ada yang menyadari kedatangan mereka termasuk Aiden karena Ken tidak memberitahunya.


Luna yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya segera turun dan berlari memasuki bangunan megah tersebut. Sedangkan Ken dan yang lain mengekor dibelakangnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Luna melihat sang ayah yang sedang berbincang dengan beberapa pria yang sepertinya adalah rekan kerjanya. Tapi dia tidak peduli, bahkan dua satpam yang menghalanginya untuk masuk pun dia hiraukan. Luna hanya ingin segera bertemu dengan ayahnya.


"Nona, Anda tidak bisa masuk. Tuan, sedang ada tamu penting!!"


Dan teriakkan itu menyita perhatian 5 orang di dalam sana. Kelimanya menoleh, tuan Valentino langsung bangkit dari duduknya setelah melihat siapa yang saat ini berdiri tak jauh dari tempatnya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Lu...Luna," bisik Tuan Valentino dengan nada rendah.


Luna menghapus air matanya dan berlari menghampiri sang ayah sambil berteriak memanggilnya. "PAPA...!!" Tubuh Tuan Valentino terhuyung kebelakang karena pelukan Luna yang tiba-tiba. Luna memeluk sang ayah dan menangis sejadi-jadinya.


Dan pertemuan antara ayah dan anak yang begitu mengharukan itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu membisu. Mereka ikut terharu melihat pertemuan ayah dan anak yang terpisah lama itu termasuk Ken yang saat ini juga terlihat menghapus air matanya.


"Papa, aku pul~"


Kalimat Aiden terpotong karena keberadaan seorang perempuan yang sangat mirip dengan Luna yang saat ini sedang berpelukan dengan ayahnya. Dia juga melihat Ken, Daniel dan Devan, dan kemungkinan besar, Jessline Jung yang selama ini tinggal di tempat Ken adalah Luna yang hilang ingatan.


"Aiden, adikmu sudah kembali. Dia kembali pada kita, ternyata dia tidak pernah pergi dari kita."


Aiden mengangguk. "Aku sudah tau, Pa. Aku tau jika selama ini dia tidak pernah pergi, firasat-ku mengatakan jika dia masih hidup dan ternyata benar." Ujar Aiden sambil menyusut air matanya.


Sadar perbincangan dan pembahasan bisnis tidak bisa dilanjutkan. Akhirnya tamu tuan Valentino berpamitan untuk pulang. Karena mereka tau jika sang tuan rumah sedang ingin menghabiskan waktunya dengan sang putri untuk saling melepaskan rindu.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Dan pergi kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah datang menemui, Papa? Luna, apa kau tau betapa hancur hati Papa saat Ken memberitahu jika kau telah tiada. Dunia Papa serasa runtuh saat itu juga,"


"Bukankah semua sudah berlalu, Pa? Dan lagipula Putri Papa juga sudah kembali, sebaiknya kita tidak usah membahas yang sedih-sedih lagi. Aku tidak akan meninggalkan Papa lagi,"

__ADS_1


Tuan Valentino mengangguk. "Kau pasti lelah, sebaiknya pergi istirahat. Papa, tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit karena kelelahan." Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Baik, Pa."


-


-


Luna terlonjak kaget saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Wanita itu menoleh ke belakang dan mendapati Ken yang sedang memeluknya dengan sangat erat.


"Rasanya aku masih tidak percaya jika hingga detik ini aku masih bisa bernapas dan melihat kemegahan dunia. Aku pikir aku telah berakhir hari itu." Ujar Luna sambil menutup matanya.


Ken mengeratkan pelukannya. Kedua matanya tertutup rapat. "Bisakah kita tidak usah membahas apapun tentang masa lalu, jujur saja Luna, aku masih sangat trauma dengan apa yang terjadi hari itu."


Luna terkesiap mendengar suara Ken yang berubah parau. Wanita itu melepas pelukan suaminya kemudian berbalik dan menatap Ken yang juga menatap padanya. Sepasang biner hitamnya memancarkan kesedihan dan keputusasaan.


"Maafkan aku, Ken. Aku tidak bermaksud membuatmu kembali teringat pada kejadian hari itu." Bisik Luna penuh sesal.


Ken membawa Luna kedalam pelukannya."Aku hanya takut kau menghilang lagi dari pelukanku, Sayang. Sudah cukup aku kehilanganmu satu kali, dan aku tidak ingin kehilangan lagi." Ujar Ken setengah berbisik.


Luna menggeleng. "Tidak, Ken. Mulai sekarang kita tidak akan pernah terpisah lagi, tidak akan pernah!!" Luna menutup matanya saat merasakan pelukan Ken semakin erat.


Luna tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Ken ketika berpikir dirinya telah tiada. Tapi Tuhan masih menyayanginya, sehingga mengembalikan dirinya ke pelukan orang-orang yang mencintainya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2