PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Dendam Aiden


__ADS_3

BYURR...


"AIDEN BANGUN!!!"


Tuan Valentino mengguyur tubuh Aiden dengan air karena dia tidak bangun-bangun. Alhasil, Aidan pun langsung membuka matanya dan bersin berkali-kali karena sebagian air itu masuk ke dalam hidungnya.


Sekujur tubuhnya basah kuyup karena guyuran air tersebut. "YAK!! Pa, kenapa kau malah menyiramku?!" teriak Aiden marah.


"Salahmu sendiri pingsan terlalu lama, dan merahasiakan tentang Luna dari papa!! Bukankah kau tahu sendiri jika Papa sudah mencarinya selama bertahun-tahun, kau tahu keberadaannya dan tidak memberitahu papa!!" tuan Valentino melemparkan semua kesalahan pada Aiden karena menyembunyikan tentang Luna darinya.


"Enak saja melemparkan semua kesalahan padaku!! Dan salah Papa sendiri, kenapa tidak pernah bertanya padaku. Lagi pula aku masih dendam pada Papa, siapa suruh saat aku masih anak-anak, di acara perpisahan sekolah kau mendandaniku seperti anak gadis, dan membuat semua teman-temanku menertawakanku!!"


"Dasar anak kurang ajar, jadi selama ini kau dendam pada Papamu sendiri!! Kau membalas dendam pada Papa dengan tidak memberitahukan tentang keberadaan Luna, dan membiarkan aku terus mencarinya?! Bagus sekali, Aiden Valentino. Dasar anak kurang ajar, durhaka!!"


Aiden mengangkat bahunya acuh tak acuh."Ya!! Bukankah sekarang kita impas, kau tidak memiliki hutang padaku lagi, aku juga tidak memiliki hutang pada Papa!!" ujarnya.


"Jangan banyak bicara lagi, sebaiknya segera siapkan pestanya dan sebar undangannya, atau Papa akan mencopot jabatan mu dari posisi CEO dan mengirim mu ke tambang batubara!!" Ancam Tuan Valentino bersungguh-sungguh.


Kedua mata Aiden lantas membelalak. "Papa jangan, baiklah akan segera aku lakukan!! Sekarang juga aku berangkat, oke"


Nenek dan kakek Valentino hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kelakuan ayah dan anak itu. Memang begitulah mereka ketika bersama, ada saja hal yang tidak pantas yang selalu mereka perdebatkan. Dan hal seperti itu tentu bukan pertama kalinya bagi mereka berdua.


"Hans, dasar kau ini. Bagaimana bisa kau menunjukkan Sisi lainmu di depan putri dan menantumu sendiri. Luna, Ken. Nenek harap kalian berdua tidak terkejut dengan tingkah Papamu, memang seperti itulah dia ketika di rumah. Bobrok dan kekanak-kanakan." Ujar nenek Valentino menjelaskan.


"Hahaha... Apa yang Ibu bicarakan, kenapa kau menyebutku bobrok di depan putri dan menantuku sendiri?! Nak, jangan dengarkan nenekmu. Itu, tidak benar. Papa, tidak seperti itu kok. Tadi itu karena kakakmu saja yang bertingkah keterlaluan." tuan Valentino mencoba meyakinkan pada Luna dan Ken, jika dia tidak seperti apa yang nenek Valentino katakan.

__ADS_1


Luna tertawa. "Hahaha... Tapi Itu sangat bagus, Pa. Lebih baik memiliki Papa yang apa adanya, daripada yang penuh kepura-puraan. Aku sangat bahagia bertemu dengan, Papa. Meskipun sedikit terlambat, itu lebih baik daripada tidak sama sekali." Ujar Luna lalu berhambur ke dalam pelukan Tuan Valentino.


Tuan Valentino mengangguk. Pria paruh baya itu menyeka air matanya. "Itu benar, dan Papa yakin jika pertemuan ini adalah rencana yang telah Tuhan persiapkan untuk kita. Dan kali ini Papa tidak akan kehilangan mu lagi, Luna." ujar Tuan Valentino sambil mengeratkan pelukannya.


Luna mengangguk. "Ya, Pa." Jawabnya tersenyum.


Ken tidak tahan untuk tidak tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. Begitupula dengan nenek dan kakek Valentino. Sudah lama mereka menantikan hari ini, dan mereka berdua tidak percaya jika hari ini akhirnya tiba juga. Dimana mereka dipertemukan kembali dengan cucunya yang telah lama hilang.


-


-


Terlihat seorang pria dan wanita tengah menikmati musim semi di taman sebuah mansion mewah bergaya Eropa kuno. Menikmati semilir angin musim semi bersama-sama.


Mereka saling berbagi kasih di bawah pohon sakura yang rindang, dimana bunganya terus berguguran.


Menikmati segala sentuhan hangat yang diberikan Luna itu dipuncak kepalanya. Dan Luna hanya tersenyum lembut saat Ken melihat tepat manik matanya.


Tidak terlalu memfokuskan mata Hazel itu kepada buku yang tengah dipegangnya. Senyum indah tak pernah lepas dari wajah mereka masing-masing. Bunga sakura yang gugur menambah kesan romantis diantara mereka saat ini.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" Ken bertanya dan memecah keheningan diantara mereka.


"Seperti yang kau lihat, sangat baik. Rasanya aku masih tidak percaya, semua ini terasa seperti mimpi. Aku berpikir jika Jack William benar-benar Ayah kandungku, dan satu-satunya orang tua yang kumiliki. Ternyata aku salah, karena dia hanyalah orang asing. Dan hubungan diantara kami terjadi karena Mama menikah dengannya." Ujar Luna.


"Saat ini, pria itu mendekam di penjara. Apa kau tidak berniat mencabut tuntutannya, dan membebaskan dia dari penjara?" tanya Ken memastikan.

__ADS_1


"Untuk apa, dia memang layak mendapatkannya. Dan itu adalah imbalan yang setimpal untuk semua yang dia lakukan pada kita. Dia pernah membuatku berada dalam mimpi buruk, lalu beberapa hari lalu melukaimu. Sebenarnya penjara bukanlah tempat yang tepat untuknya, karena tempat yang tepat untuk pria seperti itu adalah neraka!!"


Ken menarik hidung Luna. "Pikiranmu sangat mengerikan, Nona. Tidak ingin kau berubah menjadi iblis, cukup aku saja. Jadi untuk itu Jangan berpikir macam-macam, apalagi berpikir mengirim seseorang untuk pergi ke neraka!!" Tegas Ken.


Luna berdecak sebal. Kenapa Ken Selalu mengaturnya, melarangnya ini dan itu, sementara dia sendiri boleh melakukan apapun. Bukankah itu tidak adil untuknya. Tapi Luna mencoba untuk mengerti, karena Ken melakukan semua untuk kebaikannya.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan melayangkan protes apapun padamu. Tapi Berhentilah bersikap tidak adil, kau boleh melakukan apapun yang kau suka, tapi kau melarangku untuk..." ucapnya terhenti saat tiba-tiba benda kenyal mendarat dengan manis di bibirnya.


Di sela-sela ciuman itu Ken tersenyum dan semakin mel*mat bibir Luna. Ken tidak mau mendengar apa pun lagi yang Luna katakan.


Mereka terdiam cukup lama dalam pagutan mesra itu. Mencoba menunjukkan kepada dunia seberapa besar cinta mereka masing-masing dan berjanji akan selalu bersama dengan cinta yang semakin besar setiap detiknya.


Ken menekan tengkuk Luna, ketika wanita itu membalas ciumannya. Meskipun ciuman itu berlangsung lebih singkat dari ciuman mereka yang sudah-sudah. Melalui ciuman itu, mereka mencoba mengungkapkan perasaan masing-masing.


Ken melepaskan tautan bibirnya, jari-jarinya menghapus sisa liur di bibir Luna. "Mengertilah, Sayang. Jika semua yang aku lakukan, itu demi kebaikanmu." Ucap Ken sambil mengunci mata Hazel Luna.


Wanita itu tersenyum dan berhambur memeluk Ken."Aku tau, dan aku selalu tahu. Apapun yang kau lakukan, kau hanya ingin melindungiku. Untuk itu aku sangat berterima kasih padamu, terima kasih telah menjadikan aku begitu Berharga." Ujar Luna dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah selayaknya, karena aku memang pantas mendapatkannya. Kau itu sepesial, dan akan selalu seperti itu. Aku mencintaimu, Luna. Sangat-sangat mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Ken... Sangat mencintaimu."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2