
Luna selalu merasa tidak nyaman akhir-akhir ini. Bukan hanya moodnya yang sering naik turun tak menentu, tapi juga nafsu makanannya yang semakin bertambah tapi berat tubuhnya yang masih tetap.
Tidak ingin rasa penasaran semakin menghantui dirinya. Luna pun memutuskan untuk pergi dan memeriksakan ke rumah sakit. Kali ini dia pergi sendiri tanpa ditemani oleh Ken. Ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggal, jadi Luna terpaksa pergi sendiri.
"Dokter, bagaimana hasilnya?" Luna menatap dokter itu penuh tanya. "Apa ada masalah dengan tubuh saya?"
Dokter itu menggeleng. "Tidak, Nyonya. Itu adalah hal yang wajar diawal kehamilan. Saat ini Anda sedang mengandung dan kandungan Anda baru memasuki Minggu ke 4," jawab Dokter itu menjelaskan.
"Hamil?!" Luna memekik kaget. Dokter itu mengangguk. "Benarkah saya hamil lagi, Dok?" Sekali lagi Luna memastikan.
Dokter itu mengangguk. "Benar, Nyonya. Saat ini Anda sedang hamil." Jawabnya.
Air mata Luna tak bisa dicegah lagi, dia menangis karena terharu. Dia hamil, itu artinya ia dan Nathan akan memiliki anak lagi. Dan kali ini Luna pasti akan menjaganya dengan baik. Dia tidak akan membiarkan anak itu sampai pergi lagi dari hidupnya.
Setah dari rumah sakit. Luna langsung menemui Ken dikantornya untuk mengabarkan berita baik ini pada suaminya dan Luna tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Ken saat mengetahui tentang kehamilannya ini.
-
-
Ken meninggalkan ruang rapat dengan Leon yang berjalan disampingnya. Leon memberi tahu Ken jika Luna datang dan menunggu di ruangannya. Ken pun segera kembali ke ruangannya dan menemui Luna.
Tubuh Ken terhuyung kebelakang karena terjangan Luna. Wanita itu memeluk Ken dengan sangat erat. Sikap Luna yang seperti ini tentu saja membuat Ken sedikit bingung.
"Ada apa? Sepertinya kau sangat bahagia," ucap Ken sambil membalas pelukan Luna.
Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Ken dengan wajah bahagia. "Ken, tebak berita baik apa yang aku bawa kali ini?" Ken menggeleng. Tanda jika dia tidak tau. Luna mendengus sebal. "Tebak saja dulu baru menggeleng tidak tau!!" Wanita itu mempoutkan bibirnya.
"Kau habis berbelanja dan dapat diskon besar?" Luna menggeleng. "Em, karena pada datang berkunjung?" Lagi-lagi Luna menggeleng. "Lalu apa?"
__ADS_1
"Ini," Luna menunjukkan sebuah kertas pada Ken sambil tersenyum lebar. "Aku hamil, Ken. Dan usia kandunganku saat ini sudah menginjak Minggu ke 4. Anak-anak akan memiliki adik." Terang Luna dengan mata berkaca-kaca.
Ken melepaskan pelukan Luna lalu dia beranjak. "Luna, kenapa kau masih keras kepala?! Apa kau lupa apa yang dikatakan oleh dokter waktu itu?! Jika kau hamil lagi, itu akan beresiko besar untuk keselamatanmu setelah apa yang kau alami 5 bulan yang lalu!!" Ken berbalik dan menatap Luna tajam.
Luna menghampiri Ken dan menatapnya penuh tanya. "Jadi maksudmu kau tidak menginginkan bayi ini?" Tanya Luna sambil mengunci manik mata suaminya.
"Kenapa kau bisa sampai hamil?! Bukankah kau selalu meminum obat pencegah kehamilanmu secara rutin? Kau juga selalu melarangku memakai pengaman karena kau selalu meminumnya. Tapi kenapa masih bisa hamil lagi?!"
Perdebatan pun tidak bisa terhindarkan. Bukannya sangat senang, Ken malah terlihat marah saat tau jika Luna hamil lagi. Bukan maksud Ken menolak janin itu, tapi dia selalu mengingat apa yang dokter katakan jika rentan bahaya yang Luna alami sangat tinggi jika dia sampai hamil lagi.
Kandungan Luna mengalami masalah setelah dia mengalami keguguran hari itu. Itulah kenapa Ken selalu berusaha untuk mencegah supaya Luna tidak hamil bagaimana pun caranya. Ken sangat takut jika kehamilan itu malah beresiko pada hidup Luna.
Luna maju dua langkah lalu menangkup wajah Ken dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku, Ken. Anak ini bukan sebuah kutukan, tapi anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai manusia kita hanya bisa membuat rencana tapi Tuhanlah yang menentukan semuanya." Ujar Luna.
Ken melepaskan tangan Luna dari wajahnya lalu beranjak. "Aku tau Luna, tapi apa kau tau dengan ketakutanku sekarang? Aku sudah pernah kehilanganmu dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi!! Jika kau sampai pergi, bagaimana dengan aku, anak-anak dan bayi itu yang masih sangat membutuhkanmu?!" Ken meninju tembok di depannya dengan keras.
Ken melepaskan pelukannya lalu berbalik dan membawa Luna ke dalam pelukannya. "Jika kau menyakini semua akan baik-baik saja, kita jaga dia sama-sama. Dan aku akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi padamu. Tidak akan pernah." Bisik Ken sambil mengeratkan pelukannya.
Luna memahami betul apa yang Ken rasakan saat ini, ketakutan yang Ken rasakan dia juga merasakannya. Tapi Luna tidak bisa mengorbankan janin yang telah bersemayam di dalam perutnya. Meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia akan tetap menjaga dan melindunginya.
-
-
Waktu terus berjalan. Tidak terasa kandungan Luna sudah memasuki bulan ke lima. Dan ketakutan Ken pun semakin besar. Luna memang sangat sehat, karena resiko besar itu saat Luna melahirkan.
Ken menghampiri Luna yang sedang bersama si kembar. Cello dan Marissa terlihat sangat bahagia dengan kehamilan ibu mereka, yang artinya mereka akan segera menjadi kakak.
"Ma, saat lahir nanti adik kami perempuan atau laki-laki?" Marcello menatap Luna penasaran.
__ADS_1
"Mama juga tidak tau, mungkin saja laki-laki."
"Ye, aku suka kalau laki-laki. Itu artinya aku memiliki teman untuk bermain game." Marcello terlihat begitu gembira.
"Dasar Cello bodoh, laki-laki atau perempuan itu sama saja. Yang penting Mama dan bayinya bahagia." Ucap Marissa sambil menjitak kepala Cello. Membuat bocah laki-laki itu meringis kesakitan.
Cello mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Marissa. "Dasar adik durhaka, aku ini adalah kakak dan seharusnya kau memperlakukanku dengan baik. Jangan asal menjitak saja, bagaimana kalau aku jadi bodoh setah kau jitak!!"
Marissa membungkam mulut Cello dengan kue karena terlalu cerewet dan banyak bicara. Ken hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Ia melanjutkan langkahnya dan menghampiri mereka bertiga.
"Ini susumu." Luna tersenyum sambil menerima susu itu. "Sudah malam, sebaiknya kau segera tidur. Biarkan Mama istirahat juga." Kata Ken pada kedua buah hatinya.
"Baik, Pa." Keduanya mengangguk patuh. Kemudian si kembar meninggalkan kamar orang tuanya setelah mencium perut dan pipi sang ibu. Luna tersenyum lebar, mereka selalu menaruh perhatian lebih semenjak dia hamil.
"Lihatlah mereka, Ken. Mereka terlihat sangat bahagia. Pasti mereka akan lebih bahagia setelah anak ini lahir." Ucap Luna sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Ken menatap Luna dengan sendu. "Semakin besar kandunganmu. Ketakutanku semakin bertambah besar. Aku takut hal buruk terjadi padamu, Luna. Aku sangat-sangat takut. Aku tidak siap jika harus hidup tanpa dirimu." Ucap Ken sambil menundukkan kepalanya.
Luna menggeleng. "Itu tidak akan terjadi, Ken. Tuhan selalu ada bersama kita. Dan percayalah jika semua akan baik-baik saja." Ucap Luna sambil menakup wajah suaminya.
"Ya, aku berharap Tuhan selalu memberikan keajaibannya pada kita. Ini sudah malam, sebaiknya segera tidur." Pinta Ken. Luna mengangguk.
Ken mengecup kening Luna lalu menyelimuti wanita itu sampai sebatas dada. Ken tidak pernah berhenti berdoa supaya Tuhan selalu melindungi Luna. Karena Ken tidak akan pernah siap jika harus kehilangan dia.
-
-
Bersambung.
__ADS_1