
Denting piano mengalun indah disebuah ruangan yang hampir keseluruhannya di dominasi warna putih dan silver, riuh suara hujan deras diluar sana tak mampu menyamai suara-suara alunan indah yg dimainkan oleh seorang dara jelita bersama bocah laki-laki berusia 6 tahun itu.
Suara melodi indah yang dihasilkan dari permainan piano tersebut menyita perhatian seorang pria yang saat ini sedang berdiri bersandar diambang pintu, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Manik matanya yang dingin tak lepas sedikit pun dari sosok jelita yang sedang menyanyikan sebuah lagu berjudul "Falling Crazy In Love" milik aktris sekaligus desainer cantik asal Korea Selatan Jessica Jung'.
Selain sangat mahir dalam memainkan alat musik itu, Luna juga memilik suara yang sangat merdu.
There's something about the way that you smile
Something about the way you hold me
I'm falling babe, I'm falling for you
Falling crazy in love
Something about how I'm feeling inside
I can't forget the day you told me
I'm falling babe, I'm falling for you
Falling crazy in love
Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Dia begitu menyukai warna suara Luna yang lembut dan khas. Dan Ken benar-benar terhipnotis dengan keindahan suara sang Dara.
Kemudian Daniel menoleh. Matanya langsung membelalak. "Papa! Sejak kapan berdiri di sana?" Nyanyian Luna terhenti saat mendengar suara pekikan Daniel yang keras.
Luna pun langsung menoleh. Sepasang Hazel nya bersirobok dengan manik kiri milik Ken. Luna menunduk malu, mungkin saja Ken sudah mendengar suaranya yang sumbang. Sejak lima belas menit yang lalu, Ken memperhatikan mereka berdua.
Ken lalu menghampiri keduanya. Ia berhenti tepat di samping Daniel. Jari-jari besarnya menepuk kepala coklat bocah berusia 6 tahun tersebut. "Papa sudah dari tadi memperhatikan kalian berdua. Tidak di sangka, Lun. Kau memiliki suara yang sangat indah."
Blusshh...
__ADS_1
Muncul rona merah di pipi Luna setelah mendengar pujian Ken. "Aku tidak tau itu pujian atau ledekan. Dan bagaimana bisa kau mengatakan jika suaraku bagus, jelas-jelas suaraku sangat hancur." Luna menundukkan wajahnya.
"Itu tidak benar!!" Daniel menyahut cepat. "Kakak cantik memiliki suara yang sangat indah. Jangan suka merendahkan diri sendiri, itu tidak baik tau." Ujarnya menambahkan.
Lalu pandangannya bergulir pada Ken yang juga tengah menatapnya. "Oya, Pa. Lalu bagaimana permainan piano ku? Bagus tidak?"
"Tentu saja bagus. Papa sampai bengong di depan pintu tadi. Kau semakin mahir saja, bahkan kau dapat memainkannya dengan sempurna."
"Hehehe….tentu saja ini karena aku belajar dengan sangat giat. Apa lagi sejak Kakak cantik ada di sini, dia sangat mahir dan selalu mengajariku. Benar kan, kakak cantik?"
"Kau memang pandai, bukan karena Kakak cantik. Kau sangat berbakat bermain piano."
Lagi-lagi suara itu. Suara yang beberapa hari belakangan ini sudah akrab ditelinganya. Suara yang membuat Ken Zhao merasakan kembali debaran di jantungnya. Ah….dia sampai bertanya dalam hatinya kapan terakhir kali merasakan debar aneh pada jantungnya?
Namun, sudah bertahun-tahun debaran keras itu muncul lagi. Apa yang terjadi pada dirinya? Setelah lima tahun tidak muncul, mengapa debaran keras tersebut selalu muncul saat ia memikirkan atau melihat wanita dengan iris Hazel di depannya?
Jawabannya tentu sudah pasti, Ken sedang jatuh cinta.
Walaupun ini yang kedua kalinya ia jatuh cinta, namun ia sendiri mengakui bahwa kali ini ia sudah mengalami apa yang disebut cinta pada pandangan pertama. Ya, cinta pada pandangan pertama.
"Mungkin lain kali. Sekarang Papa harus pergi, ada hal penting yang harus Papa urus dan Papa selesaikan. Baik-baik di rumah dan jangan menyusahkan Kakak cantik. Apalagi menggodanya selama Papa tidak ada!!"
"Aku tidak berani menjaminnya!!" Daniel menjawab cepat. "Toh, Papa juga sedang tidak ada di rumah. Jadi aku bebas dong kau ngapain saja dengan Kakak Cantik. Aku bisa minta di peluk dan di cium juga." Daniel menyeringai.
"Yakk!! Bocah, kau sudah bosan hidup ya?!" Pekik Ken dengan nada meninggi. "Terserahlah, kali ini Papa sedang tidak ingin debat denganmu. Aku pergi dulu." Ken beranjak dari sana dan meninggalkan mereka berdua.
🌹
🌹
Ken tiba di sebuah bangunan tua bekas gedung perkantoran. Beberapa mobil mewah tampak berjajar di bagian depan gedung tersebut. Dua orang berpakaian formal dan bersenjata langsung membungkuk saat melihat kedatangannya.
Pria yang berjalan dibelakang Ken lalu membukakan pintu untuknya. Di dalam sebuah ruangan bekas tempat Meeting, terlihat seorang pria tersungkur di lantai dengan keadaan babak belur.
__ADS_1
Luka tampak pada sekujur tubuhnya. Bahkan dia juga kehilangan tiga gigi bagian depannya. Ken menghampiri pria itu lalu menarik rambutnya hingga kepalanya mendongak kebelakang.
"Apa yang kau inginkan dariku, Ken Zhao?" Tanya pria itu dengan tatapan membunuh.
"Katakan padaku, siapa yang sudah menyuruhmu membuat keributan di kantorku?!" Tanya Ken tanpa basa-basi.
"Jika aku tidak mau mengatakannya, bagaimana?!"
"Itu artinya kau lebih memilih mati!!" Jawab Ken menimpali. "Aku akan memberimu waktu selama 10 detik. Kasih tau siapa yang telah menyuruhmu, atau kau memilih mati secara mengenaskan?!" Ken memberikan dua pilihan pada pria itu. Mengatakan siapa yang menyuruhnya, atau kehilangan nyawa.
Tapi sepertinya pria ini adalah tipe anak buah yang setia. Buktinya dia memilih tetap bungkam dan tidak mau mengatakan pada Ken siapa yang telah menyuruhnya.
"Bahkan jika kau menghabisiku sekalipun, aku tidak akan memberitahumu!!" Pria itu bersikeras.
"Sungguh anak buah yang setia, aku terharu melihat kesetiaan mu pada bosmu!! Baiklah, kau sendiri yang memilih mati, maka aku akan mengabulkannya!!"
Brakk...
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan semua yang ada di dalam ruangan itu. Ken menyeringai melihat siapa yang datang. Ikan telah masuk perangkap, ternyata dia sudah memakan umpannya.
"Lepaskan dia, maka aku tidak akan memperpanjang masalah ini!!"
Ken menyeringai sinis. "Kenapa aku harus melepaskannya? Dia sudah membuat kesalahan besar dengan berani mencari masalah denganku. Dan bukankah kau tau sendiri harga mahal yang harus di bayar oleh seorang penyusup seperti dia?!" Ken mengeluarkan senjatanya lalu menodongkan pada kepala pria yang tersungkur di lantai itu.
"Jangan macam-macam atau ku ledakkan kepalamu!!" Pria itu menekan dan memberi ancaman. Ia juga menodongkan senjatanya pada Ken.
Meskipun ujung senjata api ada di depan matanya. Namun Ken tak merasa takut ataupun gentar sedikit pun. Dia tau siapa pria di depannya ini. Dia hanya bisa menggertak tapi tidak berani bertindak.
"Tunggu apa lagi, cepat maju dan habisi mereka bertiga!!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.