PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Jadilah Mama Daniel


__ADS_3

"Aku datang untuk menjemput istriku!!"


Kemudian Anna dan Tuan William saling bertukar pandang. "Istri, memangnya siapa istri Anda?" Kini giliran Anna yang membuka suara.


"Aku istrinya!!" Sahut seseorang dari belakang.


Sontak kedua mata pasangan suami istri itu pun membelalak saking kagetnya. "LUNA?!"


Terlihat Luna menghampiri mereka dengan pakaian berbeda. Bahkan penampilannya terlihat lebih rapi dari sebelumnya, dia juga terlihat baik-baik saja tidak seperti orang yang sedang mabuk berat.


Dan jawaban Luna tak hanya mengejutkan Tuan William dan juga Anna saja. Tapi seluruh keluarga Delon. Delon menghampiri Luna dan bertanya padanya. "Luna, apa maksudmu mengatakan hal itu? Kau...bagaimana bisa mengakui jika dirimu adalah istri dari tuan Zhao sementara aku adalah calon suamimu?! Jelaskan padaku!!"


Luna menyentak tangan Delon dari lengannya dan menatapnya dingin. "Memangnya kapan aku pernah setuju untuk menikah denganmu?! Dan asal Kalian tau saja, alasanku menolak perjodohan tersebut dan kabur malam itu karena aku sudah memiliki suami." luna menghampiri Ken lalu memeluk lengannya.


Kemudian Luna mengangkat kepalanya dan menatap Ken yang juga menatap padanya. "Dia adalah pria yang aku cintai, makanya aku setuju untuk menikah diam-diam dengannya. Dan karena dia sudah datang menjemputku, jadi aku tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan pernikahan ini lagi." Ujar Luna.


Mata Luna membelalak saat Ken tiba-tiba saja menarik pinggangnya dan membawanya ke dalam pelukannya. "Tuan dan nyonya William, maaf jika kedatanganku mengejutkan kalian semua. Aku datang untuk menjemput Luna. Apa Kau sudah siap?" Luna mengangguk.


"Tunggu!!" Delon menarik lengan Luna dan menjauhkannya dari Ken. "Tidak bisa!! Luna adalah calon istriku, dan aku tidak mengizinkan dia pergi dengan siapapun termasuk Anda Tuan Zhao!! Paman, kenapa kau diam saja. Bukankah sejak awal kau yang ingin aku segera menikahi Luna, jadi cepat usir pria ini dari sini!!" dia mencoba mencari dukungan dari Tuan William.


Tuan William menghela nafas panjang. "Maaf Delon, Paman tidak bisa. Ini adalah Tuan Zhao, dan Paman lebih setuju jika Luna menikah dengannya." Jawab tuan William.


Luna menyeringai sinis. "Kau sangat hebat, Pa. Jujur Saja, aku sangat kagum padamu. Kau rela menjatuhkan harga dirimu yang setinggi langit itu. Sudah tidak ada alasan kita disini, Ken ayo kita pergi." Luna pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dulu.


Hal ini membuktikan, jika materi lebih berharga dari bandingkan kebahagiaannya. Secara tidak langsung tuan William telah menjualnya pada Ken, dan hal itu membuat hatinya hancur.


.


Ken menghentikan Mobilnya di taman, lalu pandangannya bergulir pada Luna yang hanya sejak tadi hanya diam. Gadis itu menutup matanya, tapi Ken tahu jika Luna tidak tidur.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ken memastikan. Dan Luna hanya mengangguk, meyakinkan pada pria itu jika ia baik-baik saja.

__ADS_1


Kemudian Ken turun dari mobilnya, dan meninggalkan Luna sendiri disana. Dia hendak membeli minum untuk Luna.


Dan sementara itu...


Di saat bersamaan ponsel Luna tiba-tiba berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Luna tersenyum lalu mengangkat panggilan itu.


"Halo, Sayang. Ada apa kau nelepon Kakak cantik? Pasti rindu kakak ya?"


"Kakak cantik ada dimana? Saat ini Daniel ada di taman, bisakah kau datang ke sini? Daniel sangat merindukanmu."


"Baiklah, tunggu Bibi di tempat biasa, Sayang." ucap Luna.


Luna pun segera turun dari mobil Ken dan segera menuju tempat di mana bocah laki-laki itu sudah menunggunya. Tak lupa Luna mengirim pesan singkat pada Ken.


Luna tersenyum lebar saat melihat keberadaan bocah berusia 6 tahun, yang saat ini sedang bermain sendiri di tepi danau. Luna pun segera menghampirinya. Dan senyum lebar menghiasi wajah polos baca itu saat melihat kedatangan Luna.


"Kakak cantik!!!" Daniel bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Luna sambil tersenyum lebar. "Akhirnya Kakak cantik datang juga, aku sangat merindukan Kakak cantik."


"Kakak cantik juga merindukanmu, Sayang. Tapi Daniel kesini dengan siapa? Apa orang rumah tahu?" bocah laki-laki itu menggeleng. "Astaga, pasti papamu sangat cemas saat tau kau tidak ada di rumah. Berikan nomor panjangnya pada kakak cantik, biar kakak cantik yang menelponnya untukmu."


Luna memicingkan matanya."Tapi untuk apa?"


"Aku ingin Kakak cantik jadi Mama, Daniel. Sejak kecil Daniel tidak memiliki mama, Daniel juga ingin memiliki Mama seperti anak-anak yang lain." daniel menundukkan wajahnya, mimik wajahnya berubah sedih.


Melihat hal itu membuat hati Luna terenyuh sakit. Kemudian Gadis itu membawa Daniel ke dalam pelukannya. Luna merasa kasihan dan Iba pada Daniel, disaat dia masih membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu, tapi dia tidak memilikinya.


Saat dirasa Daniel sudah mulai tenang. Kemudian Luna melepaskan pelukannya. Dan bocah itu mengatakan ingin memakan ice cream, Luna pun menurutinya dan membawa bocah itu membeli ice cream yang dia inginkan.


"Kakak Cantik, Ice creamnya sangat enak. Lain kali kita beli lagi ya."


"Bukan masalah, apa Daniel suka?" Bocah laki-laki itu mengangguk.

__ADS_1


Luna menatap Daniel dan tersenyum tipis, di tangannya memegang dua cup ice cream berbeda rasa. "Aigo, kenapa kau belepotan seperti ini, Daniel Sayang?" Komentar Luna seraya membersihkan ice cream yang ada di wajah Daniel menggunakan sapu tangan miliknya.


Daniel sangat menyukai saat bagaimana Luna memperlakukannya, meskipun Ia baru saja mengenal gadis itu. Namun darinya Daniel bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Lu a adalah gadis yang hangat, tidak salah jika Daniel begitu nyaman saat berada di sisinya.


"Kakak cantik, sekali lagi aku ingin melamarmu untuk Papaku. Aku mohon jadilah Mamaku, dan menikahlah dengan Papa lalu menjadi Mama untuk Daniel..."


UHUKK ,, UHUKK ,, !


Luna tersedak dan memuntahkan semua air yang ada di dalam mulutnya setelah mendengar permintaan konyol Daniel. Sekali lagi dia meminta hal yang sama darinya. Melihat Luna terbatuk-batuk membuat Daniel merasa cemas.


"Kakak cantik, You oke?" Tanya Daniel memastikan.


"Yes," Balas Luna seraya tersenyum lembut.


Anak laki-laki ini begitu menggemaskan, Luna sama sekali tidak merasa marah maupun tersinggung atas permintaan konyolnya. Dia menganggap itu adalah sebuah harapan seorang anak yang merindukan dan mendambakan kasih sayang seorang Ibu.


"Ais, kenapa Papa lama sekali. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan saat ini." Daniel mengeluh.


Rasanya Daniel ingin mengutuk papanya. Apa dia ingin mengacaukan rencananya? Sejak lama Daniel ingin sekali mempertemukan Papanya dengan Luna, namun Ia tidak pernah memiliki kesempatan. Ken selalu di sibukkan dengan pekerjaannya hingga Daniel tidak berani melakukannya, Ia tidak ingin membuat Ayahnya marah karena menurutnya itu sangat mengerikan.


"Kakak cantik, kenapa Papa lama sekali? Daniel bosan menunggunya terlalu lama." Keluhnya dengan nada begitu manja.


"Sabar, Sayang. Mungkin saja saat ini dia sedang dalam perjalanan."


Tak lama berselang, Daniel melihat sosok yang sejak tadi Ia tunggu berjalan kearahnya dan Luna membuat senyum di bibirnya mengembang seketika.


"PAPAAA..."


Dan teriakan nyaring Daniel mengalihkan pandang Luna. Gadis itu menoleh dan melihat seorang pria yang tak asing sama sekali baginya berjalan kearahnya. Kedua mata Luna terbelalak setelah mengetahui siapa orang tersebut.


"KEN?!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2