
"TRIBAL!!"
Nyaris saja Tuan Valentino terkena serangan jantung dadakan karena ulah putrinya sendiri. Luna tiba-tiba berteriak kencang, parahnya lagi dia berteriak di dekat telinganya. Luna bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ken.
Bukannya sebuah pelukan hangat. Malah sebuah jitakan keras yang Luna dapatkan dari suaminya ini. "Dasar kau ini, kenapa masih saja bertingkah seperti bocah?!" Omel Ken yang hanya disikapi senyum tanpa dosa oleh istrinya ini.
"Kalian berdua bicaralah. Papa masuk dulu," Luna dan Ken mengangguk.
Selepas kepergian Tuan Valentino. Di sana hanya menyisakan Luna dan Ken berdua saja. Wanita itu menatap suaminya begitu pula dengan Ken. Dari pada Ken, tatapan Luna lebih terfokus pada tribal di lengan kanannya.
"Aku merindukan mereka." Ucap Luna sambil memeluk dan mencium tribal itu.
"Masih ngambek?" Luna menggeleng. "Masih marah?" Luna menggeleng. "Mau pulang?" Luna mengangguk. "Kalau begitu ganti pakaianmu dan kemasi semua barang-barangmu, ayo kita pulang." Lagi-lagi wanita itu mengangguk.
Luna dan Ken berjalan meninggalkan taman menuju kamar wanita itu yang berada di lantai dua. Luna langsung mengganti pakaiannya, sedangkan Ken membantu mengemasi barang-barang Luna. Setelah berpamitan pada Tuan Valentino. Mereka berdua meninggalkan mansion mewah tersebut.
-
-
"Ahhh... Lelahnya."
Luna menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur setibanya di rumah. Ken masuk beberapa saat kemudian. Setelah menanggalkan long Vest itu dari tubuhnya, kemudian Ken menghampiri Luna dan duduk disamping wanita itu berbaring.
"Berani sekali kau pergi tanpa ijin dariku?!"
"Salah sendiri kau begitu menyebalkan." Jawab Luna tak mau kalah.
"Seharusnya kau mendapatkan hukuman, Nyonya Muda. Tapi karena hari ini aku sedang berbaik hati. Jadi aku tidak akan menghukum-mu dengan berat."
Lalu Luna bangkit dari posisinya. Dia bersila di depan Ken. "Memangnya hukuman apa yang ingin kau berikan padaku? Jika hukumannya bercocok tanam tentu saja aku tidak bisa menolaknya. Apalagi kecebong-mu begitu luar biasa." Ujar Luna sambil mengunci mata suaminya.
Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Luna. "Kenapa kau jadi begitu mesum, hm!! Dan siapa yang mengajarimu bicara sefulgar itu?!" Tanya Ken menginterogasi.
"Kau!!" Luna menunjuk Ken.
"Dasar kau ini. Sudah cepat tidur, ini hampir tengah malam. Aku lelah dan ingin segera beristirahat." Ucapnya.
__ADS_1
Luna mengangguk kemudian berbaring disamping Ken. Menggunakan sebelah lengan pria itu sebagai bantalan kepalanya. Tangan kanan Luna memeluk suaminya dengan erat. Sedangkan Ken tidur dalam posisi terlentang. Dan tidak sampai 2 menit, mereka sudah sama-sama terlelap.
-
-
"Panda sialan, berhenti mengikuti ku!!"
Wanita itu berteriak dan membentak Tao yang sedari tadi terus saja mengikutinya. Dia merasa kesal dan terganggu karena pemuda itu yang selalu mengikuti kemana pun dia pergi. Wanita itu tidak tau apalagi mengenal pria yang terus mengikutinya ini.
"Kalau begitu biarkan aku mengenalmu, Nona. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Perkenalkan, aku Tao, namamu siapa?" Tao memperkenalkan dirinya pada wanita itu.
"Nina!! Kau puas!! Jadi minggir lah!!" Wanita bernama Nina itu menyenggol lengan Tao dan melewatinya begitu saja.
Tao terus mengomel dalam hati. Bagaimana bisa Ken memintanya mendekati wanita galak ini. Jika bukan masalah naik gaji dan bonus. Tao tidak akan Sudi mendekati apalagi mengejar wanita galak itu.
"Nona Nina, bagaimana kalau aku mentraktir-mu sesuatu? Aku tau ada kedai makanan yang sangat enak di dekat sini. Bagaimana kalau kita mampir sebentar dan saling berbincang dari hati kehati?" Usul Tao.
Wanita itu mendecih. "Kau pikir aku wanita rendahan yang suka makan, makanan kaki lima. Kalau kau ingin, makan saja sendiri. Aku tidak berminat!!" Jawab Nina dan pergi begitu saja.
Tao mendesah untuk kesekian kalinya. Meskipun kesal setengah mati. Tapi dia harus tetap berusaha, dia tidak bisa melewatkan kenaikan gaji dan bonus yang Ken janjikan padanya. Dan jangan panggil Zitao jika tidak memiliki 1001 cara untuk meluluhkan wanita ini.
"Yakk!! Panda, lepaskan aku!!"
-
-
Ken menghampiri Luna yang sedang sibuk merangkai bunga di ruang keluarga. Wanita itu tersenyum lebar menyambut kedatangan pria tercintanya. Luna sangat senang karena hari ini Ken tidak pergi kemana pun, apalagi sibuk dengan urusannya di luar.
"Hari ini kau terlihat sangat senang, kenapa?" Heran Ken yang kemudian duduk di samping Luna.
"Karena kau ada di rumah. Biasanya aku selalu kau tinggal sejak pagi-pagi sekali. Dan hari ini kau ada di rumah menemaniku. Jadi tentu saja aku sangat senang." Jawabnya.
"Apa sesederhana itu kau merasa bahagia?"
Luna mengangguk. "Aku tidak perlu emas dan permata untuk merasa bahagia. Cukup hidup dengan tenang, tanpa ada tekanan dari siapa pun dan pihak manapun. Aku hanya ingin menjalani hidup ini damai bersamamu."
__ADS_1
"Meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi aku ingin memiliki anak dan hidup bahagia bersama Daniel dan mereka juga dirimu. Intinya hanya dirimu yang selalu aku inginkan disisiku setiap saat." Tutur Luna panjang lebar.
Ken tersenyum lembut. Kemudian dia membawa Luna ke dalam pelukannya. "Aku pasti akan mewujudkan keinginanmu itu. Kita akan membangun sebuah rumah sederhana dimana hanya ada ketenangan dan kedamaian. Hidup bahagia bersama anak-anak kita."
Luna mengangkat wajahnya dari pelukan Ken. Menatap pria itu dengan senyum yang sama."Satu hal lagi. Rumah itu harus memiliki halaman yang luas dan taman bunga juga. Kemudian dibelakang rumah ada lahan yang sangat luas agar kita bisa menanam buah dan sayuran." Ucap Luna menambahkan.
"Pasti, cepat atau lambat kita pasti akan mewujudkan keinginan sederhana mu itu. Bersabarlah, Sayang. Hanya tinggal satu langkah lagi."
Memang siapa yang tidak menginginkan kehidupan yang damai dan tentram. Luna tidak menginginkan yang muluk-muluk untuk kehidupannya. Dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama orang yang dicintainya. Hanya itu yang selalu menjadi harapannya selama ini.
"Aku lapar, ayo temani aku keluar untuk makan siang."
Luna tersenyum dan mengangguk. "Ayo, kebetulan aku juga sangat lapar."
-
-
Tao membaringkan wanita itu di dalam kamar sebuah hotel. Tao berhasil membuatnya mabuk berat. Dan dengan begini dia lebih mudah menggali informasi darinya. Entah dia memiliki pemikiran seperti ini dari mana, tapi itu sangat berguna.
"Tuan... Dia akan membunuhku jika aku tidak segera kembali."
"Nona, aku ada beberapa pertanyaan untukmu. Jika kau bisa menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, aku akan memberikan banyak uang padamu."
"Uang.. Uang ya, hikkk.. cepat katakan."
"Siapa sebenarnya bosmu itu? Dan ada dendam apa dia dengan Bosku? Maksudku, Ken Zhao. Dan apa kau tau apakah dia terlibat atau tidak dalam kematian Tuan dan Nyonya besar serta semua keluarga Zhao."
"Hahaha... Tentu saja aku tau. Karena aku mengikuti Tuan sejak lama. Sejak aku masih duduk di bangku sekolah TK. Tuan lah yang merencanakan kecelakaan itu. Tuan ingin seluruh keluarga adik bungsunya meninggal. Kemudian dia menguasai seluruh hartanya, tapi tidak disangka ada satu yang masih hidup sampai sekarang. Dan Tuan berencana membunuh...!!"
"Eh, jangan pingsan dulu!!!"
Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wanita itu malah tak sadarkan diri akibat mabuk berat. Tapi tidak masalah, toh dia sudah mendapatkan informasi yang Ken inginkan. Yang perlu Tao lakukan sekarang adalah kembali dan memberitahu bosnya tersebut.
"Naik gaji, dapat bonus. Naik gaji, dapat bonus. Zi Tao, kau memang hebat!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.