PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Harus Sering Bercocok Tanam!!


__ADS_3

Luna mengusap dan menatap perutnya dengan pandangan Hampa. Sudah tidak ada nyawa lagi yang bersemayam di dalam sana. Calon anak ketiganya telah pergi dan kembali ke pangkuan Tuhan.


Dia sungguh menyayangkan apa yang telah terjadi. Tetapi Nasi telah menjadi bubur, sesuatu yang telah terjadi tidak perlu disesali. Luna sudah merelakannya, jika Tuhan masih memberinya kesempatan dan kepercayaan, pasti dia akan hamil kembali.


Entah itu kapan, apakah minggu depan, bulan depan, atau mungkin tahun depan. Luna hanya perlu menunggu waktunya, waktu dimana Tuhan kembali mempercayainya.


Cklekk..


Suara derit pintu yang dibuka dari luar mengalihkan perhatian Luna dari sang malam. Sosok Ken melenggang masuk sambil membawa sebuah buket bunga yang kemudian dia berikan pada Luna.


"Bunga cantik untuk wanitaku yang hebat," ucap Ken sembari mengecup kening Luna.


Wanita itu tersenyum tipis lalu menghambur ke dalam pelukan suaminya. "Terima kasih untuk bunganya, aku sangat menyukainya." Ucap Luna dan semakin mengeratkan pelukannya.


Ken sedikit melonggarkan pelukan Luna dan menatap wanita itu dengan sendu. Ken tau jika Luna sangat hancur setelah kehilangan janinnya, namun dia tetap terlihat tegar dan kuat di depan semua orang. Bahkan dia bisa tersenyum lebar, menunjukkan pada semua orang jika dia baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya saat ini Luna hancur.


"Dokter bilang, besok kau sudah boleh pulang." Ucap Ken membuat wajah Luna berseri seketika.


"Benarkah?" iya bertanya dengan girang, Ken mengangguk. "Aaahh, akhirnya aku bisa keluar juga dari sini. Aku sudah sangat bosan disini, tempat ini sungguh tidak enak." ujar Luna dengan semangat.


Kemudian wanita itu naik ke pangkuan suaminya. Kedua lengannya memeluk leher Ken, dan menatap matanya dengan serius. Seperti hendak mengatakan sesuatu yang penting.


"Ken," panggil Luna dengan serius.


"Hm,"


"Pokoknya, setelah keluar dari sini kita harus lebih sering membuat fenomena ranjang bergoyang supaya aku bisa cepat hamil lagi. Kita harus membuat pengganti utun secepatnya. Bukan, bukan, bukan, tapi mengembalikan utun pada kita!!" Cecar Luna dengan begitu serius.


Ken mendengus geli. Sebuah jitakan melayang bebas dan mendarat dengan mulus di kepala coklat Luna. "Appo!! Ken, sakit!! Kenapa kau malah menjitak ku?!" Keluh wanita itu sambil mengusap kepalanya.


"Sepertinya otakmu perlu sedikit diperbaiki. Kenapa semakin hari kau semakin mesum saja. Jangan pikirkan hal yang lain dulu, lebih baik pikirkan saja untuk mengembalikan kondisi tubuhmu agar segera sehat. Dasar kau ini!!" Ken mengomeli Luna habis-habisan, sedangkan yang diomeli malah cekikikan tidak jelas.


Menurut Luna jika penyakit bawelnya sudah kambuh, Ken menjadi begitu menggemaskan. Dan Luna senang mendengar ketika pria ini mengomelinya dengan keras.

__ADS_1


"Hahaha!! Bukankah bercocok tanam termasuk olahraga. Kau bilang aku harus segera sehat. Maka dari itu aku harus lebih sering memakan mu saat malam hari!!" Ucap Luna dan langsung mendapatkan jitakan untuk kedua kalinya.


"Berhenti mengatakan yang tidak-tidak. Lihat jam dinding dan tidur sekarang!!" Perintah Ken tak ingin dibantah.


"Nanti, setelah junior mu mengucapkan selamat malam pada si Miss milikku," jawab Luna dan kembali mendapatkan jitakan ketiganya. Luna tertawa keras. Dia sangat puas mengerjai Ken dan membuatnya kesal setengah mati.


"Berhentilah bertingkah menyebalkan dan segera tidur!!"


"Iya, iya. Kenapa kau jadi galak sekali. Dasar Ken menyebalkan!!"


"Kau yang menyebalkan!!"


.


.


Setelah memastikan Luna benar-benar sudah tidur. Ken kemudian bangkit dari berbaringnya dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkannya. Pria itu mengambil jasnya yang dia letakkan di atas kursi di-samping ranjang inap Luna lalu memakainya.


Mobil sport merah mengkilap yang Ken kemudian melaju kencang membelah jalanan malam yang legang. Mobil itu menyalip beberapa kendaraan yang dia temui di jalanan yang mulai sepi ini.


30 menit kemudian, Ken tiba di sebuah tempat yang jauh sekali dari pemukiman. Dan di tempat itu Metta saat ini berada. Ken ingin melihat apakah wanita itu masih mampu bertahan atau mungkin sudah menyerah dan mati secara mengenaskan.


"K..Ken Zhao!!" Suara Metta terdengar lirih dan terbata-bata.


Ken menyeringai sinis. "Ternyata kau tangguh juga, aku pikir kau sudah mati mengenaskan. Tapi siapa sangka kau masih bisa bertahan dengan luka-luka sebanyak itu di tubuhmu!! Sungguh menarik!!"


"A..Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?! Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?!"


"Membunuhmu secara langsung itu akan menguntungkan bagimu. Tapi aku ingin membuatmu tersiksa lebih dulu dan mati secara perlahan-lahan dengan cara mengenaskan." Ujar Ken.


"Iblis!!"


"Jika dilihat-lihat, kau memiliki sepasang bola mata yang sangat indah. Bagaimana jika kau berikan salah satunya untukku?" Ken mendekati Metta sambil membawa sebuah pisau kecil di tangan kanannya. Wanita itu terlihat sangat ketakutan.

__ADS_1


"Ma..Mau apa kau?!"


"Mengambil salah satu bola matamu!! Kau tidak keberatan bukan?!"


Ken mengangkat wajah Metta. Mata wanita itu membelalakkan sempurna. Metta menggeleng. Ujung pisau itu mulai menyentuh matanya membuat cairan merah segar seketika membasahi jari-jari Ken. Dan selanjutnya teriakan keraslah yang terdengar di dalam ruangan itu.


"AARRRRKKKKHHH..."


Darah segar membanjiri sebelah wajah Metta. Dia baru saja kehilangan salah satu matanya. Sakit, panas dan perih yang luar biasa begitu terasa. Dan Metta tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis keras.


Kemudian Ken menjauh dari Metta dan meninggalkannya begitu saja. "Sudah cukup untuk hari ini!!" Ucap Ken di tengah langkahnya.


"Ken Zhao...!! Ka..Kau benar-benar Iblis!!"


-


-


Ken kembali ke rumah sakit dan mendapati Luna masih tertidur pulas. Perawat yang menemaninya mengatakan jika Luna tidak terbangun sama sekali. Perawat itu diminta keluar oleh Ken, karena sudah ada dirinya yang sekarang menjaga Luna.


Sebelum datang ke rumah sakit. Ken lebih dulu membersihkan tubuhnya yang bau anyir darah. Pakaiannya penuh noda merah dengan aroma yang khas itu. Jadi Ken harus menggantinya dengan pakaian yang lain dengan warna dan model yang sama.


Ken mendekati Luna lalu duduk disampingnya. Jari-jari besarnya mengusap helaian panjang Luna dengan lembut. "Aku akan membuat dia yang telah membuatmu menderita membayar mahal perbuatannya. Kupastikan dia akan mendapatkan imbalan berkali-kali lipat dengan apa yang telah dilakukan padamu." Ken menatap wajah Luna dengan sendu.


Rasanya perih batin Ken melihat wajah Luna yang sedang tertidur. Begitu tenang seperti tidak memiliki beban sama sekali. Padahal ketika matanya terbuka, berbagai ekspresi tergambar jelas dari sorot matanya yang teduh.


Dibalik senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Tersimpan luka menganga yang tidak mudah disembuhkan.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2