
"Luna William, kali ini kau tidak bisa lolos dariku lagi!!" Ken menyeringai.
Gluk...
Susah payah Luna menelan Salivanya melihat tatapan Ken yang seperti seekor buaya yang hendak menerkam mangsanya. Dan melihat tatapan Ken membuat Luna merinding sendiri.
Ken menarik lengan Luna dan kembali merebahkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur, lalu mengungkungnya. Seringai kembali tercetak di bibir kiss able milik Ken. Kemudian Ken mendekatkan wajahnya, dan membenamkan bibirnya pada bibir tipis Luna.
Tak ada kesempatan bagi Luna untuk menghindar, apalagi menolak ciuman itu. Dan dia hanya bisa pasrah ketika Ken menginvasi bibirnya.
Ken terus *****@* dan memagut bibir Luna. Jari-jari besar mereka saling meremas. Meskipun awalnya Luna merasa terancam dengan apa yang Ken lakukan, namun pada akhirnya dia bisa menerima ciuman itu dengan baik.
Ini menutup rapat-rapat biner Hazel nya, ketika Ken semakin memperdalam ciumannya. Ciuman itu semakin lama semakin dalam dan menuntut, membuat suasana di dalam kamar itu memanas.
Des@han dan erangan, berkali-kali lolos dari bibir Luna ketika Ken memasukkan lidahnya dan mulai mengobrak-abrik isi dalam mulutnya.
Lidah Ken menyapu dinding mulut Luna, mengabsen satu persatu gigi putihnya, tak jarang mereka saling bertukar saliva di dalam mulut hangat Luna. Hingga des@han berkali-kali lolos di tengah sela-sela ciuman itu.
Ketika ciuman itu sampai pada akhirnya, nafas sang gadis sudah terengah-engah seperti diserang asma. Sedangkan Ken yang sejak beberapa saat lalu terus memandang wajah Luna yang memerah, sesaat setelah dia mengakhiri ciuman mereka. Mungkin juga membutuhkan oksigen, tapi dia tetap menjaga keteraturan tarikan udara dari hidungnya menjadi sebuah irama datar, memperjelas perbedaan stamina antara dia dan gadis berambut coklat ini.
Dua bola hitam layaknya sebuah galaksi yang menyala bagai api kini menatap tajam sepasang mata Hazel cerah yang sayu, menghiasi wajah cantiknya yang sekarang terbakar oleh rona merah.
"Ken, tunggu..." gadis itu berhasil mengeluarkan suara dan membentuknya menjadi kara tepat sebelum sang pria kembali melahap bibirnya lagi. "Pintu kamarnya sedikit terbuka, lalu bagaimana jika Daniel tiba-tiba menerobos masuk dan melihat kita. Itu tidak baik untuk dia," ujar Luna sedikit gelisah.
Lalu Ken menggulirkan pandangannya pada pintu. Benar apa yang Luna katakan. Akan sangat berbahaya jika tiba-tiba Daniel nyelonong masuk ke kamarnya. "Kalau begitu kunci saja pintunya, beres kan!!" Jawab Ken menimpali.
__ADS_1
Luna menggeleng cepat. "Tidak mau, jika Pintunya dikunci dari dalam itu terlalu berbahaya untukku!! Bagaimana jika tiba-tiba kau menyerangku, lalu mengambil sesuatu yang berharga dariku?! Aku belum siap, Ken. Aku belum siap jika harus kehilangan mahkotaku." Luna menundukkan wajahnya.
Ken menatap gadis itu dengan pandangan tajam, namun penuh kelembutan. Kemudian Ken menarik bahu Luna dan membawa Gadis itu kedalam pelukannya.
"Maaf," bisik Ken penuh Sesal. "Aku tidak akan mengambil apapun darimu, kecuali kau sendiri yang memberikannya padaku. Aku akan tetap menunggu, Luna. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap." tutur Ken.
Luna menggigit bibir bawahnya, dan jari-jari lentiknya meremas pakaian yang membalut tubuh Ken. Sekarang dia bingung harus berkata apa, bukan maksud Luna melakukan perasaan Ken padanya. Hanya saja dia benar-benar belum siap.
Luna memiliki banyak pertimbangan. Iya dan Ken hanya terikat dalam sebuah pernikahan kontrak, dan jika kontrak pernikahan itu berakhir, maka ia dan Ken hanya menjadi orang asing. Dan Luna tidak ingin memiliki penyesalan dikemudian hari.
"Ken, Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, hanya saja aku~"
"Sstt!!" Ken menggeleng. "Kau tidak perlu mengatakan apa pun, aku tidak marah ataupun kecewa padamu. Jika aku ada di posisimu, aku pun akan berpikir dua kali untuk memberikan hal paling berharga yang kumiliki pada pria yang baru aku kenal. Tapi jika suatu hari kau sendiri yang ingin memberikannya padaku, aku tidak akan menolaknya." Ujar Ken panjang lebar.
Kedua mata Luna tampak berkaca-kaca. Kata-kata Ken membuat Luna terharu. Pria itu tersenyum tipis, kemudian Ken membawa Luna ke dalam pelukannya. Jari-jari besarnya mengusap punggung Luna naik-turun.
Ken menautkan alisnya. "Apa maksudmu?" Tatapannya berubah dingin dan datar.
"Aku tidak mau jika hanya menjadi istri kontrakmu, tapi aku ingin menjadi istrimu yang sah!! Tapi jangan salah paham dulu, jangan kau pikir aku sudah luluh dan jatuh cinta padamu, hanya saja aku tidak ingin dirugikan dimasa depan jika kontak nikah itu berakhir." Buru-buru Luna memberikan penjelasan.
Ken terkekeh geli melihat ekspresi Luna. "Dasar kau ini, kau membuatku jantungan saja, Luna. Tapi jika memang itu yang kau inginkan, baiklah mari kita lakukan. Tapi setelah aku sembuh." Ken tersenyum.
Kemudian dia meraih tengkuk Luna dan kembali mencium bibir ranum tipisnya. Namun ciuman kali ini tak lebih dari tiga puluh detik. Ken mendorong kepala Luna, dan menyatukan kening mereka.
"Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku, Luna William." Bisik Ken di depan wajah Luna.
__ADS_1
Dan bibir mereka kembali bertemu. Ken mendorong sedikit tengkuk Luna, ciuman kali ini lebih dalam dan lebih lama dari ciuman sebelumnya yang tak lebih dari tiga puluh detik. Posisi mereka tidak lagi duduk. Ken mendorong Luna dengan dia di atas gadis itu.
Jari-jari mereka saling meremas. Kali ini Luna merasa lebih nyaman, dan dia membiarkan Ken terus menginvasi bibirnya. Dan memperpanjang ciumannya, sepanjang yang Ken inginkan.
Dan sementara itu...
Devan hanya bisa menelan salivanya saat melihat live kiss yang begitu panas di dalam sana. Sungguh pemandangan yang membuatnya panas dingin, bahkan dirinya yang lain sampai berdiri setelah melihat ciuman tersebut.
Cairan merah segar tampak mengalir dari kedua lubang hidung Devan, yang semakin lama semakin banyak dan membuat pria itu kelabakan sendiri. Sungguh, Devan merutuki apa yang Ken dan Luna lakukan. Tapi dia juga tidak bisa berpaling dari hiburan gratis tersebut.
"Paman, kau kenapa? Hidungmu mimisan, apa kau sakit?"
Devan terlonjak kaget setelah mendengar suara Daniel yang masuk dan berkaur di dalam telinganya. Mata Devan membelalak melihat Daniel yang hendak melihat ke dalam sana.
"Sayang, bisakah kau membantu Paman?" Seru Devan sambil memutar tubuh mungil Daniel agar menghadap padanya. "Paman perlu menghentikan pendarahan ini. Dan Paman memerlukan daun sirih, bisakah Daniel membantu memberikannya di halaman belakang?"
Daniel menatap Devan, sorot matanya seolah-olah dia memohon. Membuat Daniel tidak tega untuk menolak permintaan pamannya.
"Baiklah, Paman."
Dan Devan pun bisa menghela napas lega. Dia baru saja menyelamatkan mata Daniel, agar tidak ternoda dengan apa yang ayah dan ibu sambungnya lakukan. Dalam hatinya Devan terus merutuki apa yang mereka lakukan.
-
-
__ADS_1
Bersambung.