PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Membuat Kai Mabuk


__ADS_3

Vincent memicingkan matanya melihat Viona pulang sambil membawa banyak minuman beralkohol dengan mereka ternama. Dia memang tau Viona suka minum, tapi untuk apa dia membawa minuman sampai sebanyak itu? Apa dia berniat untuk bunuh diri? Pikir Vincent.


Penasaran untuk apa adiknya membawa pulang banyak minuman beralkohol. Vincent pun langsung bertanya padanya. "Vi, untuk apa semua minuman itu? Apa kau baru saja kerasukan, sampai-sampai memborong begitu banyak minuman keras?"


Viona berdecak dan menatap sebal kakaknya itu. Kenapa dia selalu kepo dan ingin tau, tapi Viona tetap harus menjelaskannya. Kebetulan Amelia dan Minna sedang tidak ada di rumah, jadi mereka lebih leluasa mengobrolnya.


"Aku berencana membuat Kai mabuk, tadi pagi saat berangkat ke kantor. Kevin dihadang oleh orang-orang tak dikenal, mereka terlibat perkelahian dan sekarang Kevin di rumah sakit karena terluka parah. Aku ingin mematikan itu perbuatan Kai atau bukan,"


"Apa?! Lalu bagaimana keadaannya?"


"Dia tertembak dan gilanya, si bodoh itu malah mengeluarkan pelurunya tanpa bantuan medis. Dan saat ini dia masih berada di rumah sakit," jelas Viona.


Vincent terdiam selama beberapa saat. Entah kenapa dia berpikir jika itu bukanlah perbuatan Kai, melarikan orang-orang yang dulu pernah terlibat masalah dengannya. Tapi Vincent tak yakin juga, tapi tidak ada salahnya melakukan penyelidikan pada laki-laki itu.


"Kenapa Kakak melamun, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


Vincent menggeleng. "Tidak ada, kalau begitu Kakak akan ikut ambil bagian dalam rencanamu itu. Kebetulan kita juga sudah lama tidak minum bersama."


"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu. Aku sudah menelfon Kai, dan dia tidak lembur malam ini. Sepertinya sebentar lagi dia pulang," Viona bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, terdengar deru suara mobil Kai yang memasuki halaman. Kai memasuki rumah dan mendapati Vincent tengah menyusun minuman di atas meja. Kai meletakkan tas kerjanya lalu menghampiri pria itu.


"Hyung, perlu bantuan?"


Vincent menoleh. Dia tersenyum. "Oh, Kai. Kau sudah pulang, kebetulan sekali. Ayo bantu aku menyusun gelas dan minuman ini diatas meja. Rencananya malam ini Viona mau mengadakan pesta kecil-kecilan. Kita adalah keluarga, tidak ada salahnya bukan jika minum bersama." Vincent tersenyum kearah Kai. Memaksakan tersenyum lebih tepatnya.


"Hyung, benar. Bagaimana kalau kita barbeque sekalian saja. Biar aku yang mempersiapkan dagingnya," usul Kai. Dia sangat senang, karena Kai berpikir Viona ingin lebih dekat dengannya.


"Tidak perlu, Kai. Toh hanya kita bertiga, itu tidak seru. Kakek sedang pergi dengan kekasihnya. Sedangkan Bibi dan Minna juga tidak ada di rumah." Sahut Viona menimpali. Kemudian gadis itu bergabung bersama kedua pria tampan tersebut.

__ADS_1


Melihat Viona yang duduk disampingnya membuat Kai sangat senang. "Baiklah, terserah kau saja." Jawabnya.


"Bagus, kau masuk ke dalam perangkap." Batin Viona.


Vincent menuang minuman ke dalam tiga gelas yang kosong itu lalu meletakkan di depan Kai dan Viona. "Jarang-jarang kita bisa berkumpul seperti ini. Tidak ada salahnya sesekali kita minum sampai mabuk." Ucap Vincent bersemangat.


Gelas demi gelas mereka teguk. Sejauh ini mereka masih terlihat baik-baik saja, Viona juga tampak baik-baik saja. Padahal dia seorang gadis, tapi tidak disangka dia memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Begitulah yang Kau pikirkan.


Vincent terus menuang minuman ke dalam gelas Kai yang telah kosong, dan meminta laki-laki itu untuk minum lagi dan lagi. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Kai meneguk minuman tersebut. Dia sudah hampir mabuk sekarang.


Rencana Viona berjalan seperti yang dia harapkan. Hanya butuh beberapa gelas lagi sampai Kai benar-benar mabuk berat.


"Hahaha... Rasanya sangat luar biasa. Minum seperti ini memberiku semangat. Tuangkan lagi minuman untukku, Hyung. Ayo kita minum sampai mabuk." Seru Kai yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.


"Kai, aku memiliki sebuah pertanyaan untukmu. Apa kau sangat membenci Kevin?"


Kai menoleh dan menatap Viona. Pemuda itu mengangguk. "Ya, aku sangat membencinya. Kau tau kenapa? Karena dia berusaha mendapatkanmu, padahal seharusnya kau itu milikku!!" Jawab Kai.


Kai mengangguk. "Ya, bahkan aku berharap dia mati saja. Memang, aku kemarin mengirim orang-orang untuk menghabisinya. Tapi orang-orang bodoh itu tidak berhasil melakukannya. Mereka kabur begitu saja, dan itu membuatku marah!" Jelas Kai.


Viona terdiam sesaat. Dia kembali melayangkan sebuah pertanyaan pada Kai. Apakah benar Kai atau bukan yang mengirim orang-orang tadi pagi. "Lalu, apa kau mengirim mereka untuk melukainya lagi tadi pagi?" Tanya Viona penuh selidik.


Kai menggeleng. "Tidak, aku masih merencanakannya. Belum melakukannya. Aku sedang mencari orang yang bisa diandalkan, tapi belum ketemu. Aku ingin menyewa membunuh profesional untuk mencelakainya. Aku benar-benar ingin dia mati agar tidak bisa mengganggumu lagi!!" Tutur Kai.


Berarti bukan Kai. Lalu siapa? Mungkinkah Kevin memiliki musuh diluar sana? Itulah yang menjadi pertanyaan Viona saat ini, dia sungguh sangat penasaran siapa sebenarnya yang telah menghadang mobil Kevin tadi pagi dan membuatnya terluka parah.


"Aku sudah mendapatkan jawabannya. Kak, urus dia. Aku mau ke rumah sakit, bagaimana pun juga Kevin sudah membantuku beberapa kali, jadi aku tidak mungkin tidak tau balas Budi. Aku pergi dulu," Viona bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


-

__ADS_1


-


Viona tiba di rumah sakit tempat Kevin dirawat. Awalnya Viona ingin bersikap tidak peduli padanya, tapi bagaimana pun juga dia berhutang budi pada pemuda itu. Gadis itu membuka pintu ruang inap Kevin, dia sedang mengobrol dengan Marissa.


Melihat kedatangan Viona membuat sudut bibir Marissa tertarik ke atas. "Kau datang tepat waktu, Vi. Tetaplah disini dan temani, Kevin. Eonni masih banyak kerjaan," Viona mengangguk. Dan setelah kepergian Marissa, hanya menyisakan Kevin dan Viona.


"Apa kau sudah makan malam? Aku membawa makanan kesukaanmu," ucap Viona lalu meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.


"Nanti saja, aku pikir kau tidak datang lagi. Kau bau alkohol, apa kau habis minum?" Tanya Kevin memastikan.


"Hm, aku minum sedikit dengan kakak dan Kai." Jawab Viona, mendengar nama Kai membuat ekspresi wajah Kevin berubah seketika.


"Oh,"


Viona memicingkan matanya. "Apa dia sedang memburu? Hm, rasanya tidak mungkin," batin Viona. Tapi dia tidak mau ambil pusing.


"Kau dan dia sepertinya cukup dekat, apa kalian berkencan?"


"Jangan bercanda, mana mungkin aku kencan dengan orang seperti dia. Alasanku minum dengannya, karena aku ingin menyelidiki sesuatu. Dan malam ini aku akan bermalam disini jika kau tidak keberatan," mendengar kata bermalam disini, membuat wajah Kevin tidak muram lagi.


"Kalau begitu kita bisa berbagi tempat tidur, lagipula ranjang rumah sakit ini tidak terlalu kecil untuk dipakai berdua," dia menyeringai.


"Jangan banyak berharap. Aku akan tidur disofa!!"


"Hn, terserahlah."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2