PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Sangat Tidak Nyaman


__ADS_3

"Aku fikir gadis sepertimu sudah tidak terlalu naif untuk percaya yang namanya cinta!"


Viona mengerutkan dahinya mendengar rentetan kata yang keluar dari bibir seorang gadis yang duduk didepannya. Saat ini kedua gadis itu sedang berada disalah satu kedai kopi yang cukup ternama dikota Seoul. Menikmati hari yang dingin ini dengan berbincang dan saling berbagi cerita.


"Hhm!" Viona mengumam seraya menjauhkan bibirnya dari cangkir keramik itu."Apa maksudmu, Eonni?" tanyanya bingung.


Gadis itu 'Ara' menghela nafas. "Kau pikir aku tidak tau jika saat ini kau sedang jatuh cinta!" Ara menatap gemas sepupu barbienya itu yang memang tak pernah peka dan menyadari perasaannya sendiri.


Dari Ara, Viona mengalihkan pandangannya pada jalanan yang dipadati kendaraan. Gadis itu mengangkat bahunya. "Entahlah, aku sendiri masih bingung dengan perasaan yang aku rasakan. Setiap kali melihatnya jantungku berdegup kencang, setiap kali berdekatan dengannya rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan didalam perutku!" ujar Viona dengan pandangan kosongnya.


Lalu ia kembali menatap Arah. "Aneh bukan? Padahal kupikir jika aku tidak akan pernah memiliki perasaan naif seperti ini lagi!" tambahnya dengan tersenyum hambar.


"Bingo. Tidak diragukan lagi, itu artinya kau benar-benar jantuh cinta!" mata Ara berbinar memandang Viona yang hanya menatap hambar kearahnya.


Viona mengangkat bahunya, tanda jika Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Menghela nafas panjang, seraya menyendarkan punggungnya yang terasa lelah pada bantalan kursi.


"Entahlah, benar atau tidak. Hanya waktulah yang bisa menjawabnya!"


Viona tidak ingin terlalu memikirkan tentang perasaan aneh itu lagi. Kenapa dia harus merasa tidak nyaman semenjak Kevin memutuskan untuk menjauhinya satu Minggu lalu. Semua terasa berbeda sejak Kevin tak lagi mewarnai hari-harinya. Dia merasakan kekosongan dan kehampaan disaat bersamaan.


Ting...


Lonceng di atas cafe berbunyi. Menandakan jika ada pelanggan yang datang. Tanpa sengaja Viona menoleh, dan matanya langsung bersirobok dengan sepasang mata dingin seorang pemuda yang akhir-akhir ini membuatnya galau setengah mati.


Lalu pandangan itu turun pada lengan terbukanya yang dipeluk mesra oleh seorang perempuan cantik berambut hitam sebahu. Perasaannya tidak nyaman. Viona pun segera menatap ke arah lain, kemana saja asal jangan mereka berdua.


"Sial, ada apa denganku. Kenapa aku kesal melihatnya bersama gadis lain, memangnya siapa dia dan kenapa aku harus merasakan perasaan aneh semacam ini?" Gumam Viona membatin.


"Vi, Viona!!" Ia pun segera tersadar karena panggilan Ara. "Kau melamun? Apa yang kau lamunkan?"


Viona menggeleng. "Tidak ada, Eonni aku duluan ya. Tiba-tiba aku merasa kurang enak badan. Soal tagihannya, biar aku saja yang membayar. Aku duluan, bye-bye." Viona melambaikan tangannya pada Ara.


Viona menyempatkan untuk melihat kearah Kevin yang juga menatapnya. Namun kontak mata itu tak lebih dari 10 detik. Viona mengakhiri kontak mata itu begitu saja.


.

__ADS_1


.


Viona menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah saat melihat keberadaan Kai yang berdiri di depan pintu. Gadis itu berbalik dan melenggang pergi. Ia sungguh-sungguh tidak ingin bertemu apalagi berbicara pada laki-laki itu.


Namun langkahnya berhasil dihentikan Kai yang tidak sengaja melihat kepulangan Viona. Kai mengejar gadis itu yang hampir mencapai mobilnya. Kai menghalangi langkah Viona dengan berdiri di depannya.


"Minggir!" pinta gadis itu dengan nada sedingin es.


Kai menggeleng "Tidak, kita harus bicara!"


Viona menyentak tangan Kai dengan kasar dan menatap laki-laki itu tajam. "Aku tidak ada waktu dan tidak ada yang perlu kita bicarakan," ujar Viona dan pergi begitu saja.


Tubuh Kai terhuyung kebelakang karena dorongan Viona. Gadis itu melewati Kai begitu saja, mengurungkan niatnya untuk pergi dan masuk ke dalam rumahnya.


"OMO??" nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan saat sepasang mata Amber-nya melihat sosok kakek yang tengah duduk disofa dengan balutan pakaian masa kininya. Kaca mata hitam bertengger dihidung mancungnya dan ada wig berwarna coklat gelap yang menutupi rambut putihnya.


Viona meringis melihat penampilan Jung Hilman, dengan mantap Ia menghampiri kakeknya kemudian duduk disampingnya."Apa lagi ini kakek?" Viona memandang kakek Hilman dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Kakek Hilman melepaskan earphone yang menggantung di telinganya. "Oh, sayangku kau sudah pulang!" kata Kakek Hilman. "Bukankah ini sangat keren? Malam ini Kakek ada kencan dengan nenek Minhi, jadi Kakek ingin tampil sebaik dan terlihat setampan mungkin!" ujar Kakek Hilman menambahkan.


Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Viona. Gadis itu mendongak dan mendapati Vincent tengah berdiri dibelakangnya. "Kakak yang mengatur kencan mereka, sudahlah Vi. Biarkan saja kakek melakukan yang dia mau, selama itu membuatnya bahagia. Kita harus mendukungnya!" ujar Vincent memaparkan.


Dengan gemas Viona merebut ponsel itu dari tangan si kakek. "Yakk!!! Yakkk!!! Yakkk!!!! Viona kembalikan ponsel Kakek!!" tuntut Kakek Hilman meminta agar Viona mengembalikan ponselnya.


Gadis itu menggeleng. "Tidak, sebelum Kakek merubah penampilan anehmu ini menjadi normal lagi!"


Sontak saja Kakek Hilman bangkit dari duduknya dan menggeleng. "Tidak mau, Kakek tidak akan merubah penampilan. Kakek nyaman dengan penampilan seperti ini. Kakek terlihat keren dan berasa muda kembali!" Kakek Hilman menolak tegas permintaan Viona.


Dan hal itu membuat Viona menjadi gemas sendiri. "Kakek!" Viona mengeram menyikapi sifat keras kepala Kakeknya.


"Vin, tahan adikmu ini, Kakek sudah hampir terlambat. Kakek berangkat dulu, bye-bye!" Kakek Hilman melambaikan tangannya pada Viona dan Vincent.


Tidak ingin semakin pusing karena memikirkan kakeknya yang semakin hari semakin menjadi. Viona beranjak dari duduknya dan melenggang menuju dapur, Viona ingin mendinginkan tenggorokan juga kepalanya.


"Bagaimana kemajuan hubunganmu dan Kevin?!"

__ADS_1


Uhuk!!! Uhuk!! Uhuk!!!!


Viona tersedak minuman yang ada di dalam mulutnya karena pertanyaan Vincent. Vincent yang panik pun memukul pelan punggung Viona. "Aishhh, kau ini seperti bocah saja!" kata Vincent yang langsung dihadiahi tatapan nyalang oleh gadis itu.


"Itu salah Kakak. Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti itu!" protes Viona yang tidak terima disalahkan oleh kakaknya.


"Hei, memangnya apa yang salah dengan pertanyaanku?" Vincent menatap Viona penasaran.


Viona menggeleng. "Tidak ada!" Ia menjawab cepat.


Membahas Kevin membuat Viona kembali teringat pada pemuda itu. Bukan, lebih tepatnya pertemuan singkat mereka tadi. Sepertinya Kevin sudah melupakan dirinya dan dia juga terlihat sangat bahagia dengan gadis itu.


"Aku tiba-tiba merasa lelah. Aku ke kamar dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.


-


-


"Kevin, sampai kapan kau akan bersikap dingin dan acuh padaku?!"


Kevin hanya menatap datar gadis di depannya itu. Dia adalah Helena, mantan kekasihnya yang baru kembali dari Inggris, juga gadis yang datang ke cafe bersama Kevin tadi.


Helena yang pergi dari kehidupan Kevin sejak beberapa tahun lalu tiba-tiba kembali dan mengatakan jika dia sangat merindukannya.


Alasan kenapa Kevin setuju makan siang bersamanya karena dia mengancam akan terus mengusik hidup Kevin jika mantan kekasihnya itu tidak mau makan siang bersamanya.


"Cukup, Helena!! Diantara kita sudah berakhir. Jadi terima saja kenyataan jika diantara kita sudah berakhir. Kau tau kan dimana pintu keluarnya. Keluarlah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!!"


"Kevin, kenapa kau jadi sedingin ini padaku?! Dulu kau sangat mencintaiku," Helena menyeka air matanya.


Kevin berjalan kearah pintu dan membukanya lebar-lebar lalu mempersilahkan Helena untuk keluar.


Wanita itu menghentakkan kakinya kesal, dengan emosi dia meninggalkan kediaman mantan kekasihnya itu. Kevin mendesah berat. Dia membanting pintu dan melenggang menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2