
Suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Ken dari dokumen yang belum selesai ia periksa dan di tandatangani. Selama beberapa detik, seorang pria berkacamata memasuki ruangan Ken sambil membawa sebuah amplop yang kemudian Ia berikan pada sang atasan.
"Presdir, hasil tesnya sudah keluar dan anda bisa memeriksanya sekarang."
"Baiklah kau boleh keluar," pria berkacamata itu lalu membungkuk dan meninggalkan ruangan Ken.
Ken membuka amplop tersebut Lalu mengeluarkan sehelai kertas putih. Sepasang biner hitamnya membaca rentetan huruf yang membentuk sebuah kalimat. Itu adalah hasil tes DNA antara Luna dan Tuan Valentino. Dan hasilnya 99,99% positif. Yang artinya, Luna dan Tuan Valentino memiliki hubungan darah. Dan orang yang Tuan Valentino cari, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri.
Dan Ken berencana untuk mempertemukan mereka dalam waktu dekat. Namun sebelum itu, Ken akan memberitahu Luna mengenai kebenaran ini. Dan mengatakan jika Tuan William, bukanlah Ayah kandungnya.
"Apa kau tuli, aku ini adalah mertua dari Bos perusahaan ini. Jadi kau tidak bisa menghalangiku untuk masuk apalagi bertemu dengan menantuku!!"
Perhatian Ken sedikit teralihkan oleh keributan yang terjadi di luar. Pria itu lantas bangkit dari duduknya dan melenggang meninggalkan mejanya untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.
Setibanya di luar, Ken melihat ruang William yang memaksa untuk masuk dan bertemu dengannya, tapi dihalangi oleh sekretarisnya. Ken sendiri tidak tahu apa tujuan tuan William datang menemuinya.
"Maaf, Tuan. Tapi presdir kami tidak bisa diganggu, apalagi ditemui oleh sembarangan orang. Beliau sedang sibuk, jika anda ingin bertemu dengannya sebaiknya membuat janji terlebih dahulu!!"
"Apa kau bilang, sembarangan orang?! Apa kau tidak tahu siapa aku ini, aku adalah mertua dari bos kalian. Seharusnya kau bersikap sopan padaku, aku melapor pada menentukan atas apa yang kalian lakukan padaku. Kalian semua bisa dipecat!!"
Ken meninggalkan ruangannya dan menghampiri Tuan William. "Atas dasar apa kau mengakui dirimu sebagai mertuaku?!" ucap Ken yang langsung mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.
Tuan William sontak menoleh dapati Seorang Pria Muda berdiri di samping pintu ruangannya dengan kedua tangan tersembunyi dibalik saku celananya. Itu adalah Ken, kemudian ruang William menghampirinya.
"Kenapa kau bicara seperti itu pada mertuamu?! Aku adalah Ayah dari Luna, seharusnya kau bersikap sopan padaku!!"
__ADS_1
Dan memandang Tuan William dengan Seringai tipis. "Bagaimana bisa Anda mengatakan sebagai ayahnya, sementara tidak ada darah yang sama mengalir di tubuh." ucap Ken dengan seringi yang sama.
Tuan William lalu menatap Ken marah. Omong kosong apa yang kau katakan?! Luna adalah putriku, dan aku adalah ayahnya!! Lalu bagaimana bisa kau mengatakan jika tidak ada darah yang sama mengalir di dalam tubuh kami!!" teriak Tuan William, di depan muka Ken.
"Aku memiliki buktinya," Ken mengambil hasil tes DNA itu lalu memberikannya kepada tuan William. "Ini adalah bukti yang akurat, kau dan Luna tidak memiliki hubungan darah. Karena sebenarnya, Luna adalah Putri kandung mendiang istri anda dan suami pertamanya!! Apakah yang aku katakan itu salah, tuan William?!" lagi-lagi Ken menyeringai.
"Jadi kau menyelidiki tentang keluargaku?!"
"Tidak!! Bukan aku yang menyelidiki mu, aku hanya membantu seorang teman untuk menemukan putri kandungnya yang hilang. Tapi Siapa yang menduga jika putrinya itu adalah istriku sendiri, yaitu Luna. Apa kau masih ingin menyangkalnya lagi?!"
Gyutt...
Tuan William mengepalkan tangannya. Amarah terlihat dari raut wajah dan sorot matanya. Dengan emosi yang menggebu-gebu, tuan William menarik pakaian Ken lalu melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Membuat pelipis kanannya robek, dan mengeluarkan darah.
"Presdir!!" Pekik para karyawan Ken yang melihat insiden itu. Ken mengangkat tangannya, meyakinkan pada mereka Jika ia baik-baik saja.
"Luna, kemari kau. Ikut pulang bersama Papa!!" Tuan William menarik Luna menjauh dari Ken. Makanya untuk ikut pulang bersama.
Alih-alih menuruti, Luna malah menyentak tangan ayahnya dan menatapnya tajam. "Aku tidak mau!! Kau tidak memiliki hak untuk mengaturku lagi!! Sejak Kau membakar semua barang-barang peninggalan ibuku yang aku miliki, aku bukan lagi putrimu, dan kau bukan lagi Ayahku!!" Ucap Luna menegaskan.
"Luna, Kau!!!"
"Security, tolong usir tuan ini keluar dari perusahaan, yang sebaiknya jangan ijinkan dia masuk kemari lagi!!"
"Baik nyonya!!"
__ADS_1
"Luna William!!! Aku menyesal telah membesarkanmu, dan mengeluarkan banyak uang untuk mu!! Dasar anak durhaka!!"
Mengabaikan teriakan Tuan William, Luna menghampiri Ken yang tampak menyusut luka di pelipisnya dengan beberapa lembar tisu. "Apa yang dia lakukan di sini, dan bagaimana dia sampai melukaimu seperti ini?" tanya Luna yang sudah ada di samping Ken.
"Ayahmu datang untuk membuat keributan, aku hanya mencoba menghentikannya dan dia malah memukulku." Jawab Ken.
Luna mendesah berat, wanita itu bangkit dari duduknya lalu mengambil kotak P3K yang Ken Letakkan di laci meja kerjanya. Luna hendak membersihkan darah dan luka di pelipis Ken. Setelah memastikan darahnya benar-benar bersih, lalu Luna membalut luka itu dengan perban dan plaster.
"Apa kau baik-baik saja?" Luna menetap Ken cemas.
Ken menarik Luna dan menempatkan wanita itu di pangkuannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Luna. Ken malah mendaratkan bibirnya, di bibir ranum wanita itu. Tidak hanya sekedar menempel saja, Ken memberikan lum*tan-lum*tan yang semakin lama semakin menuntut.
Bukannya menolak seperti biasanya, Luna malah menerima ciuman itu dengan sangat baik. Bahkan dia tidak ragu untuk membalasnya. Kedua tangan Luna memeluk leher Ken, ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya.
Sebelah tangan Ken memeluk pinggang Luna, sebelah lagi menekan kepala belakangnya. Tak puas hanya sekedar saling mel*mat saja, Ken mencoba mendapatkan akses lebih. Lidahnya menekan belahan bibir Luna, mencoba meminta akses untuk masuk. Tahu apa yang diinginkan suaminya, luna membuka mulutnya dan mempersilahkan tidakan untuk masuk.
Lidah Ken mulai aktif di dalam mulut Luna. Menyapu rongga mulutnya, dan mengabsen satu persatu gigi putihnya. Membuat des*han dan erangan kali-kali lolos dari bikin Luna.
Dan sementara itu...
Devan yang datang untuk menemui Ken, harus mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam saat dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat Luna dan Ken yang sedang berciuman panas di dalam sana. Hingga Devan harus menelan ludahnya berkali-kali.
Entah disadari atau tidak, cairan merah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya. Bahkan bagian bawahnya terasa sesak, dan rasanya Devan ingin mengutuk mereka berdua serta menyesali kedatangannya di saat yang tidak tepat.
-
__ADS_1
-
Bersambung.